
Inara sekarang malah kefikiran tentang apa yang dikatakan oleh Iva, maksudnya tukang selingkuh itu apa, apa Adam selingkuh lagi atau bagaimana ya.
Kalau sampai benar selingkuh hatinya kembali disakiti oleh Adam untuk kesekian kalinya. Tapi yang lebih penting sekarang adalah meminta maaf pada Bian. Ya mungkin ini salahnya juga.
Kan Bian sudah bilang kalau ada apa-apa bilang. Pasti sangat marah sampai dia tak mau bertemu dengannya. Sampai tak ada dikantor seharian. Sangat khawatir dirinya kepada Bian.
Segera Nara memencet no Bian dan menunggunya namun tak diangat kemana ya dia sebenarnya. Lebih baik kirim pesan saja pada Bian.
Bian
Bian kamu dimana, maafkan aku ya membuatmu marah 😟
Setelah mengirim pesan Nara segera menyimpan ponselnya dan membaringkan tubuhnya. Tanpa Nara sadari dia tertidur dengan tubuh yang miring.
***
Sedangkan Adam diluar dia sedang mengumpat, "punya istri dua, gak berguna. Harusnya mereka itu melayaniku bukannya seperti membiarkan suaminya mengobati lukanya sendirian " dumal Adam.
__ADS_1
Adam segera membersihkan lukannya, lalu memberinya obat merah, bahkan dirinya meringis merasakan sakitnya. Setelah selesai Adam langsung naik keatas untuk menuju kamarnya .
Saat masuk terlihat Iva yang sedang memainkan ponsel tanpa menghiraukan Adam yang masuk kedalam kamar.
"Kau ini menjadi istri sangat tak berguna Iva, suami babak belur gini bukannya obatin malah dibiarin "
"Kamu punya tangankan. Kenapa gak obatin sendiri aja. Males main bentak-bentak aja emang aku sama Nara itu pembantu kamu hah " lawan Iva yang memang berani pada Adam.
"Kau ini sangat lancang membentakku, aku ini suamimu kau harus patuh "
"Aku tau kau suamiku, aku akan patuh padamu, kalau kau juga peduli padaku serta Nara dan tidak main tangan. Aku tau kau selingkuh kembali "
"Tak perlu karena ada apa aku dan Nara menjadi akur, itu bukan urusanmu. Lihat saja akan aku buktikan kalau kau selingkuh kembali Adam Putra "
Adam yang marah segera masuk kedalam kamar mandi, bahkan sampai menutupnya dengan kerasa marah pada Iva yang sudah lancang padanya.
Iva hanya tersenyum bangga, akhirnya berhasil juga membuat Adam takut padanya. Sekarang akan dia buat Adam mentandatangi berkas-berkas ini agar mudah nanti saat dijual.
__ADS_1
**
Bian yang sedang siap-siap akan pergu segera melihat ponselnya disana ada pesan masuk dari Inara ,Bian hanya membukannya saja tanpa membalasnya sama sekali. Lalu menyimpannya kembali didalam saku Bian.
Bian segera keluar kamar dan mendapati mamihnya yang sedang minum teh diluar rumah. "mau kemana atuh kamu Bian udah gaya gini "
"Mau nongkrong mih, Bian pamit ya. Dadah mamih "
Bian segera pergi takut ditanya-tanya lagi oleh mamihnya. Jadi lebih baik pergi langsung aja.
"Heh Bian kurang ajar kamu teh ya. Mamih belum ngejawab udah pergi aja gak sopan kamu "
Bian hanya tersenyum saat mendengar terikan mamihnya. Selalu saja mamihnya ini menghibur dirinya yang sedang marah.
Selama perjalan fikiran Bian hanya tertuju pada Nara, Nara dan Nara. "Fokus Abian fokus kamu sedangn menyetir jangan memikirkan Inara terus "
Meskipun dirinya marah pada Nara, tapi dirinya akan tetap peduli pada dia. Semarah-marah dirinya akan selalu peduli pada Nara tak akan membiarka Nara pulang sendirian.
__ADS_1
Besok pagi entahlah, akan menjemput Nara atau akan menyuruk pak Darma lagi untuk menjemput Nara.