
Inara sekarang sudah mulai bekerja kembali, bahkan dia pagi pagi sekali sudah ada dikantor, mengerjakan tugas yang belum dirinya kerjakan.
Inara sudah siap dengan berkas, berkas yang akan diberikan pada atasannya sekaligus calon suaminya. Namun saat akan masuk Inara melihat Livia akan masuk, Inara segera menahan tangan Livia.
"Mau apa kau kemari, kenapa kau bisa masuk, Abian kan sudah melarangmu untuk masuk kembali keperusahaan ini "
Livia menghentakan tangan Inara " bukan berarti kau calon istrinya bisa melarang siapa saja untuk masuk ke ruangan Abian, aku ini sekarang dengan dia sedang bekerja sama lalu apakah aku tidak boleh masuk ke dalam ruangan nya, aku ini rekan kerjanya bisa bisa aku akan adukan pada Abian kalau kau mengusir ku dari sini"
"Kenapa kau menjadi berkata berbeda aku tidak mengusirmu. Aku hanya bertanya kenapa kau kemari bukannya Abin sudah melarangmu untuk masuk ke perusahaan ini. Aku hanya bertanya itu, aku sama sekali tak mengusikmu"
"Tetap saja kau mengusirku"
"Ada apa ini "tanya Abian yang keluar dari ruangannya.
"Abi lihat calon istrimu dia mengusirku apakah pantas dia mengusirku begini, aku ini rekan kerja mu" sambil merangkul tangan Abian.
Abian langsung melepaskannya "kau masuk saja Livia, aku akan berbicara dengan calon istriku "
Livia langsung masuk dan menutup pintunya, Abian langsung mengandengan tangan Inara dan masuk kedalam ruangan Inara.
"Aku tidak mengusirnya Abi. Sejak kapan kalian bekerja sama kenapa kau tak bilang padaku kalau begitu aku tahu kan tidak usah bertanya padanya"
"Iya aku percaya padamu sayang, Jon yang melakukan kerjasama dengan Livia dia tidak tahu kalau Livia orangnya yang bekerjasama dengan perusahaan ku, baru kemarin Maafkan aku aku tidak berkata padamu, aku lupa sayang, aku tak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu"
"Baiklah aku mengerti segeralah kau berbicara dengan dia sepertinya ada sesuatu yang ingin ditanyakan padamu, atau memang ada masalah dalam pekerjaan kalian dan Oh ya sekalian ini aku ingin memberikan berkas berkas ini padamu, tolong cek dulu ya kalau ada yang salah kau beri tahu aku"
"Apakah kau marah sayang "
"Tidak sama sekali Bi, untuk apa aku marah padamu. Kalian kan bekerja aku mengerti kok "
"Terimakasih sayang, Aku janji tidak akan macam-macam dan aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan dengan dia" Abian mengecup kening Inara dan pergi untuk menemui Livia.
Saat Abian masuk, Livia sedang memegang foto yang ada dimeja Abian " Maafkan aku tidak sopan melihat fotomu dan Inara"
"Ya tidak apa, ada perlu apa, apa ada yang ingin kau tannyakan "
"Kalian berdua sangat cocok aku sampai iri dengan kalian, Iya ada yang ingin aku tanyakan bahkan banyak yang ingin aku tanyakan padamu Abi, karena kan waktu itu tiba-tiba saja pergi aku belum mengerti tentang apa yang kau jelaskan ,apakah bisa menjelaskannya lagi padaku"
"Aku kan sudah bilang biar Jon yang menjelaskan kenapa kau juga tiba-tiba saja pergi"
"Karena aku ingin dijelaskan langsung oleh bosnya bukan oleh asistennya, aku lebih nyaman di Jelaskan olehmu jadi tolong jelaskan kembali ya kita kan akan bekerjasama mana mungkin kau menolakku"
Abian mengangguk mengambil dokumen dan duduk berhadapan dengab Livia, langsung saja Abian menjelaskannya dari awal sampai akhir.
**
"Wahh apakah kita akan tinggal disini ayah " tanya Arya anak Sandi.
"Iya nak, ayo kita temu dulu nona "
Anak dan istri Sandi masuk, dan bertemu dengan Jack, Sandi menyapanya dan mengenalkan anak serta istrinya.
Lalu masuk dan menemui Ana yang sedang duduk meminum teh, "Nona ini anak istri saya, ini Fani istri saya dan ini Arya anak saya "
"Baiklah saya Ana, mari duduk "
Fani langsung duduk dibawah, Ana langsung mengernyitkan dahinya "kenapa duduk dibawah duduklah diatas, aku tak suka seperti itu "
__ADS_1
"Baik nona maaf "
"Bibi tolong ambilkan minum, mau apa kalian "
"Ah tidak usah repot repot nona, tak usah " tolak Sandi
"Tak apa, bawakan dua jus mangga dan juga kopi ya bi "
"Siap non "
"Jadi apakah anak mu sekolah kan "
"Sekolah nona dan saya juga sudah mengurus tentang kepindahannya "
"Baguslah aku sudah mendaftarkan sekolah anak mu, besok sudah masuk, tak jauh dari sini, nanti Jack yang akan mengantarkan dahulu Arya kesekolah agar tau jalannya dan untuk sehari harinya aku sudah membelikan sepeda, apakah kau suka Arya "
Arya tersenyum dan menganggukan kepalannya "suka nona, terimasih nona aku suka dari dulu aku ingin sekali sekolah naik sepeda dan sekarang kesampaian juga terimasih "
"Iya sama sama, kalian minum saja dulu aku harus bekerja dulu dan untuk kamar kalian sudah aku siapkan "
"Terimasih nona " ucap Sandi dan juga Fani.
Ana hanya mengangguk dan pergi dari rumah diantar oleh Jack untuk mengurus kasus yang baru dia dapat.
"Mas bos kamu masih muda ya baik lagi, emang kaya yang jutek tapi baik "
"Iya kita jangan menilai orang sembarangan, kau akan lihat nanti ada kembarannya "
"Hah ada dua "
"Wah aku jadi ingin bertemu dengannya "
"Nanti sore kau akan bertemu, dia sedang bekerja "
Bibi sudah datang dan menyajikannya dengan ramah lalu pergi lagi, mereka segera meminumnya lalu setelah habis, Sandi mengajak mereka semua kekamar yang sudah Ana siapkan.
Dibelakang rumah ini, banyak sekali rumah disini, yang memang Ana persiapkan hanya untuk anak buahnya dan jika mau juga boleh membawa anak istrinya sepeti Sandi.
Mereka masuk dan terbelalak "mas ini gak salahkan bagus banget, kamarnya ada dua lagi, ya allah aku sangat bersyukur mas mendapatkan tempat sebagus ini, aku kira bos mu akan garang dan memberikan kita tempat seadannya namun ternyata tidak ini sangat bagus, dan lebih besar dari rumah kontrakan kita mas "
"Iya Fani makanya kita harus selalu mengabdi pada nona Ana dan nona Ara, mereka sudah baik memberikan kita rumah dan menampung kita seperti ini dan memberikan aku pekerjaan serta mengeluarkan aku dari kantor polisi mereka menebusku baik sekali dan saat aku selalu memberikan uang padamu itu dari nona Ana, dia memperkerjakan aku didalam sana "
"Iya mas iya, dia baik sekali sungguh aku sangat bersyukur kamu bisa bertemu dengan Nona Ana "
"Iya Fan, kamu segeralah beres beres aku akan langsung bekerja, aku akan mengawasi nona Ara dulu takut takut Adam sudah merencanakan sesuatu "
"Iya mas hati hati yang "
"Iya sayang "
Sandi segera pergi keluar dari dalam rumahnya dan melajukan mobilnya untuk segera mengawasi Ara dikantor Abian.
**
Inara masih fokus mengerjakan tugasnya, ini sudah jam 12 tapi Abian belum mengajaknya untuk makan siang.
Perutnya sudah lapar sekali, Inara segera keluar dan melihat keruangan Abian yang sepertinya sudah tak ada siapa siapa "pasti mereka makan bersama, sudahlah aku makan juga dari pada memikirkan mereka "
__ADS_1
Inara masuk kedalam lift dan menunggu sampai ting terbuka, Inara langsung berjalan kearah kantin, dan mengambil makanan yang dia mau, memang disini gratis yang sudah disediakan dari kantor.
Inara duduk sendirian dan tak lama kemudian muncul Abian bersama Livia, mengambil makanannya, Abian dengan cepat duduk disamping Inara, dengan Livia yang mengikutinya.
"Kenapa kau pergi sendiri sayang "
"Aku kira kau sudah ke sini terlebih dahulu makanya aku kesini, aku sudah sangat lapar sekali"
"Tadinya sih kami memang mau makan di dalam ruangan Abian tapi dia tidak mau katanya kasihan pacarnya sendirian dan eh iya bener kamu makan sendirian " sela Livia
Inara tak menjawabnya fokus memakan makanannya, tiba tiba saja Livia ingin menyuapi Abian, "cobalah Abi ini enak lo "
Abian mendorong sendok itu dan mengelengkan kepalanya "tidak aku sudah mencobannya kau saja, Nara sayang coba ini "
Inara langsung mengalihkan pandangannya dan Abian langsung menyuapi kekasihnya.
"Bagaimana enak kan, mending kita makan satu piring berdua ya sayang agar romantis "
Inara mengelengkan kepalanya namun Abian kekeh menyuapi Inara dihadapan Livia.
Livia yang melihat itu mempererat pegangannya pada tangannya, jangan sampai dia marah dan membuat ulah disini, sabar Livia sabar.
Abian dan Inara malah makin menjadi jadi, sekarang malah Inara yang menyuapai Abian.
**
Diluar kantor Adam sedang memantau Inara, menunggunya keluar namun tiba tiba ada yang menepuk bahunya "Sandi "
"Hai Adam sedang apa aku disini, pasti sedang mengintai Inara kan "
"Tidak aku sedang lewat saja "
"Oh ya, lewat tapi dari tadi kau hanya diam disini "
"Kenapa kau bisa keluar "
"Kau saja bisa keluar kenapa aku tidak "
"Baiklah aku permisi dulu "
"Silahkan "
Adam segera pergi dari sana, sedangkan Sandi masih menatap Adam sampai Adam naik mobil dan pergi dari hadapannya.
Setelah merasa aman Sandi masuk dan mencari nonanya, dia akan menjaganya dari jarak jauh, dia juga sudah izin pada calon suaminya jadi aman.
**
Adam berhenti tak jauh dari kantor " Kenapa ada Sandi sejak kapan dia keluar. Kenapa tiba-tiba dia ada di hadapanku dan ada di kantor Abian. Apa yang dia lakukan rencanaku gagal. Tadinya aku ingin menyergap Inara dan membawanya kabur malah bertemu dengan dia"
"Sial sial kenapa Sandi bisa mengenaliku dab bodohnya lagi kenapa aku pergi. Seharusnya aku jangan takut pada dia ini bukan lagi di penjara. Harusnya aku berani seperti waktu itu"
"Dasar kau Adam bodoh bagaimana ini, bisa bisa nanti Livia marah padaku, karena tidak melakukan apa yang dia mau aku harus memutar rencana aku harus menelfon Livia"
Adam terus saja menghubungi Livia namun sama sekali tak diangkat, " kemana perempuan ini susah sekali dihubungi kalau apa-apa ingin cepat-cepat .Tapi saat aku hubungi susah sekali perempuan aneh "
Adam kembali menjalankan mobilnya, berkeliling dan melihat ternyata tak ada Sandi disana, tapi kalau kembali lagi nanti kalau Sandi tiba tiba muncul bagaimana, lebih baik pulang saja dulu lah.
__ADS_1