
"Dari mana kenapa kau pulang malam " tanya Bian saat melihat Inara baru pulang, dari tadi dihubungi tak bis sama sekali.
"Kau tak perlu tau, " Inara segera masuk kamar dan menutup pintu.
Bian yang tak mau Inara berubah sikapnya padanya akhirnya membuatkan susu untuk Inara semoga saja di maafkan
Bian tanpa mengetuk pintu segera masuk dan menyimpan susunya dinakas. Inara hanya menatapnya sekilas lalu fokus kembali membersihkan tempat tidurnya.
"Duduklah " perintah Bian.
Tanpa banyak bicara Inara segera duduk dan mematap Bian yang masih berdiri dihadapannya.
"Aku membuatkan mu susu, jangan lupa diminum, ingat jangan pulang malam ya, aku sangat khawatir "
"Baiklah terimakasih "
Bian mengangguk dan pergi dari kamar Inara, Inara saat pintu tertutup tersenyum senang lalu menguling gulingkan badannya ditempat tidur senang sekali dirinya akhirnya Abian bisa kembali lagi seperti dulu.
"Nara apakah kau tak apa "
Inara yang mendengar suara Abian segera duduk dan menatap Bian yang sedang metapnya dengan aneh.
"Emm tidak tuan, aku hanya sedang olahraga "
"Oh olahraga baru ya tren baru ya "
"Ya begitulah, ada perlu apa tuan "
"Tidak aku hanya sudahlah aku pergi selamat tidur "
"Iya "
"Ist kenapa aku bisa melakuka itu, malu banget " sambil menutup seluruh wajahnya.
**
"Adam ada yang ingin menemui mu, ayo cepat keluar " ucap sipir
Adam segera mengangguk dan segera keluar, Sandi hanya bisa menatapnya dengan sinis.
Adam saat melihat orang itu dia tak mengenalnya, namun Adam duduk saja diam dan menunggu orang itu akan mengatakan apa dan ada perlu apa.
__ADS_1
"Aku Adam "
"Iya kau siapa "
"Kau tak usah tau aku siapa, tapi apakah kau mau bekerja sama dengan ku untuk menghancurkan Inara dan juga Abian"
"Kenapa kau ingin menghancurkan mereka berdua "
"Aku tau kau pasti sangat kesal pada mereka berdua, aku tau kau pasti dendam pada Inara karena sudah menjebloskan mu kepenjara, ayo jujur saja "
"Ya aku memang kesal pada Inara karena sudah gegabah memasukan ku kepenjara dan aku ingin Inara menjadi istriku kembali, dan aku ingin membuat hidupnya kembali seperti dahulu tersiksa olehku dan mungkin sekarang akan lebih, karena dia sudah membuat ibuku serta ayahku tak mempunyai tempat tinggal "
"Bagus kita punya tujuan yang sama, aku akan membantumu untuk keluar dari sini, dan kita akan bekerjasama untuk menghamcurkan mereka, kau mendapatkan Inara dan aku Abian, kau tunggu saja kebebasanmu, aku sedang mengurus ngurusnya "
"Baiklah senang bekerja sama dengan mu nona, aku akan bekerja dengan mu dengan baik "
"Baiklah aku akan pulang "
Perempuan itu segera pergi dari hadapan Adam, senyum merekah menghiasi wajahnya.
"Ternyata gampang juga ya mengajak Adam bekerja sama, aku tak perlu menunggu 1 bulan data data tentang Inara dan juga Adam, data mereka sangat mudah ditemukan "
Livia segera masuk kedalam mobilnya, ya perempuan yang menemui Adam adalah Livia, dan tanpa Livia ketahui ada orang yang melihat Livia keluar dari dalam kantor polisi itu.
Cio segera menjalankan mobilnya mengikuti kemana Livia pergi. Dirinya akan mencoba untuk bekerja sama kembali dengan Livia dan akan mengetahui rencana apa yang sedang Livia buat.
Cio segera turun dan mencegat Livia "ada apa Cio, kenapa kau menemuiku lagi bukannya kau tak ingin bekerja sama dengan ku lagi "
"Ya aku pernah mengatakan itu, tapi aku sungguh minta maaf aku ingin ikut kembali bersama mu, aku ingin bekerja sama denganmu aku sungguh menyesal karena sudah menyia nyiakan tawaran kerja dari mu "
"Tidak mau aku sudah mempunyai rekan yang lebih bagus dan tak seperti dirimu, aku tak membutuhkan mu lagi "
"Tapi ayolah sekali ini terima aku kembali untuk bekerja sama dengamu ya "
"Tidak aku tidak mau, kau sudah menolak ku dengan mentah mentah dan aku juga akan menolakmu dengan mentah mentah, jadi kau pergilah dari hadapanku, aku tak mau melihatmu lagi dan aku tak mau kerja sama lagi denganmu "
Livia segera pergi meninggalkan Cio sendirian dan masuk kedalam kantor Abian, entah drama apalagi yang akan Livia buat.
"Sial aku pasti akan bisa mengetahui rencana Livia, semangat Cio, demi Inara aku harus tau rencananya, pasti Livia akan mencelakai Inara."
***
__ADS_1
"Abi Abi " teriak Livia
"Tolong nona pergi dari sini, Nona sudah tak boleh masuk kembali kekantor ini oleh tuan Abian, jadi lebih baik pergi (ari pada saya usir dengan tidak hormat. "
"Lepaskan kau berani padamu, kau hanya seorang satpam jadi tak usah sok berkuasa, jadi pergilah biarkan aku masuk dan menemui calon suamiku, kau jangan ikut campur awas."
"Tidak bisa Nona , ayo cepat keluar dan pulanglah kerumah anda jangan buat keributan seperti ini "
Namun Livia sama sekali tak menggubrisnya dia langsung saja menerobosnya dan mendorong pak Satpam tanpa belas kasih sendikit pun.
Livia masuk dan naik kelantai atas, dia langsung saja membuka pintu ruangan Abian yanh sedang meeting bersama Inara dan juga Jon.
"Siapa yany membolekan dirimu masuk kemari Livia keluar "
"Tidak akan, aku tidak akan keluar, aku mau disini dan Abi maafkan aku, kenapa kau begitu membenciku dan malah membela perempuan tak tau diri ini, apa kurangnya aku. Aku mencintai mu dan aku sayang padamu "
"Keluar Livia, keluar, aku sudah bilangkan aku tak mau lagi berurusan denganku lagi, aku tak sudi berurusan dengan wanita gila seperti mu "
"Oh begitu ya, lihat saja aku akan bunuh diri di sini "
"Sialahkan " tantang Abian.
"Tuan tidak seperti itu carannya jangan seperti itu "
"Diam kau Inara"
Livia segera mengeluarkan pisau dan mengarahnya kearah lehernya, sedangkan Inara dan juga Jon sudah was was takut terjadi sesuatu kepada Livia.
"Nona Livia tolong lepaskan kau jangan nekat, itu berbahaya jangan membuat dirimu celaka "
"Diam kau Inara, jangan sok alim kau ini hanyalah seorang wanita munafik dan tak tau diri, seharusnya kau mati saja waktu itu, kau hidup pun tak ada gunanya jadi lebih baik diam saja, jangan ikut campur "
"Waw kasar sekali kau nona siapa namamu " ucan Jon.
"Kau juga diam. Lihat Abi aku sudah memegang pisau, aku akan menusuk leherku "
"Silahkan "
Livia dengan binggung hanya diam, kan dirinya ingin Abi menolaknya, kenapa malah jadi seperti ini.
"Ayo lakukan Livia kenapa kau diam saja "
__ADS_1
Namun tanpa di duga duga Livia berlari dan mengarahkan pisau itu kearah Inara.
"Inaraa " teriak Jon dan juga Abian.