Berbagi Suami

Berbagi Suami
Martabak


__ADS_3

Happy reading


"Udah selesai Mas?" tanya Zahra pada suaminya yang langsung dianggukkan oleh Abi.


"Udah nih."


"Kamu mau apa sebelum pulang?" tanya Abi pada sang istri yang saat ini diketahui sedang berbadang dua itu.


"Aku lagi gak pengen apa apa, Mas. Kita pulang aja ya," ucap Zahra dan dianggukkan oleh Abi.


Abi dan Zahra saling berpegangan tangan kemudian keluar menuju parkiran.


Keduanya masuk ke dalam mobil kemudian Abi melajukan mobil itu menuju rumah mereka dengan kebahagiaan yang sangat jelas di wajah mereka.


"Pokoknya kamu gak boleh capek capek. Kamu harus selalu berpikir positif supaya gak stress, Mas gak mau kamu sama anak anak kenapa napa," ucap Abi mengelus perut Zahra yang kini terisi anak mereka.


"Iya Mas."


Mobil itu berjalan menuju rumah dengan kecepatan sedang. Abi tak mau istrinya kenapa napa apalagi Zahra sedang hamil.


Keduanya saling berbincang dengan senyum yang mengembang di wajah mereka. Kemudian keduanya singgah di sebuah supermarket untuk membeli susu hamil dan makanan yang boleh dimakan oleh ibu hamil.


Bahkan saking asiknya, Abi sampai melupakan pesanan Aisyah yang hanya sebatas martabak yang tak sampai 50 ribu.


****


Dan kini Aisyah yang sedang menunggu martabak yang akan dibawakan suaminya nanti. Ia tak sabar, bahkan Aisyah sampai membawa pekerjaannya ke ruang keluarga.


"Nyonya gak ke kamar aja, nanti lelah duduk disini?" tanya Bibi yang menemani Aisyah mengerjakan tugas sekolah.


"Gak apa apa kok bi. Ai lagi nunggu martabak yang dibawakan oleh Mas Abi. Entah kenapa Ai lebih suka makan. Dan membayangkan martabak aja udah buat Ai ngiler," ucap Aisyah memasukkan nilai nilai ke dalam laptopnya.

__ADS_1


"Tapi Bibi takut Nyonya nanti kecapean."


"Gak apa apa Bibi. Bibi temenin Ai aja sampai mas Abi pulang ya," pintanya dan dianggukkan oleh bibi.


Pekerjaan yang semula sangat banyak kini tinggal berberapa saja. Bahkan hampir selesai, dan membuat Aisyah tersenyum.


"Alhamdulillah sudah selesai bi. Tapi Mas Abi kok belum pulang ya, Bi?" tanya Aisyah pada Bibi.


"Mungkin terjebak macet Nya."


Aisyah mengangguk dan menunggu suaminya, yang setelah ditunggu lebih dari setengah jam disana pulang.


Tin tin


Setalah mendengar itu, Abi dan Zahra masuk dengan membawa dua kantung kresek di tangan mereka.


Aisyah yang melihat itu tersenyum, semoga saja martabak yang ia minta ada.


"Assalamu'alaikum sayang," ucap Abi mengecup pipi Aisyah.


"Bi bawa ini ke dapur ya," ucap Zahra pada bibi yang tadi menemani Aisyah. Zahra memberikan dua kantung kresek itu pada bibi.


"Itu apa Mbak?" tanya Aisyah pada Zahra.


"Susu hamil, Ai. Benar Mbak hamil usianya baru 2 Minggu," jawab Zahra dengan senyum.


"Kita akan kedatangan anggota baru di dalam rumah ini," ucap Abi mengelus perut Zahra di depan Aisyah. Kemudian Aisyah langsung menyentuh perutnya sendiri.


"Selamat ya buat Mas Abi dan Mbak Zahra."


"Terima kasih Aisyah."

__ADS_1


Kemudian Aisyah tersenyum dan mencari apakah suaminya melupakan pesanannya tadi? Bahkan ia tak juga melihat suaminya memberikan martabak.


Melihat itu membuat Aisyah menjadi sedih. Apa sebahagia itu Abi sampai melupakan jika ia juga menitip pesanan padanya.


"Ya sudah ya Mbak, Mas. Aisyah mau ke kamar dulu, lagian tugas Ai sudah selesai kok," pamit Aisyah pada keduanya. Ia tak tahan disana melihat kedua orang ini.


"Loh kok buru buru, Ai."


"Capek mbak. Mau tidur aja, kan sudah selesai juga tugas aku," jawab Zahra dengan senyum manisnya. Senyum yang selalu ia gunakan untuk menutupi kesedihannya.


Aisyah langsung naik ke kamarnya seraya mengusap air matanya yang sempat jatuh walau hanya berberapa bulir saja.


Bibi yang melihat nyonyanya sedih itu ikut sedih, karena ia sendiri yang melihat bagaimana antusiasnya Aisyah saat ingin makan martabak itu.


"Kasihan Nyonya Aisyah," gumam bibi yang ikut kesal dengan majikannya itu. Walaupun sudah memiliki dua istri tapi apa boleh melupakan istri pertamanya?


Dengan cepat Bibi langsung pergi darisana, tujuannya untuk membeli martabak yang dikatakan Aisyah tadi. Dan Bibi juga penasaran apakah Aisyah hamil, kaluandilihat dari tanda tandanya memang benar Aisyah hamil. Semoga saja.


****


"Dasar Tuan gak peka, gak lihat apa ya kalau Nyonya Aisyah nangis kayak gitu," gumam Bibi itu berjalan menuju tempat dimana sepedanya terparkir.


"Mau kemana Mah?" tanya satpam pada Bibi Mimah.


"Beli martabak."


"Oh sekalian beliin ya."


"Ya."


Dengan cepat bibi mengayuh sepeda itu menuju tempat penjual martabak.

__ADS_1


Bersambung


Kesel aku sama Si Abi. Bisa bisanya lupa sama pesanan istri sendiri. Yang sabar ya, Ai. Author selalu ada buat kamu kok.


__ADS_2