Berbagi Suami

Berbagi Suami
Hanya aku yang tau


__ADS_3

Sekarang Inara dan Bian sudah ada didepan rumah Inara yang tanpa mereka ketahui ada Ana yang menunggu diluar rumah, Bian segera memegang tangan Inara dan menatap wajah Nara dengan lekat.


"Aku pulang ya Nara, kamu segeralah masuk ya nanti takut ada nenek sihir datany dan marahin kita, aki udah males debat sama nenek sihir, energi aku udah habis "


"Siapa nenek sihir "tanya Ana yang muncul dari kegelapan dan menghampiri mereka berdua.


"Benerkan ada nenek sihir " gumam Bian.


"Siapa nenek sihir " tanya Ana sekali lagi


"Ga ada tadi ada nenek sihir dijalan, udahlah jangan geer , itu bukan sebutan buat lo juga kok, jadi tenang aja gak usah marah marah terus".


"Siapa yang geer gue cuman nanya aja, kenapa gue gak boleh nanya gitu, bebas dong kalau gue mau nanya apa pun, gak usah izin sama lo kan "


"Bukannya gak boleh, ya lo nanya gak pernah baik baik selalu aja pake urat, gue kan gak ajak lo berantem, gue kesini punya niat baik, kalau disini gak ada Nara, gue gak akan mungkin kesini juga kali"


"Udah gue males bicara sama lo, yang ada waktu gue habis, cuman buat bicara sama laki laki yang gak penting kaya lo, ayo Nara masuk jangan sering sering pergi sama dia" Ana segera menarik tangan Inara dan membawanya masuk kedalam rumah.


Tanpa menghiraukan sama sekali keberadaan Bian yang hanya diam mematung melihat sang pujaan hati yang dibawa masuk.


"Sialan tuh cewe " Bian segera masuk kedalam mobilnya dengan wajah kesalnya.


***


"Ana kamu kenapa sih sama Bian kok jutek amat, apa kalian sebelumnya pernah kenalan dan musuhan gitu, sampai kamu kaya gitu sama dia"


"Engga aku gak pernah kenal sama dia, aku hanya saja tak mau kamu kembali salah memilih laki laki, aku gak mau itu sampai terjadi, kamu taukan aku sayang banget sama kamu Ara, dan aku mau menjaga kamu, aku gak mau kamu disakiti lagi sama laki laki mana pun, makannya kenapa aku keras sama laki laki itu "


"Iya Ana, tapi jangan terlalu galak, dia itu orang baik, Bian itu selalu nolongin aku, malahan dia tuh yang bantu aku buat sadar bahwa Adam bukan laki laki baik, jadi kamu coba deh berbaikan sama Bian, pasti nanti akan seru"


"Iya aku tau, tapi kau jangan terlalu percaya sama laki laki, laki laki itu kadang kadang omongannya gak bisa dipegang, jadi kamu jangan percaya sama yang namannya laki laki, aku cuman gasih tau kamu aja yang sebenarnya "


"Iya aku tau Ana, makasih udah mau lindungi aku "


Ana hanya memengan kepala Inara dan langsung pergi meninggalkan Inara sendirian, karena Inara binggung harus melakukan apa lagi dirinya masuk saja kekamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah..


***


Bian sampai rumah masih dengan bibir yang manyun dan langsung duduk bersama mamihnya yang sepertinya sedang anteng antengnya nonton tv.


"Kamu kenapa datang datang cemberut Abi, bukannya udah ketemu Inarakan harusnya jadi seneng bukannya cemberut kaya gini, gak kaya biasanya"


" Bian kesel banget sama kakaknya Inara sama Ana, dia tuh sama Bian kaya sama musuh aja mih, Inara sama Bian mau pergi pun minga izinnya susah banget kaya minta izin sama pejabat aja "


"Ya kamu harusnya wajar dong, mereka berduakan baru ketemu lagi setelah sekian lama berpisah, Ana pasti tak mau kehilangan adiknya kembali kamu seharusnya ngerti Bian, kalau kamu ada di posisi Ana juga pasti akan seperti itu, menghawatirkan adiknya, sekarang kamu harus menaklukan 2 hati sekaligus, yang pertama hati Ana agar membiarkan adiknya bahagia sama kamu dan yang kedua membuat Inara percaya kembali kalau laki laki gak sama kaya suaminya Adam"


"Iya mih Bian ngerti tapi Bian gak akan macem macem sama Nara, aku pengen Naar menjadi istriku. Tapi dia sangat tak mempercayai aku sama sekali mih, bahkan untuk memeberikan aku kesempatan saja sulit "


"Sabar nak, sabar kalau kamu sabar pasti hasilnya akan baik, jadi kamu hanya bisa berdoa dan berjuang buat bisa dapetin Inara, kamu harus akrab dulu sama kakaknya biar lebih enak "


"Gak bisa mih, tetep gak bisa Ana itu susah pokoknya, dia keras kepala, muka aja yang sama kaya Inara, tapi engga sama sikap dan sifatnya mereka berdua tuh bertolak belakang banget"


"Yaudah kamu yang sabar aja ya, ya setiap orang beda beda, meskipun wajah serupa tapi untuk sifat dan sikap pasti akan berbeda, apalagi mereka bedua gak tinggal bareng dulu karena Inara hilang"


Bian tak bisa berkata kata lagi, segera membaringkan kepalanya dipaha mamihnya dan sang mamih dengan senang hati mengusap ngusap rambut Bian anak satu satunya.


**


Tiba tiba Inara terbangun dengan suara teriakan seseorang "siapa sih malem malem teriak teriak, ganggu aja deh"

__ADS_1


Inara yang penasaran segera keluar kamar dan mengecek kejendela luar namun sepi tak ada orang, sekarang Inara beralih masuk kekamar Ana "Ana kamu dimana "


Saat Inara mengecek tempat tidurnya sama sekali tak ada Ana "apa yang teriak itu Ana, apa terjadi sesuatu dengan Ana"


Dengan khawatir Nara segera berlari mencari asal suara takutnya memang benar itu Ana yang meminta bantuan padanya.


"Akhh tolong lepaskan saya, tolong ampun ampun "


Suara itu kembali muncul, mengema dilorong dekat kamar Ana.


"Ana, kau dimana Ana, jangan buat aku khawatir" teriak Inara kembali sambil berlari kesana kemari mengecek setiap kamar dan tak ada sosok Ana disana.


Satu lagi ruangan yang belum Inara cek, Inara segera berjalan kearah pintu itu dan sudah memegang gagang pintunya namun tangannya dicekal kembali oleh seseorang.


"Non Ara ngapain disini, kan non Ana udah bilang non Ara gak boleh masuk kesini, kenapa sekarang mau masuk"


"Aku cuman mau cari Ana aja bi ijah, soalnya aku tadi denger suara teriakan dan aku takut itu Ana dan dia kenapa napa"


"Kalau teriakan udah biasa non, jangan dihirauin udah kalau denger lagi jangan keluar dari kamar bahaya non, bibi gak mau kalau non sampai kenapa napa, jadi lebih baik diam ya non"


"Emang ada apa sih bi, ada apa dengan ruangan ini, kenapa kenapa aku gak boleh masuk kesini, ada apa disini didalam ruangan ini, sampai aku gak boleh masuk sama sekali"


"Saya juga gak tau non, pokoknya non jangan pernah melangar apa kata non Ana, pokoknya jangan sampai deh, kalau kata non Ana jangan masuk non Ara jangan nekat buat masuk"


"Kok gitu sih bi, kenapa aku gak boleh aku kan adiknya Ana, jadi bebas dong mau masuk atau enga, kenapa jadi dilarang kaya gini"


"Udah ayo ayo sama bibi non anterin kekamar " bi Ijah segera menuntun Inara untuk segera masuk kekamarnya lalu bi Ijah mengunci kamar Nara.


"Bibi buka, kenapa bibi kunci kamar aku, buka bi buka "


"Maaf non gak bisa, saya gak mau non Ara kenapa napa jadi lebih baik saya ngunci pintu non aja, nanti pagi saya buka, non Ara tidur aja "


Dengan perlahan lahan Inara duduk ditempat tidurnya dan melamunkan kenapa dirinya sama sekali tak boleh masuk kedalam ruangan itu.


"Apasih yang ada disana kenapa aku makin penaran sama tempat itu, apa yang Ana sembunyikan, pasti ini sesuatu yang penting yang Ana sembunyikan dari aku "


**


"Non Ana "


,"Iya bi kenapa "


"Maaf non, saya ngunci non Ara dikamarnya, karena non Ara mau masuk kerungan yang non selalu jaga, ini kunci kamarnya non Ara, saya minta maaf ya non atas kelancangan saya telah mengunci non Ara"


"Oke gak apa apa bi, tolong bersihkan lantainnya bi, saya mau bersih bersih dulu badan biar saya nanti yang nasehatin Ara biar gak penasaran lagi sama ruangan itu "


"Baik non Ana "


Ana segera pergi kekamarnya dengan langkah kaki yang mengeluarkna cairan berwana merah pekat. Ana dengan cepat segera membersihkan dirinnya dan setelah memang sudah benar benar bersih Ana keluar dan memakai pakainnya.


Langsung pergi kekamar Inara dan membuka pintunya. Pertama yang dilihat oleh Ana adalah Inara yang sedang duduk sambil menatap kearah Ana.


Ana segera menutup pintu dan menghampiri Inara yang hanya diam tak bertanya padanya.


"Apa yang ingin kau ketahui Ara dariku, yang membuat kau penasaran"


"Ana kenapa aku gak boleh masuk kedalam ruangan yang ada didepan kamar mu, kenapa gak boleh aku tadi denger suara teriakan dan aku cari asal suara itu yang ternyata ada dalam rungan itu, sebenarnya ada siapa didalam sana. Apa ada orang"


"Ruangan itu kosong Ara, kenapa tak boleh dimasuki karena disana banyak barang tersimpan dam berantakan, kalau sampai dibuka pintunya, barang barang itu akam berceceran keluar, aku melarangmu masuk karena hal itu "

__ADS_1


"Apakah kau berkata jujur denganku, kenapa ada suara teriakan dari mana asal suara itu "


"Ya aku berkata jujur Ara, mana mungkin aku berbohong padamu, untuk suara teriakan itu suara anak buahku yang terjatuh, aku tadi tak ada karena menolongnya "


"Baiklah aku percaya denganmu, aku tak akan kembali bertanya tentang ruang itu. Aku akan diam bila ada suara teriakan nantinya "


"Ok sekarang kau segeralah tidur sudah malam dan tak baik untuk kau tidur terlalu malam "


"Apakah kau mau menemani ku tidur, tapi bila kau tak mau aku tak memaksa Ana "


"Kenapa tidak aku akan menemanimu tidur Ara, segeralah berbaring "


Inara menurut dan segera berbaring berbarengan dengan Ana, Ana pun memeluk Inara dan mengusap ngusap rambutnya.


Saat melihat Inara sudah benar benar tertidur Ana melepaskan pelukannya dan menatap adiknya dengan sangat lekat.


"Maafkan aku Ara, tak bisa berkata jujur untuk sekarang padamu, aku takut kamu gak menerima aku sebagai kakakmu, jika kau tau yang sebenarnya, lebih baik kau tak tau sama sekali dari pada kau tau dan meninggalkan aku lagi, aku tak mau sampai itu terjadi, kau sangat berharga"


"Aku berbohong untuk kebaikan kita berdua, jadi kau hanya perlu diam dan menurut saja padaku Ara, aku pasti tak akan menyakitimu sama sekali, kau tenang saja "


Setelah mencurahkan isi hatinya, Ana segera pergi untuk menemui anak buahnya yang sedang menunggu diluar.


"Jadi bagaimana nona, apa yang harus saya lakukan sekarang "


"Buang dan jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun. Aku tak mau ada kesalahan lagi dan membuat adiku kembali curiga"


"Baik Nona "


Setelah berbicara dengan anak buahnya Ana pergi masuk kedalam kamarnya duduk menatap wajahnya dicermin.


"Ara rupa kita sama, namun kita tak benar benar sama, banyak perbedaan antara kita berdua, tapi hanya aku saja yang tau apa perbedaan yang kita punya, aku berharap kau tak akan terbawa bawa dengan masalahku karena paras kita yang sama "


Setelah puas menatap dirinya Ana masuk kedalam selimbut dan tertidur menyusul adiknya yang sudah pergi kealam mimpi.


***


Bian yang sekarang masih bangun dan terduduk di tempat tidurnya sama sekali tak bisa tertidur, fikirannya hanya tertuju pada Inara saja tak ada yang lain, sekarang mungkin akan sulit jika ingin pergi bersama Inara karena kakaknya yang sungguh menyebalkan.


Namun tiba tiba ponselnya berdering dan menampilkan no asing yang menelfonya.


"Hallo ini siapa "


"Hai Abi, apakah kau tak ingat denganku, aku pacarmu yang di inggris, aku Zhifa apakah kau ingat dengan ku, kapan kau akan kembali lagi kemari, aku sangat rindu denganmu, kapan kita akan menghabiskan waktu bersama lagi "


Bian segera mengigat ngigat lagi Zhifa setaunya dirinya tak pernah berkomitmen atau berparan dengan siapa siapa lalu ini siapa ngaku ngaku sebagai pacarnya, apa ini perempuan malam yang dirinya pakai saat terakhir kali di inggris.


"Aku tak punya pacar jadi kau siapa jangan mengaku ngaku ya"


"Aku adalah perempuan yang selalu menemanimu kemana pun kamu pergi, masa sih gak inget"


"Oh ya aku ingat ingat, maaf Zhifa jangan merasumsi kalau kita dekat kau adalah pacarku, jadi tolong ya aku disini sudah mempunyai pasangan jadi tolong kau jangan seperti itu"


"Wah secepat itu kau melupakan ku, padahal aku akan keindonesia dan menemuimu disana, aku sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang"


"Jangan jangan, kau diam saja disana jangan menemuiku, kita tak punya hubungan apa apa dan aku juga tak pernah menjanjikan sesuatu padamu, jadi aku mohon jangan hubungi aku atau menemuiku"


"Secantik apa perempuan itu sampai kau melupakan aku "


"Tak perlu kau tau, aku mencintainya bukan karena parasnya atau karena tubuhnya, aku mencintai hatinya dan segala yang ada didiri perempuan itu, jadi aku mohon lupakan semua yang pernah kita lakukan, itu sudah masa lalu dan aku gak akan kembali lagi pada masa lalu itu "

__ADS_1


Bian segera mematikan ponselnya dan membaringkan tubunya. "kenapa sih aku harus jadi play boy dulu, pasti gak akan kaya ginikan, semoga saja Zhifa tak nekat pergi kesini dan menghancurkan kedekatanku dengan Inara"


__ADS_2