Berbagi Suami

Berbagi Suami
Adam tidur diruang tamu


__ADS_3

Bian yang sudah sampai didepan rumahnya segera mengangkat Nara untuk masuk kedalam rumah. Sedangkan Nara masih meracau dan sesekali meraung menangis. Sepertinya bebanya sangat berat dan banyak.


"Ya allah Abi kamu bawa siapa, itu perempuan siapa" teriak mamihnya yang memang menunggu kedatangan Bian.


"Ini Nara mih " jawab Bian seadannya.


"Aya naon naha Nara sampai pingsan (ada apa kenapa Nara samapai pingsan )"


"Panjang mih ceritanya "


Bian segera membawa Inara kedalam kamarnya. Mamihnya yang tidak sadar Nara dibawa kedalam kamar anaknya hanya mengekor saja dengan wajah yang sudah khawatir, takut terjadi apa-apa kepada Inara.


Bian segera membaringakan Inara "jahat mas jahat hiks hiks apa salahku padamu dan keluagamu. Kenapa ibumu sangat membenciku " racau Nara kembali.


"Ya allah Nara, anaknya mamih kamu kenapa " sambil duduk dipinggir tempat tidur dan mengusap-ngusap kening Nara.


"Ini kenapa Nara Bi, jelasin sama mamih "


"Tadi Nara ga sengaja minum alkohol mih "


"Gusti nu agung ieu budaknya keterlaluan, kuduna Bian jaga cing leres Inara teh (allah maha besar ini anak keterlaluan, seharusnya Bian jaya yang bener Inaranya )"


"Iya maaf mih, aku tadi ngobrol dulu sama rekan kerja aku, aku gatau kalau Nara bakal minum, minuman yang salah "

__ADS_1


"Yaudah sana ambilkan lap basah dan baskol, lalu ambil baju tidur mamih ya "


"Iya mih " Bian segera pergi untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh mamihnya, saat masuk kedalam kamar mamihnya, papihnya sedang tidur pulas dengan sebisa mungkin Bian mengambilnya dengan perlahan.


Segera Bian pergi lagi kekamarnya "mih ini " ucap Bian sambil memberikannya pada mamihnya.


Segera mamihnya mengambil lap basahnya lalu mengelap wajah Nara, tangan serta kakinya agar tidurnya lebih enak. Saat akan membuka atasan Nara mamihnya lupa bahwa didalam ada anak buayanya yang masih setia menunggu Nara.


Abian yang melihat mamihnya membuka atasan Inara makin menajamkan penglihatannya siapa tau ada sesuatu yang mengintip didalam "Het gak bisa keluar kamu teh Bian, sana jangan ngintip, mamih sampai lupa kamu ada kamu disini. Kamu tuh yah pengen aja liat bukan mukhrim Abi " teriak mamihnya.


"Biarin dong mih, Biankan nanti juga bakal nikahin Inara. Jadi gapapa kali liat sedikit gak akan marah kok Naranya juga " jawab Bian dengan wajah memelasnya.


"Yakan itu nanti bukan sekarang, jadi sekarang kamu keluar dari kamar ini Abi, atau mau mamih colok matakamu nih colok colok " sambil menghampiri Abi dan mengacung-ngacungkan tangannya kearah mata Abian.


Nasibnya sungguh kasihan, diumur yang sudah matang belum nikah "burung nanti kalau aku sudah nikah dengan Inara tenang saja kamu akan terpuaskan setiap hari, sekarang kamu puasa dulu ya sampai beberapa bulan "


Sedangkan didalam, mamihnya Bian sedang menganti pakaian Nara dan mengusap wajah Nara dengan sayang "sayang kenapa nasibmu tak baik. Kalau saja kamu terlebih dahulu bertemu dengan anak mamih pasti kamu ga akan mengalami kesekitan ini " ucap Mamih Abi. Menyayangkan nasib Nara yang malang.


Setelah selesai, mamih Abi mencium kening Nara lalu pergi dan melihat anaknya sedang mengusap-ngusap sesuatu "Hey lagi ngusapin apa atuh Abi " tanya mamihnya yang penasaran.


"Eh mamih ngagetin aja, engga ini lagi mainin celana aja " bohong Abi.


"Ahh bohong, pasti kamu lagi mainin burung kamu ya, yang gabisa berdiri itu "

__ADS_1


"Ih engga mih, udah udah sekarang mah mamih cepetan kekamar kasian papih sendirian "


"Eh iya lupa, mamih teh ninggalin papih sendirian gimana kalau nyariin mamih yang cantik demplon ini "


Bian hanya menggeleng-ngelengkan kepalanya saja, dasar mamihnya ini seperti anak kecil saja. Abi segera masuk lalu tersenyum membayangkan kalau dirinya sudah suami istri dengan Nara pasti akan seperti ini. Senangnya akan lebih dari ini.


Pulang kerja akan di sambut, makan ada yang nemenin terus bakal ada temen tidur juga. Gak meluk terus guling dan kedinginan ditemani angin malam. Rasanya ingin segera terwujud mimpinya itu.


Nanti akan punya anak yang lucu-lucu bareng Nara, tapi kalau Nara gak bisa ngasih anak, gapapa yang penting Nara selalu ada disampingnya itu sudah cukup. Hidupnya sudah lengkap meski hanya berdua dengan Inara kelak.


**


Adam yang masih diluar kamar hanya bisa diam dan turun kebawah untuk tidur bersama Inara saja. Namun saat Adam membuka pintu kamar Inara masih dikunci. Jika Inara tidur dan mendengar sebuah ketukan pasti dia akan bangun.


Tidak seperti biasanya apa benar Nara ada didalam kamarnya atau tak ada. "Nara Nara buka pintu aku ingin tidur. Cepat kau jangan durhaka dengan saumi mu ini buka pintunya jangan buat aku marah padamu " teriak Adam sambil mengedor pintu kamar Nara namun sama sekali tak ada jawaban


"Nara buka, apa sekarang kamu gak punya telinga sama seperti Iva. Buka pintunya aku ingin masuk " teriak Adam lagi. Namun sama tak ada jawaban sama sekali.


"Sialan kalau tau begini kejadiannya tadi nginep aja dirumah Shinta. Punya istri 2 tetep aja pada ga berguna dua duanya. Tak ada yang bisa diandalkan. Seperti aku salah menikahi kedua wanita yang tak becus ini. Harusnya dari awal aku menikahi Shinta " dumal Adam.


Adam yang leleh segera menghampiri shofa lalu membaringkan tubuhnya, meskipun kakinya tertekuk karena tak muat. Namun badannya sungguh lelah dan sangat ingin beristirahat.


"Awas saja, kalian berdua akan aku beri peringatan atau kalau perlu akan aku pukul mereka berdua karena sudah berani membuat suami sendiri tidur diruang tamu seperti ini. Inikan rumahku tapi kenapa mereka seperti yang punya rumah ini " dumel Adam lagi

__ADS_1


Setelah marahnya berkurang, Adam segera memejamkan kedua matanya dna tertidur dengan pulas. malahan sampai mendengkur saking capenya oleh aktifitasnya bersama Shinta. Pacar barunya.


__ADS_2