Berbagi Suami

Berbagi Suami
Livia


__ADS_3

Abian sudah ada didalam restoran "dimana orang nya Jo "


"Itu bos yang duduk membelakangi mu, "


"Kita meeting ditempat terbuka seperti ini, apa tidak salah "


"Dia yang mau tuan, nona Livi yang mau "


"Livi ? apa Livia "


"Dia memperkenalkan namannya Livi saja dan tadi juga aku hanya bertemu dengan asistennya "


"Jangan sampai kau menerima ajakan kerja bersama Livia "


Jon hanya bisa mengaruk kepalanya dan mengikuti kemana bos berjalan.


"Selamat siang " ucap Bian


"Ahh Abii, aku senang sekali akhirnya kita bisa bekerjasama dan akan terus bertemu "


Abian langsung menatap sengitu kearah Jon "Bi kenapa kau diam saja apakah kau tak suka bekerja dengan ku "


"Apakah harua kita meeting ditempat terbuka seperti ini "


"Jadi kau maunya dimana apakah maunya di hotel gitu "


"Kalau bicara kau suka kemana saja, "


"Baiklah ayo kita mulai "


"Kenapa buru buru sih Bi, kita makan dulu ya, akan aku pesankan"


"Tidak usah, aku sudah makan dan aku pun masih ada pertemuan kembali jadi mari kita mulai, agar cepat selesai "


"Baiklah tapi nanti saat akan meeting denganku, jangan makan dulu ya "


"Ayo kita mulai saja ya ayo ayo "


Bian membuka berkas dan segera membahas apa yang perlu dibahas dan Livia hanya fokus saja melihat Abian yang sedang fokus menjelaskan padanya.


Bagaimana mau fokus kalau yang ada dihadapannya adalah orang yang dicintainya.


"Baiklah apakah kau mengerti "


"Tidak Abi boleh kau ulang sekali lagi "


"Tidak bisa emm Jon coba kau Jelaskan kembali pada Livia aku akan meeting ke tempat lain tidak apa-apa aku sendiri saja, kau jelaskan dari awal sampai akhir pada Livia agar dia mengerti apa saja yang harus dikerjakan supaya tidak banyak tanya lagi"


"Baik bos "


"Bi mau kemana "


Namun Jon menghalanginya " mau ke mana nona Livia ayo saya akan menjelaskan lagi semuanya, ayo duduk-duduk Jangan sungkan-sungkan tanyakan apa yang tidak anda mengerti pasti saya akan menjawabnya dengan terperinci"


"Kau bicara saja sendiri "

__ADS_1


Livia langsung pergi dan mengejar Abian "Abi Abi kau jangan tinggalkan aku Abiii " teriak Livia sambil melempar sepatunya.


Orang orang yang melihatny malah bingung sendiri dan menatap aneh pada Livia "apa kalian liat liat sana jalan ya jalan jangan melihat padaku "


"Dasar gila " celetuk salah satu orang.


**


Inara yang sudah ingin sekali menghubungi kekasihnya segera memencet nomornya dan tak butuh waktu lama sudah diangkat "Hallo Abi apa kabar "


"Sayang kau ke mana saja kenapa saat aku hubungi susah sekali, ada apa sebenarnya aku sangat khawatir di sini menunggu kau pulang"


"Maafkan aku Bi, di sini susah sekali mendapatkan sinyal, ini juga aku sedang anda di belakang rumah sepertinya hari ini aku akan pulang , Sean tidak mau Ana pergi jadinya kami sulit untuk pulang"


"Ya sudah kalau begitu kau saja yang pulang aku di sini kesepian sayang, mamih papih juga kan belum pulang masih ada di amerika, tapi aku sudah menanyakan kabar mereka berdua, papih juga sudah baik-baik saja dan sebentar lagi akan cepat pulang untuk menyaksikan pernikahan kita sayang "


"Alhamdulilah kalau papih sudah baik baik saja, aku sangat senang sekali, yang sabar ya Bii, aku nggak bisa dong tiba tiba tinggalin Ana gitu aja, aku juga masa mau pulang sama Jack berdua enggak mungkin kan Ana ditinggalin di sini kamu mau emang gak di restuin lagi sama Ana"


"Kalau bawa bawa restu aku udah deh ngalah pokoknya nanti kamu kalau udah deket telepon aku biar aku jemput kamu, kita habiskan waktu berdua ya sayang "


"Iya iya Abi sayang, aku akan menghubungimu. Sekarang kau segeralah bereskan pekerjaan mu, maafkan aku menganggu pekerjaan mu "


"Tidak sayang, sama sekali tidak mengganggu pekerjaanku malahan aku senang kau menghubungi ku, aku sudah menunggumu dari kemarin, dan baru sekarang ke sampaian bisa bicara bersamamu, aku bekerja dulu ya kau di sana baik-baik awas jangan berpaling pada siapapun"


"Iya iya aku mengerti dadah "


Setelah sambungan terputus Inara membalikan badannya dan alangkah kagetnya saat Puja diam dibelakangnya.


"Puja ada apa "


"Tidak ku kira kau Ana ternyata kau adiknya, kalian akan di sini sampai kapan sih "


"Baiklah jika kalian tahu diri kembalilah ke asal tempat kalian, aku dan Roger sudah hidup bahagia, tapi sejak kedatangan kakakmu sepertinya hidupku berantakan jadi lebih baik kalian cepatlah pulang nanti juga lama-lama Sean akan melupakan Ana "


"Ya tenang saja kami juga hari ini akan pulang ke rumah, aku rasa Sean tidak akan pernah melupakan Ana dia sangat menyayanginya sepertinya kau harus lebih berusaha lagi untuk membuat Sean lupa pada Ana dan aku berdoa semoga kau bisa meluluhkan hati nya semangat untuk membuat hati anak sambung luluh "


Inara segera masuk kedalam rumah meninggalkan Puja sendirian " Kakak dan adik sama saja tak ada bedanya sama sama menyebalkan dan tidak tahu diri dua-duanya, seharusnya dari awal Roger tak usah bertemu dengan Ana"


**


"Ayo Ara segeralah makan, jangan menunda nunda lagi, ayo cepat "


"Iya Ana sekarang aku makan "


"Tapi tunggu dulu Puja dimana " tanya Ana


"Aku disini, kau sudah seperti nyonya rumah saja ya "


"Puja jaga bicaramu ayo sekarang kau duduk dan jangan banyak bicara lagi, makan apa yang perlu kau makan jika kau ingin makan " tegur Roger.


Dengan malas malasan Puja duduk disebelah Roger berhadap hadapan dengan Ana yang sedang menyuapi Sean.


"Sean sini sama tante aja ya disuapin nya kasihan kakak Ananya mau makan"


"Tidak mau tante aku mau disuapin kakak, karena kakak sekarang mau pulang, ini hari terakhir kakak di sini. tapi tenang saja aku pasti akan berkunjung ke rumah kakak nanti apakah boleh ? " sambil menatap Ana dengan tatapan mautnya.

__ADS_1


"Emm tentu boleh tapi jika kau ingin bermain ke rumah kakak telepon dulu nanti kakak akan menjemputmu kemari dan memulangkan mu kembali lagi kerumah ayah Roger"


"Kenapa begitu, kenapa tidak aku dan ayah pergi ke rumah kakak, agar kakak tidak bolak-balik aku tidak mau menyusahkan kakak bagaimana apakah kakak setuju"


"Boleh tentu saja boleh, tapi kau tetap saja harus menghubungi kakak jika ingin mengunjungi rumah kakak ya"


Dalam hati Roger bersorak gembira, bagus sekali ide anaknya, ini adalah kesempatannya untuk dekat bersama Ana, hebat Sean hebat kau.


**


Adam sedang mengintai rumah Inara dan Ana, dia tau rumah ini dari ibunya " besar juga rumah Inara yang sekarang, aku tak menyangka kalau dia sekaya ini, kalau tahu begini aku takkan menceraikannya dan tidak akan pernah setuju tapi tenang saja sebentar lagi aku kan mendapatkannya dan juga mendapatkan harta nya"


Adam memfoto setiap sudut rumah ini, dan sesekali celingak celinguk namun sepertinya ada seseorang yang sangat dia kenala "Sandi kenapa dia ada disini, bukanya dia ada dipenjara, kenapa tiba tiba ada disini "


"Berarti selama ini Sandi bekerja pada Inara berarti selama ini Inara yang telah membuat aku selalu disiksa oleh Sandi. Apakah sekejam itu Inara padaku benarkah dia yang melakukan ini padaku"


Adam mengelengkan kepalanya perlahan mundur mundur "ttinnn , heh kalau mau bunuh diri jangan disini " teriak orang yang ada didalam mobil.


Adam segera menyingkir dan mengusap dadanya, " hampir saja aku tertabrak Kalau tidak aku sudah mati "


"Siapa disana "


Tiba-tiba saja ada orang yang datang , Adam dengan cepat berlari ke arah semak-semak dan diam di sana ternyata yang mencarinya adalah Sandi,


Benarkan penglihatannya kalau itu memang benar-benar Sandi berarti selama ini Inara sudah membuatnya sengsara dipenjara dengan meminta bantuan pada Sandi.


Awas saja dirinya akan membalas semua apa yang telah Inara lakukan padanya , tak akan diampuni Inara habis kau Inara oleh ku tak akan ada pengampunan lagi untuk Inara.


"Bagaimana Sandi apakah ada seseorang di sana"


"Tidak ada bos di sini kosong mungkin orang yang lewat saja"


"Baiklah ayo kembali ke tempatmu jaga seperti semula, jangan sampai kecolongan nanti bisa-bisa Nona Ana marah"


"Siap boss "


Sandi berlari dan kembali ketempatnya semula, berkeliling mengitari rumah Ana.


"Ana siapa apakah kakak Inara yang wajahnya mirip itu pengacara yang membuat aku masuk kedalam penjara kan. Berarti Inara memang benar-benar mempunyai kakak kandung aku harus tahu semuanya kenapa aku jadi bingung seperti ini"


"Oh Iya aku baru ingat perempuan yang waktu itu menemuiku berarti Ana bukan Inara yang matanya sedingin es itu dan setajam silet, ya aku baru ingat berarti benar wajah mereka sangat mirip aku harus berhati-hati sepertinya kakak Inara lebih berbahaya"


Adam keluar dari persembunyiannya dan kembali masuk kedalam mobilnya, melajukannya untuk segera pulang dan menanyakan semuanya pada Livia, pasti Livia tau tentang Ana atau tidak ibunya tau tentang Ana.


**


"Bos kau tahu tadi saat kau pergi perempuan itu mengejarmu dan marah-marah tidak mau aku menjelaskan kembali katanya tidak mengerti, saat aku akan menjelaskan dia malah marah-marah "


"Dia memang seperti itu lain kali kalau ingin mengambil sesuatu coba kau tanyakan nama lengkap orang itu, kau tahu sendiri kan Livia adalah musuh terberat Inara dan dia sangat ingin menghancurkan hubungan kami, dia sudah tak diterima dikantor ini, dia orang berbahaya "


"Maafkan aku Bos aku juga tadinya tahunya kan nama kantornya itu dan namanya juga disingkat menjadi Livi. Aku kira beda orang makanya aku langsung setuju tapi untungnya kita tidak melakukan kerjasama begitu lama dengan dia"


"Berapa lama "


"Satu taun bos "

__ADS_1


"Sama aja bohong, lama itu "


"Heeheh "


__ADS_2