
Sedangkan dilain tempat Ana baru saja turun dan diajak masuk kedalam mobil.
"Tak apakan kau kerumah ku dulu, apa itu tak masalah " ujar Roger
"Iya aku tidak masalah, ayo kita bertemu dengan anak mu, aku pun ingin bertemu dengannya "
"Baiklah jika itu tak masalah untuk mu, mari kita bertemu dengan anakku "
"Iya ayo "
"Oh ya Ana aku tak mendengar kau menceritakan orang tua kalian berdua, apa kalian berdua tinggal hanya berdua dan orang tua kalian tinggal di lain tempat "
"Orang tua kami sudah tidak ada Roger, mereka sudah meninggal sudah lama, mereka berdua kecelakaan dan adikku juga baru ketemu, waktu kecil dia di culik dan kami baru 1 tahunan tinggal bersama. Makanya aku gak bisa jauh dari dia karena ya aku gak mau kehilangan dia lagi"
"Maafkan aku telah bertanya itu padamu, lalu sekarang saat kau pergi adikmu besama siapa. Kenapa tidak ikut kau saja waktu itu "
"Gak apa-apa kok adikku di sana ada yang jaga, jadi aku lebih tenang, kalau aku membawanya akan lebih bahaya karena aku pun tidak tahu kan pada akhirnya aku akan bertemu Leo dan dia meminta sesuatu yang seharusnya nya tidak aku lakukan, tapi karena dia selalu mengancam akan membunuh adikku dan selalu memantau adikku makanya aku mensetujui semuanya"
"Dasar dia licik dan kau tak jadi membunuhku karena ingin balas dendam pada dia kan "
"Iya aku ingin balas dendam pada dia karena dia sudah berani membunuh Zahir dan ibunya, padahal sudah tertera dalam perjanjian kalau kita jangan sampai ikut campur dalam masalah pribadi"
"Zahir apakah itu keluarga jauh mu juga, atau pacar mu "
"Bukan dia adalah tahanan yang aku selamatkan, waktu misi pertama aku bertemu dengan dia, sebenarnya dia dijebak oleh seorang laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan dia. Jadi dia yang masuk penjara untuk menggantikan penjahat itu karena aku tahu dia tidak salah makanya aku membantu dia keluar dari penjara yang menurutku dia tidak akan mungkin kuat untuk tinggal di sana, karena di sana kan kita harus adu kekuatan dan mempunyai mental yang sangat kuat sekali, kalau tidak nyawa taruhannya "
"Zahir kau yakin dia bukan pembunuh maksudku orang yang sebenarnya, siapa tau dia berbohong padamu"
"Ya aku yakin kalau Zahir dijebak dan bukan orang yang sebenarnya. Bahkan aku sudah ke rumahnya bertemu dengan ibunya kami bertemu dan aku yakin Zahir bukan orang yang polisi cari. Memangnya kau mengenal Zahir sampai kau tidak yakin seperti itu"
"Tidak aku hanya aneh saja. Apakah wajah mereka sangat mirip mereka kan bukan adik kakak"
"Ya kan di dunia ini kita mempunyai 7 kembaran menurut Mom begitu , ya mungkin itu salah satunya, Zahir memiliki wajah yang sama dengan laki laki penjahat itu, siapa tau nanti aku bisa bertemu dengan orang yang wajahnya sama denganmu kan, tak ada yang tau kan "
"Iya aku juga pernah mendengar itu, benar kita sepertinya mempunyai 7 orang yang sama dengan kita, tapi aku belum bertemu dengan orang yang wajahnya sama denganku semoga saja aku bisa bertemu "
"Jadi kita tidak usah merasa aneh. Oh ya apakah dari sini rumahmu sangat jauh atau sebentar lagi kita akan sampai"
"Tidak rumahku sangat dekat dari sini. Sebentar lagi kita akan sampai tak akan lama lagi Ana "
"Baiklah kalau begitu"
Tak lama kemudian mobil berhenti dan Anna melihat sebuah Istana besar sangat besar, Ana lalu melirik kearah Roger "
"Ayo turun kita sudah sampai di rumahku, maaf rumah ku tidak sebagus rumahmu "
"Apa yang kau bilang rumahmu ini sangat besar malahan melebihi rumahku ini, jangan selalu merendah seperti itu"
Ana segera turun disusul dengan Roger yang turun juga. Lalu tiba-tiba ada anak kecil yang berlari menghampiri Roger dan memeluknya.
"Ayah ayah aku sangat senang akhirnya ayah pulang, kenapa ayah tak pulang pulang apakah tak kangen sengan Sean, Sean setiap hari selalu menunggu ayah "
Roger dengan sayang memangku Sean dan mencium pipinya "Sean tau kan ayah kerja, jadi maaf ya bukannya ayah tak pulang pulang pekerjaan ayah sangat banyak sekali "
"Kalau begitu bawa Sean bekerja dengan ayah, Sean tidak mau ditinggalkan lagi, Sean ingin ikut dengan ayah, jangan tinggalkan Sean lagi ayah "
"Dengarkan ayah, ayah bekerja untuk Sean membeli apa yang Sean mau "
"Kalau begitu Sean tak mau membeli apa apa, Sean hanya ingin bersama ayah saja, tidak apa apa Sean tak punya apa apa, asalkan ayah selalu ada disamping Sean itu sudah cukup "
Roger tak bisa menjawab apa apa, hanya bisa memeluknya dengan erat dan menciuminya juga " ayah ini siapa " tanya Sean saat pandangannya tertuju pada Ana
"Oh iya ayah sampai lupa, Ini kakak Ana teman ayah ayo berkenalan "
Ana tersenyum dan mengasongkan tangannya "hallo Sean perkenalkan aku Ana, temannya ayahmu, aku senang sekali bertemu dengan mu, kata ayahmu kau sangat baik dan tampan dan ternyata ya kau tampan "
Sean mengambil tangan Ana dan menyaliminya "hallo kakak, aku Sean, kau cantik sekali seperti ibu, apakah kau akan menjadi ibuku "
Ana menatap kearah Roger dan menundukan kepalanya "Sean sayang kakak Ana bukan akan menjadi ibumu, dia hanya mampir kemari dan ingin bertemu dengan mu, itu saja sayang "
"Aku kira kakak Ana akan menjadi ibuku, menjadi ibu baruku, agar aku disini tidak kesepian ayah, aku sangat ingin mempunyai seorang ibu kembali, aku iri dengan teman teman ku yang selalu diantar oleh ibunya saat sekolah "
__ADS_1
Sean dengan cepat turun dari gendongan ayahnya dan berlari kedalam rumahnya.
"Apakah aku menyakitinya "
"Tidak Ana, tidak kau sama sekali tak menyakitinya, ayo masuk dulu "
"Baiklah apakah aku boleh menemuinya, aku ingin berbicara sesuatu dengannya "
"Ya sudah ayo aku antarkan kekamarnya, apa kau tak ingin istirahat dulu atau makan gitu "
"Engga aku mau bicara dulu sana Sean ya "
"Iya iya deh ayo aku anterin "
Sekarang mereka berdua sudah ada didepan kamar Sean "Roger kau bisa tinggalkan aku, aku akan mencoba berbicara dengannya hanya berdua tanpa mu "
"Kenapa begitu aku pun ingin mendengar apa yang kalian bicarakan, aku penasaran apa yang akan kalian berdua bicarakan "
"Tidak ini adalah urusan aku dan Sean, kau sana sana istirahat jangaj menganggu aku dan Sean ayo sana sana pergi "
"Baiklah aku pergi "
Roger segera pergi meninggalkan Ana sendirian, saat melihat Roger pergi Ana mengetuk pintu kamar Sean.
"Sean apakah kakak boleh masuk kedalam kamar mu, Sean "
Tiba tiba pintu terbuka dan menampilkan Sean yang menundukan kepalanya.
"Boleh kakak, masuklah aku tak melarang kakak untuk masuk kedalam kamarku "
Ana masuk dan Sean menutup kembali pintunya dan duduk ditempat tidurnya. Sedangkan Ana duduk disamping Sean.
"Waw kamarmu sangat bagus Sean , apakah kau yang mendekornya "
"Benarkah kak, iya aku yang mendekornya sendirian, apakah bagus sekali "
"Tentu bagus sekali, kakak bahkan menyukainya sangat menyukainya, oh ya apa kesukaan mu selain mendekor kamar "
"Kalau kakak tidak menyukai apa apa, kakak entahlah "
"Kenapa seperti itu Sean juga banyak kesukaannya, "
"Heheeh kakak juga tidak tau, kenapa kakak seperti itu, oh ya kamu sudah kelas berapa "
"Aku baru juga kelas 2 sekolah dasar, kak, kakak apakah kakak mau nanti besok mengantarku kesekolah sekali saja kau ingin diantarkan oleh ibuku kesekolah, apakah kakak mau menjadi ibuku "
Ana yang binggung hanya diam saja, apa yang harus dirinya katakan, binggung sekali.
"Kakak apakah kakak tak mau menjadi ibuku, aku tidak nakal kak, aku baik kok "
Ana langsung memeluk Sean "tentu kakak akan menjadi ibu Sean, apakah Sean mau mempunyai ibu seperti kakak, kakak itu bukan perempuan baik baik dan bukan perempuan yang berhak menjadi seorang ibu "
"Kenapa begitu kakak, kakak baik bahkan saat pertama melihat kakak aku sangat senang dan ingin sekali kakak yang menjadi ibuku, kau tau kak dulu ayah selalu membawa perempuan tapi aku tak menyukainya, mereka hanya ingin bersama ayah bukan dengan ku, bahkan aku pernah dikasari oleh salah satu perempuan ayah, karena aku merengek ingin eskrim "
"Lalu apakah ayahmu tau "
"Tentu tidak ayahku tidak tau, kakak jangan sampai bilang sama siapa siapa ya, aku tidak mau ayah marah pada perempuan itu dan nantinya ayah akan memukulnya, "
"Lalu apakah sekarang ayahmu masih dengan perempuan itu, maksudnya masih berhubungan dengan perempuan itu "
"Iya kurasa masih, karena perempuan itu suka datang kemari dan mencari ayah, tapi ayah tak pernah pulang mungkin saja sekarang dia akan datang kemari dan jalan jalan bersama ayah"
"Begitu ya, baiklah kalau dia berbuat jahat lagi padamu, bagaimana kalau kita datangi dia dan membuat dia kapok dan tak jahat lagi padamu "
"Caranya bagaimana kak "
"Nanti akan kakak beritahu kalau dia datang kemari ya, kakak sudah punya rencana "
"Baiklah kak, aku setuju , apakah kakak mau bermain robot robotan dengan ku "
"Tentu ayo mari kita bermain "
__ADS_1
Ana segera lesehan dan duduk dibawah bersama Sean bermain robot robotan dan juga tertawa bersama sama.
Saat sudah lelah bermain Sean duduk dipangkuan Ana, dan Ana dengan senang hati memeluknya dengan erat "apakah kakak lapar "
"Emm aku sedikit lapar, apakah kau lapar "
"Tentu kak aku sangat lapar kita makan yuk kak, aku ingin makan ayam apakah kakak mau makan ayam denganku"
"Tentu kakak mau. Ayo kita makan ayam dan coba kita lihat di dapur ada apa saja yang dapat kita masak "
"Emangnya kakak bisa memasak seperti Bibi "
"Hehe sejak kapan kakak bisa masak, tidak kakak tidak bisa masak, tapi kakak akan belajar untuk bisa membuatkan mu Ayan goreng, ayo kita ke sana kita ke dapur let's go "
Sean dengan senang menggandeng tangan Ana dan berjalan ke bawah menuntun Ana yang ada di belakangnya. Roger melihat anaknya yang sangat akrab dengan Ana hanya bisa tersenyum.
Namun anaknya itu tidak bisa dekat dengan pacarnya sendiri. Ada apa ini padahal baru pertama kali mereka bertemu tapi mereka berdua bisa berteman akrab gitu.
Padahal dengan pacarnya sudah bertahun-tahun tapi tak bisa seperti itu, apakah ada yang salah dengan semua ini, sebelum mereka mencapai dapur Roger menghentikan mereka berdua terlebih dahulu.
"Ada apa ini kenapa kalian berlari-lari"
"Ayah Kakak akan belajar masak untukku. Kakak akan memasak ayam goreng bersama bibi. Apakah ayah akan mencobanya aku sudah tidak sabar ingin melihat kakak memasak dan mencoba masakan kakak itu, kakak tidak bisa memasak tapi Kakak mau belajar untukku "
"Benarkah baiklah ayah akan ikut ayo ayo kita lihat Kakak memasak ""
Di sana sudah ada Bibi yang menunggu Anna dan juga Roger dan Sean yang duduk di kursi meja makan, sambil menatap 2 perempuan itu.
Ana diberi tahu bagaimana carannya membumbuinya dan menggorengnya dengan pelan-pelan, bahkan Ana sampai kecipratan minyak panas, namun dia tak mempermasalahkan itu sama sekali.
"Apakah sudah seperti ini apakah sudah selesai"
"Sudah non sudah selesai, namanya siapa kita belum kenalan Dari tadi loh "
"Oh iya aku lupa nama aku Ana bibi, aku juga sampai lupa loh tadi ngenalin nama sama bibi, kalau bibi namanya siapa , aku sangat antusias aku mau belajar masak karena aku dari dulu gak pernah masak bi, aku tuh sibuk sama kerjaan kerjaan kerjaan "
"Saya bi Jumi non, bagus dong non nanti kalau udah nikah non gak usah repot repot lahi belajar masak ya, karena kan udah belajar sama bibi dan nanti tinggal diasah lagi aja non "
"Iya bener biz tapi aku juga gak tau aku akan nikah kapan. Ya udah yuk kita sajikan makanannya kayaknya mereka udah nunggu dari tadi udah kelaparan bi "
"Bener non ayo kita sajiin makannanya, takut nanti mereka pingsan lagi"
Ana segera berjalan dan menyimpan Ayam gorengnya di hadapan mereka.
"Tada ayam goreng buatan kakak dan bi Jumi udah jadi, ayo ayo kita makan "
"Ahh akhirnya kakak, ayo kita makan kakak, k duduk di sebelah ku ya kak "
Ana mengangkut dan duduk mengambilkan nasi dan juga ayam goreng untuk Sean dan juga dirinya, sedangkan Roger dia mengambilnya sendiri.
"Apakah kakak bisa menyuapiku, aku ingin sekali disuapi meskipun waktu kecil sudah pernah "
"Sean kau makan sendiri jangan merepotkan kakak, ayo makanlah sendiri, biasannya kau tak pernah manja seperti ini, ayo makan makan jangan seperti itu ya "
"Tidak apa apa Roger, ayo Sean kita akan makan satu piring berdua ya, ayo kakak suapi, buka mulut mu ayo ayo "
Sean mengangguk dan menerima satu persatu suapana dari Ana, dan Ana pun sama makan sesekali bercanda dengab Sean anak kecil mengemaskan ini.
Mereka semua sudah selesai makan dan duduk diruang tamu dengan Sean yang selalu menempel pada Ana.
"Sean apakah kau tak rindu dengan ayah "
"Tentu aku rindu, tapi aku ingin bersama kakak, kakak baik dan juga mau bermain denganku, ayah fokus saja ya nonton tv, aku pun sama nonton tv "
"Apakah ayah tergantikan oleh kakak "
"Tidak ayah selalu ada dihati Sean, tapi kakak lebih spesial dari ayah, aku senang bersama kakak, dan besok kakak akan mengantarku sekolah, aku sangat bersemangat ayah untuk sekolah hari esok "
"Benarkah apakah ayah boleh ikut "
"Tentu boleh, tapi aku yakin ayah akan sibuk bersama pacar ayah, jadi ayah tak usah repot repot bila tak ada waktu bersama ku aku sudah ada kakak dan kakak juga setuju akan bersama ku besok "
__ADS_1
Roger yang mendengar kata kata anaknya menjadi sangat bersalah, memang selama ini dia sekalu saja bersama pacarnya.