
Roger dan juga Ana yang sudah sampai di tempat yang kata Roger indah itu membuat Ana sangatlah lelah sekali, mereka menaiki beribu-ribu anak tangga sampai-sampai Ana yang kesal membuang bunganya begitu saja.
"Kalau tau bakal ketempat kayak gini, aku gak akan mau gila ya naik tanga banyak banget, mending tidur aja dirumah, cape tau gak sih gak nyampai nyampai kapan coba sampainya, cape nih kaki sakit banget "
"Sabar dong Ana jangan marah marah sebentar lagi kita sampai, sabar sabar tarik nafas buang, tarik nafas buang, ayo sini aku bantuin ya, aku bantu mau aku gendong, mau ya biar kamu gak cape"
"Gak usah aku bisa jalan sendiri dan gak butuh bantuan kamu, aku bisa jalan sendiri, gak banget ya sampai degendong sama kamu"
Ana langsung melenggang pergi mendahului Roger dan Roger yang jahil malah mendorong Ana dari belakang sambil memegang erat tasnya "apa-apaan sih Roger kamu ini ya berat tau, kamu ini ya kalau aku jatuh gimana karena kaget emangnya kamu mau tanggung jawab gitu, enggakan jadi jangan buat aku marah dan lempar kamu kebawah sana ya"
"Marah-marah terus dari tadi gak cape emang Ana, aku tuh cuman mau bantuin kamu aja, gak lebih kok, tapi kamu kenapa marah marah terus, kamu lagi halangan ya, iya benerkan kamu lagi halangan ya "
"Udah aku bilang aku nggak mau dibantu sama kamu, aku bisa naik sendiri tanpa bantuan kamu jadi kamu nggak usah bantuin aku, aku bisa sendiri ah, aku gak lagi haid dan aku emang mau marah marah samu kamu, karena kamu udah bawa aku ketempat yany banyak tangga dan buat kaki aku sakit banget tauu"
Mereka akhirnya sampai juga di air terjun, Ana menatap sekitar dan mengganggu kan kepalanya, ternyata cukup bagus juga tempatnya dan sepertinya enak sekali buat dipakai nongkrong di sini "gimana kamu suka kan tempatnya, baguskan apa kata aku juga aku akan bawa kamu ketempat yang indah dan kamu juga pasti suka, dan aku benerkan kamu suka sama tempat ini "
"Ya lumayan lah buat nongkrong lumayan lumayan "
Roger segera membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah botol yang cukup besar, lalu Roger menyuruh Ana untuk duduk dan Ana mau mau saja dia langsung duduk dan memanjangkan kakinya.
"Iya tehnya aku buat sendiri gimana enak ga, pasti enaklah kan buatan aku, gimana gimana enak kan "
"Ya kayak teh pada umumnya gini sama aja nggak ada bedanya, manis dan ya gini sama aja gak ada bedanya "
"Yah kamu kok gitu sih puji aku kek atau gimana gitu, kenapa sih gak ada romantis romantisnya sama sekali sih kesel deh aku An "
"Ya ini kan menurut aku emang biasa aja, kalau misanya aku berbohong sama kamu yang ada kamu akan bikin lagi, karena ini rasanya biasa aja kayak teh biasa biasannya gak ada bedannya, aku gak mau aksih harapan palsu ya sam kamu jadi aku bilang seadannya aja sejujur jujurnya aja "
"Ya udah ya udah mau main air gak, pasti seneng deh ayo kita main yu "
"Nggak mau aku nggak berminat buat main air kamu aja sendiri sana yany main, aku gak berminat kamu aja sendiri sana ah "
"Ayo kamu jangan kaku-kaku banget kali, yu kita main air kapan lagi kan sekali kali gitu ,ayo Ana ayo "
Rojer membawa Ana masuk ke dalam air itu dan menyiramnya "kamu ini aku gak mau ya tapi kamu maksa banget udah aku bilang kalau aku gak mau main main kayak gini,"
Roger bukannya mendengarkan kata-kata Ana, dia malah makin mengguyur Ana dengan air terjun itu, dan akhirnya mereka main air air jugakan, Ana akhirnya bisa tersenyum juga dan menikmati main air airan seperti ini, sudah lama dirinya tak bersenang senang seperti ini "
Saat Ana terpeleset dengan refleks Roger menangkapnya dan menoel hidung Ana, "kalau apa apa itu hati hati jangan ceroboh Ana, kamu ini kebiasaan kalau apa apa itu ceroboh "
Ana hanya tersenyum saja dan malah menengelamkan Roger dan tertawa terbahak bahak saat melihat Roger yang keluar kembali dengan rambut yang lepek dan aneh saja.
Sedangkan Roger yang melihat itu tersenyum senang akhirnya Ana bisa tersenyum karena dirinya, tidak marah marah lagi dan lebih rileks aja dan tidak terlalu serius.
__ADS_1
"Udah yu An main air airannya nanti malah sakit lagi "
"Emang kita bakal pulang kayak gini ya turun tangga dengan baju yang basah-basah, nanti kalau ada orang yang lihatin gimana. Belum lagi perjalanan ke rumah itu hampir 2 jam"
"Ya gak kita nggak akan langsung pulang. Di sana ada penginapan rumah kok aku udah sekalian sewa semuanya, tenang aja semuanya udah beres kok"
"Terus Sean sama siapa kamu tinggalin Sean gitu aja gitu, sedangkan kita nginap di sini, gila ya kamu jadi ayah gimana sih tinggalin anak kayak gitu "
"Tenang aja aku udah titipin Sean sama bi Fani pasti lagi main sama Arya sekarang dia, tenang aja aku sebelum berangkat udah titipin kok, udah ayo ayo "
Roger membawa semua barang barang bawana mereka, dan Ana mengikutinya dari belakang.
**
Inara yang sudah selesai membuka gips ditangannya tersenyum senang pada Abian "jadi kita mau jalan jalan kemana lagi nih Bi"
"Kemana ya, aku mau beliin kamu kalung ayo "
"Gak mau buat apa kamu beliin aku kalung. Enggak ah kalau emang gak ada tempat yang kita tuju kita pulang aja ya, kita bulang "
"Gak bisa syaang ayo ayo "
Abian membawa Inara masuk kedalam sebuah mall dan melihat kesekitar lalu melihat toko mas yang cukup banyak orang.
saat sudah ada didepan pelayan Abian langsung memilih kalung kecil dengan berbandul liontin kecil yang manis sekali. "sini kamu cobain dulu yah "
"Udah sini jangan protes "
Abian segera memesangkan kalung itu dan membawa Inara kearah kaca "bagaimana baguskan, suka kan sayang dengan pilihan aku "
Inara memegang liontin itu dan menatap Abian dari pantulan kaca "berapa ini harganya Bi, kalau mahal jangan beli "
"Ok kita beli "
"Abii"
"Mba bungkus kalung itu ya "
"Baik tuan "
"Kenapa sih Bi langsung beli kayak gitu. Aku kan belum setuju aku baru tanya aja berapa harganya, kok kamu tiba-tiba main beli-beli aja sih , kamu belum jawab itu berapa harga kalungnya, kenapa udah main beli beli aja sih Bi "
"Udah sayang aku juga suka sama kalong itu, mau harganya semahal apapun aku akan beli kalau kamu mau aku tahu kok kamu pasti mau "
__ADS_1
Abian mendekati pelayan itu dan mengambil kalungnya lalu membayarnya, setelah itu Abian kembali mengandeng tangan Inara.
Mereka kembali berjalan jalan, didalam mall itu, saat Abian akan membelikan sesuatu lagi, Inara langsung menarik kembali Abian agar tidak membelikannya apa apa lagi.
"Makasih bi es krimnya "
"Iya sama sama habisin es krimnya "
Inara mengangguk dan segera menjilat es krim itu dengan semangat, "enak banget ya sampai semangat kayak gitu "
"Iya dong Bi enak, kamu mau "
"Mana suapin "
Saat Abian akan menjilat es krimnya Inara langsung menjauhkannya dan berlari menjauhi Abian, saat Inara akan melarikan diri malah menabrak seseorang, "maaf maaf aku tidak sengaja "
"Kenapa nih yang mau nikah ada di sini bukannya dipingit malah ada di sini"
Inara mendongakan kepalanya ternyata itu adalah Cio dan juga Nana "maaf ya Cio "
"Tenang aja Nara gak usah minta maaf kayak gitu "
Abian segera merangkul calon istrinya " lo ke mana aja Cio baru kelihatan, ke mana sebenarnya sibuk pacaran sama Nana ya "
"Tidak tuan Abi, aku tidak mungkin mempunyai hubungan dengan pak Cio. Aku tidak akan mungkin mempunyai hubungan bersama laki-laki seperti dia"
"Hei apa yang kau maksud dengan kata laki-laki seperti aku, memangnya aku ini laki-laki seperti apa sampai-sampai kau menolak aku kau ini awas aja kalau nanti mau, awak aku akan menolak mu mentah mentah "
"Apaan sih nggak aku nggak akan mungkin mau sama pak Cio, sehari aja aku kerja sama Pak Cio tuh udah stress. Apa lagi aku harus setiap hari selama 24 jam dan selamanya hidup sama Pak Cio, bisa-bisa aku mati muda tahu nggak diceramahin terus sama pak Cio "
"Itu juga salah kamu karena kamu terlalu menanggapi laki-laki yang tidak perlu kamu tanggapi, seharusnya kamu sebagai perempuan menolak jangan mau-mau aja diajak kesana kemari bagaimana kalau mereka akan berbuat jahat seharusnya kamu berfikir kesana "
"Apaan sih Pak Cio, gimana saya dong ini kan hidup-hidup saya, saya ini lagi cari pacar yang cocok buat saya, bapak gak usah protes ya, saya juga mau kayak orang lain pacaran"
Sedangkan Inara dan Abian hanya diam melihat pertengkaran mereka ini, lumayan lah tontonan gratis "dari pada kalian berdua ini bertengkar lebih baik kita mencari makan yuk, kita makan sama-sama jangan bertengkar seperti ini malu di mall lagi, ayo cepet mending makan aja "
"Boleh ayo ayo kita makan Bi, aku pun lapar sekali, berantem sama dia tuh cuman habisin energi aja "
Mereka semua segera berjalan dan Cio dengan jahilnya malah memegang kerah pakaian Nana seperti yah memegang kucing, Nana yang kesal langsung memukul tangan Cio dan menjauh dari Cio.
"Awas lo nanti kalian jodoh dari tadi berantem terus menerus sih, ini beneran bakal jodoh deh "
"Amit-amit" jawab mereka serentak
__ADS_1
"Tuh tuh lihat aja jawabannya aja sampai barengan kan. Cie yang jodoh nih undang-undangnya nikah nanti ya jangan lupa kalau nikah jangan sembunyi sembunyi yah " goda Abian kembali
"Heyy itu tak akan terjadi sampai kapan pun tak akan terjadi " teriak Cio