
Adam terbangun dengan masih terduduk ditempat yang sama. Sedangkan Iva sudah tak ada dirumah. Adam segera turun kebawah dan mencari keberadaan istri-istrinya yang sudah menghilang entah kemana.
"Inara, Iva kalian dimana "teriak Adam sambil sedikit sempoyongan. Masih pusing akibat kemarin malam.
"Kemana mereka ini, jam segini sudah tak ada dirumah mentang-mentang hari libur, dasar istri istri tak berguna " gumam Adam.
Adam baru ingat dirinya akan bertemu dengan Shinta. Dengan tergesa-gesa Adam segera masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselnya. Alangkah kagetnya saat dirinya masuk dan melihat ponselnya sudah hancur.
"Pasti ini kelakuan Iva, kenapa coba ponselku sampai dipecahkan seperti ini. Awas saja kau Iva " setelah memunguti semua pecahan ponselnya Adam segera pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Seharusnya kemarin malam bertemu, karena insiden minum-minum jadi tidak jadi. Semoga saja Shinta tak marah padanya.
***
"Ini Dave semua dokumen yang sudah Adam tandatangani. Jadi sekarang rencana kita bagaimana " tanya Iva yang sekarang ada dirumah Dave.
"Aku akan menjual dahulu tanah-tanahnya setelahnya aku akan menjual rumah , setelah Inara pergi seperti apa katamu "
"Baiklah aku akan mempercayakan semuanya pada mu Dave, aku sudah muak kalau harus terus menerus ada dirumah itu. Aku selalu tergiang-ngiang atas kesalahanku pada Inara."
"Sabarlah sayang sebentar lagi kita akan bahagia. Kita akan mempunyai uang banyak. Tenang ya. Bertahan untuk anak kita "
"Iya deh iyah aku akan bertahan sebentar lagi "
"Nah gitu dong sayang " ucap Dave sambil memeluk Iva sesekali mengecup kening pacarnya itu.
"Lalu kita akan menikah kapan Dave, aku tak mau anak ini sampai tak di akui "
"Setelah anak itu lahir kita akan menikah ya sayang, tenang saja aku tak akan meninggalkanmu "
"Awas saja kalau kau bohong "
"Kapan aku bohong padamu sayang, coba kau sebutkan kapan aku berbohong padamu "
"Emm gak pernah deh kayanya "
"Yaudah kamu pokoknya tenang aja ya. Aku tak akan meninggalkanmu "
Dave semakin memeluk erat Iva, sambil sesekali mengusap perut buncit itu. Buah cinta mereka berdua.
***
Sedangkan Inara sekarang sedang ada disebuah mall bersama Bian, dengan siapa lagi kalau bukan dengan Biankan. Inara kalau pergi sendiri suka tak tau harus pergi kemana.
__ADS_1
"Kamu mau pakaian yang seperti apa cantik " tanya Bian pada Nara yang hanya diam saja
"Engga deh, aku gak mau beli baju Bian, aku cuman mau jalan-jalan aja. Pengen liat aja gak mau apa-apa"
"Kok gitu sih, ayo cepet masuk " Bian segera menarik Nara kesebuah toko pakaian ternama.
Nara dengan susah payah menolak namun Bian sudah terlanjur menariknya.
"Ayo pilih Nara "
"Tapi aku gak minat Bian "
"Yaudah kalau gitu. Pelayan kemari " Bian segera memangil pelayan yang ada didekatnya.
"Tolong kau bungkus pakaian yang aku ambil atau barang apapun itu, ayo ikut dengan ku "
"Kamu duduk disini ya Cantik "
"Tapi Bian gak gitu "
"Udah nurut aja kamu duduk disini " sambil mendudukan Nara disebuah kursi tunggu.
Bian segera menjelajahi toko ini, mengambil satu persatu pakaian yang menurutnya cocok dengan Inara bahkan Bian tak melihat harnya langsung ambil-ambil saja. Dan disini juga tersedia tas dan juga sepatunya jadi sudah lengkap.
"Apa yang kau lakukan Bian, kenapa sebanyak ini, aku tak mau pasti ini harganya mahal-mahal aku tak mau menghamburkan uangku "
"Tenang cantik aku membelikannya untukmu "
"Gak usah Bian, ini terlalu banyak siapa nanti yang pakai "
"Ya tentu kamulah sayang yang pakai, masa iya emba-emba disini yang pakai. Kan aku beli buat kamu. Kamu hanya perlu diam dan nurut saja "
"Tapi ini kebanyakan Bian "
"Shut diam, atau aku cium disini"
Inara yang tak mau sampai itu terjadi segera diam dan melipat kedua tangannya dengan cemberut, kenapa sih harus berbelanja sebanyak ini. Kalau tak ada ancaman itu mungkin dirinya akan terus menolak apa yang dikatakan Bian.
***
Adam segera bergegas pergi kerumah Shinta, saat sudah sampai Adam segera masuk kedalam rumah dan melihat Shinta yang sudah rapih entah akan pergi kemana.
"Sayang kamu mau kemana " tanya Adam sambil memeluk Shita dari belakang.
__ADS_1
"Tau ah, kamu tuh katanya kemarin mau belanja tapi malah gak dateng, aku cape tau nunggu kamu. Kamu tuh kemana aja. Kamu punya pacar lagi selain aku gitu" marah Shinta.
"Maaf, maaf sayang, aku ketiduran "
"Ketiduran dimana, ketiduran sama perempuan hamil hah, siapa dia "
"Maksud kamu apa sayang "
"Kemarin yang angkat telfon kamu siapa hah, siapa dia katanya istri kamu "
"Yaudah aku jujur, tapi kamu ingat jangan marah yah "
"Iyah " jawabnya dengan ketus.
Adam segera melepaskan pelukannya dan duduk dikursi dengan Shinta yang berdiri menatapnya dengan tidak bersahabat.
"Dia adalah Iva, istri keduaku dia sedang mengandung anakku. Aku menikah lagi dengan dia untuk mendapatkan seorang anak. Karena Inara mandul makannya aku menikah lagi "
"Lalu kenapa kamu gak pernah cerita dari awal "
"Kamunya aja gak pernah tanya sama aku "
"Ya seharusnya kamunya yang bilang duluan bukannya harus aku nanya. Jadi selama ini kamu udah duain Inara "
"Iya udahlah sekarang kita jalan-jalan kamu bukannya mau belanjakan ayo kita pergi "
"Yaudah ayo, aku udah gak sabar pengen belanja lo ini "
Segera mereka berdua pergi, dalam hati Shinta tak peduli Adam mau punya istri berapa yang terpenting dirinya mendapatkan uang Adam dan misinya berhasik untuk memerasnya. Dan uangnya akan makin banyak nantinya.
Mereka berdua sudah sampai di mall lalu masuk beriringan, sebelum belanja mereka berdua makan terlebih dahulu duduk dipojokan dan tanpa mereka sadari ada Inara dan juga Bian yang memang sama-sama ingin mengisi bahan bakar perut mereka berdua.
"Terus pakainnya gimana Bian, mau dianterin kemana "
"Ya kerumah kamu dong, nanti anak buahku kesanna, tenang aja ya. Sekarang waktunya makan. Cepet dimakan makanannya keburu dingin"
Tanpa banyak tanya lagi Inara segera memakannya. Dari kejauhan Inara mendengar suara suaminya. Dengan perlahan Inara menolehkan kepalanya. Dan benar disana ada suaminya yang sedang duduk bersama seorang perempuan.
Tiba-tiba ada yang menelfon Bian, Bian segera pamit pada Nara untuk mengangkat telfonya dan pergi dari sana karena bising.
Inara yang tak mau diinjak-injak lagi harga dirinya segera menghampiri suami dengan wajah yang sudah memerah. Setelah ada depan meja suaminya Inara segera bertepuk tangan. Dan membuat sejoli itu mengalihkan pandangannya pada Inara.
Apa ya yang akan Inara lakukan kepada mereka..
__ADS_1