Berbagi Suami

Berbagi Suami
Berhasill tak sia sia


__ADS_3

"Ayo sudah selesai semuanya, mari kita pergi dan bagikan semu brosur ini " ucap Bian sambil mengacungkan hasil karya mereka bertiga.


"Lets gooo, aku sangat bersemangat tuan " teriak Jon dan Liliana.


Mereka bertiga segera bergegas pergi, namun saat menuju mobil. Mobilnya kempis "sial siapa yang lakukan ini " teriak Abi.


"Sudahlah tuan, kita berjalan kaki saja, ayo mari kita kan masih bisa berjalan kaki, jadi kenapa tidak " ucap Liliana mencoba memberi solusi


"Ya sudah ayo "


Mereka bertiga berlari meninggalkan Resort dan Cio yang sudah melakukan itu semua tersenyum dan masuk kembali, namun saat akan masuk dirinya malah bertemu dengan Inara yang sudah ada dihapannya.


"Kau mengagetkan ku saja Ara "


"Aku tak mengagetkan mu hanya diam saja sini dan melihat kau yang sedang tersenyum melihat sesuatu "


"Tidak ayo mari makan "


"Abian dan yang lainnya mana " tanya Inara.


"Entahlah ayo jangan hiraukan mereka kita makan saja, ayolah sesekali kau mau makan bersama ku "


"Baiklah Ayo "


Mereka sudah duduk dan pak Rahman sudah menyiapkan makananya, "silahkan dimakan"


"Terimakasih pak "


"Sama sama "


**


Sekarang Bian Lilian dan juga Jon sedang ada di sebuah pemukiman, Bian mempromosikan semua makanan yang ada di sana ya memberikan brosur itu mengajak mereka untuk datang ke sana,, untuk mencoba makanan yang dibuat pak Rohman.


"Lalu sekarang kemana Liliana "


"Kita harus naik gunung itu tuan, tapi kita tak akan mungkin bisa sampai sore hari pasti malam "


"Ya sudah kalian berdua tunggu disini ya, atau tidak langsung saja pulang ke resort "


"Tapi tuan "


"Jon kau tak kasian pada Liliana dia sudah sangat lelah biar aku saja yang akan kesana "


Bian segera pergi meninggalkan mereka berudua, Liliana segera duduk disebuah batu sambil memijat mijat kakinya yang pegal.


"Kau tak apa Liliana "


"Tidak tuan "


"Jangan panggil aku tuan dong"


"Lalu aku harus memanggil apa "


"Kakak saja "


"Baiklah kakak "

__ADS_1


Jon mengangguk dan tersenyum, rasanya dirinya tak sabar untuk mengendong anaknya, istrinya sebentar lagi akan melahirkan.


**


Inara sekarang sedang duduk duduk, meminum alkohol ditempat Rani.


"Kenapa kau tak mendukung tuan Abian, bukannya kau calon istrinya "


"Ya aku calon istrinya tapi aku tak setuju dengan dia, lebih baik merombaknya saja, karena ya bangunan ini sangat kuno, kau tau dia sangat cerewet dan selalu marah marah daat bekerja, kalau kau mempunyai bos seperti dia pasti akan mati, aku pun seperti itu rasanya ingin mati saja, saat dia memerintahku untuk mengerjakan tugas yang sebenarnya sudah aku kerjakan aku ingin mati saja, aku capr mengulang gulangnya terus "


"Tapi aku tak setuju , aku tak setuju resort ini di renovasi, maaf kami semua mendengarkan percakapan kalian saat diruang meeting, kami semua mendukung tuan Abian "


"Kenapa tak setuju "


"Resort ini banyak kenangan untuk kami Inara, banyak sekali yang sudah kami lewatkan disini. Jadi kami tak akan mungkin setuju "


Inara tiba tiba menundukan kepalanya dan segera berlari meninggalkan Ria "lah kenapa dia"


"Inara kau kenapa " tanya Cio yang berpapasan dengan Inara


Namun Inara sama sekali tak menghiraukan, dirinya terus saja berlari dan masuk kedalam dapur.


"Ada apa denganmu, kenapa membuatku kaget Inara "


"Antarkan aku mencari Bian, ayo pak ayo "


"Baru sadar juga ya kau, ayo akan aku antar mencari pujaan hatimu "


Inara segera mengangguk dan pergi menaiki mobil pak Rohman mencari keberadaan Bian dan yang lainnya.


"Tentu sudah aku sadar ternyata Abian kemari untuk menghidupkan resotr ini bukan untuk menjualnya atau mengubahnya, aku sudah salah menilai dia "


"Baiklah aku mengerti "


Dan mereka berdua melihat Jon dan juga Lilana yang masih duduk, Inara segera turun dan membuat Jon yang sedang mengobrol kaget.


"Mana Bian " tanya Inara.


"Dia keatas Nara " jawab Jon dengan santai.


"Kenapa kau membiarkannya, kenapa kalian tak sama sama " Inara segera berlari meninggalkan mereka yang terus saja berteriak memanggil namannya, namun sama sekali tak Inara hiraukan.


"Bian kamu dimana " teriak Inara yang sudah ada di atas gunung


Namun tak ada jawaban, Inara terus saja berjalan saat dibelokan dirinya melihat Bian yang sedang berdiri "Bian ahhh " tapi tiba tiba saja Inara tergelincir.


Bian dengan refleks segera berlari dan memeluk tubuh Inara dan akhirnya mereka jatuh bersama.


"Nara apakah kau tidak apa apa aw "


"Tidak tuan, maafkan aku pasti ini sangat sakit "


"Tidak ayo berdiri "


Inara segera mengangguk dan membantu Bian berdiri "bukannya kau tak mendukungku, lalu kenapa kau ada disini "


"Maafkan aku tuan seharusnya aku mendukungmu, ayo pulang jagan disini saja. Kita pulang tuan jangan mencari orang orang lagi ayo "

__ADS_1


"Baiklah jika kau memaksa kita pulang, makannya kau seharusnya ikuti aku bos mu bukan orang lain " sambil menyentil hidungnya.


"Ihh sakit tauuu "


Tiba tiba saja angin bertiup cukup kencang, Inara dan Bian segera mendongakan kepala, banyak bunga kecil yang berterbangan, akhirnya Inara dan Bian malah menatap itu dahulu sambil Inara menyenderkan kepalanya kedada Bian dan Bian memeluk Inara.


**


"Ayo mari bersulang, aku sudah membuktikan kan, kalau aku bisa menghidupkan kembali resort ini "


"Ya mari bersulang untuk tuan Abian yang hebat, karena mu aku bisa memasak kembali untuk orang orang "


Mereka semua segera bersulang, sedangkan Cio dia hanya menekuk wajahnya, gagal semuanya, kenapa dirinya yang kalah.


"Terimakasih kalian yang sudah mendukung ku, dan sudah percaya padaku, kalau resort ini akan kembali berjalan dengan lancar dan ya untuk Liliana aku akan menyekolahkan mu sampai kuliah bagaimana. Apakah aku mau sekolah di jepang sesuai keinginan mu "


"Beneran ini tuan " tanya Lilina dengan senang


"Tentu benar, apakah terlihat diwajahku kalau aku berbohong "


"Tidak tuan terimakasih " teriak Lilian


Mereka semua kembali bersulang dan Bian menatap sekitar, sangat banyak pengunjung dan dirinya bersyukur telah dipermudah dalam hal apapun.


"Inara kau tadi kemana " ucap Cio ya ada disebelah Inara


"Aku disini hehehe "


Inara langsung menyenderkan kepalanya dibahu Cio dan Bian yang melihat itu segera bangkit dan membawa Inara masuk, Cio yang akan masuk ditahan oleh Ria


"Sudah tuan ganteng disini saja "


Akhirnya mau tak mau Cio diam. Inara dan Bian sekarang malah ada diruangan kerja Bian


"Kenapa kau membawa ku kesini "


"Ini tandatangani lah "


"Apa ini perjanjian hidup seumur hidup dengamu "


"Tidak tidak aku tidak mau bekerja dengan mu seumur hidup, lalu saat aku menjadi nenek nenek bagaimana "


"Sudah kau tandatangan saja "sambil membuka perjanjian itu.


"Aku tidak mau, aku mau pergi kekamar "


"Tidak jangan "


huek Inara muntah kejas Abian,"maafkan aku tuan kau yang menahan ku, jadi kau yang tanggung "


Bian segera mebuka jasnya dan memapah Inara ayo aku antar kekamar.


"Kenapa kau tak marah " sambil menejokan Bian dan membuka kancing atas Bian.


"Hey jangan disini Inara malu "


"Sudah kau diam " Inara dengan susah payah membuka kancing Abian, dan Abian dengan susah payah juga menahannya, mereka belum masuk kamar.

__ADS_1


__ADS_2