
"Apakah kau mau mendengar ceritaku Ara cerita keluarga kita berdua, apakah kau mau mendengarkan aku kakak mu"
Nara hanya mengangguk saja, jadi selama ini dirinya hidup bukan dengan keluarganya, tapi keluarganya itu sangat baik dan mengurusnya dengan baik jadi bagaimana ibu dan ayahnya adalah seorang penculik.
Sungguh diluar pemikirannya, masa iya mereka berdua adalah seorang penculik, mereka baik dan sangat menyayangimu, mana mungkin bisa menjadi seorang penculik.
"Kita adalah soudara kembar, aku adalah kakakmu, namamu yang sesungguhnya Inara Zhafira Wijaya, kau dari keluarga Wijaya Aya, kita sudah lama berpisah"
"Lalu kenapa aku bisa sampai di culik Ana, kenapa apa salahku, tapi ibu dan ayah sangat baik padaku Ana, mereka sangat baik mana mungkin mereka adalah penculikku, aku sungguh tak mempercayainya"
"Memang adanya mereka adalah penculik mu Inara, mereka adalah penjahat yang telah memisahkan kau dari keluargamu, entahlah kami tak pernah tau apa alasan mereka menculik mu padahal mom dan dad sudah memberikan mereka rumah, pokoknya apapun yang mereka minta pasti dikabulkan namun balasannya malah seperti ini, malah kau diambil oleh dia "
"Kau diculik saat umur 5 tahun, mungkin saja waktu itu kau belum bisa mengigat kami dengan benar Ara, mom sampai sakit memikirkan mu, mencari mu kemana mana, bahkan daddy sudah membayar banyak orang untuk menemukan mu, tapi semuanya tak ada hasilnya"
"Sampai pada tanggal 25 November, mon dan dad menemukan penculik mu dan akhirnya saling mengejar terjadilah kecelakaaan yang menewaskan mom dan dad dan juga suami istri yang aku pun tak tau itu siapa, sekarang aku yang mencari mu dan tuhan dengan baik mengembalikan mu padaku, meskipun mon dan dad sudah tak ada, pasti mereka senang kau sudah ada dengan ku Ara adik kecilku yang manja"
"Ayah dan ibuku juga meninggal pada tanggal itu "
Ana segera merentangkan tangannya untuk Inara segera memeluknya. Mungkin sudah sampai disini saja berceritanya yang terpenting Inara sudah ketemu dan sudah ada disampingnyaa.
Inara masuk kedalam pelukan Ana meskipun sedikit canggung. Lalu tiba tiba ingatanya muncul dia melihat ada ibu dan ayahnya yang membawa dirinya dari sebuah rumah yang sangat besar dan juga tertidur seorang anak kecil yang wajahnya sama dengannya tertidur dengan pulas.
__ADS_1
"Nara ayo kita pergi dari sini, ibu akan membawa mu jauh dari rumah ini, kita hidup bersama ayah yah, hanya kita bertiga tak ada yang lain, pasti kau akan senang Inara anak ibu yang cantik" ucap Ibunya.
"Iya benar Nara ayo kita pulang kerumah, kita hidup bersama sama, jika disini kau tak aka bahagia pasti dengan kami akan bahagia sekali, apapun yang kamu mau pasti ayah dan ibu akan memberikannya sayang" bujuk ayahnya lagi.
Dengan riang Inara kecil segera merentangkan tangannya untuk di pangku dan ayahnya segera memangkunya dan pergi meninggalkan rumah besar itu.
Saat Inara sudah keluar dari rumah besar itu, dia menangis terus menanyakan dimana Ana kakaknya dan juga orang tuanya berada, namun ibu dan ayahnya mengatakan dia tak mempunyai soudara, Ana hanyalah anak majikan mereka dan dari sana ibu dan ayah melakukan segala cara agar dirinya bisa melupakan masa lalunya.
Melupakan orang tua yang sesungguhnya dan hanya menganggap mereka adalah orang tua Inara, bahkan mereka berdua menganti nama belakang Inara.
Saat Inara kembali mencoba mengigat semuanya dia malah pingsan, Ana yang merasa keberatan karena seluruh tubuh Nara menyender padanya, segera menguncang tubuh Inara "Ara apa kau tak apa, Ara " ya itu panggilan dari mom dan daddynya nama kecil Inara
"Ara kau kenapa Ara " Ana melepaskan pelukannya dan melihat Inara yang menutup kedua bola matanya dan untung saja datang Bian membawa tas hitam
"Dia pingsan tolong panggilkan dokter tolong "
Bian tanpa fikir panjang berlari meningalkan mereka berdua dan kembali lagi bersama dokter dan suster yang membawa tempat tidur tambahan.
Bian segera memindah kan tubuh Inara ketempat tidur sebelah. Dokter segera mengeceknya.
"Tenang saja dia tak apa, dia hanya sedang mencoba mengigat sesuatu karena tak bisa mengigatnya dia menjadi pingsan, sebentar lagi juga akan siuman, jadi tenang lah ya"
__ADS_1
"Terimakasih dok "
Dokter mengangguk dan pergi meninggalkan ketiga orang itu. Bian segera menatap Ana "maksudnya mengigat apa Ana, apa yang berusaha Inara ingat "
"Masa lalunya "
"Masa lalu apa, apa yang terjadi dengan masa lalunya, apakah masa lalu yang menyakitkan sampai Inara pingsan seperti ini"
"Dia adalah soudara kembarku dan dulu dia diculik oleh pengasuh kami, tapi sampai sekarang Ara sama sekali tak mengigat tentang peculikan itu dan hanya menganggap penculiknya adalah ayah dan ibunya, "
Bian hanya menghela Nafas mengenggam tangan Nara dan menciumnya dengan sayang. Sedangkan Ana hanya tersenyum menatap mereka berdua yang seperti sepasang kekasih.
"Apakah kau mencintai adikku dengan tulus"
"Ya aku sangan mencintainya "
"Baiklah tolong jaga dia dan jangan buat dia kecewa kembali untuk yang kedua kalinya jika itu sampai terjadi aku tak akan tinggal diam, aku akan mengahabisi mu sampai kau lenyap dari dunia ini"
"Tenang saja, kau tak usah takut Inara akan tersakiti olehku, karena aku bukan laki laki pengecut seperti mantan suaminya. Perempuan sepertimu mana bisa menghabisi aku, seorang laki laki gagah ini"
"Kau belum mengenalku jadi kau belum tau siapa aku yang sebenarnya" Ana tersenyum misterius pada Bian.
__ADS_1
Bian yang menatapnya sampai bergidik ngeri, beda sekali dengan Inara yang manis dan pendiam, sepertinya karakter Ana sangat menakutkan sekali dan kuat, seperti wanita tangguh, atau mungkin dia seorang pembunuh bayaran.
Bian segera mengalihkan pandangannya, lalu menatap kesembarang arah, tak mau menatap mata Ana yang menakutkan, serupa namun tak sama.