Berbagi Suami

Berbagi Suami
Senyum Aisyah


__ADS_3

Happy reading


Suara azan dari ponsel Aisyah membangunkan kedua anak manusia yang tidur dengan nyenyaknya itu.


Aisyah yang memang gampang bangun lagi itu langsung membuka matanya dengan pelan. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada seorang laki laki yang sangat ia rindukan berberapa hari ini. Walau laki laki di depannya ini sudah membuat hatinya sakit berkali kali.


Tangan Aisyah terangkat untuk menyentuh wajah tampan suaminya ini. Abi masih memeluk erat tubuh Aisyah untungnya tangannya tak tertindih oleh badan Abi.


"Mas," lirih Aisyah membelai lembut pipi suaminya yang nampak lelah.


Aisyah bahkan tak tahu kapan suaminya ini pulang, Aisyah bahkan tak ingat jika suaminya sudah pulang dan tidur seraya memeluknya.


"Mas Abi bangun udah pagi. Waktunya sholat subuh," ucap Aisyah lagi yang membuat Abi yang nyaman dengan tidurnya itu langsung mengerijabkan matanya dan akhirnya membuka matanya pelan.


"Sayang, Mas masih ngantuk," ucap Abi dengan pelan. Bahkan pelukan mereka itu makin erat karena Abi semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di belahan dada Aisyah yang tak memakai kain buda itu.


"Udah subuh, Mas."


"Emm."


"Bangun dulu yuk, habis itu kalau mau tidur gak apa apa tidur lagi," ucap Aisyah dengan lembut.


Sebisa mungkin mereka jika bersama harus melaksanakan sholat berjamaah di kamar. Karena masjid dengan rumah itu juga cukup jauh.


"Ayo bangun dulu," ucap Aisyah menepuk pipi suaminya pelan. Hingga akhirnya Abi bangun dari tidurnya dan mengangguk.


Mereka turun dari kasur menuju kamar mandi, melihat pakaian istrinya yang belum ganti membuat rasa bersalah itu kian tumbuh di hati Abi.


****

__ADS_1


"Assalamu'alaikum warahmatullaah."


"Assalamu'alaikum warahmatullaah."


Abi menoleh ke belakang dan menyodorkan tangannya yang disambut lembut oleh Aisyah. Wanita itu meraih tangan suaminya dan mengecup punggungnya singkat.


Mereka berdoa di dalam hati mereka masing masing. Doa yang mereka panjatkan juga berbeda walau hampir mirip.


Doa mereka hanya mereka dan Allah yang tahu. Tya sebagai penulis juga gak tahu hehehehe.


Setelah selesai berdoa, Abi menatap sang istrinya dengan lembut. Aisyah yang hanya tersenyum itu menepuk pahanya agar suaminya tiduran di atas pahanya itu.


Abi yang memang sangat rindu dengan sang istri itu langsung menjatuhkan kepalanya di atas paha sang istri.


"Mas tadi malam pulang jam berapa? Kok Aisyah gak tahu?" tanya Aisyah mengelus rambut suaminya.


"Cuma berdua?" tanya Aisyah dengan pelan. Tiba tiba dadanya sesak mendengar jika Abi dan Tania lembur berdua di kantor.


Abi yang tahu Aisyah cemburu itu langsung tersenyum kemudian ia meraih tangan sang istri yang sedang menatapnya dalam itu.


"Enggak sayang, masih ada banyak kok yang lembur juga. Lagian Tania sudah dijemput tunangannya di kantor. Jadi kita gak hanya berdua," jawab Abi yang membuat sesak di dada Aisyah langsung hilang.


"Hmmmm."


"Kamu cemburu sama Tania?"


"Siapa sih mas, Istri yang gak cemburu kalau suaminya berduaan sama wanita lain. Sedangkan istrinya sedang menunggunya di rumah. Aisyah juga manusia biasa, walau Aisyah pernah salah karena menyuruh Mas Abi menikah lagi. Tapi semua itu sudah berlalu, cukuplah Aisyah berbagi sama Mbak Zahra. Jangan sama wanita lain ya," jawab Aisyah dengan santai padahal di dalamnya banyak kaya sindiran buat Abi akan hal itu.


Abi yang mendengar jawaban Aisyah itu langsung menggenggam tangan Aisyah dengan lembut tapi erat.

__ADS_1


"Maafin Mas sayang."


"Gak apa apa kok, Mas lagian Aisyah sudah biasa seperti ini."


Ucapan Aisyah malah membuat Abi makin bersalah. Karena Abi sadar akan kesalahannya dengan Aisyah.


"Maafin Mas yang gak bisa tepati janji Mas sama kamu. Bahkan kamu rela tidur sangat malah karena Mas."


"Gak apa apa."


"Jangan gak apa apa, Sayang. Mas salah, kamu boleh pukul mas, kamu juga boleh jambak rambut Mas. Tapi jangan seperti ini, dan jangan benci sama Mas."


Air mata Abi tak mampu untuk disembunyikan lagi, bahkan Abi menutupi matanya dengan tangan Aisyah.


Aisyah yang tahu Abi menangis itu langsung mengangkat tangannya dan menghapus air mata Abi dengan lembut.


"Aku gak apa apa Mas. Lagian Aisyah yakin ini semua ujian dari Allah buat hubungan kita," jawab Aisyah lembut. Tak ada nada marah yang diucapkan Aisyah entah terbuat dari apa wanita ini.


Abi bangga memiliki Aisyah yang sangat baik dan lembut. Tapi disisi lainnya Aisyah jika sudah marah maka akan sulit untuk membujuknya.


Abi bangun dari duduknya dan memeluk tubuh Aisyah dengan erat. Dengan senyum Aisyah langsung membalasnya dengan lembut.


Setelah lama mereka berpelukan tiba-tiba Abi langsung melepaskan pelukannya dan menatap istrinya itu dengan lembut.


"Aku ingin mendapatkan kejutan dari kamu pagi ini sayang. Apa boleh?" tanya Abi yang membuat Aisyah langsung malu tapi ia juga tak bisa menolaknya karena menolak keinginan suami adalah dosa untuknya.


"Aisyah milik Mas Abi."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2