
Inara yang kembali turun mengunakan tangga, menyimpan dahulu dokumennya dan mengambil nafas terlebih dahulu "aku tinggalkan sajalah sepatu ini, masa bodo mau gak pake sepatu juga,aku udah lelah banget cape banget rasanya kakiku pengen copot "
Inara membuang hilsnya dan membawa kumpulan dokumen tebal dan kembali turun dengan tertatih tatih kebawah, sebentar lagi, ya sebentar lagi dirinya akan sampai.
"Semangat Nara semangat sebentar lagi akan sampai, kau harus semangat " Inara mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri yang sudah lelah ini.
Liam sudah ada didepan pintu, was was menunggu orang tuanya tak lama kemudian Lift menyala dan berjalan kembali dan terbukalah kedua orang tuanya yang sedang duduk dibawah..
"Mamih papih kalian gak apa apa kan " tanya Bian denagan khawatir.
"Haredang Abi Haredang (gerah Abi gerah ), untung weh mamih teh kuat "
"Maaf mih pih ayo ayo sekarang kita keruangan Abi, "
Abi segera mengandengan kedua orang tuanya dan berjalan dengan rasa bersalah, ya ampun bagaimana kalau orang tuanya kenapa napa
"hah akhirnya " teriak Inara yang baru saja sampai dilantai 5 dan kembali berjalan keruangan Abi dengan kaki yang sudah lelah dan bergetar.
"Awas kau Bi akan kubalas semua ini, "
Inara membuka pintunya dengan keras dan masuk dengan wajah marahnya dan dengan tatapan tak bersahat tiba tiba saja Inara terjatuh dengan banyaknya dokumen.
Bian yang akan menangkap tak bisa karena terlalu jauh tempatnya sedangkan mamihnya Bian langsung berlari pada Inara.
"Ya allah ada apa dengan kamu Inara, kenapa kamu membawa banyak dokumen dan ini kaki kamu kenapa merah merah dan kenapa tak memakai alas kali. "
Inara yang kanget melihat kearah wajah mamihnya lalu kepala cantiknya tiba tiba saja terfikirkan sesuatu untuk membalas bosnya ini.
"Awww ahhh sakitt " teriak Inara sampai membuat semua orang kaget.
"Untung bos hati saya gak copot dengerin terikan Inara " bisik Jon kearah bosnya..
"Iya bener Jon kaget banget "
Dan papihnya Bian langsung mengusap ngusap dadanya saking kagetnya.
"Yang mana Nara yang mana yang sakit sayang, bilang sama mamih yang mana yang sakit, biar mamih cek ya "
"Ini yang sakit kaki Inara mamih, tuan jahat mamih suruh Inara jalan kaki naik tangga kelantai 21 kaki Inara sampai gemeteran "
"Eh engga kok Bian gak lakuin itu mih "
"Engga bohong mih, pasti yang udah bikin liftnya berhenti dan mati itu pasti tuan, pasti dia yang lakuin itu dia mau ngerjain Inara mih "
"Sekarang kamu bangun dulu yu, kita duduk dikursi biar kakinya gak sakit "
"Gak bisa mih masih gemeteran Kaki Nara "
Tiba tiba saja tubuh Inara melayang ternyata itu Bian yang memangkunya jadi melayang.
Bian dengan cepat mendudukan Inara dan membuat kaki Inara memanjang
"Pelan pelan tuan kaki aku sakit "
Mamih Bian yang masih jongkok segera bangkit dan mendekati anaknya lalu menjewernya dnegan sangat keras
"Apa yang kalua lakukan hah pada Inara dan kenapa kau menyuruhnya membawa dokumen sebanyak ini lewat tangga lagi, pagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Inara bagaimana apakah kau akan tanggung jawab Abi, bagaimana ini "
"Mih beneran Abi gak sengaja ini idenya Jon nih mih, lepasin dulu domh mih jewerannya "
Tanpa melepaskan telinga sang anak sekarang tatapan mamih Bian beralih pada Jon.
"Mih mih tenang dong ini tuh bukan salah Jon. Pak bos kok yang merencanakan ini, bukan saya mih beneran "
__ADS_1
"Ya sudah jelaskan apa maksudnya kenapa melakukan itu pada Inara "
Jon segera melihat kearah Bian yang mengelengkan kepalanya lalu menatap kemhali mamih bosnya.
"Ayo jawab Jon "
Jon langsung mengelengkan kepalanya " oh seperti itu cara mainnya, yasudah mamih sekarang juga akan memotong gajihmu Jon selama 10 tahun dan kau juga Bi, akan mamah potong gajihnya seumur hidup "
"Mih loh loh kok Abi dipotong sih gajihnya kan Abi bosnya kenapa Abi di potong gajihnya "
"Janganlah mih, apa mamih tak kasian dengan Jo, Rani sebentar lagi akan melahirkan jangan membuat Jon tidut diluar nantinya mih "
"Ya sudah ceritakan karena apa, kenapa bisa begini ada apa ceritakan semuanya pada mamih " .
Jon memelas kearah Bian dan "begini mih ini gara gara sepatu "
"Kenapa menyalahkan sepatu, "
"memang benar gara gara s sepatu mih, kalau saja s sepatu gak bikin ulah gak akan kaya gini "
"Ini tuh s sepatu tuh siapa, orang atau benda atau apa sih, kenapa bisa s sepatu yang menjadi tersangka tak habis fikir mamih ya, bikin pusing kepala mamih aja nih "
"Gini mih sepatu itu ya sepatu benda , tadi pak bos membelikan Inara sepatu, karena melihat kaki Inara yang lecet namun Inara menolaknya jadi kita memikirkan carannya bagaimana Inara bisa memintanya sendiri, meminta sepatu itu langsung pada pak bos jadi terjadilah seperti ini mih "
"Cuman gara gara sepatu Bi, kamu lakuin itu sama Inara " marah mamihnya sambil menjewer telinga Bian lebih keras lagi.
"Mih mih sudah telinga Abi bisa copot mih sudah "
"Naha atuh nyieun masalah (kenapa bikin masalah) "
"Iya maaf mih maaf "
"Mih udah mih, Nara gak apa apa kok, udah lepasin tuan mih"
"Gak apa apa kok mih, Inara hanya ingin formal saja kalau di pekerjaan, nanti takutnya karyawan yang lain memanggil nama juga sama tuan "
Mamih Bian hanya mengangguk angguk saja dan melepaskan jewerannya, kepada sang Anak. Abi langsung berlari dan berlutut di hadapan Inara mengecek kaki Inara yang merah merah dan mengusapnya.
"Sudah kamu sana Bi keluar dan kamu Jon pih keluar semuanya mamih ingin berdua dengan menantu mamih cepat"
"Loh kok papih juga di usir nih "
"Iya cepet keluar " teriak mamih Abi, sekali lagi.
Mereka bertiga yang tak mau kenapa masalah akhirnya pergi, sebelum pergi Bian mengusap dahulu rambut Inara dan menatap mata Inara yang kelelahan.
Pintu pun tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua saja "mamih pijat ya "
"Jangan mih jangan, aku udah gak apa apa kok mih beneran mih "
"Benaran nih "
"Iya beneran mih udah gak apa apa tuh mih " sambil menurunkan kakinya kebawah dan mengoyang goyangkannya.
"Terus hils kamu kemana sayang "
"Nara buang mih, buah karena ya sakit kalau dipakai terus dan silit membawannya juga"
"Ya sudah tak apa, ini kau kenakan sepatu pemberian Abi ya, gunakan ayo " sambil mengasongkannya kearah Inara.
Dengan ragu Inara mengambilnya dan memakainya dengan pelan pelan dan saat sudah selesai kembali duduk dengan benar.
"Oh ya mamih punya sesuatu buat kamu "
__ADS_1
"Apa mih "
"Ini sayang apa kau suka "
Sebuah cincin berlian yang cantik dan juga sangat mewah namun kecil dan hanya ada satu permata yang cukup besar. Tapi tak begitu besar sedanglah.
"Ini adalah cincin keluarga mamih Nara, mamih akan memberikannya kepadamu "
"Kenapa pada Nara mih, Nara gak pantes dapetin ini "
"Kamu pantes kok dapetinnya, mamih gak mau ada penolakan mamih ingin kamu memakainnya dan jangan pernah kamu lepaskan ya cincin ini "
Inara mengangguk dan memeluk mamihnya Bian dengan sangat sayang.
**
Sedangkan para laki laki malah makan dikantin dengan lahap mereka memakan makanan yang mereka pesan.
"Bi yang kamu lakukan itu sangat tidak baik, bagaimana kalau Inara terjatuh bagaimana kalau terjadi apa apa, tanggakan ta pernah dilewati oleh siapa siapa bagaimana kalau tadi terjadi sesuatu pada Inara dan tak ada yang mengetahuinya. "
"Ya pih maafkan Bian sungguh Bian menyesal ku kira Inara akan menyerah dan kembali lagi keruangannya, dan tak mengambil dokumen itu tadi dia ternyata mengambilnya, maafkan Bian "
"Iya iya pokoknya jangan sampai terulang kembali kejadian itu ya "
"Iya pih Iya Bian janji itu tak akan terulang lagi tak akan pernah pih "
Namun tiba tiba datang Cio dan juga Livia yang tiba tiba saja bergabung "om apa kabar " tanya Cio dengan ramah.
"Eh Cio baik kok om baik "
"Ngapain lo kesini Cio ada urusan apa sama perempuan ini, gue kan udah bilang kalau perempuan ini gak boleh masuk "
"Udahlah Bi maafin Livia dia udah baik kok sekarang, dia gak akan macem macem lagi kok Bi "
"Manusia berbahaya kaya gini lo bilang gak akan macem macem gila aja lo Cio "
"Beneran gue janji janji ini semua gak akan terjadi lagi ya, maafin dia kasih sekali lagi kesempatan pada Livia "
"Ok kalau terjadi sesuatu kembali gue gak terima "
Bian segera pergi di susul oleh papihnya dan juga Jon. Livia menatap Cio dan memeluknnya.
"Makasih Cio akhirnya aku bisa ada disini lagi, bisa sama sama lagi sama Abi "
"Iya sama sama yu kita keruangan Abi dulu sebentar "
"Ayo"
Inara yang sedang tiduran di pahanya mamihnya Bian sampai terlelap karena kepalanya di usap usap dengan lembut, sangat lembut.
Bian yang baru dateng langsung memerintahkan Jon dan papihnya untuk diam dan mereka menurut nurut saja.
"Bi tidurkan Inara di kamar rahasia mu itu, ayo kasian dia pasti dia sangat kecapean sekali"
"Iya mih " Bian segera mengangkat Inara dan Livia yang baru saja datang melihat semua adegan itu. Jon yang mengerti segera membuka pintu kamar itu dan Bian masuk kedalam sana hanya bersama Inara berdua.
"Maafin aku ya Nara, aku cuman gak mau kamu tolak permintaan aku, aku gak mau itu, jadi aku lakuin cara itu kamu istirahat aja ya disini aku gak akan ganggu kamu kok Nara "
Bian membaringkan tubuh itu dan membuka sepatunya lalu menyelimuti Inara dan setelah semuanya beres Bian keluar dari dalam kamar. Menatap orang orang yang sedang diam seperti patung.
"Kenapa Cio, kenapa kamu bawa lagi perempuan tak punya sopan santun ini kekantor anak saya, dia itu sudah sangat keterlaluan, dia tak akan bisa mengontrol emosinya, bagaimana kalau dia melakukan sesuatu kembali pada Inara. Abi mamih akan pulang bersama papih, kau cepat usir penalu ini sebelun menghancurkan hidupmu dan juga hidup Inara "
Mamih dan papinya Bian segera pergi, tampa mau melihat wajah Livia yang sedang menunduk sedih
__ADS_1