Berbagi Suami

Berbagi Suami
Pembatas


__ADS_3

Roger masih saja diluar rumah Roger, mengecek kapan Puja akan keluar dari rumah Cio " benar kan apa kataku pasti dia ke rumah Cio. Sekarang dia ada di dalam rumah sedang apa dia, kalau misalnya aku tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah Cio yang ada aku akan disangka maling, ini sudah hampir 2 jam aku menunggu di sini tapi mereka berdua sama sekali tidak ada keluar dari dalam rumah apa yang mereka sedang lakukan"


Roger memang sengaja tadi mengikuti pacarnya yang tiba-tiba saja pergi dari rumah Ana, karena memang dirinya sedang menyelidiki Puja, makannya dia mengikutinya ternyata benar kan dugaannya kalau Puja akan pergi ke rumah Cio siapa lagi kan kalau bukan rumah Cio.


Dan akhirnya keluar juga namun bertiga "Nana ada disini berarti Nana ada disini, Jadi Nana juga tidur di sini atau memang sudah serumah, berarti Nana tidak seperti yang aku pikirkan dia mau tinggal di rumah laki-laki, apakah selama ini aku salah sangka pada Puja, tapi tidak mungkin Puja selalu saja pulang malam ada bercak merah di lehernya seperti bekas ya tahulah apa yang dilakukan laki-laki"


Roger segera memundurkan mobilnya dan menunggu mobil Cio keluar, tak lama kemudian mobil itu keluar dan Roger segera mengikutinya kembali.


"Mau kemana sih mereka berdua ini, eh berdua bertiga Ini, kemana coba ah "


Dan tak lama kemudian berhenti, disebuah rumah, Nana turun dan setelah itu mobil itu melaju kembali, Roger terus mengikutinya dia fokus melihat kearah depan.


Sedangkan didalam mobil Cio, Puja terus saja menatap ke arah spion yang ada di tengah dan melihat plat nomor mobil yang dari tadi mengikuti mobil Cio "Cio sepertinya ada yang menguntit kita deh kalau gak salah itu mobilnya Roger yah bener itu mobilnya Roger kita diikutin"


"Mana yang bener kamu jangan bohong ya aku gak mau ditipu sama kamu, yang bener "


"Iya beneran masa sih aku bohong, buat apa coba aku bohong ih, udah udah cepet yang bener ah nyetirnya, awas nanti nabrak lagi "

__ADS_1


"Yaudah iya iya aku ngebut, kamu sih Ngapain datang ke rumah pagi-pagi udah tahu Roger itu lagi curi sama kita, tapi kamu datang lagi ke rumah datang lagi ke rumah, aku tuh baik-baik aja, ada Nana yang jagain aku, kenapa kamu malah kaya gini, bikin pusing aja "


"Kamu ini kenapa sih semenjak kenal sama Nana kok jadi kayak gini ya sama aku, jadi gak kayak pas awal kita ketemu lagi kamu tuh udah bosen ya sama aku, atau gimana sih "


"Ini gak ada sangkut pautnya sama Nana, aku bukannya bosan sama kamu tapi aku lagi mencoba untuk supaya Roger gak terlalu curiga sama kita, kamu lihat dong gimana calon suami kamu itu ngejar-ngejar kita, sampai dia nguntit kita berdua mikir ke situ gak sih. Kamu seharusnya jangan fikirin kesenangannya aja, tapi lihat dulu akibatnya kalau kamu terus gini aku jadi pengen udahan aja deh. Aku males hubungan sama kamu"


"Apa kamu pengen udahan sama aku setelah kamu puas jelajahin tubuh aku, terus kamu tiba-tiba pengen putus gitu dari aku, selama ini kamu butuhnya aja maunya aja gitu Iya"


"Kalau kamu tetap kayak gini aja aku akan menjauh dan aku akan bilang semuanya sama Roger, tentang hubungan kita jadi kamu nurut atau aku akan bilang semuanya sama Roger aku gak akan pernah main-main loh"


Puja langsung memegang stir dan membelokannya kekiri, kekanan, "Puja apa yang kau lakukan apakah kau sudah gila "


"Karena kau yang sudah membuatku harus melakukan ini "


Cio tak bisa mengendalikannya mobil yang didepan mengelaksoninya, dengan tangan satunya Cio langsung mendorong Puja dan membelokannya kearah samping kanan dan mobil itu menabrak pembatas jalan, dan membuat mobil itu terjun kejurang.


Roger yang melihatnya langsung menepikan mobil dan turun, berlari kesana dan melihat mobil itu sudah berguling guling, dan masuk kedalam jurang.

__ADS_1


Roger yang syok langsung menyenderkan badannya pada pohon yang ada didekatnya dan mengusap wajahnya. "Puja, apakah benar Puja masuk kedalam sana, Puja "


Orang orang segera menghubungi polisi banyak orang yang datang dan melihat kejadian itu, bahkan sekarang Roger tak bisa menopang tubuhnya, dirinya merosot kebawah dan hanya bisa diam saja tatapannya kosong tak tau harus melakukan apa.


***


"Bu bagaimana ini. coba ibu bujuk kembali Livia agar tak memotong gajih Adam semuanya, kalau begitu kita makan dari mana bu, yang ada kita berdua tak akan makan "


"Kamu ini bodoh sekali, kenapa kamu bertindak sebelum dia yang memerintah, kalau misalnya dia yang memerintah pasti tidak akan seperti ini kamu juga bisa meminta pertanggung jawabannya, ini malah sebaliknya kamu yang dipinta pertanggung jawabannya oleh dia, terus nanti kita makan dari mana, Terus ibu beli barang-barang kesukaan Ibu dari mana, kamu ini ya kalau melakukan sesuatu tuh tidak selalu dipikirkan dengan matang dulu, apa kedepannya yang akan terjadi jadinya seperti ini kan Dam "


"Bu kenapa Ibu jadi malah nyalahin Adam, aku lakuin ini supaya balas dendam aku tuh langsung tercapai gitu Bu, lihat Inara mati sama calon suaminya aku tuh gak mau lihat mereka bahagia di atas penderitaan aku, apalagi sampai mereka menikah aku gak mau itu sampai terjadi Bu, jadi ya wajar aku gegabah seperti ini karena aku ingin melihat keluarga mereka sedih seperti apa yang pernah ibu dan ayah rasakan saat aku di penjara dulu, aku pun ingin mereka merasakannya Bu"


"Iya Ibu tahu tapi ini bukan waktunya, kamu terlalu gegabah Ibu tidak akan mau meminta pada Livia, kau saja yang memintanya ini karena salahmu sendiri kan bukan salah Ibu jadi kau saja yang meminta pada Livia. Ibu tidak akan ikut campur sama sekali jadi kau pikirkan bagaimana caranya agar Livia mau memaafkanmu dan kembali memberikanmu uang Ibu tidak akan ikut campur"


Ibu Adam langsung pergi dan meninggalkan sang anak di ruangannya, biarkan dia berpikir supaya dia tahu rasanya bagaimana marahnya Livia padannya. Biar dia tak melakukan hal nekat lagi.


"Kalau gini caranya mending aku di penjara aja deh enak-enak di sana makan gratis gak usah mikirin uang ini keluar malah mikirin uang terus, ini bayar rumah sakit sama siapa coba sial hidup gue sekarang gara-gara Inara ini semua"

__ADS_1


__ADS_2