
Livia segera menghampiri bi San dan tersenyum pada laki laki yang sedang memegang bi San "oh maaf ibu ku gangguan jiwa, bisa kau ajak ibuku kemari "
"Tidak tuan tidak, aku tidak mau, dia orang jahat tolony bawa saya pergi dari sini, saya tidak mau ikut dengan nona Livia "
"Tuan, jangan percaya dia memang seperti itu, ayo cepat kemarilah bu, jangan membuat aku malu, apa ibu tak malu meminta tolong pada orang yang tak dikenal ayo pulang bu "
"Tidak tolong bawa saya kekantor polisi tuan, ayo tolong saya "
"Tuan saya anaknya, apa tuan tidak lihat wajah saja mirip, sini bu jangan menyusahkan orang lain, kemari bu "
"Baiklah bu, saya tidak mau ikut campur tentang keluarga kalian, ibu pulang ya bersama anak ibu, agar semuanya bisa diselesaikan dengan baik baik "
"Tapi tidak tidak "
Livia yang kesal segera memegang tangan bi San dan membawannya kembali kerumah, dan memberikan pisaunya pada bi San.
"Bi kau harus pegang ini, karena kau sudah berani memergoki dan meminta tolong jadi kau yang harus tangung jawab"
"Tidak non, saya tidak mau "
"Baiklah aku habisi juga kau disini "
"Jangann nonna, baik sini kemarikan pisaunnya, sini sini "
Livia dengan senang berjalan kearah rumahnya, dengan masih memegang tangannnya bi San.
**
Cio yang baru datang dirumah Livia dan masuk kedalam kamarnya ayah Livia, kaget karena ayah Livia sudah mati, bercucuran darah, saat dirinya masuk juga sudah dimatikan lampunya apa ada pencuri disini.
Namun tiba tiba "ayahhh , aku sudah menangkap pembunuh mu ayah, Bi San sungguh tak di duga duga dia bisa berbuat seperti itu pada ayah " sambil menangis dan memeluk ayahnya.
Bi San mengelengkan kepalannya kearah Cio, "Ada apa ini sebenarnya."
__ADS_1
"Cio Bi San telah membunuh ayah, dia jahat aku tadi mengejarnya karena sudah kabur, kau lihat lihat dia memegang pisau yang berlumuran darah, ayo kau lihat Cio "
"Bi kenapa kau kenapa "
"Tuan saya " bi San melihat mata Livia yang memelotot "saya saya tak suka tuan selalu mengurung nona Livia, saya kasian sama nona Livia, saya tidak mau dia dikurung terus, jadi lebih baik aku bunuh saja tuan agar semuanya menjadi baik baik saja, aku tidak mau nona Livia tersakiti terus aku tak mau tuan "
"Apakah bibi berkata jujur, aku seperti melihat kebohongan dimata bibi dan ketakutan pula bi "
"Saya berkata jujur tuan, saya tak bohong, saya benar benar berkata jujur , percayalah padaku "
"Livia lalu sekarang bagaimana "
Livia mengusap air matanya dan berdiri menghadap Cio dengan wajah sedihnya "Aku aku membiarkan bi San lolos aku tidak akan memenjarakan bibi, aku akan membebaskannya, asal kau Cio jangan beritahu siapa pun kalau ayahku mati oleh bi San, aku kasian dengan bi San apakah kau setuju "
"Baiklah seharusnya di perjara, karena om juga harus mendapatkan keadilan, tapi karena kau yang lebih berhak memutuskan karena kau adalah putrinya baik lah aku akan menurutinya aku akan diam, dan nanti yang akan mengurus jenazah ayahmu, orang kepercayaannya agar tak menjadi gosip"
"Terimakasih Cio, tetimakasih apakah kau kemari ingin menemuiku "
"Tidak aku ingin menemui ayahmu, aku akan mengurus ngurus terlebih dahulu semuanya, kau disini saja dulu "
"Ya " Cio pergi keluar dan menelfon seseorang.
Livia yang merasa sudah aman mendekati bi San dan memegang dagunya dengan keras.
"Ingat ini rahasia kita berdua, jangan sampai ada yang tau, awas saja kalau bibi macam macam dan mengatakannya pada orang lain, aku tak akan memberikan toleran sama sekali padamu, aku akan menghabisi mu seperti menghabisi ayahku, jangan lupa aku pun akan menghabisi orang yang telah kau beri tahu, jadi nanti yang akan di bunuh adalah 2 orang sekaligus bagaimana "
"Baik baik saya mengerti "
Livia hanya mengangguk anggukan kepalannya saja lalu bersenandung kecil keluar dari kamar ayahnya dengan senang, dan hati yang riang, berhasil juga misinya untung saja nenek nenek itu bisa di bodohi dengan mudah.
**
"Ada apa Cio, kenapa kau menelfon malam malam, ada perlu apa sampai selarut ini "
__ADS_1
"Ayah Livia meninggal "
"Apa bukannya dia baik baik saja apa yang terjadi "
"Ada pencuri yang masuk ke dalam rumah ini dan saat melihat ayah Livia yang masih terjaga penjahat itu mengambil hartanya dan juga menusuknya dengan 2 tusukan di dada nya, jadi ya sekarang ayah Livia sudah tidak ada. Apakah kau bisa datang kemari bersama Inara mungkin kalau nanti pagi, tapi aku ingin kau juga membantu ku disini, karena disini sangat kacau sekali Livia tidak mau orang-orang tahu kalau ayahnya terbunuh seperti ini, bagaimana apa kau bisa"
"Aku turut berduka cita, aku akan bilang dahulu pada Inara, nanti jika Inara setuju aku akan kesana "
"Baiklah kau coba saja dulu bicara pada Inara ya, jangan sampai menjadi masalah nantinya. "
Panggilan pun berakhir "
"Ada apa Bi sepertinya sangat serius apa yang terjadi,, apa Cio kecelakaan"
"Tidak ayah Livia meninggal, jika kau berkenan kita kesana sekarang , soalnya Cio meminta bantuan, apakah kau mau "
"Inallilahi, baiklah aku akan ganti pakaian dulu, pasti Livia sangat sedih aku menganti pakain dulu ya "
Abian mengangguk dan menunggu Inara " Kenapa kau baik sekali Inara pada Livia. Padahal dia sudah mau mencelakai mu dan akan membunuhmu, tapi kau masih bisa perhatian padanya kalau aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan peduli apapun yang terjadi karena dia sudah berani akan mengambil nyawaku tapi kau dengan yang entengnya mau dan akan menenangkannya pula"
" Ayo bilang aku sudah siap Ayo kita pergi "Inara segera menarik tangan Abian untuk segera berjalan, karena dari tadi Abian hanya melamun saja , entah apa yang di lamunkan seperti banyak pikiran sekali,
**
Livia yang melihat mobil Abian masuk segera melihat penampilannya, dan sedikit mengacak ngacak rambutnya, agar terlihat lebih menyakinkan kalau dirinya ini memang kehilangan ayahnya.
"Hemm hebat juga Cio bisa langsung membuat Abian kemari, tapi kenapa harus berbarengan dengan Inara sungguh tak menyenangkan"
Livia keluar dari kamar untuk menghampiri sang pujaan hati, tersayang dan tercinta.
"Cio bagaimana " tanya Abi langsung berhadapan dengan Cio, tangannya dengan setia memegang Inara.
Cio yang melihat itu memalingkan wajahnya dan berusaha biasa biasa saja, seperti tak terjadi apa apa.
__ADS_1
"Abiannn " teriak Livia sambil memeluk Abian dengan begitu erat, Inara yang melihat itu hanya begong saja, melihat tangannya yang dipegang Abian dan melihat Livia yang memeluk Abian.
Dengan perlahan Inara melepaskan pegangan tangan itu dan perlahan mundur menjauh.