
Abian dan Cio berhenti disebuah Cafe yang cukup ramai, mereka berdua hanya memesan kopi saja, tak ada yang lain hanya itu, gimana tubuh lo udah baik baik aja kan Cio "
"Ya gini aja, gue lagi dalam sama pemulihan, lo tau gak gimana perkembangan tentang hilangnya Puja, ya siapa tau lo denger gitu "
"Yang gue tahu sih Puja sampai sekarang belum ketemu, bahkan pakaian atau dompet atau tasnya pun gak ada yang ketemu satu pun, itu kenapa sih bisa kecelakaan kayak gitu apa saat di dalam mobil dia gak pakai sabuk pengaman gitu sampai bisa terjun dan kaca mobil lo bolong kayak gitu, apa lo mabuk saat nyetir "
"Enggak gue sama sekali gak mabuk atau pun apa, kan masih pagi-pagi juga masa iya gue pagi-pagi mabuk di saat malam kemarin Ayah gue mati, ya enggak lah gue gak akan mungkin kayak gitu, gue lagi berduka Bi, cuman kita lagi bertengkar kecil aja dan Puja gak sengaja bikin gue tuh belok ke arah jurang gue juga kalau gak salah udah cerita deh sama lo tentang masalah ini"
"Hemm rasanya belom deh bambang lo ya suka ngada ngada aja, gue tau dari orang lain, makannya gue mau tanya kebenarannya sama lo, "
"Iya iya gue lupa belum ya, gue juga di rumah sakit dijaga sama Nana, lu juga gak pernah tengok gue ke rumah sakit, lu lagi sibuk apa sih sampai gak sadar kalau temen sendiri itu lagi sakit di sana , apa soh kesibukan lo sampai lupa gue "
"Ya maaf gue lagi ada masalah, bukannya gue gak mau liat lo, saat gue mau liat lo, lo nya udah gak ada, udah pulang, tadinya gue mau kerumah lo aja tapi lo malah datang kerumah Ana buat ketemu Roger, gak biasannya lo kesana ada apa " pancing Abian.
"Engga gue cuman mau minta maaf gara gara gue calon istrinya hilang gak diketemuin sampai sekarang makannya gue mau minta maaf sama dia, kalau aja waktu itu Puja gak sama gue, mungkin semua ini gak akan pernah terjadi kan "
"Namanya juga musibah gak ada yang tau, lo jangan gitu ah, ini emang udah takdirnya aja, lo jangan salahin diri lo sendiri ya "
Cio hanya mengangguk saja dan meminum kopinya lalu menyandarkan tubuhnya dan menatap keluar jendela, sedangkan Abian hanya diam mengamati Cio.
"Kenapa semenjak kecelakaan lo jadi pendiam gini, apa ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue kayaknya masalah lo banyak banget deh"
"Gue cuman kangen aja sama ayah gue. Setelah dia meninggal rasanya hidup gue hampa juga tanpa sosok Ayah satu-satunya orang tua yang gue punya, gue baru sadar juga ternyata Ayah gue sangat berarti dalam hidup gue, selama ini mungkin emang gue dulu benci banget sama dia, gara-gara udah sakitin hati ibu gue tapi setelah gue ditinggal sama dia, gue gak bisa berpikir lagi deh, gue rasanya kehilangan banget sosok Ayah yang selalu ada buat gue, meskipun dia sibuk dengan perempuan-perempuan itu, tapi setidaknya dia selalu ada buat gue, saat gue kena musibah gini dia gak ada "
__ADS_1
"Kan masih ada gue, masih ada keluarga gue, lo kenapa jadi kayak gitu jadi galau gue gak suka ah, gue lebih suka sama Cio yang dulu yang ceria, itu semua udah waktunya ayah lo pergi, jadi lo harus relain "
"Gak kok sebenernya belum waktunya,gue pulang dulu ya "
Cio langsung saja melenggos meninggalkan Abian, lalu Abian memikirkan tentang kata belum waktunya, apa yang dimaksud belum waktunya, apa karena ayah Cio bunuh diri makannya dia berkata belum waktunya, ya sepertinya seperti itu.
Abian yang tak mau terlalu memikirkan tentang hal itu segera pergi juga, karena waktu juga sudah malam, jangan sampai dirinya telat besok harus bekerja, jangan ada kata malas malasan lagi.
**
Sedangkan Ana dia tak langsung masuk kedalam kamarnya setelah adiknya masuk, namun dia pergi kedalam ruangan rahasinya yang sepertinya sudah tak rahasia lagi.
Ana mengambil sisa tubuh perempuan itu lalu memotong motongnya dengan sangat kecil, malahan sangat kecil sekali, sedangkan tulang tulangnya Ana tumbuk satu persatu.
Dirinya ingin menyadarkan Roger kalau Puja seperti itu karena Roger terus mengejarnya, " Kenapa hidupku menjadi sangat rumit setelah kedatangan Roger. Apakah seharusnya dari awal aku tidak menyelamatkannya dan bekerja sama dengannya saja waktu itu "
"Tapi kalau aku tak bekerja sama dengannya yang ada Sean akan menjadi yatim piatu dan aku tak akan bisa mengenal anak itu, malah jadi serba salah begini ya, ah tau ah pusing aku, pusing mikirinnya juga. "
Kembali Ana menumbuk tulang tulang itu tiba tiba saja ada yang mengetuk pintunya "siapa "
"Saya Jack nona "
"Masuk "
__ADS_1
Jack masuk dan menatap kearah Ana "ada yang bisa saya bantu"
"Buang semua daging-daging ini, kalau perlu kau sebarkan di mana saja jangan sampai ada orang yang tahu, mau kau berikan pada anjing atau kau kubur itu terserah kau saja, yang terpenting tidak ada jejak di mana pun aku rasanya sudah tidak berselera lagi "
"Baik nona "
Jack segera membawa karung yang berisi daging itu keluar dan meninggalkan sang nona. Ana yang sudah selesai menumbuk segera mencuci tangannya dan keluar dari ruangan itu dan masuk kedalam kamarnya untuk segera istirahat.
**
Saat Jack akan keluar gerbang dia berpapasan dengan Roger "mau kemana Jack malam malam seperti ini, membawa itu juga apa karung, apa tuh isinya "
"Ini hanya sampah tuan bukan hal yang penting "
"Emm yaudah buang kesana Jack kenapa di pegangin terus "
"Iya ini barang barang Nona Ana dan nona Ana menyuruh saya membuangnya jauh dari rumah "
"Kenapa, kenapa harus jauh dari rumah, kan disini juga sama saja, tak akan ada yang tau kan itu barang Ana "
"Iya saya tau, tapi itu perintah dari nona dan saya harus mematuhi apa yang nona katakan, saya permisi dulu tuan "
Jack langsung berjalan mejauh dari jangkauan Roger, dia terus saja berjakan dan tak lama ada mobil datang, Jack langsung naik dan Roger yang ingin mengikuti jadi tak jadi.
__ADS_1
"Apa sebenernya didalam sana, kenapa harus membuang sampah memakai mobil, sepetinya ada yang mencurigakan didalam sana "