Berbagi Suami

Berbagi Suami
Sampai kapan


__ADS_3

"Gimana kalian semua suka nggak sama rumah baru kalian, aku sengaja beli baru buat kalian semua "


"Suka Livia kamu baik banget loh sama Adam sama ibu ayah, nggak nyangka lo bisa ketemu orang baik kaya kamu ngasih rumah kayak gini dengan percuma, Ibu udah nggak tahan tinggal di rumah gubuk itu lagi, kamu datang sebagai pahlawan dan memberikan kita rumah dengan cuma cuma "


"Tidak seperti itu Ibu aku memberikan rumah ini tidak cuma cuma, aku meminta imbalan pada Adam "


"Apa yang kau minta pada anakku pasti akan dikabulkan olehnya ,aku tahu kau ingini Nara hancurkan dan kau memiliki kekasihnya"


"Betul sekali Ibu sangat hebat dan ibu sangat pintar aku suka dengan ibu yang sangat mudah menebak apa keinginanku"


"Baiklah aku mengerti Livia terima kasih kau sudah membebaskan aku dari penjara itu dan aku akan menuruti apa yang kau mau, aku pun ingin mendapatkan Inara kembali dalam pelukanku bukan untuk dicintai namun untuk diperlakukan seperti dulu. Aku ingin balas dendam padanya memangnya dia saja yang berkuasa aku pun bisa membuat dia lebih menderita lebih lagi dari dulu"


"Baguslah kau buat hubungan mereka hancur aku ingin tahu apakah mereka bisa tahan dengan kau yang datang kembali ke kehidupan Inara aku ingin melihat bagaimana perjuangan cinta mereka"


"Baik aku mengerti"


"Aku pamit pulang dulu kalian bersenang-senanglah dengan rumah baru kalian dan untuk kebutuhan kalian aku yang akan memberikannya asal kerjaan Adam bagus aku akan membayarnya"


Livia tanpa mendengarkan jawaban Adam langsung pergi dan ibunya Adam dia sangat senang rumah ini sangat besar dan dirinya merasa hidup lagi, hidupnya kembali lagi, semunya sudah kembali padanya.


"Adam kau harus menjaga kepercayaan Livia Ibu tidak mau sampai pergi dari rumah ini. Ibu sangat senang akhirnya kau bebas dan kita menjadi orang kaya lagi kita mempunyai rumah"

__ADS_1


"Tapi ayah tidak setuju dengan apa yang Livia mau Adam, sadar Kau jangan membalas apapun pada Inara biarkan dia bahagia dengan orang lain, jangan kau hancurkan kebahagiaan dia yang dulu tak dia dapatkan darimu, jangan menghancurkan hidup dia lagi sudah cukup sudah ayah tidak mau kau hancur kembali biarkan Inara bahagia dengan orang yang dia cintai"


" Ayah tidak tahu bagaimana Adam sakitnya oleh Inara dipenjarakan seperti itu, Adam akan membalas semua kesakitan yang Adam rasakan oleh Inara, ayah tidak usah ikut campur Ayah diam saja oke"


Adam langsung melenggos pergi meninggalkan ayahnya dan juga ibunya diruang tamu, masuk kedalam kamarnya.


"Sudahlah Ayah diam saja dukung apa yang Adam mau, jangan malah seperti ini, Inara itu bukan siapa-siapa jadi pantas dihancurkan. Karena dia sudah menghancurkan hidup Ibu hidup Adam dan hidup keluarga kita. Ayah ini bagaimana sih Harusnya mendukung anaknya bukan mendukung orang lain"


"Inara melakukan ini semua gara-gara siapa bu, karena anak kita anak kita yang selingkuh dan menikah lagi. Apakah ibu bisa merasakan bagaimana kalau ada di posisi Inara dia yang lebih sakit dia yang lebih hancur dari pada Adam, ini baru teguran sedikit untuk Adam, Inara sudah sangat menderita belum lagi secara fisik mental seharusnya kita meminta maaf pada Inara seharusnya Adam bersujud pada Inara karena membuat hidupnya hancur bukannya malah sekarang balas dendam dan menghancurkan kembali hidupnya "


" Sudahlah Ayah tidak tahu apa-apa, kalau ayah tidak mau mendukung Adam sudah sana pergi dari sini jangan hidup bersama kami"


Tanpa banyak bicara ayah Adam pergi, dirinya tidak mau terlibat dan tak mau ikut campur lagi sudah lelah dirinya ini selalu menuruti kemauan anak dan istrinya.


**


Livia yang baru pulang sudah disuguhkan Cio yang berdiri menatapnya "ada apa dengan mu Cio duduk lah "


"Kenapa tiba-tiba ayahmu mengganti semua hak waris padamu"


"Haha kau ini lucu sekali kau ini siapa. Aku anaknya makannya dia saat akan meninggal mungkin ya saat akan dibunuh sudah menulis surat warisiat untuk membawa harta yang seharusnya memang untukku yang dititipkan padamu harus kembali lagi padaku. Kenapa kau seperti tak rela itu sudah ada bukti kau sudah lihat kan dari pengacara aku pengacara Ayahku kalau harta itu kembali padaku, warisan itu untukku semuanya tidak untuk titip kan kembali padamu"

__ADS_1


"Aku tak pernah mempercayaimu Livi aku tak percaya ayahmu segampang itu membuat suara atau wasiat bahwa semua hartanya harus dikembalikan padamu. Dia sudah memberikan aku Hak untuk memiliki semuanya untuk melindungi semuanya dia tidak bilang Kalau harta itu untuk dikembalikan lagi padamu pasti kau melakukan sesuatu"


"Apa yang aku lakukan untuk apa aku melakukan itu jelas-jelas itu tulis tangan Ayah ku, kau ingin bertanya pada Ayahku silakan kau mati dulu dan bertanya pada Ayahku sekalian tentang kebenaran ini"


"Lihat saja aku akan mengungkap semuanya aku tahu kau pasti bermain di belakang ayah mu, pasti bekerjasama dengan pengacara ayahmu dan aku yakin bi San tidak mungkin membunuh ayahmu aku tahu kau pembunuhnya Livi"


"Silakan Kau buktikan semuanya aku tidak peduli aku Benar kok aku tidak salah maka aku tidak akan takut denganmu, silakan Kau buktikan semuanya kalau aku pembunuh Ayahku, kalau aku bermain-main dengan pengacara Ayahku, silakan aku tidak akan pernah takut dengan ancaman murahan mu itu cio, karena semua ucapan yang kau lontarkan tidak akan terjadi aku tahu kau pengecut"


"Baiklah kau sudah menangtang ku maka aku akan mencari semua apa yang perlu aku cari"


Cio melengos pergin dan wajah Livia langsung pucat pasti "sialan aku harus mengancam kembali bi San, jangan sampai dia memeberitahu Cio semuanya, ya aku harus temui bi San "


Livia segera pergi langsung memasuki kamar bi San yang sedang melakukan solat.


"Ya alloh non ngagetin aja "


" Bibi Masih ingatkah tentang janji bibi yang tidak akan membongkar Siapa pembunuh Ayah sebenarnya"


" Iya bibi masih ingat non ingat semuanya"


"Baiklah jika Bibi masih ingat aku masih memegang janji Bibi kalau sampai semua itu terbongkar. Aku tidak akan main-main aku akan menghabisi keluarga bibi, jadi tutup mulut jika Cio bertanya yang aneh-aneh lagi jangan sampai Bibi mengatakan 1 kata pun yang membuat dia terpancing dan curiga, mengerti "

__ADS_1


Bi San hanya mengangguk saja dan Livia dengan senang keluar kamar dan menutupnua kembali dengan kasar.


"Ya allah sampai kapan hamba menyimpan kebenaran ini, sampai kapan "


__ADS_2