
Happy reading
Setelah pemakaman Zahra tadi, Abi tak langsung pergi ke rumah sakit tapi ia terlebih dahulu ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.
Apalagi di rumah sakit ada anak anak mereka yang baru saja lahir. Walau ia masih sedikit sedih dengan kepergian Zahra, hal itu tak membuat Abi melalaikan tugas tugasnya sebagai seorang suami dan ayah.
Sedangkan di rumah sakit Aisyah di tunggu oleh Mama mertuanya yang kini sudah terbuka mata batinnya.
Bahkan setelah Abi mendatangi Mama dan Papanya dulu, mengenai Aisyah, Mama muslim baik dan menerima Aisyah sebagai anaknya sendiri. Bukan anak mantu, bahkan sejak hamil Aisyah dan Zahra juga sering dibawakan makanan makanan enak untuk kedua bumil itu.
"Sayang kamu mau makan apa biar Mama yang beli, sekalian beli buah di depan?" tanya Mama Luna pada menantunya.
"Ai gak mau apa apa mah, Mama disini aja udah buat Ai senang. Emm Zahra udah dimakamkan ya Mah?" tanya Aisyah pada sang Mama.
"Udah tadi siang, mungkin sebentar lagi Abi akan kesini."
Aisyah mengangguk ia tak bisa berkata kata lagi, ia masih terpukul dengan kepergian Zahra yang meninggalkan putri mereka. Tapi Aisyah janji akan merawat dan mengasuh putri Zahra sebagai anak kandungnya sendiri. Yaitu adik dari Daffa dan Daffi bersama Zahra Atiya Abila. Sedangkan si kembar adalah Daffa Langit Abimana dan Daffi Langit Abimana.
Tadi saya lahiran, memang diketahui sikembar Lahur lebih dulu daripada Zahra yang 3 menit setelahnya baru keluar.
Dan alhamdulillahnya Aisyah diberi kelancaran hingga melahirkan dengan
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu Mama keluar dulu ya. Kamu jangan kemana mana dulu hmm," ucap Mama Luna pada Aisyah.
"Iya."
Mama Luna keluar dari ruangan itu meninggalkan Aisyah disana sendiri. Aisyah menatap langit langit kamar rawatnya.
"Ya Allah terimalah Mbak Zahra disisi Mu," gumam Aisyah berdoa untuk Zahra yang notabene adalah madunya sendiri. Walau begitu ia tak ada dendam atau apapun pada Zahra dan anaknya Zahra.
Setalah lama termenung di kamar itu sendirian, tiba-tiba kamar rawatnya dibuka dari luar. Siapa yang datang? Abi, ya Abi yang datang dengan pakaian yang sudah baru.
"Mas."
"Sayang, aku bawa kue jeruk kesukaan kamu," ucap Abi menenteng kue yang ia bawa.
"Alhamdulillah berjalan lancar sayang. Mas berharap Zahra bisa tenang disisi-Nya. Dan melihat kebahagiaan anaknya dari surga sana," ucap Abi tersenyum lembut pada Aisyah.
"Aamiin, semoga Mbak Zahra lihat. Dan juga nama yang sudah kita beri pada anaknya dan juga anakku," jawab Aisyah dengan senyum manisnya.
Tok! Tok! Tok!
"Waktunya menyusui triple, Nyonya," ucap suster itu dengan riang.
__ADS_1
Siapa yang tidak senang jika disuguhkan oleh pemandangan tiga bayi tampan dan cantik milik Abi dan Aisyah. Karena Zahra udah gak ada jadi bayi itu jadi milik mereka.
"Terima kasih sus. Kalian boleh keluar nanti kalau ada apa apa, kami akan panggil."
Mereka bertiga langsung keluar meninggalkan Aisyah, Abi dan 3 anaknya di kamar itu.
Aisyah mulai menyusui anak mereka satu persatu. Ia menatap bayi yang sedang memejamkan matanya itu dengan lembut.
"Kamu sanggup susui 3 bayi sekaligus sayang?" tanya Abi pada Aisyah.
"In syaa Allah masih sanggup kok mas. Lagian air susu yang keluar juga lumayan banyak. Nanti Aisyah juga makan makanan pelancar ASI biar anak ajak kita ini gak kekurangan sumber nutrisi," ucap Aisyah dengan senyum.
Setelah menyusui baby Daffa dan Daffi, Aisyah menyusui bayi cantik dengan kain bedong berwarna pink itu.
"Zahra, ini Bunda sayang. Maaf tadi Bunda belum sempat nyapa kamu," bisiknya dengan senyum tulus.
Abi yang melihat itu dengan senyum manisnya mengelus rambut sang istri. Kemudian menatap anak anaknya yang sangat nyenyak tidur sedangkan Zahra masih semangat menyedot sumber makanannya itu.
"Terima kasih sudah menerima aku dan anak kita lagi," ucap Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.
"Zahra anak yang kuat ya, suatu saat kita akan jujur tapi sekarang biarkan Bunda yang menjadi Bunda kamu hmm."
__ADS_1
Tangan Zahra mengelus pipi merah Zahra, terlihat sudut bibir Zahra tertarik disela sela minumnya, hal itu cukup membuat keduanya gemas dengan Zahra.
Tamat