
Inara dari tadi diam saja menunggu Abian pulang, Udah malam tapi dia belum sama sekali pulang. Bahkan mamihnya sudah pulang karena sudah jenuh menunggu Abian yang tak pulang-pulang.
Dari tadi Nara sudah menghubunginya namun sama sekali tak ada satupun panggilan yang dijawab. Sebenarnya dia ke mana sih, padahal dia dan maminya Abi sudah menyiapkan makanan yang banyak.
Makanan kesukaan Abian, tapi orangnya dari tadi nggak nongol-nongol ini udah jam 10 malam tapi nggak pulang-pulang, Kemana sih dia kaya bang toyib aja.
"Kemana sih dia sebenarnya, aku nunggu dari tadi tapi nggak ada, apa aku tidur aja ya, tapi masa sih "
Namun tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan menampakkan Abi yang pulang dengan wajah acak-acakan, dan jas yang sudah terbuka serta kancing pakaian yang sudah terbuka 2 biji.
"Tuan tadi mamih kemari, dan memasarkan makanan kesukaan tuan, dia tadi ingin bertemu dengan tuan dan sudah menunggu cukup lama disini, saya sudah menelpon tuan beberapa kali, tapi tuan sama sekali tidak mengangkatnya. Maaf saya lancang Tuan dari mana kenapa pulang jam segini , gak biasanya "
"Dari kapan mamih kemari, aku tadi mengurus Livia terlebih dahulu, dia sekarang ada di rumah sakit "
"Dari siang tuan, sakit apa Nona Livia ya sampai dibawa ke rumah sakit "
"Baiklah nanti saya akan menemui Mamih saya di rumah, dia dipukul oleh temannya di sel jadi ya masuk rumah sakit"
"Begitu yah saya turut berduka tuan atas kejadian ini, saya masuk dulu ya, untuk makanan sudah saya hangatkan tinggal dimakan saja "
"Terimakasih, apakah kau mau makan dengan ku "
"Tidak terimakasih "
Inara segera pergi dari hadapan Abian, sama sekali tak mendengarkan ucapkan Abian. Entahlah saat mendengar Abi mengurus Livia sampai semalam ini, jadinya menjadi sangat kesal sekali .
"Apa dia cemburu ya, hemm kayanya bagus deh, buat Inara cemburu dan dia pasti akan mengungkapkan perasaannya, bagus banget nih, harus di pertahanin pokoknya, semangat buat bikin Inara cemburu, pasti Inara akan menerimananya nanti "
Abian segera pergi masuk ke kamar mandi dengan senyum senangnya, akhirnya dia punya cara untuk membuat Inara mencintainya dan mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
Dia yakin kalau Inara mencintainya juga tapi dia belum merasakannya. Mungkin masih sakit ya gara-gara si Adam kampret.
**
Sedangkan di dalam kamar Inara memukul-mukul bantal, dengan sikap Abi yang kesana kemari waktu dia sakit Abi yang urus, sekarang Livia sakit dia juga yang ngurus.
"Sebenarnya Abi itu gimana sih, lebih pilih siapa sih, aku atau Livia, kesel deh jadinya kalau gini "
"Kesel banget kesel pokoknya, rasanya pengen bejek bejek wajah Abi yang biasa biasa aja itu, dia itu wajahnya datar aja "
Tiba-tiba saja pintu kamar Inara diketuk dan dengan cepat Inara membuka pintunya ternyata itu Abian.
"Ada apa tuan mengetuk pintu kamar saya"
"Ayo temani saya makan kamu ini kenapa sih di dalam kamar terus"
"Saya lelah menunggu tuan dan saya ingin istirahat, makan saja sendiri tuan"
__ADS_1
"Tidak ayo temani saya makan, hanya teman ya, tidak usah kau ikut makan jika kau sudah kenyang "
"Baiklah saya akan temani tuan makan, ayo tuan Jalan terlebih dahulu nanti saya menyusul "
"Baiklah awas aja kalau kau tidak menyusul aku potong gaji Mu "
"Selalu saja gajih, seperti kepada Jonathan gajih saja kalau gitu jangan digajih aja bos karyawannya "
"Ya udah kalau itu mau kamu, kamu enggak saya gajih "
"Ya enggak gitu juga kali bos. Udah ah males ayo cepetan "
"Yaang sopan ya kamu sama bos sendiri "
" Biarin aja, sopan sama bos suka perempuan saya gak mau "
"Apa kamu bilang "
"Engga ayo duduk aja bos, saya ambilkan ya nasinya, lauk pauknya mau apa aja bos pilih pilih "
"Saya pengen ayam sambal ijo, terus pengen sop buntut dan ini saya ingin semua nya saja lah satu satu, sepertinya ini enak sekali "
"Ya sudah saya ambilkan semuanya "
Inara segera menuruti apa kata kata dari bosnya ini, bahkan poringnya sudah penuh.
"Silahkan tuan segera makan, habiskan ya jangan ada yang tersisa "
Inara segera mendelik dan hanya diam fokus melihat Abi makan, dengan sangat lahap, tiba tiba saja entah kenapa Inara tersenyum, melihat tingkah Bian yang makan, belepotan seperti anak kecil.
"Kenapa kamu natap aku kaya gitu, apa ada yang aneh di mukaku, sampai kamu senyum senyum kaya gitu" tanya Bian karena merasa dirinya sedang di perhatikan, dan benar saja sedang diperhatikan.
Inara yang sadar segera mengambil tisu dan mengelap bibir Abian yang belepotan " tuan itu makanya kayak anak kecil, masa nasi nempel di bibir terus bumbu sambel ijo juga sama, tuan ini kalau makan tu harusnya yang rapi dong, jangan belepotan kayak gini Tuan" ucap Inara sambil tersenyum di hadapan Abian bahkan wajah mereka sangat dekat sampai-sampai Abian tak bisa menelan ludah nya sendiri.
Abian yang terbawa suasana lebih mendekatkan dirinya lagi, mengikis jarak diantara mereka berdua dan Inara sama sekali tidak berkutik dia hanya diam dan saat bibir mereka akan bersentuhan, tiba-tiba saja ponsel Abi berdering dan dengan refleks Abi langsung menjauh.
"Halo ada apa lagi Livia, aku lagi istirahat kamu butuh Apalagi sih, emang disana gak ada suster "
"Kamu kenapa pulang Abi, aku lagi tidur kamu tiba-tiba aja nggak ada di samping aku. Kenapa kamu tinggalin aku sih, aku maunya kamu ada disini, kenapa pulang "
"Aku punya rumah, dan aku harus pulang, kamu disana kan banyak yang urus, ada suster ada dokter ada ayah kamu udahlah kamu jangan manja, ini udah malem kamu tidur aja lah"
"Ya udah, kalau kamu nggak mau balik lagi kesini aku bakal bunuh diri sekarang juga"
"Ya udah kamu bunuh diri aja, aku nggak peduli kok kamu mau mati atau kamu mau lakuin apapun aku nggak peduli, aku udah capek ya urusan sama kamu. Aku tuh kayak orang gila tahu dekat sama kamu "Abi segera mematikan ponselnya.
"Kenapa tuan bilang kayak gitu, gimana kalau dia beneran bunuh diri. Nanti tuan yang disalahin"
__ADS_1
"Gak peduli aku Nara. Aku udah capek tau nggak sih urusan sama perempuan itu. Andai saja waktu bisa diulang aku gak akan pergi ke club dan ketemu sama perempuan itu, sungguh bencana tahu gak ketemu sama Livia, aku tuh hidup kaya gak tenang aja gitu. "
"Jangan gitu juga kali, ya tuan jauhin aja gitu perlahan, karena masa lalu gak akan bisa di ulang tuan"
"Ya udah deh sekarang kita gak usah bahas dia, meninggan kita terusin yang tadi aja yu, tanggung kan Nara "
"Gak dasar tuan mesum "
Tiba tiba saja ponsel Abi kembali berbunyi dengan kesal Bian segera mengangkatnya.
"Halo ada apa Pak"
" Halo Abi maaf om ganggu kamu lagi, Livia coba bunuh diri, di pecahin gelas, dan tusukin pecahan gelas itu kelehernya. Kamu bisa ke sini kan dia dari tadi manggil manggil kamu aja. Tolong Om minta tolong lagi sama kamu ya Bi tolong banget, om binggung harus minta bantuan sama siapa lagi?"
" Ya udah nanti saya ke sana ya sama calon istri saya "
"Baiklah saya tunggu minta maaf pada calon istri kamu ya kamu jadi direpotkan seperti ini"
Abian segera memutuskan sambungannya "Ayo ikut saya, kita ke rumah sakit sekarang dan kamu bantu saya juga pura-pura menjadi cara istri saya, agar ayah Livia tahu kalau saya sudah mempunyai pasangan dan dia tidak meminta bantuan kepada saya terus ya kamu harus mau pokoknya, ini demi hidup kita, agar lebih tenang ya "
"Engga saya gak mau tuan, saya gak mau berurusan lagi dengan Livia, saya gak mau tuan "
"Tenang saya aku akan lindungi kamu, ayo ikut aja lah "
Abian tanpa banyak bicara lagi, membawa Inara masuk kedalam mobil, tanpa menganti pakaian sama sekali, mereka berdua bahkan hanya memakai baju tidur.
Saat sampai dirumah sakit pun, mereka tak melepaskan genggaman tangannya, dan masuk kedalam ruangan Livia yang sedang dijaga oleh ayahnya.
"Abi kenapa kamu membawa Inara. Kenapa aku hanya ingin kamu saja yang kesini, tidak dengan perempuan itu "
"Kenapa tidak aku calon istri Bian, kenapa aku tak boleh ikut, seharusnya kamu minta maaf padaku, atas kelakuan kamu itu, apa tidak ada penyesalan sedikit pun "
"Kenapa bukannya kamu tidak masalahkan aku dorong, kamu saja menyembunyikannya dari Bian"
Bian akan berbicara namun Inara segera meremas tangan Bian dan menatapnya dengan lembut.
"Ya tadinya kan aku tak berbicara pada Bian karena ingin kau berubah. Karena kau kan berbicara akan berubah tapi nyatanya tidak, ya salah aku itu harusnya bilang saja pada Abi dan bagus juga sih Abi sudah bertindak mencari tanda bukti dan memenjarakan mu. Mungkin kau di rumah sakit ini adalah balasannya karena kau sudah mendorongku dan tentu saja kau meracuniku kan. Aku tahu kau meracuniku dengan bulu kucing itu kan sudah ke tebak isi kepala kamu itu oleh ku "
"Lihat Abi, dia menuduhku dan juga senang aku masuk rumah sakit, dia jahat Abi, jahat " teriak Livia sambil melempar lempar barang yang Ada. Sedangkan Abi dengan cekatan melindungi Inara.
"Kamu keluar dulu ya Nara, biar aku tenangan dia dulu "
"Iya " Bian segera membantu Inara keluar dan Bian masuk kembali keruanagan Livia.
"Apakah kalian benar benar akan menikah " tanya ayah Livia tiba tiba.
"Iya memangnya kenapa pak, apa ada masalah bila saya menikah dengan Abi "
__ADS_1
"Apa bisa kamu lepaskan Abi untuk Livia, saya sangat minta tolong, saya ingin anak saya bahagia, dia sudah sangat terpuruk dari dulu, jadi apakah kamu bisa membantu saya "
Inara yang mendengarkan kata kata ayah Livia mengerutkan keningnya dan tak habis fikir dengan ucapan ayah Livia.