Berbagi Suami

Berbagi Suami
Melelahkan sekali


__ADS_3

"Tadinya aku sudah membaringakan mu dikursi, namun karena aku tak tega akhrinya aku membawamu kekamar, cepatlah bangun tanganku sakit karena kau terus saja mengunakan tanganku untuk menjadi bantal mu "


"Mana mungkin. Kau kali yang melakukannya aku akn tak sadar aku akn tidur "


"Ya makannya itu kau kan tak sadar kau tidur jadi ya kau tak menyadarinya kalau kau telah tidur ditanganku serta memeluk ku dengan erat "


"Dasar kau pembual, "


Inara segera bangkit pergi kekamar mandi dan segera mencuci wajahnya, disusul oleh Bian yang tiba tiba ada disampingnya, melakukan hal yang sama.


Inara mengambil sikat giginya dan mengosoknya saat melihat Abi sikat gigi Inara menatapnya denagan aneh.


"Apa yang kau lihat Inara "


"Bukannya itu sikat gigi elektrik ya, dan bisa bekerja sendiri kenapa kau melakukan seperti sikat gigi manual "


"Sikat gigiku rusak "


"Baiklah "


Inara kembali melaksanakan tugaanya tanpa kembali menghiraukan Bian yang aneh dan menyebalkan.


"Keluarlah pak, aku mau mandi "


"Kau mengusirku "


"Ya masa iya kita akan mandi bersama apa bapak sadar "


"Boleh ayo kita mandi bersama"


"Gila ya bapak "


"Jangan panggil aku bapak bapak bapak, aku belum tua "


"Bukannya aku yany meminta kenapa sekarang malah kau protes lagi "


"Lah kenapa kau yang jadi galak padaku, sebenarnya siapa ini bosnya aku atau kau "


"Ya maafkan aku, lalu aku harus memanggilmu apa, tuan, nyonya, bos, bos besar atau kakek "


"Inara kenapa kau makin kesini makin sama dengan Ana "


"Kenapa kau membawa mawa nama kakak ku, cepat katakan aku harus memanggil mu apa "


"Baiklah panggil aku tuan "


"Baiklah tuan, silahkan tuan keluar karena saya mau mandi mau bersih bersih "


"Baiklah aku keluar "


Inara segera menutup pintu dengan keras sampai sampai Bian kaget.


"Kau Ana atau Inara sebenarnya " teriak Abi.


Namun Inara yang ada didalam hanya tersenyum saja, ternyata menyenangkan ya menghabiskan waktu dengan Bian. Meski sekarang Bian sikapnya menjadi dingin padanya tapi tak masalah sih.


**


"Kenapa kita pergi kesupermaket tuan, bagaimana kalau kita telat ini sudah jam 10 kenapa harus kesini dulu "


"Hari ini kita belanja keperluan mu, tak apa kita telat pergi kekantor yang terpenting sekarang adalah membeli kebutuhan mu"


"Kenapa aku punya rumah aku akan pulang kerumah, lalu kenapa aku harus diam bersamu tuan "


"Ini Ana yang memintanya jadi kau turuti saja "


"Kenapa Ana melakukan itu, Ana tak mungkin "


"Dia pergi akan cukup lama jadi dia menitip kanmu padaku "


"Akan aku hubungi Ana "


"Jangan Ana bilang jangan telfon dia, dia sedang sibuk mengertilah untuk apa aku berbohong jadi ayo turun dan segeralah berbelanja jangan banyak bicara "


Inara segera turun di ikuti oleh Bian di belakang mengambil troli dan mendoronya kesetiap lorong, mengambil pasta gigi, sikat gigi baru, pokoknya kebutuhan yang dirinya perlukan Inara ambil.


Saat sudah selesai Inara pergi kearah Bian dan malah melihat Bian yang sedang fokus pada ponsel.


"Tuan sudah semuanya sudah selesai mari bayar "


"Sebentar aku sedang main games ini seru sekali sebantar ya "


"Tuan ini sudah jam 11 siang lewat ayolah jangan memperkeruh keadaan ayo cepat "


"Nantilah sebentar lagi "


Inara segera mengambil ponsel itu dan melemparkannya kedalam keranjang.


"Yah games ya sudah mati bagaimana "


Bian yang kesal mendekati Inara sampai sampai Inara mundur dan berpengangan pada troli saat wajah mereka sudah saling berdekatan Bian melengos dan mengambil sikat gigi dan jiga sabun mandi.

__ADS_1


"Gantilah ini, beli yang mahal jangan murahan seperti ini "


"Tidak aku sudah biasa memakai barang murahan ini jadi aku tak mau mengantinya"


"Cepat Inara ganti "


Dengan kesal Inara akhirnya menurutinya mengambil sikat gigi itu dan juga sabun mandinya berjalan kearah rak tak itu dan mengantinya dengan yang lain.


Pandangan Bian tiba tiba terfokus pada mata kaki Inara yang merah, dengan cepat Bian mencari lorong sepatu dan mengambil sepatu yang paling mahal, lalu kembali ketempat yang ternyata sudah ada Inara disana.


Bian segera mendorong trolinya dan saat akan membayar Inara sudah memberikan kartu debitnya kearah kasih namun Bian menepisnya dan mengantinya dengan punya nya.


"Biar aku saja tuan yang bayar "


"Aku yang mengajakmu kesini jadi aku yang membayarnya kau diam saja dan turuti aku "


Akhirnya Inara tak membantah membawa belanjaannya mendahului Abi dan memasukan semuanya ke belakang mobil.


Saat sudah masuk Abi hanya diam saja tak menjalankan mobilnya sambil memegang sebuah kotak.


"Kenapa pak kita diam saja disini apa kita sekarang bekerja disini"


"Ini bukalah "


"Apa ini "


"Bukalah kau ini banya bicara sekali kalau tak mau ya sudah"


"Eh eh tunggu, "


Namun Bian tak memberikannya malah saling tarik menarik dan akhirnya Inara yang mendapatkannya.


"Apa ini, hah sebuah sepatu untuk apa "


"Aku membeli sepatu diskon untukmu "


"Untuk apa "


"Apakah kau tak melihat kakimu lecet gunakanlah sepatu itu"


"Tidak mau, aku sedang memakai hils ini "


"Cepat gunakan "


"Aku tidak mau, ini seperti sepatu anak umur 18 tau, aku gak mau, kamu aja yang pake, pokoknya aku gak mau "


"Kenapa sih ngeyel banget, cepet pake jangan banyak omong sama aja sepatu anak umur 18 taun sama kamu yang umur segini sama aja "


Bian yang kesal segera mengambil sepatu itu dan melemparkan sepatu itu ke jok belakang, lalu melajukan mobilnya dengan ugal ugalan, sampai sampai Inara terpentok kesana kesini kesana kemari.


Mereka berdua sudah ada di parkiran dengan marah Inara keluar dari dalam mobil dan pergi meninggalkan Bian sendirian.


Bian yang binggung segera menghubungi Jon.


"Jon kemarilah, aku punya sesuatu untuk mu "


"Baik bos tunggu aku "


Bian keluar dan membawa sepatu itu dan menyimpannya dikap mobil.


"Ada apa bos "


"Pakai sepatu ini "


"Hah inikan sepatu perempuan kenapa aku yang harus memakainya, gak akan cukup ini, emang ini asalnya punya siapa "


"Punya Inara, dia menolaknya aku bilang ini barang diskon, dan dia tak mau padahal ini barang termahal sepatu satu satunya yamg aku beli "


"Hah kenapa bilang diskon "


"Kan kata lo harus gitu Jon, tau ah lo mah, bawa sepatunya "


"Baiklah bos "


Sekarang malah Jon yang ditinggalkan sedirian diparkiran, "dasar tu orang nyebelin udah manggil sekarang malah pergi gitu aja "


**


Jon segera masuk kedalam ruangan Abi dan menyimpan sepatunya diruangan Abi.


"Lalu apa yang akan kita lakukan bos "


"Panggil Inara kemari "


"Baik bos "


Jon kembali keluar dan muncul kembali dengan Inara yang langsung berdiri dihadapan Abi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan "


"Apakah kau liat, ada Jon disini buatkan kami kopi sekarang"

__ADS_1


"Baik pak "


Inara pergi dan kembali lagi dengan 2 gelas kopi, lalu menyimpannya dihapan bosnya.


"Hemm gelasnya jelek ganti yang lain "


"Baik " Inara segera pergi kembali dan kembali langi dengan dua cangkir kopi namun berbeda motif.


"Kenapa kopinya dingin buatkan yang baru, dan ya Jon tak suka dengan kopi berikan dia teh "


"Baik tuan akan saya laksanakan "


Kembali Inara pergi kesana dan membawa apa yang diperintahkam bosnya.


"Ini tuan "


"Nah ini baru panas "Bian segera meminumnya dan juga Jon sama meminum tehnya.


"Sudah habis buatkan lagi Inara "


"Baik tuan "


Inara pergi lagi dan kembali lagi, terus saja begitu bulak balik mengambil minuman yang sama, pada saat yang kelima tiba tiba Jon bersendawa dan memegang perutnya.


"Inara apakah kau tak lelah dan sakit kakimu saat berjalan bulak balik seperti itu "


"Tidak ini kan sudah perintah dari bos, lalu aku harus bagaimana, masa aku gak akan meneruti berintah tuan bos besar Jon"


"Sudah sudah sana kembali keruangan mu Inara "


"Baik bos "


Inara melengang pergi dan Jon langsung berjongkok dibawah "ada apa denganmu Jon kenapa"


"Bos aku tak bisa minum teh banyak banyak sekarang perutku mulas "


"Ya sudah saa pergi kekamar mandi "


Dengan patuh Jon segera pergi kekamar mandi dan sudah keluar kembali dengan sambil memegang perutnya yang sakit.


"Jon segera minta Inara membawa dokumen dilantai 15, aku akan menyuruh pada orang yang menangani lift untuk mematikannya sementara "


"Apa bos yakin, bagaimana kalau Inara sakit dan terjatuh "


"Aku yakin cepat "


Dengan patuh akhirnya Jo kembali kerungan Inara dan tersenyum.


"Ada apa lagi Jon, apa yang bisa aku bantu "


"Bos menyuruhmu membawa dokumen dilantai 21 segera itu sangat penting dan dalam waktu 20 menit harus sudah ada diruangan bos"


"Baiklah tunggu aku "


**


"Mamih tu mau ngapain sih kekantor Abi dulu mending kita langsung pulang aja"


"Papih tuh gimana sih, mamih kesini mau temui Inara bukan mau ketemu Abi, ada yang ingin mamih kasih pada Inara, jadi sudah ya diam dan ikuti mamih saja naik keatas "


"Apa yang akan mamih berikan pada Inara "


"Nanti papih juga tau, udah jangan banyak bicara ayo masuk lift, " mereka berdua segera masuk dan memencet lanfai 5 untuk segera menemui Inara.


Bian sedang menelfon karyawannya" pokoknya kau matikan dulu 5 menitan nanti yalakan lagi ya "


"Siap bos "


Bian tak mematikannya sengaja membiarkannya jadi tak bulak balik nelfon.


Inara yang akan masuk memencet memencet lift namun tak terbuka "apa rusak, sudahlah lewat tangga saja dari pada nanti di omelikan "


Inara dengan perlahan lahan naik keatas dan awal awal tak cape dan tak sakit namun setelah melewati 5 lantai Inara tak kuat, kakinya sakit dengan cepat Inara membuka sepatunya dan pergi menaiki 6 lantai lagi, dengan tertatih tatih Inara menaiki satu persatu lamtai.


Sedangkan mamih dan papihnya Bian kaget, karena lift berhenti begitu saja "ada apa ini pih ya ampun mamih takut "


"Tuh apakan kata mamih ge diem mih diem ini mah ngeyel terus pengen kesini akhirnya gini kan "


"Maaf tuan didalam ada nyonya dan tuan besar " ucap karyawannya yang sudah memtatikan lift


"Apa orang tua ku "


"Iya tuan "


"Yalakan kembali cepat sekarang "


"Baik tuan tapi butuh waktu 10 menit "


"Apa lama sekali, kenapa lama "


"Memang sepeti itu tuan "

__ADS_1


Bian yang binggung mematikan sambungannya dan menguncang nguncang tubuh Jo, lalu berlari untuk menemui mamih papihnya yang terjebak di lift.


__ADS_2