
Sedangkan Roger dan juga sang anak sudah ada di kantor polisi dia melihat barang-barang yang diberikan oleh polisi dan benar itu adalah barang-barang yang Puja bawa saat terakhir dia pergi.
"Iya ini bener barang-barangnya Puja lalu dengan Puja Apakah dia tidak ketemu Pak atau mayatnya atau orangnya masih hidup gitu Pak, apakah tak ada petunjuk baru selain ini"
"Belum kami belum menemukannya sama sekali tapi kami sedang mendalami lagi untuk pencariannya, tolong bapak bersabar ya, "
"Baiklah Pak saya serahkan semuanya pada bapak semoga saja Puja cepat ketemu "
"Baiklah pasti kami dengan cepat akan menemukannya"
"Baik pak saya permisi dulu "
Roger segera pergi dengan anaknya yang hanya diam saja dari tadi.
"Kenapa ayah hanya barang-barangnya saja yang ketemu terus tante Pujannya di mana, kenapa sangat lama menemukan tante puja apakah begitu sulit menemukan tempat tante Puja, tapi dengan kak Livia sangat cepat sekali ditemukan langsung ditemukan oleh kak Ana dan anak buahnya, kenapa ayah tak minta bantuan kak Ana sama anak buahnya itu "
"Ya itu berbeda sayang sangat berbeda, kalau kak Livia itu memang buronan yang sedang dicari, sedangkan tante Puja dia kan terjatuh bisa saja dia kecelakaan parah, sekarang kita hanya harus berdoa semoga tante Puja bisa lebih cepat ketemu, mau dia masih hidup ataupun sudah tidak ada yang penting kita menemukannya dan bisa menguburkannya dengan layak "
"Kenapa ayah berbicara seperti itu kenapa ayah berkata kalau tante Puja meninggal, kenapa ayah kan belum tentu "
"Gini loh tante Puja tuh jatuh kedalam jurang tidak akan mungkin selamat di dalam air itu kalau tak cukup bisa berenang, apa lagi arusnya sangat besar hal yang paling terburuknya ya meninggal, kita harus bisa nerima, itu udah kuasa Allah"
"Semoga aja ya Tante Puja gak apa-apa meskipun dia gak suka sama Sean tapi tetep aja kasihan kan kalau dia meninggal, gak punya siapa siapa, cuman punya kita aja, kasian banget "
"Kalau emang udah waktunya tante Puja meninggal ya gimana sayang, ya meninggal aja gitu, udah yu kita pulang aja ayah udah cape pengen istirahat, kamu cape gak habis camping, pasti cape kan "
"Ayo ayo Sean juga sama cape pengen istirahat, cape banget deh pokoknya ayah "
**
__ADS_1
Abian sudah datang di rumah Ana dia langsung berhadapan dengan Ana, sedang kan Cio, dia hanya duduk termenung diam tak berbicara apa-apa pada Abian yang datang.
"Ada apa Ana kenapa tiba-tiba kau menyuruhku datang kemari. Apa ada sesuatu hal yang penting sampai-sampai aku harus datang kemari dengan cepat dan kau yang marah-marah padaku dari tadi ada apa ini "
"Masuklah ke dalam ruangan itu, aku hanya memberikan kau kesempatan sekali untuk masuk ke sana dan setelah itu kau tidak boleh masuk ke sana lagi sampai kapan pun "
"Ihh emangnya ada apa kok gue jadi takut sih. Ada apa sih didalem sana sampai gak boleh masuk lagi nanti, engga ah gue gak mau masuk, nanti kalau ada yang aneh aneh gimana engga ah gak mau, lebih baik disini aja "
"Lo ya fikirannya terlalu jauh, udah sana masuk gih, atau lo gak akan pernah ketemu lagi sama orang itu sampai kapan pun gak akan ketemu lagi, gimana lo mau kayak gitu, cepet masuk dari pada lo nanti penasaran "
"Hah ada orang, gue kira ada paa gitu didalemnya, siapa sih orangnya kenapa sih harus rahasia rahasian kayak gini, ada apa sih sebenernya ini tuh "
"Ya udah kalau lo pengen tau, masuk ajak jangan banyak bacot kayak gitu, gimana sih banyak bicara banget kaya cewe cerewet gak bisa diem, kalau emang penasaran yaudah masuk aja gak usah banyak tanya kenapa sih "
Akhirnya Bian masuk saja dari pada dia bertengkar dengan Ana, nanti malah perang dan akhirnya dia tidak akan direstui oleh kakaknya Inara ini, tidak jangan sampai itu terjadi.
Saat melihat keadaan Livia yang seperti ini tiba tiba saja rasa kesalnya sedit mengilang berubah menjadi rasa iba, sepertinya memang Ana yang sudah melakukan ini, ya siapa lagi yang bar bar di rumah ini kalau bukan Ana.
"Akhirnya Lo ketemu juga Livia, lu udah nyakitin Inara beneran tega tahu gak gue gak pernah percaya lo bisa lakuin kayak gitu, gue gak pernah menyangka lo sejahat ini sama orang lain, demi mendapatkan apa yang tak akan lo miliki lo lakuin ini semua, kenapa sih harus kayak gitu kenapa sih Liv kenapa"
Livia yang sedang melamun segera mengalihkan pandangannya dan menatap Abian dia tersenyum pada Abian namun masih dengan menangis, dia sangat senang melihat Abian ada dihadapannya.
Kapan lagi dirinya akan melihat Abian, mungkin saja ini yang terakhir kalinya dan tak akan pernah ketemu lagi sampai kapan pun, ya tak akan pernah ketemu lagi.
"Kamu juga sama mau marahin aku Bi, kamu datang ke sini juga mau marahin aku padahal aku lakuin ini tuh buat mempertahankan kamu. Aku tuh suka sama kamu Aku tuh cinta sama kamu ,tapi kamu gak hargain sedikit pun apa yang aku lakukan, kamu egois Bi "
"Aku udah bilang kan dari awal kamu jangan jatuh cinta sama aku , aku udah jatuh cinta sama orang lain, aku gak mau kamu sakit hati tapi kamu malah kekeh ngerjar aku, aku udah tolak kamu berapa kali, tapi kamu terus aja kayak gitu, bisa gak sih Liv kita normal aja kamu gak usah cinta sama aku, banyak kok laki-laki di luar sana bukan aku aja, aku udah cinta sama orang lain aku udah pilih Inara buat jadi pasangan aku dan aku gak bisa pilih kamu aku udah bilang itu sama kamu berapa kali kan "
"Aku gak bisa aku gak bisa sama sekali melakukan itu, aku gak bisa berpaling sama laki-laki lain, aku udah pilih kamu Bi aku pilih kamu sebagai pasangan aku, kenapa sih apa sih spesialnya Inara di bandingkan aku, kita sama-sama perempuan apa bedannya coba jelasin sama aku, apa bedannya"
__ADS_1
"Iya aku tahu kalian sama-sama perempuan, tapi hati aku memilih Nara bukan kamu, dari awal aku juga udah bilang aku cinta sama Nara. Kenapa sih sulit banget buat sadarin kamu, udah ya mungkin sampai sini aja kita ketemu dan ini hari terakhir kita ketemu, kamu jangan macam-macam lagi ya sama calon istri aku, aku gak mau lagi berurusan dengan kamu, mungkin ini adalah terakhir kalinya kita bertemu karena kamu sudah berurusan dengan Ana "
"Abi Abi jangan tinggalin aku please Bi kamu diem di sini ya Bi jangan tinggalin aku, aku butuh kamu bi jangan tinggalin aku aku gak mau ditinggalin sama kamu, Bi tolong jangan kemana mana, jangan pergi ninggalin aku "
Namun Abian tidak mendengarnya dia terus saja keluar dan menutup pintunya lalu langsung berhadapan dengan Ana "lalu sekarang apa yang akan kau lakukan Ana. Apakah kau akan memberikannya pada polisi atau bagaimana"
"Todak aku tidak akan memberikannya pada polisi, cabut saja tentang laporan Livia itu, biar aku saja yang urus semuanya aku bisa memberikan pelajaran pada dia, dan kalian berdua tidak boleh berbicara pada siapapun kalau Livia ada di dalam sini di rumah ini, jika sampai itu terjadi berarti kalian berdua atau salah satu dari kalian yang sudah membocorkannya dan aku akan membebaskanmu Abian untuk bertemu dengan adikku, tapi harus ada batasannya karena aku akan disibukan dengan Livia pastinya"
"Beneran Ana gak bohong kan ini gak bohong kan, ini beneran kan An, aku lagi gak mimpikan"
"Ya udah kalau lu gak mau gak apa-apa gue cabut lagi aja lo gak boleh ketemu lagi sama adik gue, seperti semula 15 menit sehari"
"Gak Ana enggak jangan-jangan jangan ya gue mau gue mau jaga Inara sampai sembuh, gue bakal jaga dia dengan baik dan gak akan macem macem, gue janji Ana gue pergi dulu kerumah sakit dah Cio dah Ana "
Mereka hanya mengangguk saja dan Cio langsung menghampiri Ana, dia ingin mengusulkan sesuatu pada Ana, agar Livia juga tak terlalu tersiksa disini.
"Ana apa gak lebih baik aja kita masukin dia ke kantor polisi aja gitu. Kayaknya kalau misalnya didiemin dia di sini bisa-bisa nanti Inara tahu, lebih baik kita laporin aja dia ke polisi maksudnya jeblosin aja dia ke sana dari pada di sini kan gimana "
"Udah gue bilang kan Cio gak usah gue bisa urus dia sendiri dan Inara pun gak akan pernah tahu karena setelah dia sembuh dia akan menikah dan yang pastinya Abian akan membawanya, jadi semuanya udah gue susun lo gak usah khawatir dan takut , semuanya udah beres, kenapa lo takut ya kalau misalnya temen lo itu kenapa napa, "
"Ya bukan gitu maksud gue bukan gitu, kalau sana polisi udah beres gak usah kita cape cape, udahlah biarin aja polisi yang urus dari pada lo cape cape urus Livia dan kasih dia hukuman kan"
"Gak bisa Cio gue gak mau polisi yang hukum dia, lebih baik gue aja yang hukum dari pada polisi gue masih hidup, gue bisa kok ngurus dia sampai semua dendam yang gue punya sama dia tuntas, baru setelah itu gue bisa lepasin dia jadi udah ya jangan banyak bicara "
"Gimana lo aja deh An pokoknya gue terserah aja deh, gue udah kasih usul sama lo, tapi lo malah kayak gini, semua ada ditangan lo, kalau sampai ada polisi yang mengetahuinya lo pasti bakal kena Ana "
Cio langsung berjalan kearah dapur mengambil minuman dan cemilan, lalu beralih ke ruang tv, dirinya ingin menonton tv saja, dari pada memberi tahu Ana tapi tak pernah ada ujungnya, yang ada dirinya akan kalau dan tak bisa berkutik apa apa, sekali menurutinya.
Bukannya dirinya ingin membela Livia, tapi kasian saja kalau seperti ini dikurung didalam sebuah ruangan dengan seorang pembunuh, apa lagi kan kejiwaannya agak terganggu bisa bisa dia makin parah dan malah makin ganas kan.
__ADS_1