
Sekarang Bian dan Juga Nara sedang duduk disebuah taman yang rindang dan juga indah. "apakah kau masih tertarik mendengarkan ceritaku tentang musium Louvre "
"Boleh, kamu kenapa begitu semangat menceritakan musium ini, apakah ada yang membuatmu mengigat sesuatu disini"
"Ya karena aku memang suka sejarah dan aku sudah mempelajari semuanya, makannya aku tau dan ingin berbagi ilmu juga dengan mu "
"Baiklah aku mau mendengarkannya, boleh kau ceritakan awalnya bagaimana bisa terbangun istana sebagus ini "
"Baiklah akan aku ceritakan tapi kalau salah jangan marah yaz karena aku suka lupa beberapa poin "
Inara segera menganggukan kepalannya dan membalikan badannya untuk berhadapan dengan Bian sambil menopang dagunya.
"Baiklah Musium Louvre awalnya dibangun sebagai istana atas perintah Francois I, salah seorang raja Prancis yang menjabat pada masa Renaissance. Pembangunan museum ini mulai dikerjakan pada pertengahan tahun 1500-an sayang, apakah kau sudah lahir "
"Ya tentu saja belum, kamu tuh suka aneh aneh aja deh Bi, kalau aku lahir pada masa itu mungkin sekarang aku tak akan ada disini, tak ada bersama mu dan aku sudah mati, bungkin saja aku sudah tinggal tengkorak saja didalam tanah"
"Hehehe iya iya maaf becanda, kita lanjut ya Francois I bahkan meruntuhkan benteng pada abad ke-12 di sisi kanan untuk memberikan akses menuju Musium Louvre. Sayangnya, ketika Francois I menjabat, pembangunan ini baru selesai setengahnya saja. Pembangunan kembali dilanjutkan oleh raja-raja Prancis setelahnya. Makanya sayang saat kita masuk bisa melihat beberapa gaya arsitektur yang berbedakan gak sama semuanya,"
"Iya benar juga Bi, sangat bagus dan langka. Apakah disana ada lukisan paling besar Bi, soalnya dari tadi aku tak melihatnya "
"Ada sayang, yang terbesar ada diruangan lukisan Mona Lisa, apakah kau tak melihatnya, mereka satu ruangan loh"
"Tidak, masa sih kok aku gak lihat "
"Kamunya aja yang terlalu fokus natap lukisan Mona Lisa, jadi melupakan semuanya "
"Hehe iya iya, soalnya aku suka banget, aku suka dengan senyumnya Mona Lisa yang menawan "
"Tapi lebih menawan kamu kok "
"Kamu tuh ngombal terus tau, "
"Engga kok sayang aku berkata jujur, apakah aku boleh bertanya "
"Bertanya apa Bi, apa yang ingin kau tanyakan padaku"
"Kenapa kau menangis berlarian di jalanan dan mengajak aku untuk membawa mu pergi jauh, ada masalah apa sebenarnya, apa masalah besar sayang"
"Tidak, tidak ada masalah apa apa, aku hanya belum bisa menerima tentang keadaan yang aku lihat, keadaan yang membuatku takut untuk pulang kerumah"
"Memangnya apa boleh aku tau , jika kau mengizinkan itu pun "
"Tapi tidak disini mari pulang "
"Baiklah, ayo kita pulang"
Nara segera bangkit di ikuti oleh Bian yang melihat perubahan aneh dari Nara, yang tadinya ceria sekarang malah jadi murung dan tak bersemangat lagi.
Karena Bian yang fokus menatap Nara dan Nara yang fokus melamun, membuat Nara menabrak pohon dan terjatuhh.
"Akhhh Bi sakit sekali keningku" rengek Nara sambil mengusap ngusap keningnya.
"Kamu ini sayang suka ada ada saja, kenapa coba bisa nabrak pohon gini, apa tak terlihat pohon sebesar ini oleh mu" sambil membantu Inara bangkit
"Gak apa apa aku, lagi banyak fikiran aja "
"Tadi kamu gak apa apa sayang, sekarang kenapa jadi banyak fikiran, tadi kamu seneng seneng aja kok"
"Udah ayo pulang aja Bi "
Akhirnya Bian menurut dan sekarang dirinya menuntun Inara takut nanti kejedor lagi, bisa bocor pala kesayangannya ini.
**
Sedangkan dipenjara Adam sedang mengambil makanan dengan kaki yang digusur karena sakit akibat perlakuan sandi padanya. Sungguh sangat perjuangan dirinya bisa sampai sini dan makan.
Setelah mendapatakan makanannya Adam segera duduk dan menyendiri, didalam sini tak ada yang mau menemani Adam atau pun sekedar ngobrol pun tak ada.
Karena awal masuk kedalam sel, Adam sangat angkuh dan tak mau diajak bicara sama sekali dan selalu merendahkan tahanan yang lain. Makannya tak ada yang mau menemani Adam atau pun sekedar menyapanya.
__ADS_1
Sandi yang melihat targetnya duduk sendirian segera pergi kearah sana dan duduk dipinggir Adam. Menatap Adam dengan wajah tengilnya dan seringai liciknya.
"Apakah enak makananya Adam, sampai kau lahap makannya, aku tak menyangka orang kaya sepertimu ini bisa melahap makanan ini"
Adam hanya menatapanya sekilas lalu menunduk kembali dan memakannya, orang orang yang ada diruangan ini hanya diam sambil menahan nafas, karena mereka tau keberutalan sandi yang luar biasa.
Sandi segera meng kode, ke anak buahnya Jaja dan juga Jamal untuk kemari menghampirinya.
Dengan menurut segera mereka berdua mendekati bosnya dan memberikan sebuah botol minuman. Yang berisi air kotor dan bau.
Dan tanpa di duga duga Sandi memasukan air itu kedalam mangkuk makanan Adam.
Adam yang kesal segera mengalihkan pandangannya dan menatap Sandi dengan penuh kebencian.
"Kenapa kau menatapku ayo makan lagi, bukannya kau sangat menyukainya. Oh apa karena ada airnya kau tak mau memakannya, aku sengaja memberikan makananmu air minum, agar memudahkan mu saat keselek nantinya "
Namun Adam langsung saja pergi meninggalkan bangkunya, Sandi yang kesal melempar mangkok itu kearah kepala Adam sampai pecah, Adam berhenti senjenak memegang kepalanya dan berjalan kembali tanpa menoleh kearah sandi sendikit pun.
Adam pergi kekamar mandi, menatap wajahnya dan "ini gara gara Inara, seharusnya dia tak memasukanku kedalam sel seperti ini, kenapa dia sangat jahat padaku, ditambah dengan yang mengaku ngaku sebagai kakaknya, pasti Sandi adalah suruhan kakaknya itu, sialan sialan mereka berdua adalah pembawa sial untuk ku"
"Lihat saja Nara, aku tak akan tinggal diam saat aku keluar dari sel, aku akan membalaskan dendamku, apalagi kau juga sudah mempenjarakan ibuku, ibuku tak punya salah apa apa, tapi kau dengan teganya juga mempenjarakan dia, dasar wanita tak berguna"
Adam yang kesal menojok kaca dan tanganya langsung mengeluarkan darah segar.
"Shitt sakit sekali " teriak Adam
Dengan perlahan Adam membasuh tangannya dan mencabuti satu persatu kaca yang menempel pada tangannya.
"Hidupku hancur gara gara kau Nara, kau harus membayar semuanya, aku kehilangan karirku, pekerjaanku dan harga diriku disini di injak injak, seharusnya aku di hormati bukannya diperlakukan seperti ini. "
Adam yang sudah puas mengeluarkan keluh kesahnya saat keluar dari kamar mandi dia tersandung dan saat mendongak dia melihat Sandi yang sedang tersenyum menatapnya.
Kesabarannya sudah habis, Adam segera bangkit dan mendorong Sandi kearah tembok.
"Kau sudah keterlaluan Sandi, jangan ganggu hidupku, apakah kau tuli, aku sudah bilangkan waktu di sel jangan ganggu aku, aku disini ingin tenang "
"Jika kau ingin tenang tempatnya bukan disini bajingan, kau salah tempat, jika ingin tenang kau pergi ke masjid saja, kenapa ada didalam penjara "
Sandi segera mendorong Adam dan menonjok pipinya "sayangnya kau bertemu denganku kan "sekali lagi Sandi memukul Adam pas didagunya sampai sampai Adam terjatuh.
Saat kesempatan itu datang Sandi menendang perut Adam "rasakan ini, rasakan dasar bajingan kau, kau tak pantas hidup, kau adalah seorang pecundang " setelah puas mengeluarkan amarahnya Sandi pergi membiarkan Adam yang sedang kesakitan sambil memegang perutnya..
"Ibu Adam sudag tak kuat bu, Adam menyerah hidup disini " tiba tiba saja air matanya mengalir dengan deras dan mengigat ibunya yang biasanya selalu ada namun sekarang tak ada, sosok ibunya tak ada dihadapannya.
**
"Ayah apakah ayah tak bisa mengeluarkan ibu dari sini " pinta ibu Adam yang sedang dikunjungi oleh suaminya.
"Ayah akan berusaha untuk mengeluarkan ibu, ayah akan mencari uang untuk ibu, ibu tenang ya pasti ayah akan mengeluarkan ibu dari sini "
"Janji ya yah, ibu sudah tak sanggup kalau harus hidup disini, ibu lelah di caci maki dan dikasari oleh orang satu sel ibu "
"Ibu pokoknya yang tenang, ayah sedang menjual aset aset kita dan juga meminjam dulu pada teman ayah "
"Jadi nanti kita tak punya uang lagi ayah "
"Ya begitulah, aku hanya memikirkan mu, bagaimana caranya menebus kamu dulu, uang bisa di cari bu "
Ibu Adam hanya menundukan kepalannya saja, dirinya belum siap kalau harus hidup sengsara seperti ini, hidup tanpa uang yang banyak serta harta yang bergelimang, sungguh tak akan sanggup juga dirinya.
"Ibu kenapa, kenapa melamun apa tak setuju "
"Ibu tak mau hidup miskin yah, tak mau, ibu gak siap"
"Jadi kamu lebih baik di penjara saja dari pada merelakan harta kita dijual "
"Aku ingin keluar yah, tapi aku juga tak ingin kehilangan hartaku, hartaku sangat berharga, kita mencari uang itu dengan susah payah dan sekarang akan lenyap dengan mudah ".
"Yasudah kalau ibu tak rela harta kita hilang aku akan membiarkan ibu sampai masa dimana ibu bebas "
__ADS_1
"Jangan yah, ibu tak mau disini "
"Jadi apa mau mu sebenarnya apa bu, aku pusing kau maunya apa "
Dengan mantap ibunya mengangguk "baik yah ibu ingin ibu segera keluar, jadi ayah jual saja properti kita itu "
"Baiklah, bagus keputusan ibu sangat bagus sekali, harta bisa di cari bu, jadi ibu disini yang tenang ya, tunggu ayah sebentar lagi "
Dirinya tak sama sekali menjawab perkataan suaminya pergi berlalu begitu saja, fikirannya sedang kacau, dirinya sudah memikirkan nanti akan tingga dimana, apakah rumah mewahnya juga akan terjual begitu saja.
Dengan pasrah masuk kembali kedalam sel dan duduk dipojokan dengan wajah yang lesu serta tak ada tenaga lagi untuk melakukan apa apa namun.
"Heeh nenek tua kemarilah, bantu aku menyisir rambutku "
Dengan patuh ibunya Adam pergi kearah sana, menatap perempuan itu dan langsung saja menyisir rambutnya dengan hati hati, tak mau sampai terkena tamparan lagi atau pun pukulan.
**
Inara dan Juga Bian sekarang sudah ada didalam apartemennya Bian, Inara tanpa banyak kata berjalan kearah kamarnya dan Bian yang khawatir mengikutinya.
Saat sudah ada didalam kamar Inara membuka tas dan sepatunya berjalan kekamar mandi dan menyalakan kran air untuk memenuhi beathub.
Bian yang binggung hanya diam berjongkok menatap Inara yang duduk didalam beathub. "Jadi apakah kau ingin mendengar ceritanya. "
"Ya tapi kenapa disini Nara, ini bukan tempat yang bagus untuk bercerita "
"Ya aku tau, tapi aku lebih nyaman jika menceritakannya didalam air seperti ini "
"Baiklah aku akan duduk disini mendengarkan ceritamu sayang "
"Baiklah Bian akan aku ceritakan semuanya. Aku melihat Ana yang sedang membunuh orang dan dia memotong motong tubuh itu tanpa belas kasih sedikit pun "
"Apa Ana s nenek sihir melakukan itu "
"Iya aku dari awal memang sudah merasakan ada yang aneh dengan prilaku Ana, dia seperti menyembunyikan sesuatu padaku, dan selalu ada ruangan yang selalu dirinya kunci, bahkan aku sama sekali tak di perbolehkan untuk masuk, aku sudah beberapa kali ingin masuk namun tak berhasil diketahui oleh Ana dan juga Bibi, namun pada waktu itu aku berhasil masuk"
"Dan pada saat aku berlari kejalanan itu, aku takut dengan Ana, aku syok melihat adegan menjijikan itu, bagaimana tidak dia juga memakannya, dan menjilat darahnya Bi, aku takut bila nanti dia akan melakukan hal yang sama padaku "
Bian yang mendengarnya hanya bisa melonggo, jadi Ana adalah seorang pembunuh dan kanibal, apakah benar seperti itu, seorang perempuan cantik bisa melakukan hal sekeji itu apa alasannya.
"Tapi aku yakin ada alasannya dia melakukan itu, aku yakin ada sebabnya Ana bisa melakukan itu semua "
"Ya aku juga berfikir seperti itu, tapi aku tak bisa untuk bertanya langsung padanya rasanya aku gak bisa Bi, aku takut dia emosi dan melukai ku "
"Tapi lebih baik kau jangan seperti ini Nara, temui dia, dan berbicara dengan dia baik baik, kau tanya kenapa Ana seperti itu, jangan menghilang seperti ini, kasihan Ana, dia pasti mencarimu, dia sangat menyayangimu, mana mungkin bisa melukai mu"
Nara yang binggung menengelamkan seluruh badannya kedalam beathub dan Bian yang kaget segera bangkit dan mengangkat Inara dari dalam beathub.
"Apa yang kau lakukan Nara "
"Aku hanya ingin menenagkan fikiranku dan ini adalah satu cara yang bagus untuk ku merenungi semuanya didalam air, aku biasanya akan tenang kalau seperti itu "
"Tapi itu membahayakan sekali Sayang, kau hampir saja membuat jantungku copot, kau harus berjanji padaku jangan lakukan hal itu lagi, aku tak suka "
"Hemm aku tak janji "
"Yasudah aku akan menciumu, "
"Tidak jangan, aku akan menurutimu, cepat turunkan aku Bi. Aku akan mandi kau segeralah keluar "
"Tidak aku tak mau, aku akan menunggumi disini "
"Tidak jangan, aku sendiri saja aku berjanji tak akan melakukan apa apa kok, kau tunggu saja di tempat tidurku jangan disini "
Dengan patuh Bian menurunkan Inaran dan menutup pintunya, namun saat Inara akan membuka pakaiannya, kepala Bian menyembul kembali.
"Bii "
Sekali lagi Bian menutup pintunya dengan was was Nara menengok terlebih dahulu kearah pintu dan tak ada Bian kembali yang mengintipnya.
__ADS_1
Entah kenapa dirinya lebih bisa rileks, jika meceritakan masalah itu ada airnya, seperti enak saja, makannya tadi dirinya langsung kesini, aku tak punya maksud apa apa kok cuman ingin seperti ini saja jadi kalian jangan mengomentariku ya.