
"Makan ya sayang, aku sudah membuatkan mu salad buah dan juga makanan kesukaan mu, ayo duduk "
Inara segera duduk dan menatap Abian, sebenarnya dirinya masih kenyang tapi masa sih tak menghargai pemberian abian dirinya juga baru saja pulang tad, dari jalan-jalannya bersama Ana, dan tentu saja Abian tau kalau dirinya pergi.
Inara segera memakannya dan sesekali menyuapi Abian, "kamu buat sendiri beneran Bi "
"Iya beneran aku bikin sendiri kok. khusus buat kamu aja aku juga lagi belajar masak masak, masa kamu aja yang bisa masak enak aku pun mau kali sayang, makannya belajar biar nanti ya kamu melahirkan aku kan bisa masak buat kamu , gak suruh suruh bibi nantinya"
"Iya iya kamu paling bisa deh "
Abian mengangguk dan menatap terus menerus wajah Inara dan saat Abian akan mencium bibir Inara, Inara langsung bangkit " makanya sambil nonton tv yu Bi, kita nonton film hantu gitu atau film apa biar lebih enak juga"
"Ayo sayang "
Abian membawa makanan dan cemilan yang lain, duduk disana dan Abian yang mencarinya, Inara malah terus saja menatap Abian, dan Abian yang merasa di tatap terus menerus langsung mengalihkan pandangannya.
"Ada apa sayang, kenapa kau menatapku seperti itu "
"Apakah kau sangat mencintai ku Bi, bukannya aku tidak percaya hanya saja aku ingin memastikan apakah kau memang benar-benar mencintaiku dan kelak suatu saat kau tidak akan pernah menduakan aku atau menghianatiku sama sekali"
Abian membenahi duduknya dan saling bertatap dengan Inara "kamu masih nggak percaya sama aku sayang, bahkan aku buat dapetin kamu aja susah gimana aku bisa khianatin kamu , dengerin aku sampai kapanpun aku tidak akan pernah menduakanmu atau menghianati dirimu, jika aku sampai melanggar janjiku kau boleh melakukan apapun padaku nanti tapi aku yakin aku tidak akan pernah melakukan kesalahan itu , kau hanya perlu percaya padaku jangan pernah percaya pada ucapan orang lain"
__ADS_1
"Iya aku tahu perjuanganmu sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari Ana aku percaya padamu"
"Aku sangat mencintaimu sangat menyayangimu jadi tidak mungkin aku menghianati mu atau melakukan kesalahan yang pernah menjadi trauma mu kau bisa pegang semua kata-kataku"
Inara menggangguk , sekilas mencium bibir Abian saat Inara akan kabur aabi langsung menahan tubuh Inara sampai sampai sampai Inara terlentang.
Abian makin mendekatkan tubuhnya makin dekat makin deket dan terjadilah mereka berciuman dan Inara yang terbawa suasana membalasnya, dengan mata yang terpejam.
Tiba tiba saja ada yang berdehem, Abian langsung melepaskan tautanya dan bertatapan dengan Ana langsung " kalian berdua belum sah, aku mengawasi kalian berdua Abian aku sudah percaya padamu kalau kau bisa menjaga adikku dengan baik jangan pernah kau hancurkan kepercayaan ku itu, ingat kata kataku ya "
"Iya iya aku minta maaf aku tidak akan melakukan itu lagi aku janji Ana "
"Hemm "
"Iya iya kami akan menonton saja " ucap Abian sambil menatap Inara sekilas namun Ana langsung menghalanginya mengunakan bantal, agar tak ada kontak mata diantara mereka berdua.
**
"Adam kenapa kau datang datang basah basahan begini bukannya kau menggunakan mobil, lalu kenapa kau basah basahan begini apa atap mobil mu bocor sampai-sampai kau terkena hujan"
"Tidak ibu, aku tidak sadar tadi hujan makannya aku kehujanan seperti ini, aku akan pergi dulu ke kamar untuk mengganti pakaian bu aku sudah kedinginan"
__ADS_1
"Tidak sadar kau bilang, kau tidak sadar dengan hujan yang menetes ke tubuh mu, memang sedang memikirkan apa jangan bilang kalau kau sedang memikirkan perempuan itu, ibu sudah bilang kau jangan pernah ikuti kata-kata ayah mu dia hanya menyesatkan kau, dengarkan kata-kata ibu apa yang menurut ibu benar berarti itu benar, ibu ini ibumu yang melahirkan mu dan kau harus lebih mengikuti apa kata-kata ibu bukan ayah mu "
"Tidak bu ini tidak ada kaitan nya dengan Inara, tolong ibu jangan bawa-bawa terus Inara dia tidak salah apa-apa bu, ini semua hanya kesalahanku saja, aku sedang melamun tentang pekerjaan ku yang begitu banyak, makannya aku tidak sadar kalau hujan"
"Tapi ibu tidak percaya dengan kata-katamu, sebelumnya kau tak pernah begini ada apa denganmu sebenarnya, kenapa tidak mau jujur dengan ibu, biasanya apapun yang kau pendam kau akan bercerita pada ibu, tidak seperti ini apa yang terjadi apa kau bertemu dengan Inara dan mengobrol lalu kau luluh lagi olehnya "
"Tidak bu aku sama sekali tidak bertemu dengan siapa-siapa, aku hanya kesepian saja dan ya begitulah karena memikirkan banyak pekerjaan dan tidak punya teman untuk mengobrol, jadi beginilah aku menjadi kesepian dan melamun dan tidak sadar kalau hujan sedang turun"
"Ya sudah nanti akan Ibu carikan jodoh untukmu biar kau ada teman dan kau ada teman berbicara juga kan, agar kau tidak sendiri dan tidak memikirkan Inara lagi Inara lagi Ibu sampai kapanpun tidak akan merestui hubungan kalian"
"Ibu tidak bisa gegabah aku sudah bilang pada seluruh dunia kalau aku sudah menikah dengan Livia, jika aku tiba-tiba menikah lagi yang ada aku akan turun jabatan dan semua harta ini akan diambil"
"Kenapa bisa begitu kenapa harta kita bisa diambil oleh orang lain. Kenapa kau hanya menikah sekali, memangnya menikah hanya boleh sekali kau boleh menikah beberapa kali saat bersama Inara pun kau menikah lagi dengan Iva , lali sekarang apa bedanya kau dan Livia hanya berpura-pura hanya untuk mendapatkan hartanya saja"
"Tetap saja Bu, aku tidak bisa aku tidak akan pernah bisa aku akan mengganti pakaianku dulu , aku sudah kedinginan nanti saja ngobrolnya ya bu. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu. Ibu tidak usah khawatirkan aku. Aku baik-baik saja aku hanya memikirkan pekerjaan saja tidak ada yang lain"
Adam langsung pergi meninggalkan ibunya. Bahkan dia tidak bercerita sedikitpun tentang dirinya yang bertemu Inara, karena dirinya tidak mau sampai ibunya mencaci maki lagi Inara.
Mungkin sekarang dirinya sadar kalau perbuatannya selama ini pada Inara itu sangat menjijikan dan memalukan, mencelakai seorang perempuan dan dia adalah perempuan yang pernah dirinya cintai.
Bahkan sampai sekarang dirinya mencintainya dan cinta itu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun, kalau bisa waktu diulang kembali dirinya tak akan pernah mendengarkan kata-kata ibunya.
__ADS_1
Ternyata anak bukanlah segalanya, keturunan bukanlah segalanya karena di hari tua yang akan menemani kita adalah istri.