Berbagi Suami

Berbagi Suami
Gagal


__ADS_3

Ana sudah ada dikantornya namun dia malah kefikiran Roger "sadar Ana, sadar jangan sampai kau mencintai pacar orang lain, sadarlah sadar " sambil menepuk nepuk pipinya.


" Sejak kapan aku bisa mencintai seseorang jangan sampai kejadian lagi seperti pada Zahir. Aku tidak mau kecewa lagi apa yang harus aku lakukan sekarang"


"Rasanya otakku sudah buntu dan tidak bisa memikirkan apa-apa selain Roger. Ya ampun ada apa sih denganku ini, Ayo Ana jangan sampai kau mencintai laki-laki itu dia sudah mempunyai pacar kau jangan sampai menjadi perebut pacar orang"


Ana menarik nafasnya dan berteriak "akhhhh akhhh akhhh "


Jack yang ada diluar sampai kaget dan masuk kedalam ruangan Ana.


"Nona ada apa, apa ada orang jahat "


Ana mengernyitkan dahinya dan mengelengkan kepalannya, "tidak ada tidak aku baik baik saja Jack hanya sedang kesal saja pada seseorang "


"Baik lah nona saya keluar dulu "


Ana mengangguk-anggukan kepalanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau Ana ada ada saja, sampai sampai anak buah mu kaget, kendalikan dirimu Ana, jangan membuat malu "


Ana mengambil berkas kasus barunya dan memeriksa semuanya, dengan masih fikirannya tertuju pada Roger.


***


Inara sudah membereskan semua barang barangnya, keluar dari dalam kantor dengan wajah jemberut, dari tadi pacarnya sama Livia terus keselkan, setiap dirinya mendekati, pasti tuh s Livia bilangnya lagi kerja jangan ganggu jangan ganggu.


Inara menunggu diluar gedung, tadi pacarnya bilang gitu tunggu luar gedung "duh enak nih kayanya rujak, beli ah "


Inara celingak celinguk terlebih dahulu tak ada mobil, Inara menyembrang dan berlari kearah tukang rujak namun tiba tiba ada yang menariknya.


"Nona apakah kau baik baik saja "


"Sandi aku baik baik saja, hampir saja aku tertabrak siapa dia tadi waktu aku akan menyebrang tak ada mobil satu pun "


"Saya akan mengejarnya nona lebih baik masuk lagi saja kedalam kantor, jangan di luar tunggu tuan Abian di dalam jangan di luar seperti ini "


Inara mengangguk meski masih syok tapi sekuat mungkin dia harus berjalan dan tak boleh merepotkan orang lain.


Sandi memberikan sesuatu pada Inara " pegang pisau kecil ini jika ada sesuatu atau seseorang yang macam-macam dengan nona tusuk saja jangan takut"


Sandi segera berlari dan masuk kedalam mobil mengejar mobil tadi, dia sudah mengigat plat nomornya tinggal cari saja.


**


Adam yang ada didalam mobil memukul setir "sial padahal sebentar lagi aku bisa menghabisi Inara, awas saja Sandi kau telah menggalkan aksiku, jadi kau sekarang anak buahnya Inara, berarti benar perkiraanku kalau Inaralah yang menyuruh Sandi untuk menyiksaku di penjara"


Flasback.


Adaam sebenarnya tadi tidak langsung pulang dia menunggu di sebuah gang, menunggu Inara keluar dan kebetulan sekali saat dia akan berbelok mendekati kantor itu dia malah melihat Inara yang akan menyebrang.


"Kebetulan sekali Inara nyawa mu akan habis di tanganku sekarang juga, aku akan sangat puasa melihatmu mati di tanganku "


Adam dengan cepat dia melajukan mobilnya dan akan menabrak Inara sedikit lagi akan berhasil, namun malah ada yang menolong Inara.


Dan saat Adam melihat kebelakang ternyata itu Sandi, Sandi s pengacau ada disana menolong Inara, gagal sudah untuk kedua kalinya, ini gara gara Sandi.


Flasback off


Sandi akhirnya menemukan mobil itu, mobil itu berjalan dengan pelan Sandi langsung menyalipnya dan memberhentikan Mobilnya di depan mobil itu.


Adam yang kaget langsung mengetemnya" Sialan siapa itu "

__ADS_1


Sandi keluar dari dalam mobil dan mengetuk kaca mobil Adam, namun Adam yang mengetahui itu adalah Sandi diam didalam, namun saat Sandi akan merusak mobilnya Adam segera keluar.


Sandi langsung memukul pipi Adam, sampai sampai Adam tersungkur " Kenapa kau ini Sandi tiba-tiba saja memukulku apa masalahmu dengan ku"


"Kau tanya masalah ku denganmu apa, tentu saja masalah kau hampir saja membunuh bosku apa maksudmu, kau ingin bermain main dengan ku "


"Jadi benar selama ini kau disuruh oleh Inara untuk selalu mencelakaiku "


"Haruskah ku menjawab itu, sepertinya tidak perlu bosku bukan Inara saja jadi kau tak perlu tau siapa bosku yang sebenarnya"


Adam akan melawan namun kepalan tangannya langsung ditangkap Sandi, malah sekarang Adam yang dipuli oleh Sandi, setelah puas Sandi mundur.


"Sebelum kau melukai bosku kau lawan aku dulu baru kau bisa menyentuhnya, jadi jangan macam-macam di mana ada nona Inara di situ ada aku, jadi kau jangan berharap aku akan lengah sedikitpun "


Sandi menendang perut Adam lalu masuk kedalam mobik untuk mengecek nonannya kembali.


"Akhhh sialan kenapa harus ada Sandi, sialana sialan sialan awas kau Inara habis kauu "


**


Abian keluar dari dalam lift langsung menghampiri Inara, Inara pun segera bangun dan memeluk Abian "ada apa sayang "


"Bi aku pulang " pamit Livia


"Iya silahkan Livia "


Livia segera pergi dengan wajah masam, bahkan dia berpamitan saja tak dihiraukan, kesal kesal selama tadi diruangan Abi juga sama tak di gubriss.


"Tadi hampir aja aku ketabrak mobil"


"Hah kenapa bisa " Abian melepaskan pelukannya mengecek tubuh Inara "mana yang sakit apa ada yang luka "


"Syukurlah aku tenang sayang, oh ya apakah kau mau aku kasih nafas buatan " Abian sudah menunduk namun Inara memegang bibir Abian.


"Aku ingin jalan jalan saja dulu sebentar apa boleh "


"Tentu ayo kita pergi sayang "


**


Sekarang Inara dan Abian sudah ada ditempat yang Inara inginkan taman penuh lampu, sekarang mereka sedang ada disebuah jembatan yang cantik berwarna unggu.


"Aku Masih kepikiran Bi siapa sebenarnya yang ingin mencelakakan ku, padahal aku tadi sudah tengok kanan tengok kiri tak ada mobil satupun, tapi tiba-tiba saja ada mobil yang melaju dengan kencang sekali sampai-sampai aku tidak menyadarinya"


"Sudah kau tak usah memikirkannya nanti aku kan bertanya pada Sandi, pasti dia sudah menangkap orang itu siapa tahu itu orang yang kita kenal kita tidak pernah tahu siapa yang membenci kita"


"Benar Bi "


"Apakah aku boleh memberi nafas buatan agar kau tak tegang lagi bagaimana "


Inara mengernyitkan dahinya, Abian yang tak mau ditolak kembali oleh Inara langsung melahap bibir munggil Inara dan memainkannya setelah puas Abian melepaskannya dan mengusap bibir itu dengan perlahan.


"Bagaimana apakah sekarang sudah tenang "


"Sedikit "


"Ayo aku akan membelikan mu sesuatu pasti kau suka "


Abian menarik tangan Abian dan masuk kedalam mall, Abian membawa Inara ketempat pakaian dalam " kenapa kamu membawa ku kemari Bi, aku tidak mau "

__ADS_1


"Ayo kita liat liat dulu aja sayang, ayo ayo "


"Gak mau Bi ayooo udah pergi ayooo "


Inara menarik Abian dan membeli eskrim lalu menyuapai Abian sampi berjalan jalan di mall, dan berbelanja apa yang dirinya mau.


Sesekali mereka berfoto dan membeli bando yang ada telingannya memakainnya lalu mengunakannya dan berfoto kembali.


Akhirnya rutinitas mereka selesai, karena memang sudah malam sekali, ditangan Abian juga sudah banyak belanjaan.


Mereka berdua keluar dari dalam mall "sekarang apakah senang"


"Iya aku senang bi, tapi kaki ku sakit sekali "


Tanpa banyak bicara Abian mengangkat Inara " Bi apa yang kau lakukan, lepaskan aku "


"Tidak akan kau kan bilang tadi kaki mu sakit jadi itu adalah kode buat ku untuk mengendongmu, "


"Tapi Bi malu "


"Sudah sayang tak usah malu, kau bersamaku, anggap saja dunia ini milik kita berdua "


"Ahahaha kamu ini bi "


**


"Kau kenapa Adam mukamu kenapa babak belur begini aku menyuruhmu untuk mencelakai Inara, tapi kenapa wajahmu malah hancur seperti ini"


" Dia mempunyai penjaga saat aku akan menabraknya dia di selamatkan oleh penjaganya itu dan aku dikejar olehnya dan dihajar habis-habisan oleh nya pula "


"Kau kalah ? kenapa dirimu itu bisa kalah oleh penjaganya Inara Siapa orang itu"


"Dia Sandi dia adalah musuh terberat ku dipenjara yang selalu menghajarku setiap saat, ternyata dia dibayar oleh Inara untuk menghabisi ku disana "


"Apakah kau yakin Inara yang melakukan itu, Inara itu perempuan bodoh mana mungkin bisa terpikirkan melakukan itu kepadamu"


"Aku sedikit tidak percaya, aku mengenal Inara bagaimana dia, dia itu orangnya tidak tegaan"


"Ya makanya pasti bukan Inara yang melakukan ini, pasti Iriana kakaknya kau tahu kan perempuan yang berbentuk dan satu Wajah Sama persis dengan Inara dia itu memiliki wajah yang sama namun tidak dengan sikap dan sifatnya sangat bertolak belakang sekali dengan Inara"


"Jadi benar desas-desus kalau Inara mempunyai kembaran aku tidak percaya"


"Ya benar Inara mempunyai kembaran kau harus lebih hati-hati dengan kakaknya, karena kakaknya bukan orang baik seperti Inara kau harus bisa membedakan mana Inara dan mana Iriana karena wajah mereka sangat persis dan tak ada bedanya sedikitpun dari ujung kepala sampai ujung kaki mereka sama kau bisa saja terkecoh oleh dia "


"Dan Anna bisa meniru semua apa yang Inara lakukan dari sifat sikap gerak-gerik dia bisa meniru semuanya, jadi jangan sampai kau terkecoh dan Luluh kembali oleh Inara ataupun Iriana, Iriana itu adalah predator"


"Aku jadi penasaran dengan kakaknya, sejahat apa dia "


"Setelah kau tahu pasti kau akan menyesal"


"Kau begitu tahu tentang Iriana apa kalian berteman"


"Gila saja berteman dengan predator. Aku tahu semua ini dari temanku Cio jadi tak perlu diragukan lagi karena Cio adalah teman Iriana ,jadi takkan mungkin berbohong padaku tentang siapa Iriana karena aku pun sudah melihat bagaimana Iriana sebenarnya "


"Baiklah aku akan lebih berhati-hati lagi sepertinya kita harus memutar rencana kita, karena Inara sudah dilindungi dengan banyak orang kita takkan mudah mendekatinya dan kau juga tak mudah kan mendekati Abian yang tidak bisa dirayu olehmu"


"Jangan bicarakan itu dulu aku sedang kesal sudah aku mau pulang saja"


Livia pergi begitu saja dan membiarkan Adam kebingungan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2