
Happy reading
"Jawab Mas sayang."
Aisyah menatap suaminya yang sedang menatapnya lembut itu. Rasa bersalah kian masuk ke dalam hati Aisyah. Kenapa suaminya bisa tahu semua ini, Aisyah tak mau hubungan suami dan mertuanya bermasalah karena dirinya.
"Aisyah pikir itu gak penting Mas. Ibu benar, aku memang kurang sempurna buat kamu. Selama ini kamu dan orangtua kamu selalu mengingkan kehadiran seorang anak dari aku tapi apa? Selama 4 bulan hampir 5 bulan kita menikah aku belum juga hamil. Bahkan aku hampir menyerah dengan keadaan ini, tapi aku tak mau kamu sedih."
"Tapi dengan cara kamu menyuruh aku menikah lagi itu juga menyakitkan buat aku sayang. Kamu tahu sejak pertama kita bertemu aku sudah suka dan cinta sama kamu. Dan hanya karena anak kamu mengorbankan cinta kita?" tanya Abi dengan mata memerah menahan tangis.
Ia menyesal kenapa baru mengetahuinya sekarang kalau selama ini Aisyah selalu di perlakukan tidak enak oleh ibu kandungnya sendiri? Kenapa ia tak sadar, Aisyah terlalu baik untuk dirinya yang seperti ini. Bahkan Aisyah menahan rasa sakit hatinya sendiri karena ibu kandungnya.
"Aku gak ada cara lain, Mama pernah bilang kalau mungkin saja jika kamu nikahnya sama perempuan lain kamu udah punya anak. Sedangkan sama aku belum juga," jawabnya dengan pelan. Tangannya terulur untuk menyentuh kumis Abi yang mulai tumbuh.
"Dan kamu gak bilang sama aku. Apa kamu tidak menganggap aku suamimu sayang?"
"Bukan gitu Mas, aku cuma gak mau kamu ribut sama Ibu. Aku cuma mau itu."
"Dan dengan menikahnya kamu sama Mbak Zahra pasti bisa mendapatkan keturunan apalagi Mbak Zahra juga cantik pasti anak kalian juga ganteng dan cantik."
Yah kalian pasti tahu jika anak itu menurun dari gen orangtuanya.
"Tapi aku selalu bersalah saat berhubungan dengan dia. Aku bersalah karena aku hanya mencintai kamu. Aku bahkan seperti laki laki brengsek yang mempermainkan pernikahan," jawab Abi dengan sedih.
"Mama memang kelewatan," batin Abi menatap wajah cantik Aisyah yang tak pernah mengeluh bahkan marah pada ibunya. Padahal perlakuan Ibunya sangatlah keterlaluan.
"Kamu tidak brengsek kok Mas. Aku tahu kamu belum beradaptasi saja dengan Mbak Zahra, aku tahu kamu dan Mbak Zahra perlu waktu. Aku yakin kamu juga akan mencintai Mbak Zahra sama seperti aku," ucap Aisyah mengecup kening suaminya.
Aisyah selalu menutupi kesedihannya perlakuan manisnya pada Abi. Karena Aisyah tak ingin membuat orang lain kasihan padanya, bisa dikatakan Aisyah adalah seseorang yang pura pura tegar. Padahal aslinya Aisyah sering menangis jika tak ada siapapun.
"Mas."
__ADS_1
"Hmm," deheman Abi karena sekarang laki laki itu sedang menyembunyikan wajahnya di dada Aisyah dengan lembut.
"Aku pengen mandi, gerah banget lepasin dulu ya," ucap Aisyah yang merasa badannya sangat lengket karena tadi dari sekolahan ia belum sempat mandi.
"Kita mandi barengnya, udah lama loh kita gak mandi bareng," pinta Abi dengan senyum khasnya.
"Lama apanya, baru aja tiga hari lalu kita mandi bersama. Lama dari mananya?" tanya Aisyah yang tak habis pikir dengan suaminya ini.
"Tiga hari sama aja sama tiga tahun. Kamu tahu aku sangat rindu dengan wangi kamu sayang."
Nah mulai nih si Abi. Gombalannya keluar kalau sudah menjerumus ke sana. Dan Aisyah sudah tak kaget lagi karena memang begitulah modus Abi padanya entah jika dengan Zahra.a
"Ya sudah, sebagai istri yang baik aku nurut apa kata kamu," ucap Aisyah dengan senyum membuat Abi bersorak girang.
Abi mulai menggendong tubuh Aisyah yang ada dipangkuannya itu ala koala. Wanita itu melepas sandal rumahnya dan mengalungkan tangannya di leher Abi.
Akhirnya di siang itu Abi dan Aisyah mandi bersama setelah tiga hari tak bersama seperti ini. Abi melepaskan rindunya pada Aisyah yang sudah tiga hari ini ia tahan.
***
"Kamu wangi aku suka," jawab Abi dengan senyum manisnya. Tanpa mau melepaskan pelukannya dari Aisyah.
"Tapi aku geli Mas cium terus," ucap Aisyah dengan mengalihkan tangan Abi ke depan.
Abi yang gemas dengan sang istri itu langsung mengambil hair dryer itu dan mulai mengeringkan rambut istrinya yang hitam dan lurus.
Ia menghirup aroma vanila dari rambut istrinya yang sangat menenangkan dirinya.
"Wangi banget sih rambut kamu, kalau gini aku gak akan mau jauh jauh dari kamu," ujar Abi dengan senyum.
"Kalau gitu Mas hirup shampoo aku aja, Aisyah jamin mas gak bakal bisa berpaling dari shampoo aku itu," jawab Aisyah menatap suaminya dari cermin.
__ADS_1
"Masa Mas harus pelukan sama shampoo sih sayang, kamu rela Mas tidur sama shampoo kamu?" tanya Abi seolah sangat melas.
"Bercanda Mas, emm gimana kalau hari ini kita jalan jalan Mas. Aku udah lama gak jalan jalan sama kamu, kita ajak Mbak Zahra sekalian," ucap Aisyah yang membuat Abi langsung menyurutkan senyumnya.
Tadi ia sudah senang karena bisa jalan lagi dengan Aisyah tapi jika dengan Zahra. Ia tak tahu bagaimana perasaannya dengan Zahra.
Tapi Zahra sudah menjadi istrinya tak mungkin jika mereka hanya jalan berdua saja, karena walau bagaimanapun ia tak boleh membuat Zahra merasa tersisih karena perjanjian dengan Asiyah.
"Nanti malam, kita makan di luar aja bertiga sekalian jalan jalan."
"Oke."
***
Sedangkan Zahra yang sudah selesai membuat makanan ringan itu langsung memanggil Abi dan Aisyah di kamar mereka.
Ia berharap Abi dan Aisyah suka dengan makanan yang ia buat. Zahra tak cemburu pada Aisyah karena Aisyah adalah istri sah Abi yang pertama sedangkan Zahra hanya yang nomor dua.
Harusnya Aisyah mendapat 4 hari kebersamaan dengan Abi. Tapi Aisyah cukup baik dengannya hingga membuat Zahra merasa beruntung memiliki Aisyah sebagai madunya. Zahra berharap Aisyah selalu bahagia dan juga selalu beruntung, karena Aisyah sudah membuat ia naik dari sebuah trauma yang mendalam karena kematian suami pertamanya.
Sampainya di depan pintu kamar Abi dan Aisyah, Zahra langsung mengetuk pintu kamar itu membuat Abi yang ingin menyosor bibir Aisyah itu langsung tertahan hingga membuat Aisyah tertawa.
"Buka pintu dulu."
Abi dengan terpaksa membuka pintu kamar itu dan melihat Zahra disana.
"Maaf Mas ganggu, ini aku bawain makanan ringan buatan aku. Semoga kalian suka ya," ucap Zahra memberikan sepiring makanan ringan itu.
"Hmm terima kasih. Nanti malam kita akan makan di luar. Kamu ikut sekalian."
"Iya Mas."
__ADS_1
Setelah itu Zahra pamit ke bawah sedangkan Abi kembali masuk ke dalam kamar.
Bersambung