
Setelah Bian sampai dia langsung keluar dan masuk kedalam kantornuya, namun di halangi oleh Shinta.
"Ada apa sih Shin "
"Saya mau bicara sama bapak "
"Bicara apaa kamu, ikut saya keruangan saya ya "
"Iya pak "
Shinta segera mengikuti Bian naik kelantai atas dan masuk kedalam ruangannya.
"Jadi ada apa kamu ingin menemui saya "
"Pak mending bapak keluarin aja deh Inara, dia itu kakaknya berbahaya malahan dia sampai ancem amcem saya "
"Kamu mungkin yang pertama buat ulah sama Inara makannya diancem sama kakaknya, udahlah cuman hal sepele ini jangan di besar besarin ngapain sih, udah sana kamu kerja lagi, fokus sama kerjaan jangan fokus ngerjain Inara terus. Saya pusing liatnya "
"Tapi pak "
Belum juga Shinta menyelesaikan pembicaraannya datang seorang wanita dan langsung memegang tangan Shinta, untuk membuatnya bangkit.
"Heh kamu ya ngapain diruangan calon suamiku, gak sopan banget ya kamu, keluar keluar sana pergi dari sini " teriak Livia yang tiba tiba saja muncul tampa di undangn sama sekali.
"Apa apaan sih kamu Livia, dia adalah karyawan saya, kamu gak berhak untuk marah sama dia "
"Kamu ya Abi, mau selingkuh dari aku sama perempuan kaya gini gak banget ya "
"Pusing aku sama kalian, silahkan kalian bertengkar " Abi segera pergi keruangan sebelah, keruangannya Inara, dikunci dan langsung saya duduk sambil memijat keningnya.
Sedangkan Inara yang kaget tak bisa berbicara apa apa lebih baik fokus bekerja dari pada di omelin, anggap aja gak ada kan ya.
"Cepetan keluar " teriak Livia.
"Sabar dong mba, masih temen aja bangga mba "
"Heh sialan ya kamu, lihat saja saat saya sudah resmi menjadi istri Abi saya yang akan memecat kamu "
"Bodo " jawab Shinta sambil melengos pergi keluar.
***
Adam yang baru terbangun segera bangkit dengan tertatih tatih melihat kesekeliling dan mengigat ngigat kembali kejadian tadi, kejadian yang dialaminya.
"Ya ampun kenapa sampai tidur disini coba, badan jadi sakit gini, gara gara Sandi nih, tu orang makin kesini makin ngelunjak. Harus dibalas jangan diem aja kaya gini nih "
Adam segera bangkit dan berjalan kearah selnya, Sandi hanya menatapnya saja sambik tersenyum masam.
"Gue kira lo udah mati pengecut, tadinya gue seneng banget loh kalau lo mati "
"Gak akan semudah itu lo bunuh gue Sandi, sampai kapan pun lo gak bisa bunuh gue "
"Hemm pede banget ya lo jadi orang, kalau gue sampai bisa bunuh lo gimana tuh "
"Hebat gue akan tunduk sama Lo "
"Hahaah tunduk lo kan udah mati setan, dasar tukang menghayal lo "
"Adam ayo ikut saya ada yang ingin bertemu dengan Anda " tiba tiba saja obrolan mereka disela oleh sipir.
Adam tanpa menjawab terlebih dahulu, mengikuti sipir itu dan sata sudah ada ditempat pertemuan dengan orang yang ingin bertemu dengannya, air mata Adam mengalir dengan tiba tiba dan langsung memeluk orang itu.
__ADS_1
"Ibu, ibu udah bebas Adam seneng banget, Adam lega banget bu, ibu disana baik baik sajakan "
"Tenang nak, ibu baik baik saja, ayah melepaskan ibu tapi harta kita habis nak, habis sekarang kita tinggal dirumah yang jelek ibu gak terimaa Dam engga "
Adam segera melepaskan pelukan mereka berdua lalu mengajak sang ibu untuk segera duduk.
"Semua habis bu harta kita, tak ada yang tersisa sedikit pun. Lalu rumahku bagaimana bu bagaimana "
"Iya nak tak ada yang tersisa, Iva dan Inara sudah mengambilnya nak, ini wajahmu dan badanmu kenapa biru biru seperti ini ada apa sayang ada apa "
"Ini gara gara Inara bu gara gara dia, dia nyuruh orang bu buat lukain Adam didalam sel, dia bayar orang itu, Inara pengen balas dendam sama Adam bu, dia jahat sekarang bahkan nengok Adam pun gak ada bu "
"Kurang ajar Inara kita harus memberikan pelajaran yang sangat menyakitkan untuk dia, kita jangan diam saja Dam pokoknya kita jangan kalah dengan dia, harus habis Inara ditangan kita "
"Benar bu, kita harus membalaskan semuanya, semua harus terbalaskan tanpa ada yang tersisa bu, aku mau Inara pun sama meresakan apa yang kita rasakan, jangan biarin dia hidup dengan nyaman "
"Hemm iya nak, ibu akan melakukan sebuah misi yang bisa membuat Inara masuk kedalam penjara, tenang didalam kepala ibu ini banyak sekali ide untuk mencelakai Inara wanita jahanam itu "
"Baiklah bu bagus bagus sekali, aku sudah tak sabar ingin keluar dari dalam penjara ini dan kembali menganggu Inara, atau kalau perlu aku akan menjebaknya lagi "
"Kau harus tenang nak, kamu harus bertahan disini, kamu jangan kalah harus selalu bisa melawan dong, ibu gak mau liat kamu babak belur lagi kaya gini pokoknya kamu jangan biarin orang lain sentuh kamu nak "
"Iya bu Adam akan berusaha, ibu sekarang segeralah pulang aku akan masuk sel kembali jangan membuat sipir curiga kalau kita akan membuat sebuah rencana besar "
"Ya sudah ibu pulang ya "
Mereka berdua untuk yang terakhir kalinya berpelukan dan pergi meninggalkan anaknya yang akan masuk kembali ke jeruji besi.
**
Livia masih anteng duduk di kursi kebesaran Abi, menunggu Abi, dirinya sampai tak melihat tadi Bian masuk kemana dan pergi kemana gara gara meladeni perempuan gila itu, perempuan biadab itu.
"Tolong buatkan aku kopi " ucap Bian yang tiba tiba bersuara.
"Baik pak " Inara bangkit dan membuka kunci ruangannya lalu pergi ke pantry yang ada dibawah.
"Kenapa juga Bian harus masuk ruangan aku, udah mah ruangan dingin ditambah datangnya Bian makin dingin aja kan jadinya "
Inara menyeduh kopinya dan beres juga tinggal dibawa keruangannya, saat akan masuk malah melihat Abi yang sedang di peluk eleh Livia, hatinya tiba tiba panas dan kesal.
"Tenang Nara tenang, ada apa denganmu ini bukannya kamu tak mencintai Bian jadi jangan cemburu jangan sampai "
Inara kembali berjalan dan menyimpan kopinya diatas meja "kopinya pak "
"Hemm " jawab Abi.
Livia menatap Inara lalu menatap Abi, "Kenapa kamu gak suruh aku sih Bi "
Livia segera mengambil kopi itu lalu meminumnya tanpa meniupnya terlebih dahulu dan membuat lidahnya terbakar.
"Heh kamu Inara kemari "
Inara dengan sabar pergi kearah mereka berdua dan berdiri pas dihadapan Livia "Iya nona "
Byurr Livia menyiramkan isi kopi itu kearah Inara dan pas mengenai tangan Inara dan juga paha Inara .
"Ahh panas " Inara dengan cepat meniup niup tangannya dan menepuk nepuk pahanya juga..
"Kamu gila ya " teriak Bian
Bian yang marah segera menarik Inara namun Livia malah memegang luka Inara "lepasin sakit " rintih Inara
__ADS_1
"Ngapain kamu bawa Bi, gak perlu di obatin suruh siapa bikin kopi panas "
"Lepasin tangan kamu Livia, kopi itu bukan buat kamu ya, lancang sekali kamu membuat Inara kesakitan "
Bian dengan celat melepaskan tangan Livia sampai Inara meringis kesakitan. Kembali Adam membawa Inara untuk pergi keruangannya dan di obati terlebih dahulu.
Bian membawa Inara kedalam kamar mandi, membasuk tangan itu mengunakan air dingin, namun dirinya binggung pahanya bagaimana dan kebetulan ada selang didekat kamar mandinya.
Mengambilnya dan memasangkan dikeran bawah, "Maaf aku tak ada maksud apa apa hanya ingin mengobati lukamu "
Sedikit disingkabkannya rok itu dan di siramnya dengan sangat perlahan selama 20 menit setelah selesai Bian kembali membawa Inara untuk duduk dan Bian kembali beralih pada kotak p3k.
Mengambil salep dan mengoleskannya pada luka itu, Inara yang masih merasakan nyeri hanya bisa meringis saja merasakan sakit dan perih, sampai sampai dirinya mengigit bibirnya.
Setelah semuanya selesai Inara bernafas lega, menatap Bian dan tersenyum "Terimakasih pak "
"Hemm " kembali hanya itu saja jawabannya yang diberikan oleh Bian pada Inara.
***
Livia yang masih ada diruangan Inara, menatap sekeliling lalu mengacak ngacak semua ruangan Inara.
"Ahh sialan kau dasar bedebah, kau menghancurkan semuanya, Inara sialan kau sial sial "
Livia mengamuk, mengamuk seperti orang gila, mengacak ngacak rambutnya dan langsung pergi dari ruangan itu, namun tangannya tiba tiba di cegat oleh Cio yang baru dateng.
"Lo kenapa Liv "
"Lepasin Cio, ini gara gara perempuan itu, perempuan itu gue gak suka sama dia, gue mau habisin dia "
"Siapa yang lo maksud "
"Inara Inara dia perempuan penganggu pokoknya gue gak suka sama dia, gue harus hilangin dia dari dunia ini "
"Tenang tenang, lo jangan kaya gitu dong pasti belum minum obatkan "
"Gak gue gak butuh obat gue gak mau, pokoknya besok gue harus bawa sesuatu buat habisin Inara "
"Jangan gitu dong, lo mau Bian semakin benci sama Lo, kalau mau dapetin hati Bian, dapetin dulu hati orang tuanya, udah gih gih sana mending kerumah orang tuanya Bian, rayu mereka cepetan " sambil merapihkan rambut livia.
Tanpa menjawab Livia langsung pergi meninggalkan Cio, dan Cio yang acuk segera masuk keruangan Inara dan sangat berantakan sekali.
Cio sampai mengelengkan kepalanya, mengambil satu persatu kertas dan membereskan ruangan Inara satu persatu, mengembalikannya seperti semula kembali.
"Livia, Livia seharusnya lo belum boleh keluar lo belum sembuh Liv, apa gue harus bilang ke Abi, tapi gimana ya kalau Livia ngamuk, pusing ah gue pusing banget, tapi tunggu Inara dimana ya "
Cio segera keluar dan membuka pintu rungan Abi, yang ternyata disana ada Inara yang sedang duduk sambil menunduk, saat kedua matanya melihat kearah perban Cio dengan celat berlari dan berlutut di hadapan Inara..
"Ya ampun Nara kamu kenapa, ini kenapa, kenapa di perban apa yang terjadi sama kamu "
"Kamu kagetan aku aja Cio, aku gak apa apa kok "
"Pasti ini perbuatan Livia kan, apa yang dilakuin Livia sama kamu "
"Livia nyiram Inara pake kopi panas " ucap Bian yang geram dengan drama mereka berdua.
"Mana yang sakit mana Nara, mana aku obatin lagi ya " ucap Cio
"Gak apa kok Cio, ini udah di obati sama pak Bian "
"Kalau mau pacaran jangan disini keluar sana " usir Abi..
__ADS_1