
Inara yang ketiduran dirumah sakit bersama Bian segera membuka kedua bola matanya dan melihat kesekitar, namun Bian tak ada, dia sama sekali tak ada disini.
Inara segera membenarkan duduknya dan diam termenung tak lama kemudian datang Bian membawa beberapa kresek
"Kau dari mana Bian "
"Maaf aku meninggalkan mu, aku membelikan mu sarapan ayo cepatlah segera kekamar mandi "
"Baiklah apa boleh sekarang aku memanggilmu Bian kembali seperti dulu "
"Tentu kenapa kau meminta izin aku kan sekarang pacarmu, maaf dulu aku kasar padamu, aku hanya kesal padamu sayangg, sekarang kau bebas memanggilku apa, jadi sekarang pergilah "
"Iya tunggu sebentar ya "
Inara pergi dengan senyum merekah dari bibirnya, rasannya seperti mimpi bisa kembali akrab dengan Bian bahkan sekarang bersama kembali.
Setelah selesai mencuci wajahnya Inara segera kembali kearah Bian lalu duduk berhadapan.
"Mari kita makan, ayo buka mulut mu "
"Tapi "
"Ayo sayang makan lah, ayo buka mulut mu, aku akan menyuapimu kapan lagi aku menyuapimu sayangku "
"Baiklah "
Inara segera membuka mulutnya dan melahap makanan yang disuapkan oleh Bian.
"Bian apakah kau tak makan "
"Kau saya sayang aku masih belum lapar "
"Tidak kau juga harus makan "
Inara segera mengambil sendok dan memberikan suapan pertama untuk Bian.
Mereka menikmati sarapan itu, sambil sedikit sedikit bergurau.
"Bian, Inara "
Mereka berdua mengalihkan pandangannya dan melihat Mamihnya Bian bersama Livia.
__ADS_1
"Mih, kenapa mamih bersama Livia "
"Iya dia semalam menginap "
"Ayo aku ingin bicara dengan mamih sekarang "
Bian membawa mamihnya dan meninggalkan Inara berdua dengan Livia.
"Waw kalian berdua sangat romantis ya " ledek Livia sambil duduk disamping Inara.
"Tentu kami sepasang kekasih , tak ada salahnya kan Livia "
"Tentu tapi itu tak akan bertahan lama, aku akan mengambil Abi kembali, jadi kau jangan berharap lebih "
"Kita lihat saja nanti nona Livia yang penuh dengan drama "
"Apa katamu "
"Tidak aku tak bilang apa apa, sudahlah jangan marah marah terus nanti darahmu naik "
Setelah mengatakan itu semua Inara pergi meninggalkan Livia sendirian.
**
"Kenapa mamih membiarkan Livia menginap mamih taukan Livia berbahaya "
"Tapi dia baik kenapa tidak "
"Mamih jangan tertipu dengan sikapnya yang sekarang, kenapa sih harus dia yang menemani mamih, kenapa tak bersama Inara"
"Mamih hanya ingin ada teman, biasannya ada papih. Kan Inara menemani mu Abi, mamih tak mau menganggu kalian, kalian kan sedang dekat "
"Iya mih, tapi aku sekarang sudah bersama Inara, kami sudah menjadi pasangan, Inara sudah menerima aku "
"Benarkah, benarkah Abi, apa mamih tak berpimpi "
"Tentu tidak kami memang sudah bersama, Inara menerimaku, bagaimana aku hebatkan mih "
"Tentu kau hebat, ayo mamih sudah tak sabar ingin menemui Inara, ayo cepat cepat "
"Oh ya aku lupa mih, meninggalkan Inara bersama Livia hanya berdua ayo mih kita kesana "
__ADS_1
Abian dengan cepat segera berlari meninggalkan mamihnya dibelakang. "Sungguh kau menyebalkan jadi anak Abian " teriak mamihnya dari belakang.
**
Inara sekarang sedang diam melamun mengigat kembali kata kata dari Livia yang akan merebur Abian. Bagaimana kalau itu sampai terjadi.
Sedangkan Livia yang memang dari tadi mengikuti Inara, dengan perlahan lahan mendekati Inara, dia akan mendorong Inara biar dia jatuh bergelinding kebawah tangga.
Namun belum juga tangannya mendorong Inara, sudah ada yang mengusurnya.
"Lepaskan Cio apa yang kau lakukan kau sudah menggalkan lagi rencanaku, apa sih mau mu sebenarnya, aku sungguh tak mengerti denganmu "
"Aku sudah bilang saat kau akan melukai Inara, aku akan ada disana aku akan melindunginya "
"Sudahlah kau ini jangan ikut campur, aku tak suka dengan sikap mu yang sok jadi pahlawan jadi enyah dan biarkan aku melakukan tugas yang perlu aku lakukan "
"Tidak akan sebelum aku mati aku akan selalu melindungi Nara, jadi jangan harap kau bisa melukai nya. aku sudah memperingatkan Dirimu kan Jangan Sakiti Inara. Jika ingin mendapatkan Abi dengan cara yang baik tidak dengan cara yang kotor seperti ini .Apakah kau tidak mengerti apa kata-kataku. Apakah aku harus menjelaskannya dengan kata-kata hewan padamu"
" dasar kau gila kau lepaskan aku "Livia segera melepaskan tangan Cio dan pergi begitu saja meninggalkan rumah sakit ini.
"Apa yang kau lakukan Inara. Kenapa kau diam di sini seperti ini bagaimana kalau ada yang menyenggol mu dan kau nanti jatuh ke bawah"
"Bian, tidak aku hanya ingin diam saja di sini menghindari Livia. Aku tak mau sampai kami bertengkar atau membuat keributan di rumah sakit ini. aku tidak mau membuat orang yang sakit di sini malah terganggu dengan aku dan Livia yang nanti bertengkar jadi lebih baik aku pergi meninggalkan dia di sini"
"Yaa tapi kamu jangan di sini juga, ayo kita kesana lagi Mamih pengen ketemu sama kamu. Maafin aku ya tadi udah ninggalin kamu berdua sama Livia aku lupa Kalau Livia itu berbahaya Maafin aku ya, aku bener-bener minta maaf aku nggak akan ninggalin kamu lagi ya"
"Iya biarin nggak apa-apa aku nggak masalah kok. nggak usah minta maaf aku juga tahu kamu sama mami mau bicara berdua jadi aku ngerti kok kamu nggak usah khawatir kayak gitu aku bisa kok hindari Livia"
" Ya udah ayo kita Sekarang temeuin mamih ya sayang"
Inara segera mengikuti langkah Bian yang akan pergi menemui Mamih nya yang sedang menunggui Papih nya Bian.
saat melihat Inara mau dia segera memegang tangan Inara dan tersenyum senang " Terima kasih Nara akhirnya kamu bisa menerima Abian kembali, mamih sangat senang dan mamih sangat bersyukur kamu mau bersama anak mamih. Jadi kapan kalian menikah mamih sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian berdua. Jadi tentukan kalian akaan menikah kapan."
Inara segera menatap Abian " Mih kami baru meresmikan hubungan kami ini, tunggu dulu dong Ana belum pulang, kita harus tunggu dulu Ana pulang kakaknya Inara nggak mungkin kan tiba-tiba Abi nikahin Inara sedangkan Ana belum pulang sampai sekarang, dan papiy juga kan belum sembuh kita harus nunggu Papih sembuh dong mih. Yang sabar ya Abian pasti akan menikah dengan Inara"
"Iya mami sampai lupa maaf ya , mamih itu Seneng banget akhirnya kalian bisa bersama bersatu, ini adalah impian Mamih dari dulu, dan sekarang kalian bersama adalah kebahagiaan yang mamih tunggu-tunggu pasti nanti Papih saat sudah sadar dia pun akan senang mendengar kabar bahagia ini"
"Iya mih pasti "
Mereka bertiga segera berpelukan tak luput dari penglihatan Livia yang sedang mengintip
__ADS_1