Berbagi Suami

Berbagi Suami
Apa bisa hidup lagi


__ADS_3

"Apa kata ibu kita akan selamatkan kita akhirnya bisa keluar juga dari rumah sakit itu, kalau Ibu gak ngerencanain itu kita sampai kapan akan di sana dan terus diteror sama Ana "


"Iya juga bu untung aja ibu punya rencana ini sekarang kita harus ke mana nih bu dari tadi kita gak dapat taksi bu, kita masa mau jalan sih bu "


"Yaudah kita jalan aja sebentar Dam, gak masalahkan gak akan buat kita rugikan yang terpenting kita keluar dulu aja dari rumah sakit kan "


"Iya bener bu "


"Bu bukannya itu ayah ya, kok mirip ayah sih "


"Mana "


"Itu yang duduk itu bu "


"Ahh kamu suka melantur masa iya ayah kamu jadi pengemis"


"Tapi beneran bu , itu kayak ayah "


Adam segera berlari kearah laki laki itu dan berjongkok, "Ayahh "


Laki laki itu segera mendongakan kepalanya dan menatap orang yang memanggilnya ayah, saat melihat itu sang anak, ayah Adam akan berlari namun Adam sudah menahannya, menahan tangan sang ayah supaya tak pergi dari nya lagi.


"Ayah mau ke mana ayah mau lari kemana, Adam cari ayah, kenapa ayah bisa disini kenapa ayah, ayo kita pulang yah, ayo tinggal lagi sama Adam yah, ayah khawatir banget sama ayah "


"Enggak ayah di sini aja, kamu bahagia aja ya sama ibu kamu Ayah gak mau mengganggu kebahagiaan kamu dengan ayah yang selalu protes dengan apa yang kamu kerjakan, Ayah tidak mau lebih baik kamu urus ibu kamu saja Ayah tidak apa seperti ini sudah terbiasa"


"Tapi yah gak bisa gitu aja Adam tinggalin Ayah sendirian di sini, udah lebih baik Ayah ikut aja sama Adam, kita hidup sama-sama lagi kayak dulu ada Ibu Ayah dan kita lengkap lagi ya, jangan kayak gini egois sendiri Adam tuh pengen bahagiain ayah sama ibu. Kenapa ayah begini. Ayo kita pulang kita sama-sama lagi kayak dulu, Adam gak kerja lagi kok sama Livia yuk pulang yah, Adam sekarang kerja di sebuah perusahaan Ayah gak usah khawatir ya, ayo kita pulang "


Ayahnya mengelengkan kepala sambil menundukan kepalanya, dirinya ta mau membeni sang anak, dirinya yang sudah pergi dari anak dan istrinya, jadi tak apa dirinya disini saja tak akan membebani anaknya Adam.


"Udahlah Dam ayo Ayah kamu gak mau udah biarin aja dia jadi pengemis di sini. Biarin aja dia yang gak mau kan kita udah bujuk diakan, kita harus bersujud sama dia gitu supaya dia mau pulang ke rumah, udahlah biarin aja Ayah kamu itu kayak gitu sulit buat di bujuk, lebih baik udah kita tinggalin aja nanti juga lama-lama dia berubah pikiran dan datang ke rumah kita udah ayo pulang Dam kamu kan baru sembuh jangan kayak gini "

__ADS_1


Tiba tiba ayahnya mendongakan kepalanya dan menatap anaknya "kamu kenapa nak "


"Gak apa-apa Adam baik-baik aja lebih baik ayah pulang yuk sama Adam kita barang-barang lagi yuk yah, jangan gini dong jangan keras kepala, kapan kita bisa kumpul lagi yah. Kita kan gak pernah tahu kita akan mati kapan jadi ayah tolong gabung lagi kayak dulu lagi kayak keluarga bahagia waktu dulu, yu yah jangan kayak gini ah "


Akhirnya ayah Adam menganggukan kepalanya " dari tadi kek ini malah susah banget mau dibujuk-bujuk kayak anak kecil aja, kamu ini gimana sih yah, kalau apa-apa tuh yang cepet biar cepet bukannya gak gak tapi akhirnya mau juga kan, cuman basa basi aja ini mah "


"Udah Bu stop jangan kayak gitu dong, ayah kasihan udah dong Bu jangan terus maki-maki ayah ini juga ayah mau ikut sama kita kan, kita harus kayak dulu lagi bu jangan ada kata berantem lagi. Ibu harus maklumin ayah dong Ayah ini suami Ibu seharusnya ibu lebih berbakti sama dia jangan kayak gini"


Ibu Adam tak menjawab dia hanya melengos saja dan langsung meninggalkan Anak dan juga suaminya, sedangkan Adam segera membantu ayahnya bangun, dan menuntunya, dan untungnya tak lama kemudian ada taksi, mereka langsung masuk dengan Adam yang duduk didepan dan ayah ibunya dibelakang.


"Ihh ayah bau banget tau, gak mandi berapa hari sih, bau banget jijik aku " sambil membuka kaca mobil


"Bu jangan gitu dong sama ayah "


Namun lagi lagi ibunya Adam hanya acuh tak acuk, dirinya tak peduli emang beneran bau ya mau gimana lagi masa mau di umpet umpetin sih.


**


Ana sudah ada didalam ruangan bersama Livia, Ana memangkan sebuah rantai dikaki Livia yang hanya bisa mengelilingi rungan ini saja, dan yang lainnya tidak.


"Tolong Ana lepaskan aku, aku harus ke rumah sakit apakah kau tidak melihat perutku sangat sakit sekali ini terus aja berdarah"


"Enak saja baru saja kau masuk rumah ini ,baru saja aku mendapatkanmu dengan susah payah lalu tiba-tiba kau ingin dilepaskan enak sekali hidupm. Emangnya aku menangkapmu untuk dilepaskan ya tidaklah"


Ana segera memasukan sebuah besi kedalam perapian dan menunggunya beberapa menit, namun sebelum itu Ana menyiapkan sebuah tempat tidur seperti tempat tidur rumah sakit.


Ana dengan langsung membangun kan Livia, dan Livia yang sedang kesakitan mau tidak mau bangkin "mau kemana Ana mau kemana kita "


"Katanya kau mau diobati, maka ayo aku akan membantunya"


Livia yang tidak percaya langsung mengelengkan kepalanya "tidak Ana biarkan saja, biarkan saja aku tak apa, tak usah kau obati, aku baik baik saja Ana, jangan Ana tak apa "

__ADS_1


Livia melihat keperapian dia takut kalau besi itu akan mengenai kulitnya, tidak jangan sampai seperti itu.


Ana langsung saja menali tangan dan kaki Livia kiri kanan lalu membuka sedikit pakaian Livia.


"Jangan Ana jangan seperti ini, aku tidak mau tidak lebih baik seperti ini saja tidak apa , lebih aik aku kehabisan darah saja jangan-jangan jangan Ana jangan aku minta tolong jangan "


Ana menyimpan jari telunjuknya di bibir Livia "shutt aku tak suka orang berisik "


Setelah itu Ana segera mengambil besi yang sudah dia bakar, menyimpannya sebentar lalu tanpa aba aba menempelkannya pada perut Livia "akhhhh panas Ana Akhhh sakit hiks hiks tolong tolong siapa saja tolong, Ana sakit "


"Kau ini berisik sekali ya, telingaku sampai sakit, tunggu saja perut mu sebentar lagi akan sembuh, "


Ana kembali keperapiannya mematikannya dan mengambil beberapa berkas, sedangkan Livia tak bisa melakukan apa apa, perutnya malah makin sakit dan perih, malah lukannya makin bertambah bukannya sembuh.


Saat Ana membuka pintu Cio terjatuh dan langsung bangun lagi, Ana segera menutup pintu lagi dan menguncinya "kenapa mau ngintip apa mau kayak Livia kayak gitu "


Cio mengelengkan kepalanya " Kenapa sih Ana harus lakuin itu"


"Lakuin apa gue obatin dia bukannya perutnya sakit udah tadi kena pisau. Ya udah gue obatin biar gak bolong lagi perutnya, emang salah ya dari pada bawa dia ke rumah sakit dan nanti kabur ya udah gue obatin aja di sini. Kenapa lo gak terima temen lo gue kayak gituin, lo tahu kan teman lo itu apa dia pembunuh"


"Iya Ana gue tahu dia udah mau bunuh Adik loh, tapi setidaknya lu jangan kayak gitu juga dong, siksa dia kasihlah keringanan jangan kayak gitu Ana, itu terlalu sadis "


"Ini urusan gue sama livia gue gak urusan sama lo, jadi gimana gue dong mau apain dia, dia udah berani macam-macam sama keluarga gue bukan satu kali atau dua kali aja. Lo tau kan dia berapa kali mau celakain adik gue jadi lu gak usah ikut campur lu cuman belain dia karena dia adalah teman lo aja kan. Ya udahlah gak usah kayak gitu lo sebenarnya lo pilih yang mana kebenaran atau kejahatan, "


"Iya gue tahu dia beberapa kali ganggu keluarga lo, tapi beri dia sedikit aja kelonggaran jangan terlalu kayak gitu, nanti kalau dia depresi makin makin keganggu ke jiwanya gimana"


"Emang itu yang gue mau kenapa, emang itu yang dari awal gue rencanain, gue pengen dia lakuin bunuh diri sendiri tanpa gue yang membunuh jadi so apa salahnya gue bikin tambah dia gila, lu enggak usah ikut campur apa yang akan gue lakuin lo cukup jadi penonton aja oke jangan ikut campur "


"Ana lo makin ke sini makin gila Stop jangan kayak gitu terus nanti gimana kalau suatu saat kejadian ini malah terjadi sama keluarga lu, udah stop jangan kayak ginian Please jangan kayak gini ok, jangan gegabah sama nyawa orang lain udah deh jangan main-main"


"Selagi gue masih hidup itu semua gak akan terjadi. Jadi lo gak usah takut kalau nanti keluarga gue bakal ngalamin kayak gitu. Mendingan Lo pulang aja deh segerin pikiran lo biar lo gak terus-terusan bela perempuan itu, gue pusing dari tadi dengernya lo terus aja celoteh buat gue kasih kesempatan sama dia emangnya dengan cara gue kasih kesempatan dia bisa berubah. Emangnya dengan cara begitu anak yang dikandung sama adik gue bisa kembali lagi Hah, lo bisa ngembaliin anak yang udah pergi itu balik lagi hidup dan ada lagi di rahim adik gue bisa loh"

__ADS_1


Cio mengelengkan kepalanya " Ya udah kalau lo gak bisa balikin apa yang gue mau, Ya udah lu gak usah ikut campur apapun yang akan gue lakuin sama Livia, itu adalah urusan gue mau dia gila mau dia mati lu gak usah urusan, lo diem aja karena lo gak tau apa apa "


Ana langsung pergi kekamarnya meninggalkan Cio yang bisa melamun saja.


__ADS_2