
Inara yang sedang tertidur nyenyak nyenyaknya mendengar suara teriakan, Inara langsung melihat kearah suaminya "Bi bangun Bi "
Abian langsung terbangun dan melihat kearah Inara "ada apa sayang kenapa kau membangunkan ku dengan tiba tiba seperti itu, ada apa "
"Kau tadi mendengar suara teriakan begitu keras tidak, aku selalu saja mendengar suara teriakan di sini tapi aku tidak tahu siapa itu. Apakah di sini ada seseorang yang tinggal juga tapi aku tidak mengetahuinya"
"Masa sih sayang tidak ada kok, aku tidak mendengar suara teriakan itu, mungkin kau sedang bermimpi sudah sayang tidur lagi ini sudah sangat malam sayang, ayo tidur lagi "
"Tapi aku benar-benar mendengar suara teriakan itu, masa kau tidak mendengarnya sama sekali sih Bi, suara itu sangat keras sekali, teriakan itu sangat keras sekali aku ingin melihatnya. Aku ingin mengeceknya dulu keluar siapa tahu ada orang yang membutuhkan"
Abian langsung bangkit dia baru ingat kalau itu pasti Livia yang berteriak yah pasti Livia yang berteriak, Abian langsung memeluk kembali istrinya "sudah biarkan saja kalau misalnya orang jahat bagaimana kau memang mau diapa-apakan olehnya, sudah kau diam dan tidur lagi ya Jangan memikirkan itu semua"
"Tapi aku begitu penasaran sebenarnya siapa yang selalu berteriak di malam hari itu tuh hampir setiap hari dan kali ini dia berteriak lagi. Aku ingin mengeceknya siapa orang itu"
"Jangan sayang, jangan kau tidur saja, nanti aku yang mengecek aku yang akan mengecek kau diam disini ya takutnya itu orang jahat aku yang akan melihtnya kau tenng saja aku yang akan mengecek semuanya "
"Aku ingin ikut Bi, aku ingin ikut "
"Tidak kau jangan ikut sayang, kau harus tetap disini kau jangan kemana mana ya, aku takutnya itu orang jahat kau kunci saja biar aku yang mengecek sendirian kau percaya kan padaku, aku pasti akan baik baik saja dan melihat siapa itu "
"Baiklah tapi kau hati hati ya, aku menunggumu disini "
"Baiklah sayang kau kunci pintunya ya "
"Baiklah aku akan menguncinya "
__ADS_1
Abian segera keluar dan Inara langsung mengunci pintunya, setelah itu Inara hanya duduk menunggu suaminya datang.
**
"Ini pasti kelakuan Livia, aku harus kemana tidak mingkin kan aku memarahi Livia itu tidak akan mungkin "
Abian bolak balik mencari cara karena dirinya binggung sekali harus melakukan apa, apa yang harus dirinya lakukan, "apa yang harus aku lakukan apa coba, apa ya pusing sekali aku, pusing pusing "
"Kenapa kau malam malam bulak balik seperti setrikaan "
"Ana kau mengagetkan ku saja "
"Kau yang mengagetkanku kenapa kau malam malam keluar dari kamar dan mondar mandir "
"Apakah kau belum memindahkan Livia, ya atau tidak merubah ruangannya menjadi kedap suara "
"Hampir saja Inara mengetahuinya dia curiga dengan suara berisik itu, bisa tidak kau segera melakukan apa yang aku katakan tadi, karena Inara selalu mendengarnya setiap hari "
"Aku lupa akan aku buat tempat itu kedap suara, besok aku bawa saja Inara jalan jalan agar aku lebih leluasa saja melakukan usul mu itu bagaimana, apakah kau bersedia melakukannya"
"Ya baiklah aku akan melakukannya, aku akan membawa Inara jalan jalan, yasudah aku akan mengarang cerita pada Inara awas saja kalau kau lupa lagi "
"Baiklah kau karang saja cerita yang baik, awas saja jangan sampai kau keceplosan "
"Baiklah baiklah aku mengerti aku akan mengarang cerita yang baik, tenang kau tenang yah "
__ADS_1
"Baiklah "
Abian langsung pergi kekamar dia mengetuk pintu kamarnya "sayang buka pintunya ini aku "
Pintu pun dibuka, Abian masuk dan Inara langsung mengunci kembali pintunya, "bagaimana Bi, apakah ada orang diluar sana "
"Tidak ada sayang diluar tidak ada siapa siapa, tak ada orang bahkan aku sudah bertanya pada Jack dan anak buah yang lain tapi mereka tidak mendengar teriakan itu, ayo sudah tidur saja sayang "
"Benarkan kau tidak berbohong. kau yakin kan kalau tak ada orang lagi selain kita disini, kau sudah mengecek semuanya kan, tapi aku yakin mendengar suara itu masa sih kau tidak mendengarnya , masa sih yang lain juga tak mendengarnya padahal aku mendengarnya dengan jelas kenapa coba "
"Sudah sayang sudah aku sudah bilangkan tak ada, udah ayo tidur sekarang tidur ya, lebih baik kita tidur saja jangan memikirkan itu, ayo semuanya baik baik saja kau bisa tenang ya sayang, kau bisa tenang jangan memikirkan itu, ayo tidur "
Abian langsung membawa sang istri ketempat tidur dan menidurkan istrinya "sekarang bobo ya, bobo ayo "
Inara hanya mengangguk saja dan langsung tidur bersama suaminya yang setia memeluknya .
**
Ana yang kesal dengan Livia segera pergi keruangan Livia "kau kenapa selalu saja berteriak apa mau mu hah, apa mau mu, berisik tau tidak kau selalu saja berteriak setiap malam apa maumu sebenarnya kau mengganggu penghuni yang ada di sini"
"Sengaja aku berteriak agar aku bisa dikeluarkan dari dalam sini. Aku ini bukan hewan aku ingin keluar, aku ingin bebas seperti dulu, aku pernah bebas kau selalu saja mengurungku di sini. Apakah kau tidak capek selalu memberikanku makan. Apakah kau tidak kehabisan uang memberikanku makan pakaian dan yang lain-lainnya, lebih baik kau lepaskan saja aku. Aku ingin hidup seperti orang lain. Aku pun ingin hidup sepertimu bebas tidak dikurung seperti ini, aku ini manusia aku ini orang yang harus dibebaskan bukan dikurang seperti ini"
"Iya aku tahu kau orang dan perlu dibebaskan tapi karena kau telah membuat kesalahan di keluargaku, maka ini akibatnya makanya jika tidak ingin dikurung seperti ini kau jangan membuat masalah denganku. Jadi jika kau sekali lagi berteriak. Aku tidak akan segan membunuhmu dan mengakhiri hidupmu yang berantakan ni agar kamu menyusul ayahmu yang telah kau bunuh itu, supaya kau bisa meminta maaf padanya dan bersujud padanya"
"Ternyata kau lebih gila dariku Ana, kau ingin melenyapkan nyawaku begitu. Iya kau ingin melenyapkannya kau sungguh jahat perempuan jahat kau tidak punya hati Ana kau sama sekali tidak bisa dianggap seorang perempuan. Bagaimana jika suatu saat anakmu akan merasakan apa yang aku rasakan"
__ADS_1
"Itu tidak akan pernah terjadi aku sudah bilang itu tidak akan pernah terjadi. Jadi kau jangan berandai-andai sudah jangan berisik dan aku tidak mau mendengar suara teriakanmu lagi, jika sekali lagi aku mendengar suara teriakanmu lagi hari ini aku akan menembakmu"
Ana langsung keluar dan menutup pintu dengan cukup keras meninggalkan Livia sendirian lagi.