
"Sekarang kamu mandi, lalu kita sarapan bersama-sama ya, mamih akan siapkan pakaianmu. Maafkan anak mamih jika tadi lancang menyentuhmu ya Nara. Dia itu sungguh keterlaluan nanti mamih akan memarahinya "
"Terimakasih mih, atas nasihat dan bantuan mamih pada ku. Emm iya mih "dengan wajah merahnya.
"Yaudah gih, cepet mandi mamih akan pastikan Abi gak masuk kamar dulu. Biar nanti dia mandi dikamar mandi lain "
Inara segera menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Lantas pergi kekamar mandi. Saat Nara masuk kamar mandinya sangat luas dan mewah beda banget sama kamar mandinya yang dirumah. Ini nyaman sekali dengan nuansa hitam putih.
Ternyata Bian sekaya ini ya, aku tak menyangka kalau Bian adalah anak mamih yang baik hati. Inara segera menanggalkan semua pakaiannya menyalakan syowor segar sekali.
Inara yang sudah selesai segera keluar, di tempat tidurnya sudah ada dalaman dan Dress. Sangat pas tubuhnya. Nara segera mengaca dan sedikit berputar. Sangat bagus sekali Dresnnya.
Sedangkan diluar kamar Abian sedang jongkok menunggu Inara keluar dari kamarnya. Dia sudah mandi di kamar tamu, namun mamihnya tak mengizinkannya masuk kekamarnya sendiri sebelum Inara keluar. Memang jahat sekali mamihnya ini. Padahal dirinya ingin sekali berduan dengan Inara.
Inara yang sudah siap segera keluar kamar "akhh Bian kamu ngagetin aku, ngapain coba kamu jongkok kaya gitu kaya tuyul tau" ucap Nara sambil mengusap dadanya.
"Hehehe maaf cantik, aku ga boleh masuk sama mamih sebelum kamu keluar, ayo kita makan terlebih dahulu. Aku akan segera mengantarmu pulang aku tau, pasti suamimu akan curiga kamu ga keluar kamar. "
"Ahh aku lupa Bian, aku harus pulang sekarang, tak apa kan aku tak makan dahulu. Aku takut nanti menjadi masalah. Pasti nanti kalau ketahuan aku akan habis"
"Tapi Nara sebentar saja, aku tak mau kamu pulang belum makan apa-apa "
__ADS_1
"Tapi Bian, aku mohon, aku takut nanti mas Adam marah. Maaf pada mamih bukannya aku tak mau, tapi aku tak mau membuat Adam curiga dan memukul ku kembali. Kalau kamu ga jadi nganterin aku, aku ngapapa pulang sendiri "
Dengan cepat Nara melangkah, namun tanggan dicekal oleh Bian "aku tak akan membiarkanmu pulang sendirian, akan aku antar kamu pulang tenang saja ayo. Nanti akan aku jelaskan pada mamih saat dibawah "
"Terimasih Bian "
"Iya ayo cantik kita kebawah pamitan pada mamih, kalau papihku jangan ditanya dia pasti masih tidur jam segini " Bian segera membawa Nara untuk turun kebawah. Menemui mamihnya yang sedang menyiram tanaman diluar.
"Mamih " panggil Bian.
"Ah kalian sudah turun ayo kita sarapan " ajak mamihnya.
"Ya sudah tunggu sebentar " mamihnya segera pergi kedalam dan sudah kembali lagi sambil membawa misting.
"Sayang, Nara ini mamih bekalkan saja ya, kamu makan dijalan nanti ya. Jangan melewatkan sarapan ya sayang "
"Maaf mih, aku ga bisa makan disini, tapi aku janji nanti aku main kesini lagi ya mih"
"Iya sayang, gapapa mamih gak marah, mamih tau sekarang posisi kamu bagaimana " Nara segera memeluk mamih Bian dengan erat. Entah kenapa tiba-tiba saja dirinya menitihkan air mata. Dirinya seperti mempunyai ibu lagi yang perhatian padanya.
Bian segera ikut memeluk dua wanita yang paling bian cintai dan sayangi itu, sesekali mencium kepala Nara dengan sayang.
__ADS_1
"Hey kau anak durhaka. Enak saja ya main nyosor-nyosor aja cium anak mamih " sambil memukul bibir Abian.
"Sakit loh mih, mamih jahat tau, terus bekel buat Bian mana mih. Masa Nara aja "
"Ga ada buat anak nakal kaya kamu, udah cepet antarin anak mamih ini sampai rumahnya dengan selamat. Awas kamu jangan macem-macem sama anak mamih"
"Iya mih, iya serasa anak tiri nih Bian " sindir Bian. Sambil menarik tangan Inara dan membukakan pintu mobil untuk Nara.
Setelah Bian masuk mobil dan menjalankannya , Nara segera melambaikan tanganya kearah mamihnya Bian. Setelah puas melambaikan tangan Nara segera menutup kacanya sambil tersenyum senang.
"Kayanya ada yang lagi seneng nih " ledek Bian.
"Iya nih aku lagi seneng Bian, aku kaya punya ibu lagi. Ada yang sayang lagi sama aku sama seperti ibu aku menyayangiku. Aku nyaman saat bersama mamih seperti semua bebanku ini hilang saat menceritakanya pada mamih. Rasanya kasih sayang yang diberikan mamih padaku sama besarnya dengan ibuku. Aku sangat senang sekali ada yang memberikan ku bekal lagi. Dulu ibu sering buatin aku bekel. Rasanya tuh aku mau terus ada di samping mamih karena disana aku menemukan sosok ibu yang sama dengan ibu ku "
"Benarkah Nara, mamih baru kali ini loh baik sama perempuan yang deket sama aku. Dia itu sayang banget sama kamu. Aku ini kaya anak tirinya dia aja tau kalau ada kamu. Tapi aku seneng, mamih sayang sama kamu jadi nanti saat kita nikah tak ada lagi perkenalan atau saling canggung lagi"
"Ih apaan sih Bian, kamu tuh fikirannya terlalu jauh, udah-udah sarapan dulu aja. Aku suapin kamu untuk terimakasih kamu mau anter aku dan mempertemukan aku bersama mamih. Namin kejadian yang diranjang aku belum memafkanmu " Nara segera membuka mistingnya didalam ada nasi gorong telur mata sapi, persis sama yang sering ibunya bekalkan untuknya.
"Lah kok ngadimaafin yang tadi kan kita sama -sama enak syaangg "
"Pokoknya aku belum maafin kamu jadi sekarang aaa makannya" sambil memberikan suapan pertama pada Bian lalu menyuapkannya pada mulutnya sendiri. Dengan sedikit lelucon yang dibuat Bian.
__ADS_1