Berbagi Suami

Berbagi Suami
Menemui mereka berdua


__ADS_3

Inara yang memang sengaja bangun dengan sangat pagi segera keluar kamar, dirinya sudah sangat penasaran apa yang ada diruangan Ana yang di sembunyikan. Karena kalau belum tau, dirinya tak akan tenang.


Malam dia tak benar benar tidur namun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ana, semuanya "kata diakan aku dan dia berbeda aku harus cari apa maksud dia "


Inara dengan perlahan lahan membuka ruangan yang sama sekali tak dikunci dengan perlahan namun pasti Nara membukannya, dan alangkah kagetnya saat melihat didalam ruangan itu peduh dengan sesuatu yang tak dibayangkan oleh Inara.


Dia juga melihat Ana yang sedang fokus melakukan sesuatu yang sangat tak manusiawi. Sangat tak menyangka kakaknya bisa melakukan hal keji seperti ini.


Tidak seperti apa yang dikatakan oleh Ana, dengan tergesa gesa dan hati hati Inara keluar dari ruangan itu berlari kekamarnya dan bergegas menganti pakaiannya.


Tanpa mandi terlebih dahulu, dan menghiraukan yang satu ituz takutnya nanti tiba tiba Ana kemari dan akan susah untuk dirinya pergi dari sini.


"Gak aku gak bisa terima semua ini gak bisa, ini terlalu sadis dan diluar akan fikiran aku" gumam Nara sambil berjalan cepat lewat gerbang belakang yang memang tidak dikunci dan tak ada penjagannya.


Inara terus saja berlari tanpa mengiraukan jalanan saat dirinya akan menyebrang daan tinnn.


"Akhhh " Inara tak bisa menghindar dan hanya berharap kalau dirinya masih hidup dan...


"Nara apa yang kau lakukan kenapa kau berlari seperti ini ada apa denganmu, apa ada yang terjadi"


"Bian, Bian tolong bawa aku, bawa aku sejauh mungkin dari tempat ini tolong, tolomg aku Bian " Inara sudah sangat takut sekali.


"Baik baik kamu tenang ya, sekarang ayo masuk mobil, kita pergi dari sini kita pergi" Bian segera memapah Inara untuk masuk.


Ya tadi Bian yang hampir saja menabrak Inara, dan hampir saja dirinya menghilangkan nyawa pujaan hatinya kalau tidak mungkin sudah mati Inara tertabrak olehnya.


Inara dengan susah payah memakai sabuk pengamannya namun tangannya malah bergetar hebat dan sama sekali tak bisa memasangkan dengan benar sabuk pengamannya.


Bian yang khawatir segera meminggirkan mobilnya, memasang sabuk itu dan memegang tangab Inara yang bergetar.


"Ada apa denganmu, apa yang terjadi Nara, apa?"


Inara tak bisa menjawab apa apa, hanya bisa menangis dan menudukan kepalannya.


"Baiklah aku tak akan bertanya lagi padamu, aku tak akan menanyakan apa apa lagi oke, tenang rileks ya sayang "


Bian kembali melajukan mobilnya dan membiarkan Inara menangis sepuasnya terlebih dahulu.


**


Ana yang sudah selesai dengan kegiatannya segera pergi dan mencuci tangannya yang kotor, melihat jam yang sudah menunjukan jam 8 pagi.


"Kenapa suara Inara tak terdengar, masa iya jam segini belum bangun, akan ku cek sajalah ke kamarnya"Ana bergegas pergi dan membuka pintu kamar Inara.


Namun kosong tak ada adiknya dikamar itu. Lalu beralih kekamar mandi namun sama tak ada. Mencari kesetiaan ruangan namun sama sekali tak ada adiknya, masa iya adiknya diculik sedangkan dirumahnya penjagaan sangat ketat sekali.


"Kemana dia sepagi ini, apa yang dia lakukan"


Ana segera menelfon Inara namun sama sekali tak diangkat "sialan kemana Ara, menghilang begitu saja"


Dengan tergesa gesa Ana keluar dan bertemu dengan tangan kananya. "kau melihat adiku Jack, aku sudah mencari dia didalam rumah namun tak ada, bahkan setiap ruangan aku sudah mrngeceknya namun gak ada"


"Tidak nona, tidak ada non Ara pergi keluar, kami dari tadi menjaga disini namun tak ada orang yang keluar satu pun "


"Serius kamu gak liar Ara keluar, lalu dia kemana gak ada dimana pun, "


"Ya saya serius nona, saya berkata jujur saya tak melihat non Ara keluar dari rumah ini"


"Cari adiku sampai ketemu, kau jangan pulang bila dia tak ada, aku tak mau ada alasan yang kau berikan padaku saat tak memukannya, cari dia keseluruh tempat, ku tunggu kabar baik mu " perintah Ana yang langsung saja pergi meninggalkan Jack sendirian.


Ana yang sudah ada dikamar kembali menghubungi Ara namun tak diangkat kembali malahan sekarang no ponsel Ara tak aktif.


"Sialan ada apa dengan mu Ara, kenapa sampai kau mematikan ponselmu, aapa yang aku lakukan sampai kau pergi meningalkan ku"


Ana yang kesal melempar ponselnya dan mengatur emosinya yang sebentar lagi akan meledak marah pada siapa pun itu orangnya.


"Aku harus mencari kau kemana lagi, kenapa kau pergi begitu saja Ara, apa salahku apa, kenapa aku ditinggalkan lagi, apa aku memang ditakdirkan hanya untuk sendirian di dunia ini, ah sial sial sialan "sambil memukul mukul kepalanya.


Ana yang baru ingat akan menemui seseorang, seseorang yang sudah menyakit adiknya, segera bergesa bersiap dan akan pergi kesana menumui orang itu secara langsung.

__ADS_1


**


"Kita mau kemana sayang, kita sudah berkeling keling dari tadi, tanpa arah dan tujuan"


"Bawa aku ketempat yang jauh, ketempat yang tak bisa di jangkau oleh siapa pun Bian, apakah kau bisa"


"Apakah kau ingin liburan Nara "


"Terserah kau saja, yang terpenting aku ingin pergi dulu "


"Baiklah baik jangan marah marah "


"Maafkan aku "


Bian hanya mengangguk dan membelokan mobilnya kebandara dia juga sudah mengabari orang kepercayaannya untuk menyiapkan pesawat karena dirinya akan segera pergi.


Memang keluarganya mempunyai pesawat pribadi jadi jika ingin kemana mana tak usah susah susah membeli tiket.


"Ayo sayang, mari kita liburan berdua saja"


Bian membuka pintu dan mengadeng tangan Inara untuk segera masuk kebandara dan pesawat juga sudah siap landas, Bian menuntun Inara dengan sangat pelan.


"Duduklah disini Nara " Sambil memasangkan sabuknya.


"Terimakasih Bian, atas bantuannya, tapi apakah aku tak menganggumu, apakah aku merepotkan mu"


"Tidak aku sama sekali tak keberatan atau pun terganggu olehmu, aku akan menuruti kata kata mu, meski aku tak tau kamu kenapa, aku akan selalu ada saat kamu membutuhkan aku"


"Maaf aku belum bisa cerita sama kamu. Aku masih gak percaya dengan apa yang aku lihat, sungguh aku aku "


"Sudah jika kau tak sanggup jangan memaksakan, aku tak akan memaksamu untuk bercerita sekarang, tapi aku minta kamu jangan seperti ini, aku khawatir, aku takut terjadi sesuatu denganmu "


"Aku gak apa apa kok Bian, aku baik baik saja" Inara segera menolehkan kepalanya kearah jendela melihat awan sedekat ini membuat hatinya terasa sedit tenang.


**


"Ada yang ingin bertemu denganmu Adam ayo cepat keluar dan temui dia"


"Entahlah ikut dulu saja denganku jangan banyak bertanya"


Adam dengan patuh ikut keluar dan saat dirinya melihat siapa yang menengoknya dengan senang Adam akan memeluknya namun didorong oleh Ana.


"Inara kenapa kau sangat kasar padaku, ada apa ini, aku kan rindu denganmu"


Ana segera duduk disusul oleh Adam yang duduk berhadapan dengan Ana.


"Apa kah kau benar benar tak mengenali mantan istrimu sendiri, rindu lalu kenapa saat di persidangan kau menembaknya"


"Ya aku kenal, kamu Inara kamu istriku, maaf aku marah dengan semua keputusan mu"


Namun Adam kembali menatap sorot mata yang menurut dirinya adalah istrinya, mata itu tidak seperti Inara yang teduh dan tenang, mata ini sangat berbeda, tajam dan penuh dengan misteri serta kebencian yang sangat dalam


"Siapa kau, kenapa kau menyerupai istriku" tanya Adam dengan sedikit memundurkan duduknya.


"Hahaha kau baru sadar aku bukan Inara, kita pernah bertemu dipengadilan aku adalah pengacara Inara, bagaimana apakah aku cocok menjadi Inara, sama kan kami berdua tak ada bedanya sedikit pun, lalu penampilanki apa sudah sama dengan Inara"


Lalu Adam mengigat ngigat kembali, ya dia baru ingat ini adalah wanita yang serupa dengan Inara. Yang menyelamatkan Inara saat dirinya menembaknya


"Apa mau mu, kenapa kau ingin menjadi istriku "


"Dia bukan istrimu lagi, dia adalah mantan istrimu jadi kau jangan mengaku ngaku, perkenalkan aku adalah kakaknya Inara, apakah kau kaget mengetahui kalau Inara memeliki seorang kakak yang parasnya sama dengan dia bahkan akan sulit dibedakan kalau kau tidak mengenal baik dengan kami"


"Gak mungkin Nara itu yatim piatu, dia udah gak punya siapa siapa lagi, selain aku suaminya"


"Hemm seperti itu, tapi kenyataannya aku ada disini dan aku adalah kakak kandungnya, mungkin mulai sekarang kau tak akan setenang ini dalam penjara. Karena kau sangat keterlaluan pada adiku Ara aku akan membalas kesakitan itu dengan kesakitan lagi yang lebih dari yang kau lakukan pada adiku "


"Dasar gila kau, jangan mengaku ngaku, aku yakin Inara tak punya siapa siapa lagi"


Ana segera bangkit dan mencekik leher Adam, Adam yang dicekik sama sekali tak bisa melepaskan tangan itu dari lehernya, kekuatan wanita ini melebih laki laki.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik baik, mulai sekarang hidupmu, hidup ibu mu bahkan keluarga mu, tak akan tenang selagi aku masih hidup aku akan meneror kalian semua dan aku tak akan membiarkan hidup kalian tenang didunia ini "


Ana segera melepaskannya dan pergi meninggalkan Adam yang terbatuk batuk karena nafasnya hampir habis.


"Siapa dia, kenapa Inara menjadi ada dua " guman Adam dengan Nafas yang terengah engah.


Sekarang Ana pergi pada sel satu lagi, sel khusus perempuam ada satu orang lagi yang dirinya belum temui.


Ana segera duduk dan melihat tawanannya juga duduk dengan wajah yang sangat marah padanya.


"Hallo nenek tua, apa kabar denganmu, apa kau senang bertemu denganku, "


"Inara kau keterlaluan sekali pada ibu, ibu ini sudah tua, kamu kenapa mempenjarakan ibu seperti ini, kamu jahat gak punya hati "


"Gak punya hati ya, lalu dulu saat kamu melakukan sebuah penghinaan caci maki dan kekerasan pada adiku, apakah kau berfikir itu adalah perlakuan jahat sangat jahat. Lalu sekang kenapa adiku harus memberi pengampunan padamu, pada orang jahat sepertimu, apakah kau masih patut untuk di maafkan atas semua kelakuan yang tidak mencerminkan seperti seorang ibu "


"Maksud mu apa Nara, adik ? Kau kan yang menikah dengan anaku sejak kapan kau mempunyai adik "


"Sepertinya kau memang sama dengan anakmu yang tak mengenal mantan menantumu dengan baik, oh ya aku lupa mana bisa mengenal kalau saja tak mau mengenal adiku, mungkin aku akan tega sekali ya bila menghabisi mu nenek tua. Tapi untungnya aku tak akan punya belas kasih pada orang sepertimu, aku dan Inara berbeda "


"Apa maksud mu Nara, ini permainan apa yang akan kau mainkan. Aku mengenalmu dan aku yakin kalau kau adalah Inara "


"Begitu ya, biar ku perkenalkan dulu diriku ini, aku Iriana kakaknya dari Inara, mantan menantumu yang kau sia siakan dan kau perlakukan seperti pelayanmu "


Ibu Adam hanya bisa mengelengkan kepalanya saja tak percaya kalau Inara mempunyai soudara kandung dan paras mereka begitu sama tak ada sedikit pun perbedaan dari mereka berdua.


Ana segera mengeluarkan sesuatu, makanan yang langsung diserahkan pada ibunya Adam.


"Aku membawakan mu sesuatu, pasti kau akan suka makan lah, aku sedang berbaik hati pada seorang penjahat sepertimu, sekarang lawanku adalah seorang nenek tua, jadi untuk permulaan aku memberikan makan untuk mu untuk kau makan dan habiskan, sampai berjumpa lagi jika kau masih hidup "


Setelah Ana pergi, ibunya Adam segera dibawa masuk lagi, membawa makanan itu dan dimasukan lagi kedalam selnya..


"Heh nenek tua, lo bawa apa sini bagi dong " ucap seorang tahanan yang memang menjadi bosnya disini.


Tanpa mendengar ucapan dari ibunya Adam, orang itu mengambilnya dan memakannya dengan lahap, malahan sampai habis tak tersisa sedikit pun.


Sedangkan ibu Adam hanya bisa diam dipojokan seperti yang sering dirinya lakukan, karena tahanan disini banyak yang tak menyukainnya dan banyak yang kasar padanya.


Saat makanan itu hampir habis, orang itu tiba tiba mengeluarkan busa dari dalam mulutnya serta darah yang sangat banyak.


Ajudannya segera memangil polisi dan satu lagi ajudannya segera menghampiri ibunya Adam.


"Heh apa yang kau lakukan nenek tua, apakah kau ingin meracun temanku "


"Tidak aku tidak tau, aku ini hanya diberi oleh seseorang, jadi aku tak tau apa apa tolong lepaskan saya "


"Kurang ajar kau " orang itu langsung menampar pipi ibunya Adam sampai tersungkur kebawah berbarengan dengan datangnya polisi.


"Ada apa ini " teriak pak polisi


"Itu gara gara nenek tua ini pak dia ingin meracun kami "


"Tidak saya hanya diberi saja saya tak tau apa apa " .


"Segera bawa dia kerumah sakit " perintah bapak polisi itu.


Ibunya Adan kembali duduk dipojokan sambil menangis, kenapa hidupnya menjadi berantakan seperti ini..


**


Ana yang akan pulang ditelfon oleh Jack anak buahnya dengan cepat dia mengangkatnya.


"Bagaimana apa ketemu Inara, dimana dia "


"Maaf nona saya sudah nencari kemana mana nona Ara, namun tak ketemu, bahkan saya sudah melacak nomor ponselnya namun tak ketemu juga nona"


"Saya tidak mau tau, kau harus menemukan dia kerahkan semua anak buahku dan cari adiku sampai ketemu "


Ana mematikan sambungannya sepihak naik kedalam mobil dan pergi dari tempat ini, tempat dimana kedua orang jahat itu dipenjara..

__ADS_1


"Sebenarnya kau pergi kemana Ara, apa yang kau lakukan dengan pergi tanpa pamit kepadaku "


__ADS_2