
Sedangkan dirumah, Iva sedang bermesraan dengan pacarnya Dave ya teman Adam. Laki-laki yang pertama mengenalan Adam dengan Iva. Dia adalah dalang dari semua ini.
Dia sengaja melakukan itu untuk segera menghancurkan Adam yang angkuh dan sombong padanya. Sebentar lagi harta Adam akan menjadi miliknya.
"Sayang aku tuh kangen banget sama kamu "manja Iva sambil memeluk pacarnya.
"Aku juga kangen banget sama kamu, kamu yakin istri Adam ga ada dirumah"
"Iya aky yakin sayang, aku yakin Nara bekerja. Biarkan tak usah memikirkan wanita itu. Jika nanti wanita itu ada kita bunuh saja "
"Hemm ide yang bangus sayangg, itu lebih baik "
"Iya makannya sayang, sekarang kita harus menghabiskan waktu berdua. Aku sudah tak kuat sayang tinggal disini "
"Sabar sayang sabar sebentar lagi kamu harus tahan "
"Iya iya sayang " sambil mempererat pelukannya.
"Kamar kamu sama Adam dimana sayang"
"Diatas kenapa emang "
"Aku ngantuk ayo kita bobo yu, udah lama kita ga tidur bareng "
"Ayo sayangg"
Dave segera memangku Iva dan membawanya kedalam kamar Iva dan Adam entah apa yang mereka lakukan selain tidur. Tak ada yang tahu hanya mereka saja mengetahuinya.
***
Nara yang tertawa dengan Abian segera memberhentikan lalu tersenyum malu kearah Abian "maaf pak "
"Kok minta maaf cantik "
"Engga aku tuh kaya lancang aja ngelakuin kaya gini sama bapak "
"Kok lancang sih, gapapa kali aku aja seneng kok kaya gini sama kamu, makan dibawah meja terus larian-larian aku tuh kaya balik kemasa kecil aja tapi seneng "
"Hehehe iya deh pak "
"Bisa kalau lagi berdua gini kamu jangan bapak, saya tuh serasa udah tua"
"Emm ga enak pak "
"Kamu banyak ga enaknya coba sebut nama saya aja "
"Abian atau Bian boleh "
"Apa itu pangilan spesial buat saya Nara "
__ADS_1
"Emm iya deh kayanya pak "
"Yess " Abian segera berputar-putar senang karena sudah mendapatkan panggilan spesial dari Inara.
Inara yang takut bosnya itu tiba-tiba memeluknya segera ngacir pergi saat lift terbuka dan meninggakan Abian sendirian untuk kesekian kalinya.
Saat Abian berbalik dan ingin memeluk Inara dirinya malah memeluk Angin dan membuatnya jatuh tersungkur.
Segera Abian memutar kepalanya, ditinggal lagi deh sama Nara. Kenapa sih Nara itu sukannya ninggalin terus dari kemarin-kemarin. Gapernah di tungguin.
Dengan lesu Abian segera menuju ruangannya. Pakaian untuk Inara belum sampai kita tunggu saja.
**
Sekarang Nara sudah sampai dirumahnya. Dengan Abian yang ada di sisinya. Saat Inara akan turun dia melihat Iva dengan seorang laki-laki.
Dengan cepat Inara mengeluarkan ponselnya lalu merekan kejadian itu.
"Sayang aku pulang ya, takut nanti Adam pulang " ucap Dave pamintan didepan gerbang.
"Padahalkan ngampang tinggal bilang aja sama Adam kalau kamu tadi kebutulan main kesini " tolak Iva dengan manja.
"Gabisa gitu sayang, kamu harus ngerti ini demi kelancaran misi kita ya " sambil mengusap wajah Iva dengan sayang. Lalu mengecup kening Iva dengan sayang.
Inara yang didalam mobil hanya tersenyum senang, lalu menyimpan fidionya lalu tak lupa menduplikat fidio itu cukup banyak.
"Apa yang kamu lakukan cantik " tanya Abian yang penasaran.
"Buat apa kamu urusan sama dia "
"Ya biar aku ga dimata-matain sama dia terus Bian dan kalau aku mau kerja gau usah sembunyi-sembunyi lagi "
"Jika itu yang terbaik buat kamu, aku dukung tapi kamu harus hati-hati "
"Iya Bian bawel "
"Eh iya cantik ini pakaianmu sudah aku siapkan sama denganku, malam ini kamu harus menjadi pendampingku "
"Iya Bian, aku pulang dadah "
"Iya cantik dadah "
Nara segera keluar dengan senyum kemenangan, sekarang dirinya tak lewat jendela lagi namun lewat pintu depan. Iva yang melihat Nara perpenampilan memakai pakaian kantor dan rapi sekali segera menghampiri Nara.
"Oh begini ya ternyata kelakuam istri mas Adam yang katanya diem dikamar ternyata kerja. Berani juga ya nampakin dirinya langsung dihadapan aku. Mau aku bilangin sama mas Adam biar kamu mati " ucap Iva dengan penuh ancaman
"Emmm takut, tapo boong, mau liat ga aku baru aja dapet pemandangan yang sangat bagus pasti bikin mood bagus deh"
Nara segera mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman ini dihadapan Iva. Iva yang melihatnya langsung ingin mengambil ponsel Inara.
__ADS_1
Namun kalah cepat, Nara segara menyimpan ponselnya kedalam tas "bagus kan Iva. Yang lagi selingkuh ketangkep "
"Hapus Nara "
"Gamua gimana tuh"
"Sialan ya kamu, hapus Nara aku gamau sampai mas Adam tahu, gimana dengan anak kita "
"Anak kita ? Anak kamu sama laki-laki itu kali bukan sama mas Adam "
"Kamu jangan so tau Nara ini anak mas Adam "
"Masa sih, mas Adam itu mandul Iva dia mandul. Mana mungkin dia bisa punya anak "
"Alah paling itu alibi kamu "
"Kamu pengen bukti "
Nara segera mengeluarkan ponselnya kembali, lalu mengirimkan surat dokter yang Nara sengaja foto.
Iva segera menbacanya dan sungguh dirinya syok kalau Adam sampai tahu rencana gagal. Harus bernegosiasi dengan Nara sialan nih.
"Ya sudah kamu mau apa dari aku Nara "
"Em simpel sih aku mau kamu jaga rahasia aku, kalau aku kerja dari mas Adam, dan kamu harus selalu lindungi aku saat aku mau pergi kerja , terus mau keluar malem kamu harus selalu tahan mas Adam. Gimana mudahkan Iva sayang "
"Tapi kamu harus selalu jaga rahasia ku juga Nara "
"Ya aku akan selalu jaga rahasia kamu yang selingkuh dari suaminya dan kandungan kamu ini bukan anak kamu sama mas Adam tapi anak temen mas Adam benerkan aku Iva " sambil tersenyum lebar.
"Tau ah, pokoknya kita saling jaga rahasia aja ya " jawab Iva yang tak mau kebohongannya dibongkar terus menerus oleh Inara.
"Iya baik, aku setuju, besok akan aku buatkan suarat perjanjian diatas materai "
"Ga sampai segetunya juga kali Nara "
"Gabisa Iva, aku maunya gitu mau atau engga. Atau mau aku kirim semua bukti ini sama mas Adam "
"Iya iya gimana kamu aja " sambil melangkah pergi.
"Ets tunggu dulu sayang, jangan langsung pergi. Malam ini aku harua pergi dengan rekan kerjaku. Kamu harus bisa mengelabui mas Adam bahwa aku ada dirumah gimana bisa ?. Itu tugas pertama dari aku Iva "
"Ya aku bisa tenang saja nyonya besar "
"Baiklah Iva pelayan baruku "
"Kurang ajar kau Nara "
"Ehh gaboleh gitu dong sama majikan masa kasar "
__ADS_1
Iva yang marah segera pergi kedalam kamarnya. Inara pun sama pergi kekamarnya dengan gelak tawa yang tak henti-hentinya karena sudah membuat Iva tunduk padanya.
Kalau seperti ini gampangkan. Jadi dirinya tak usah terlalu takut. Meski hanya sedikit bebas namun itu tak masalah.