
Tiba tiba saja cekikan itu melonggar dan Adam langsung terbaring ditubuh Inara. Inara yang sudah menghirup banyak udara segera mendorong Adam sampai terbaring dilantai.
"Sandi, aku ada disini "
"Ya nona aku ada disini "
Sandi langsung membantu Inara bangun dan melihat Adam yang sudah tak sadarkan diri , Sandi menembak punggungnya Adam, dia sudah terkapar tak sadarkan diri.
Sandi sudah mengacungkan kempali pistolnya untuk membunuh Adam namun sang nona segera menariknya keluar dari dalam sana dan masuk kedalam mobil.
"Kenapa nona, kenapa kau tak membolehkan ku untuk membunuhnya "
"Sudahlah biarkan Sandi, kau sudah menembaknya dua kali tidak akan mungkin ada yang bisa menolongnya dan mengetahui dia sedang ada di mana. Nanti juga dia mati dengan perlahan kehabisan darah sudah kita pulang saja, aku tidak mau di sini lagi aku tidak mau berurusan dengan Adam lagi ayo cepat pulang "
"Baiklah nona "
Sandi segera melajukan mobilnya menjauhi tempat itu, kenapa dirinya bisa tau, karena dirinya tak pernah lengah sampai tak mengawasi nonanya.
Dirinya selalu mengikuti nonanya itu kemana pun dia pergi dan tadi saat melihat ada mobil yang keluar dari dalam rumah Abian, Sandi dengan cepat mengikutinya.
__ADS_1
Karena dia melihat bahwa tadi nonanya dimasukkan ke dalam mobil itu ,tapi dirinya tidak tahu siapa yang memasukkannya. Ternyata orangnya Adam.
Selalu saja dia laki-laki tak berguna itu, jadi Sandi mengikutannya dan sampailah di sini. Untung saja dirinya tak telat dan nonanya tidak dibunuh oleh Adam.
Kalau saja dirinya tadi telat 1 menit saja mungkin sekarang dirinya sudah habis oleh kakaknya Inara, sudahlah jangan fikirkan itu yang terpenting sekarang adalah sang nona selamat.
Sandi memberikan air minum pada Inara, dan Inara langsung mengambilnya dan menegaknya "terimakasih "
"Sama sama nona "
Tiba tiba saja ponsel Sandi berdering ternyata dari Abian pacar dari sang nona "maaf nona ada tuan Abian menelfon sepertinya ingin berbicara dengan nona, dari tadi tuan Abian menelfon saya, tapi saya sedang fokus mengejar mobil Adam "
Inara hanya mengangguk saja mengambil ponselnya dan mengangkatnya " Halo Bi Ini aku Inara"
"Enggak malahan ini Sandi baru nolong aku, Adam udah culik aku Bi, dia bawa aku gak tahu ke mana tempat terpencil kayak gini, sekarang aku sama Sandi lagi perjalanan mau pulang"
"Pasti ini ulah Livia dan Adam, tapi kamu gak apa-apa kan, kamu baik-baik aja kan kenapa kamu bisa terkecoh sama Adam. Bukannya kamu dari tadi di dalam mobil kan gak kemana-mana, kenapa tiba-tiba kamu bisa diculik gitu aja sama Adam, apa yang terjadi coba ceritain sama aku, seharusnya aku tadi gak biarin kamu diam di luar rumah dan nunggu di mobil . Seharusnya aku suruh kamu tunggu aja di dalam biar kita selesaikan masalah Livia sama-sama, enggak usah aku aja dan Kamu nunggu di luar, aku sungguh pacar yang tak becus "
"Aku tadi kebelet pipis Bi, tiba-tiba aja rumah kamu kok rasanya sepi banget. Aku mau balik lagi tiba-tiba ada yang nyuntikin sesuatu sama aku, ya itu Adam dan dia bawa aku ke tempat terpencil ini dan untung aja ada Sandi ikutin Adam dan nyelamatin aku, udah kamu gak usah salahin diri kamu sendiri kan gak ada yang tau tentang kejadian ini, musibah ini "
__ADS_1
"Terus sekarang di mana Adam di mana dia, aku hajar dia sampai mati "
"Udah Bi Adam udah ditembak sama Sandi dua kali, mungkin dia sekarang udah mati kehilangan darah. Udahlah jangan urusin dia lagi aku gak mau berurusan lagi sama Adam atau sama orang tuanya lagi. Aku udah capek banget berurusan sama keluarga mereka, yang selalu saja seperti ini sama aku pokoknya udah kamu jangan cari Adam lagi, aku sekarang pulang kok, aku udah baik baik aja "
"Sandi apakah sudah memastikan kalau Adam benar-benar mati, aku gak mau dia hidup lagi dan ganggu hubungan kita lagi, terutama ganggu kamu keselamatan kamu, dia itu selalu ganggu kamu terus sebelum dia mati dia gak akan pernah mungkin gak ganggu kamu, jadi harus mati dulu dia baru gak ganggu kamu"
"Gak Sandi gak cek dulu karena aku pengen cepet pulang aja, leher aku sakit Bi aku dicekik sama Adam, jadi aku pengen cepet-cepet istirahat dan akhiri semua ini, kamu jangan bilang sama Ana ya pokoknya Ana jangan sampai tahu tentang kejadian ini Oke, aku gak mau masalah ini makin besar dan makin besar dan membuat Adam makin balas dendam sama aku, udah cukup kita aja bertiga yang tahu pokoknya Ana jangan sampai tahu oke. Kamu tolong aku ya"
"Baiklah nanti kalau Adam belum mati aku yang akan memastikan dia mati. Iya aku tidak akan berbicara pada Ana aku akan menunggumu di depan rumahku, kau pulang ke sini ya kita obati dulu lehermu itu"
"Jangan kau jangan jadi seorang pembunuh Bi, aku tidak mau kamu jadi seorang pembunuh dan menghabisi Adam, biarkan dia mati saat sudah waktunya saja, nanti juga kalau sudah waktunya dia mati Adam pun akan mati, sudahlah kau jangan jadi seorang pembunuh .Aku tidak suka aku tidak mau itu sampai terjadi"
"Aku tidak akan pernah janji, karena ini demi keselamatanmu siapapun yang mengancam dirimu maka dia akan habis di tanganku, aku tunggu kedatanganmu sayang aku di sini khawati, kalau di jalan ada apa-apa selalu hubungi aku atau aku menyusulmu saja ke sana dimana kau sekarang "
"Tidak tidak kau jangan ke sini, aku tak lama lagi sampai ke rumahmu kau tunggu saja ya di depan rumah, kami akan sampai beberapa menit lagi"
"Baiklah sayang aku akan menunggumu di sini hati-hati di jalan pokoknya selalu berhati-hati karena Livia masih berkeliaran di luar sana"
"Iya Bi aku pasti hati-hati, pokoknya kamu jangan melakukan hal nekat sampai pergi ke rumah Livia dan neror dia atau memarahinya jangan pokoknya jangan dan kau juga jangan sampai melaporkan hal ini pada polisi ya , karena kita juga tidak punya bukti yang kuat untuk membuat Adam masuk ke dalam penjara, karena percuma Livia akan melepaskannya lagi"
__ADS_1
"Iya aku tak akan melaporkan ke polisi, tapi jika dia sudah makin menjadi-jadi lebih baik kita melaporkannya saja atau membunuhnya saja sekalian aku tutup ya teleponnya"
Sambungan pun terputus, Inara segera memberikan kembali ponselnya pada Sandi, Inara memegang lehernya yang sakit dan mencoba memejamkan kedua bola matanya, yang sudah sangat lelah ini.