Berbagi Suami

Berbagi Suami
Melihat selingkuhan barunya


__ADS_3

Sedangkan Adam sekarang sedang diperjalanan untuk menjemput kekasihnya Shinta. Selama perjalanan Adam uring-uringan bahkan pengendara lain tak luput dari kemarahan Adam.


Shinta yang memang menunggu didepan rumahnya saat melihat mobil Adam sudah terparkir didepan rumahnya segera berjalan kearah mobil dan masuk.


"Hallo sayang, kenapa sih mukanya cemberut terus. Apa kamu gak mau jemput aku ya "


"Enggak bukan begitu sayang, aku hanya sedang kesal saja pada Inara " jawab Adam dengan nada ketusnya.


"Kenapa lagi sama s Inara itu, dia itu tiap hari demen banget bikin masalah, udahlah kamu cerain aja buat apa sih dipertahanin perempuan kaya gitu gak ada gunanya. Udah mah mandul gak ada gunanya Dam "


"Hemm nanti aku fikirkan lagi ya, sekarang kita berangkat dulu takut kesiangan sayang nanti bos yang cerewet itu marah-marah lagi "


"Yaudah ayo jalan sayang " sambil bermanja-manja pada Adam sang pacar. Segera Adam menjalankan mobilnya.


**


Bian yan masih diperjalan masih memikirkan tentang diringa yang katanya malah pulang kerumah Nara kemarin malam. Masa iya sih perasaan pulang kerumahnya deh.


Bian sekarang sedang menuju rumah Nara, dirinya memutuskan untuk menjemput Inara saja. Untuk apa dirinya marah. Itu hanya hal sepele mungkin saja kemarin-kemarin sedang terbawa suasana saja. Dasar Bian Bian.


Saat akan masuk kedalam kompleks perumahan Inara dia melihat Inara yang sedang berjalan kaki. Segera Adam memberhentikan mobilnya lalu menghampiri Inara.


Inara yang tak menyadarinya hanya terus saja berjalan. Bian segera membopong Nara untuk masuk kedalm mobilnya.


Inara yang kaget langsung berteriak histris "ahhhh tolong siapa ini tolong " sambil memukul punggung laki-laki itu.


"Tenanglah Inara ini aku Bian, kau ini mulai berisik yah"


Bian segera membuka pintu lalu memasukan dara kedalam mobilnya. memasang sabuk pengamannya.


Inara yang menatap Bian sedekat ini malah membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Bahkan Nara sekarang mengagumi wajah bosnya ini. Dengan alis tebas, bulu mata lentik serta hidung mancung, mata yang sedikit sipit , tak lupa bibirnya yang tipis membuat Inara terpana dan tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


Bian yang menyadarinya segera balik menatap mata Inara. Dengan malu Inara segera menurunkan pandangannya. Sedangkan Bian hanya Tersenyum saja. Lalu menutup pintunya dengan pelan dan masuk kedalam mobil. Melajukan mobilnya dengan perlahan.

__ADS_1


"Dasar kau bodoh Nara, liat ketaun kan harus disimpan dimana ini muka ku " rutuk Nara dalam hatinya.


Bian segera mengalihkan pandanganya kepada Nara dan masih melihat Nara menundukan kepalanya. "kenapa kau menunduk terus sayang " ucap Bian sambil mengangkat dagu Nara dengan tangannya.


Nara segera menatap Bian yang sedang menyetir "apakah kau masih marah padaku " bukannya menjawab pertanyaan Bian, malah sekarang dirinya yang balik bertanya.


"Tidak aku sekarang tak marah lagi padamu. Ayo sekarang jawab pertanyaanku sayang "


"Tidak aku hanya, em tidak tidak. Oh iya aku membawaknmu sarapan apa kau mau memakannya sekarang " kembali Nara mengalihkan pembicaraannya.


"Wah boleh, kamu bawain aku apa suapin dong "


"Aku buatin kamu pancake pisang, suka gak "


"Suka dong apa pun yang kamu masak pasti aku suka "


Dengan senang Inara segera membuka mistingnya memotongnya lalu menyuapakannya pada Bian, dengan senang hati Bian melahapnya. Padahal dirinya sudah sarapan tadi dirumah.


Tapi demi membuat Inara senang itu tak masalah sama sekali. Jarang-jarangkan Inara mau menyuapainya dengan sukarela seperti ini. Tak perlu dipaksa-paksa seperti dulu.


Keluar Shinta dari dalam mobil dan langsung mengandeng tangan Adam dengan mesra. Saat mereka berpapasan Adam dan juga Shinta berhenti untuk menyapa bosnya.


"Selamat pagi bos " sapa Shinta sambil tersenyum dan menundukan kepalanya Adam pun sama melakukannya.


Namun Adam hanya fokus kepada perempuan yang ada disisi bosnya. Dia mengenal perempuan itu.


"Pagi, kalian berdua pacaran " tanya Bian.


"Emm iya bos, lalu ini disebelah bos apa asisten baru itu " jawab Shinta dengan mantap.


"Iya dia asisten baruku dan calon istriku juga" setelah mengatakan itu Bian segera menarik Inara yang sudah merah kedua matanya. Inara seperti biasa memakai masker.


Segera mereka berdua masuk kedalam lift dan membawa mereka langsung kelantai atas ruangan mereka.

__ADS_1


Sedangkan Adam masih menatap punggung wanita itu, sampai menghilang dan tak bisa dirinya lihat lagi "ayo sayang "


"Ayo, aku seperti mengenal perempuan itu Shin "


"Memangnya siapa Dam"


"Perempuan itu Inara, aku sangat mengenalnya jadi aku tak mungkin salah "


"Mungkin kamu salah orang, mirip aja kali badannya kaya Nara. Udalah pagi-pagi gini terus aja Nara yang dibahas. Lama lama aku bosen tau dengerin kamu bawa bawa nama Nara terus. Bisa gak sekali aja jangan ada kata Inara dalam pembicaraan kita "


"Ya itu wajar, Inara istriku. Aku tak mau sampai diselingkuhi"


"Sudahlah ayo pergi, biarkan dialah "


Shinta segera menarik Adam untuk masuk kedalam ruangan mereka. Sudah hampir habis waktu mereka ini karena lama diam.


**


Abian segera menarik Nara untuk masuk kedalam ruangannya. Mendudukan Inara dikursi dan Inara hanya menerut saja tak banyak membantah.


"Menangislah. Jangan ditahan "


Seperti diberi perintah Nara segera menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Jadi ini yang Iva katakan bahwa selingkuhan Adam itu adalah temannya dulu yang paling dekat denganya dan itu Shinta.


Bian segera duduk di sisi Inara, menatap Inara lalu mendekapnya. Mengusap kepalanya Inara "keluarkan semuanya agar kau tenang "ucap Bian kembali.


"Aku tak habis fikir Bian, Adam menyelingkuhiku lagi, aku kira Iva hanya mengada-ngada saja. Tapi sekarang aku melihatnya dengan jelas. Bahwa Adam selingkuh dihadapanku. Dia untuk kedua kalinya menyakitiku dan lebih parahnya lagi dia selingkuh dengan sahabatku sendiri. Dengan Shinta. Kenapa jalan hidupku begitu rumit dan menyedihkan Bi "


"Aku hanya ingun bahagia-bahagia seperti orang lain. Untuk ku itu sangat sulit Bian "


"Kamu harus lebih kuat Inara, kamu jangan lemah seperti ini. Aku yakin kamu bisa menjalani semua cobaan ini. Kamu jangan khawatir aku akan selalu ada disisi kamu. Sekarang hapus air matamu dan berjuanglah untuk kebahagianmu yang sedang menanti diluar sana " Bian segera melepaskan pelukannya lalu mengangkat kepala Inara menghapus air matanya dan kembali memeluk Inara.


Jo yang dari tadi mengetuk pintu ruangan bosnya tak sama sekali disuruh masuk segera membuka pintunya dan langsung memelotkan kedua matanya karena kaget.

__ADS_1


"Astagfirullah ya tuhan, bos apa yang kau lakukan tenang-tenang aku tak melihatnya " sambil menutup kedua matanya dengan tangannya namun memberinya sedikit celah untuk bisa melihatnya.


__ADS_2