Berbagi Suami

Berbagi Suami
Semarah itu


__ADS_3

Ana sudah melambaikan tangannya saat melihat Sean yang keluar dari dalam kelasnya.


Tiba tiba saja ada ibu ibu rempong yang berbicara "akhirnya saya bisa liat juga ibu dari anak itu, saya kira dia sekolah, disekolahan elit tak punya ibu dan ayah, kau tau sendirikan yang selalu mengambil rapot adalah pembantunya "


"Iya benar sekali "


Ana dengan perlahan segera menghampiri orang itu dan tersenyum "eh ibu " ucap slaah satu orang yang tadi ikut membicarakannya.


" Kenapa pikiran ibu-ibu itu seperti itu, ibu-ibu kan bisa berpikir Mungkin orang tuanya sibuk bekerja atau sedang kemana Kenapa bilang Sean tidak punya ayah dan ibu, sedangkan kami disini masih hidup "


"Ya kami kan hanya melihatnya saja kenapa itu anak sendiri aja wajar lah Bu kami membicarakannya, ibu juga punya anak nggak pernah diantar sekolah apa tidak punya waktu banget ya untuk anaknya sampai-sampai urus pekerjaan terus "


"Kami kalau di rumah selalu sama-sama, aku nggak mau membuat semua orang iri makanya aku dan suamiku jarang mengantar Sean untuk sekolah, kami ingin dia Mandiri dan bisa hidup tanpa kami nantinya kami tidak mau anak kami ketergantungan pada orang tuanya, apa-apa orang tua apa-apa orang tua ,makannya kami ajarkan dari masih kecil untuk bisa berangkat sekolah sendiri meskipun masih diantar oleh Pak sopir, dan saya juga menghindari berkerumun seperti Ibu ini dan membicarakan orang lain, Lalu nanti membicarakannya lagi pada orang yang lain, menurut saya membuang-buang waktu dan membuang-buang energi saja "


"Sombong banget sih bu, kerjaan di rumah aja tapi Sombongnya minta ampun , antar anak ke sekolah itu udah kewajiban seorang ibu "


"Saya tahu betul dan saya tidak sombong seperti apa yang saya katakan. Saya tidak mau membuat anak saya manja seperti anak-anak ibu, apa apa ibu ibu . Saya tidak suka karena saya dari kecil oleh orang tua saya diajarkan untuk Mandiri, nanti jug sudah besar kita pun akan mandiri tidak membutuhkan orang tua lagi tidak tergantung pada orang tua lagi jadi apa salahnya mengajarkan anak saya dari dini, toh saya juga sibuk sebagai pengacara tak seperti ibu ibu yang diam dirumah "


Setelah mengatakan itu Ana melengos pergi dan mengajak Sean untuk segera pulang, dirinya sungguh muak mendengar ibu-ibu yang berceloteh tak ada remnya.


Ibu ibu ini kesolah hanya untuk membicarakan orang orang saja, apakah mereka tak malu kalau nanti ketahuan oleh orangnya, pasti itu akan sangat malu sekali deh.


"Kakak apakah sudah beres urusan dengan ayah "


"Sudah sayang, sudah beres kita langsung pulang ya sekarang "


"Iya kakak ayo kita pulang "


"Bagaimana disekolah apakah menyenangkan, apakah kau bahagia "


"Tentu sangat menyenangkan kakak, bahkan kami tadi disuruh untuk menggambar Ayah Ibu dan kami sendiri aku menggambar Kakak dan ayah serta diriku, Kakak ada sebelah kananku memegang tanganku dan ayah di sebelah kiriku memegang tanganku pula, rasanya aku ingin semua itu menjadi kenyataan Kakak dan ayah bisa bersama-sama tidak seperti sekarang saling menjauh dan ayah malah sibuk dengan tante Puja "


"Dengarkan Kakak Ayah sudah memilih tante Puja untuk menjadi Ibu sambung mu, jadi kau harus menerima semuanya ya jangan seperti itu jangan meminta pada ayahmu apa yang tidak bisa Ayah mu tepati ya ingat itu"


"Tapi aku tidak bisa menerima tante Puja, aku tidak percaya dia bisa mengurus Ayah dengan baik dan mengurusku pula mungkin Kalau mengurus ayah dia bisa, tapi untuk mengurus ku kelak dia pasti tidak akan mau, sekarang saja tante Puja begitu apa lagi nanti sudah menjadi istri Ayah pasti dia akan lebih lebih sibuk dengan ayah dan tak ada waktu bermain denganku, dan pastinya tante Puji akan ikut ayah ke sana ke pantai itu tinggal Berdua dan meninggalkan aku di rumah ini lagi bersama bibi dan anak buah ayah yang sangat banyak itu"


"Semua itu tidak akan terjadi sebelum ayahmu dan tante Puja menikah kau Berbicaralah pada ayahmu dulu ya, kau kan anak baik jadi harus menerima pilihan ayahmu, dia sudah memilih tante Puja berarti dia sudah yakin kalau Tante Puja bisa mengurus kau dan juga ayahmu dia sudah yakin padanya Jangan membuat Ayah mu sedih ya "


"Baiklah jika itu kemauan Kakak aku akan menurut dan aku akan menerima tante Puja untuk menjadi ibuku nantinya, ini pun karena kakak kalau kakak tidak berbicara seperti ini aku akan menolaknya dan akan berbicara pada ayah kalau aku ingin kakak yang menjadi ibuku tidak tante Puja"


Sean dengan lesu masuk kedalam mobil disusul oleh Ana, Ana sengaja mengatakan ini agar Sean tak berharap banyak padannya, nanti takutnya dirinya pergi Sean akan sedih dan tak akan bisa lepas darinya.


Karena dirinya tak akan selamanya ada disini dan itu tak akan mungkin, dirinya harus kembali kekehidupannya dan kembali pada adiknya tersayang yang sudah menunggunya sejak lama.

__ADS_1


**


"Tidak Roger ampuni aku, jangan siksa aku Roger ah ini sakit "


Namum Roger tak mendengarkan teriakan Puja, dia mengikat tangan puja dan membuat buja membelanginya bahkan Roger membuka baju atasan puja dan mencambuknya, ini sudah cambikan ke sepuluh dan membuat pungguh Puja berdarah.


"Aku tidak akan berhenti sampai kau berubah menjadi perempuan yang aku inginkan, aku tidak ingin perempuan licik sepertimu ada dalam hidupku dan aku tidak suka kamu jadi ibu dari anakku jika kau masih licik seperti ini. Aku masih ingin memberi kau pelajaran agar ku sadar "


"Sudah jangan cambuk aku lagi ini sangat sakit ,aku aku mengaku salah aku tidak akan melakukan ini lagi. Ayo lepaskan aku pungungku perih sekali sudah tidak kuat Roger aku mengaku salah lepaskan aku lepaskan "


Namun Roger belum puas dia makin mencambuk Puja tak mau berhenti sama sekali, rasanya tak puas puas dirinya menyakiti puja.


Bi Jumi yang melihat Ana pulang segera mencegatnya "ada apa Bi "


"Tolong non Puja "


"Sean kamu tunggu dikamar jangan kemana mana sebelum kakak masuk kekamar ya "


"Iya kak, aku keatas "


Setelah Sean pergi Ana kembali menatap bi Jumi "jadi apa yang terjadi bi "


"Tolong nona Puja, nona Puja dibawa ke sebuah ruangan dan dia dari tadi berteriak-teriak nona, sepertinya Tuan Roger telah menyiksanya karena sudah ketahuan kalau semua kejadian semalam itu adalah ulah nona Puja, tolong-tolong Kasihan dia Saya takut Nona Puja akan mati disiksa oleh tuan roger, ruangannya yang di sana yang paling pojok nona"


"Tolong nona, nona yang bisa mengendalikan tuan Roger makanannya saya minta tolong pada nona, siapa lagi yang bisa membuat tuan Roger luluh, saya tidak mau sampai ada yang mati di rumah ini tolong non tolong jangan seperti ini jangan keras saya mau minta pada non untuk menyelamatkan nona Puja karena perikemanusiaan saja tolong "


Tanpa banyak bicara Anna berjalan ke arah ruangan itu dan membuka pintu ruangan itu dia melihat Puja yang sedang dicambuk oleh Roger, Ana hanya diam saja menatap itu lalu menepuk punggung Roger.


"Sudah apakah kau ingin membuat dia mati di sini, kamu mencintainya tapi kau mengapa begitu tega padanya, sampai mencambuknya tak henti henti, dia sudah sangat parah lihat punggungnya saja sudah mengeluarkan banyak darah apakah kau mau mencambuknya sampai kulitnya itu terlihat sampai tulang-tulangnya terlihat, apakah itu yang kau mau , bukannya dia kan mau jadi istrimu. Apakah kau mau dia cacat dengan punggungnya penuh goresan Apa itu mau mu melihat istrimu yang tak sempurna yang banyak goresan-goresan bekas penyiksaan mu"


"Biarkan Ana aku tidak peduli dia sudah sangat keterlaluan sekali. Bagaimana kalau nyawa Sean terancam bagaimana kalau kau tidak datang mungkin saja Sean tidak akan selamat"


"Aku hanya memberitahu mu saja nanti kau akan menyesal bila dia sudah mati, lebih baik kau sudahi saja semua ini dari pada kau nanti menyesal di akhir, karena menyesal itu tidak mungkin akan di awal kalau begitu lebih enak dong "


Tanpa banyak bicara Roger membawa alkohol dan menyiramkamnya pada punggung Puja "akhhh perih, kenapa kau tak bunuh aku saja sekalian Roger, kenapa kau tega sekali, sakit sekali akhhhh ibu tolong aku tolong aku, aku tak bisa menahan ini "


Sudah tak ada suara lagi Ana segera menghampirinya ternyata Puja pingsan sedangkan Roger dia pergi begitu saja sedangkan Ana membuka tali dari tangan Puja dan memeluknya.


Lalu dengan sekuat tenaga Ana mengendongnya "Kenapa sih kau menyusahkan ku, berat sekali lagi badannya gila nih "


Ana tertatih tatih dan membawanya kearah kamar tamu, lalu membaringkannya dengan telungkup.


Mengobatinya dengan perlahan lahan dan membalut badan Puja dengan perban yang mengelilingi tubuhnya.

__ADS_1


Ana tak beranjak pergi masih diam disini menunggu Puja sadar dan tak lama kemudian dia sadar.


" Kenapa kau ada disini, Apakah kau puas melihat aku disiksa oleh Roger seperti ini, apakah kau senang melihat aku tak berdaya seperti ini silakan sekarang kau bebas untuk merebut Roger dariku Aku sudah muak dengannya "


"Sebenarnya aku belum puas sih tapi melihatmu yang sudah tidak berdaya aku kasian juga, tenang saja aku tidak akan merebut Roger darimu aku tidak mau dengan dia, kau saja yang menikah dengan dia, dari awal aku tidak ingin merebut dia dari mu, aku tidak mencintai dia aku kesini karena diajak olehnya untuk menemui anaknya itu saja, aku tak ada maksud untuk merebut calon suamimu tidak ada sama sekali, untuk apa aku mencuri calon suami aku bisa mencarinya sendiri aku bisa mencari lelaki yang lebih baik dari Roger "


"Kau masih sangat membenciku ya, tapi aku menolongmu karena rasa empati ku dan rasa kemanusiaan ku, karena aku masih mempunyai adik aku tidak mau dia sampai seperti ini nanti oleh suaminya, aku melakukan ini hanya demi keselamatan adikku saja itupun agar tak ada Karma nantinya untuk ku, karena tidak menolong mu jangan menyangka aku peduli pada mu, tidak sama sekali malahan "


" Ya sudah kalau kau tidak peduli denganku kau pergi dari hadapanku, aku tidak mau melihatmu lagi sana pergi aku tak sudi melihat wajahmu Ana"


"Baiklah kalau itu maumu aku akan pergi Jaga dirimu baik-baik, karena Roger tidak akan mungkin mau membantumu. Dia sudah muak dengan dirimu yang pembohong. Yang sudah mencelakai keluarganya bay, nikmati hari hari mu yang menyulitkan dimulai dari sekarang "


Ana melenggang pergi meninggalkan Puja sendirian dikamar tamu itu "Akhh tak ada yang peduli padaku, kenapa seperti iniz sial sial, aku sungguh menyesal telah datang kemari, seharusnya sebelum Roger tau aku pergi bukannya diam disini"


**


"Apakah sudah selesai Kakak urusannya Kenapa begitu lama"


"Sudah Sayang maafkan Kakak tadi Kakak harus mengobati tante Puja dulu dia terluka kasihan tidak ada yang mengobati"


"Memangnya tante Puji sakit apa sampai kakak harus mengobatinya"


" Dia sakit perut dan harus ke air terus jadi kakak membantunya memberikan obat dan mengantarnya ke kamar air ya seperti itu benar"


"Benarkah Apakah tidak berbohong, sepertinya kakak menyembunyikan sesuatu dariku, ayo kak jelaskan yang sebenarnya "


"Baiklah tapi kau jangan marah pada ayahmu dan jangan membencinya bagaimana apakah kau bisa janji "


"Tentu aku akan berjanji kakak "


"Tapi kau nanti jangan meniru apa yang ayah kau lakukan pada perempuan, seperti apa yang kakak bicarakan kau jangan kasar pada perempun dan harus lemah lembut terus ya sayang "


"Iya kakak aku akan menuruti apa kata kata kakak "


" Baiklah begini tante Puja melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar dan itu membuat ayahmu sangat marah ,lalu tante Puja dicambuk oleh ayah beberapa kali sampai punggungnya berdarah-darah dan kakak menolongnya untuk memperban tubuhnya dan mengobatinya sekarang tante Puja ada di kamar tamu ,dia tidak di kamar bersama ayah, ayah mu masih marah pada tante Puja jadi membiarkannya begitu saja sendirian dan kakak juga tidak bisa menjaga tante Puji terus-menerus"


" Mengapa ayah sangat kasar Kakak kenapa sampai harus dicambuk Apakah tante Puja tidak bisa dinasehati sampai-sampai Ayah mencabutnya seperti itu "


"Sepertinya begitu makanya kau jangan sampai membantah ayahmu, nanti kalau sampai Ayah mu marah dan memukul mu bagaimana, Seperti kepada tante Puja jadi kau harus baik-baik ya jangan membuat ayahmu kesal"


"Iya kak aku mengerti aku jadi takut pada Ayah, aku tidak akan membantah kata-kata ayah dan aku akan menurut padanya dan aku juga akan menurut pada kakak Bagaimana Apakah aku sekarang sudah menjadi anak baik"


"Tentu kau sudah menjadi anak baik "

__ADS_1


__ADS_2