
Sekarang Ana sudah boleh pulang kerumah dan Inara juga tinggal disini bersama Ana, dirumah peninggalan orang tua mereka.
"Apa kau tak masalah jika aku meninggalkan kamu dirumah sendirian Ana, aku akan bekerja "
"Kenapa kau bekerja, kenapa kau tak diam dirumah biar aku yang bekerja, kalau tidak mengurus perusahaan keluarga kita"
"Tidak Ana, aku tak mau menjadi beban hidup mu, jadi lebih baik aku bekerja saja, aku belum pantas untuk memimpin sebuah perusahaan "
"Kenapa kau berkata seperti itu aku tak apa, kau sudah menjadi tanggung jawabku "
"Tidak Ana, aku bekerja saja. Aku ingin mandiri saja tak apa kan " .
"Baiklah jika itu keputusan mu, tapi kau harus berangkat kekantor diantar oleh pak supir, tidak dengan laki laki songong kemarin "
"Baiklah baiklah, aku pergi Ana "
Setelah pamitan Inara segera pergi naik mobil diantarkan oleh supirnya, karena dia juga sudah bilang pada Bian untuk tidak menjemputnya terlebih dahulu, takut nanti malah bertengar lagi dengan Ana.
Saat sudah sampai dengan segera Inara turun dan tak sengaja bertabrakan dengan Shinta yang menatapnya dengan sinis.
"Hebat sekali kau Nara, setelah membuang Adam kau mendapatkan orang terpandang dan itu bos mu sendiri, dasar kau wanita tak tau diri, mantan suami dipenjara kau enak enaknya pacaran dengan orang yang kaya "
"Apa urusannya dengan ku Adam, toh dia sudah mantan suamiku jadi untuk apa aku memikirkannya, aku tak akan memungut sampah lagi, dan akan aku berikan sampai itu padamu, sepertinya kau sangat mencintai Adam shinta, apakah kau sangat menikmati peranmu sebagai pelakor, jika kau mau dengan Adam, kenapa kau tak pungut lagi"
"Kurang ajar kau Nara, dasar wanita murahan kau menjual berapa harga dirimu sampai pak bos mau dengan mu "
Nara segera menampar Shinta dengan sangat keras, bahkan karyawan yang sedang berlalu lalang segera memberhentikan langkahnya, melihat kejadian ini.
"Jaga ucapan mu, aku bukan dirimu yang dengan sangat mudah menjual harga diri hanya demi sebuah uang, camkan dan ingat ingat apa yang aku katakan, jika kau berani kembali mengusik hidupku, aku tak akan segan segan untuk menghancurkan mu "
"Sekarang aku bukan Inara yang lemah, yang bisa ditindas oleh siapa pun, termasuk oleh kau wanita tak tau diri, aku dulu sangat buta karena mau berteman dengan orang munafik sepertimu,"
Setelah mengatakan itu Inara pergi meninggalkan Shinta yang sedang menahan amarahnya, kenapa dia jadi kalah oleh Inara, tadinya ingin mempermalukan Inara malah jadi dirinya yang dipermalukan.
__ADS_1
"Apa kalian liat liat sana pergi, aku bukan ton tonan kalian " teriak Shinta dengan marah.
"Huh dasar pelakor " sahut karyawan yang lain..
Dengan kesal Shinta menghentakan kakinya sambil pergi meninggalkan tempat ini nenuju ke ruangannya. .
Namun sebelum masuk keruangannya Shinta pergi dahulu kekamar mandi dan bertemu dengan temannya, "Eh ada Shinta s pelakor " ucap Sara
"Jaga ucapan Sara, kau berani sekali berkata seperti itu padaku "
"Yakan emang kenyataannya kamu pelakor, apakah tak malu masuk kembali dengan status perebut suami orang, kalau aku sih pastinya akan pergi jauh dari kota ini, karena malu "
"Jaga ucapan Sara, sebelum aku jambak rambut mu itu, aku seniormu, kenapa kau sangat berani padaku "
"Apakah aku harus menghormati, senior seorang pelakor, seharusnya kau sebagai senior memberikan contoh yang baik pada juniornya bukannya sebaliknya, sungguh memalukan, untung saja pak abian tak memecatmu "
"Kurang ajar kau rasakan ini " Shinta benar benar menjambak rambut Sara dan akhirnya saling jambak dan tak ada yang mau kalah.
Santi yang memang penasaran karena ada suara keributan dikamar mandi segera masuk dan alangkah kagetnya saat melihat Shinta dan juga Sara yang sedang saling jambak.
Bian yang baru datang tiba tiba melihat karyawan karyawan yang lain saling berlari kearah kamar mandi dengan penasaran Bian ikut melihat kearah sana takur terjadi sesuatu, Bian menerobos ke gundukan orang orang yang sedang berkerumun di kamar mandi.
Bian yang melihat penampakan itu segera berterik "Berhenti semuanya, apa yang kalian lakukan, segera ikut saya keruangan saya, sekarang juga "
Bian segera pergi dengan wajah marahnya dan mereka bertiga segera memberhentikan perkelahian itu dengan masih saling menyenggol satu sana lain.
"Ini salahmu senior sialan " bisik Sara.
"Jika kau tak membuatku marah, pasti semua ini tak akan terjadi bodoh "
"Sudah diam diam jangan bertengkar kembali, apa kalian ingin menambah masalah" lerai Santi.
Tanpa membenarkan tiasan mereka, bahkan rambut mereka yang berantakan langsung saja mereka bertiga mengetuk pintu ruangan Bian.
__ADS_1
"Masuk ucap suara yang didalam "
Satu persatu masuk berjajar sambil menundukan kepala mereka karena takut dengan tatapan Bian yang tak seperti biasanya, ini menakutkan sekali seperti bukan Bian saja.
"Apa yang kalian lakukan bertengkar dikantor ku, seperti anak kecil saja, apakah kalian tak sadar umur hah "
"Shinta pak yang duluan menjambak saya, saya gak ta apa apa pak " ucap Sara
"Tidak pak, dia yang mengolok ngolo saya, saya jadi marah dengan dia, mulutnya sungguh pedas pak " jawab Shinta.
"Apaan sih, mulut kamu yang pedas, aku hanya mengatakan kenyataannya saja, memang kamu pelakorkan, kamu merebut suami ibu Inara asisten pak Abi, jadi dari mana yang salahnya, aku benarkan "
"Sudah cukup, kenapa kalian malah bertengkar dihadapanku, apa kalian ingin aku pecat sekarang juga " marah Bian.
Mereka semua menundukan kepalanya "maaf pak" ucap mereka serentak.
"Bersihkan seluruh kantor ini sekarang "perintah Abi.
"Tapi pak "
"Tak ada bantahan sekarang juga bersihkan "teriak Bian.
Mereka bertiga segera keluar dengan berebut ingin segera keluar dari ruangan atasannya, tak mau sampai kena semprot lagi, Inara yang akan memberikan dokumen menjadi binggung kenapa banyak orang yang keluar dari ruangan Bian dan dengan penampilan yang berantakan sekali, ada apa dengan mereka.
Inara segera masuk dan memberikan dokumennya kepada Bian yang sedang memijat kepalanya "ada apa Bian, kenapa banyak orang diruanganmu dan kenapa sangat berantakan dia, apa terjadi sesuatu "
"Aku sangat pusing Nara, mereka bertengkar , dan membuat kekacauan, entahlah mereka seperti anak kecil saja, mempersalahkan sesuatu yang tak penting sama sekali, kau bawa dokumen apa "
Inara hanya mengangguk anggukan kepalanya saja "ini dokumen penjualan bulan ini Bian "
"Baiklah terimakasih, apakah kau bisa membantuku Nara "
"Sama sama, bantu apa Bian, apa yang harus aku lakukan "
__ADS_1
"Tolong pijit kepalaku, sayang, aku pusing sekali "
"Baiklah," Nara segera berjalan kebelakang dan memijat kepala Bian yang katanya pusing.