Berbagi Suami

Berbagi Suami
Masih saja


__ADS_3

Sekarang sudah normal kembali, bekerja seperti biasanya lagi, bahkan Inara sekarang sedang berkutat mengerjakan tugas tugasnya.


Namun tiba tiba ponselnya berdering dengan cepat Inara mengangkatnya meskipun dirinya itu siapa nomor asing tapi takutnya itu adalah Ana, Inara segera mengangkatnya.


"Hallo " ucap Inara.


"Hallo hei Nara, apa kah kau tak ingat dengan mertuamu ini, gara gara mu kami hidup miskin, aku waktu itu tak bertemu denganmu, malah bertemu dengan kakakmu yang kasar, apakah kau tak punya hati membiarkan kami hidup seperti ini. Saya ingin meminta uang yang telah diberikan Adam padamu "


"Maksud ibu apaan, uang Adam yang mana "


"Uang yang selalu dulu Adam berikan padamu, kalau tidak uang mu deh ibu minta apakah kau tak ada belas kasih pun pada kami, kami miskin gara gara kamu, kamu sekarang kan sudah menjadi orang terpandang dan oh ya, apakah kamu tak ingat dengan suami mu yang di penjara hah "


"Bu mohon maaf ya bu, itu adalah hak ku saat menjadi istrinya Adam, ibu tak berhak memintanya lagi, untuk apa aku menengok Adam dia bukan lagi suamiku, kamu sudah bercerai dan saya sudah tak ada urusan lagi dengan keluarga ibu, jadi mohon jangan ganggu saya lagi "


"Dasar kau sombong, untung saja anak ku sudah menceraikan mu, dasar kau pelit "


"Iya terserah ibu saja, yang terpenting saya sudah tak ada urusan lagi dengan ibu maupun anak ibu yang sekarang sedang menjalani hukumannya "


Inara segera mematikan ponselnya dan sedikit membantingnya, sungguh dipagi hari sudah di pusingkan dengan ibunya Adam "dia tau nomor ku dari siapa ya, sudahlah aku harus memberikan dahulu berkas ini pada pak Abi "


Inara segera bangkit dan mengesampingkan tentang mantan mertuanya yang marah marah padannya dan meminta uang pula.


Tok tok tok "permisi pak "


"Masuk " ucap suara didalam,

__ADS_1


Namun saat Inara masuk ada tamu, namun tiba tiba saja Abian menarik Inara dan mencium pipinya. Inara yang malu segera membalikan badannya, dan tak sengaja melihat ada ayahnya Livia, jadi tamu itu ayahnya Livia.


Dengan cepat Inara membalikan kembali badannya dan menatap ayahnya Livia.


"Ayo sayang duduk disini, ada yang ingin bapak Alfin bicarakan denganku, dan kau harus tau sayangku " ucap Bian sambil duduk masih dengan memeluk pinggang Inara.


"Baiklah jika itu ingin mu Abi, tapi saya tak akan menanggung bila calon istrimu nanti sakit hati "


"Sakit hati kenapa pak " tanya Bian.


"Begini Abi, saya ingin meminang kamu untuk menjadi suami anak saja Livia "


Tiba tiba saja Inara memelototkan kedua bola matanya, dan menatap Abian dengan tidak percaya. Inara segera menjawabnya tanpa persetuan Bian terlebih dahulu


"Mohon maaf bila saya yang menjawabnya, saya sudah bilangkan pada bapak, kalau saya tak berniat menjual calon suami saya dan memberikannya pada anak kesayang serta manja bapak, saya sampai kapan pun tak akan menerimanya"


"Sama saja, mau dari calon suami saya, atau pun dari saya jawabannya akan seperti itu, coba sayang kau jelaskan " ucap Inara dengan manja.


"Mohon maaf saya menolak pinangan itu, saya sudah punya calon istri pak, jadi tolong bapak hargai keputusan saya dan juga calon istri saya. Saya sangat kecewa dengan bapak, saya kira bapak akan bijak, namun tidak itu salah bapak akan membeli saya dari calon istri saya, saya bukan barang pak yang bisa di perjual belikan, saya marah pada bapak namun saya masih bisa menahannya karena saya tau bapak lebih tua dari saya dan saya tak akan mungkin bila membentak bapak dan memarahi bapak dengan kasar "


"Tapi Abi apakah kau tak kasian dengan anak om "


"Lalu apakah bapak tak kasian dengan calon istri saya, saya sama sekali tak mencintai Livia, saya dan dia hanya berteman dan saya tak mau mempunyai hubungan lebih selain teman bersama Livia, bapak sudah mendengarkan jawaban dari saya, jadi tolong bapak pergi dari sini "


"Tapi "

__ADS_1


"Apakah mau pergi sendiri atau saya panggilkan satpan pak "


Ayah Livia segera pergi dengan rasa marah yang memuncak, saat ayah Livia sudah pergi Bian segera mengesek ngesekan wajahnya kearah tangan Inara.


"Jadi malu nih, dibela lagi sama kamu yang katanya gak suka sama saya "


"Apaan sih tuan, saya hanya melakoni saja sebagai calon istri bohongan tuan. Ini ada berkas yang perlu tuan cek, saya permisi dulu "


Inara segera pergi terbirit birit meninggalkan ruangan Bian sungguh malu, Inara menyenderkan badannya di pintu ruangannya "kenapa aku seperti tak rela saat Bian dilamar, aku seperti calon istri benerannya saja " Inara segera memegang dadanya, berdetak dengan sangat kencang.


***


Ayah Livia sudah ada diruangan anaknya "bagaimana ayah, bisakan Abi pasti mau "


Ayah Livia segera mengelengkan kepalanya "dia tidak mau, Inara ada disana dan membuat semuanya gagal nak, sudahlah kamu jangan terlalu ngebet dengen Abi, ayah sudah lelah selalu mengabulkan apa yang kamu mau, ayah sudah mempermalukan diri ayah sendiri dengan meminta minta calon suami orang seperti itu "


"Kata ayah apapun yang akan aku mau akan dikabulkan, lalu mana, ini saja ayah tak bisa mengabulaknnya, mengabulkan Abi menjadi suami Livia, mana engga kan "


"Livia dia sudah mempunyai calon istri, kau harusnya mengerti, unung saja kan perempuan itu tak menuntut mu atas tindakan mu itu, kamu seharusnya merelakannya saja, ayah tak bisa mengabulkan yang satu itu, carilah laki laki lain yang mau dengan mu, jangan terus terus mengejar Abi Liv "


"Gak bisa Ayah, aku maunya sama Abi ya harus sama Abi gak yang lain, aku pokoknya gak mau sama siapa pun selain sama Abi, titik aku gak mau yang lain, apapun carannya aku harus dapetin Abi dan ayah harus selalu bantu aku "


"Ayah sudah lelah dan ayah malu, aya seperti tak mempunyai muka di hadapan Abian dan juga Inara, meminta minta, ayah tak mau Liv sudahi semau ini sudahi, jangan kau malah menjadi jadi saja "


"Yaudah kalau ayah gak mau Livia, biar Livia aja yang berjuang buat dapetin Abi, aku gak akan minta bantuan ayah lagi, ayah gak bisa bahagian aku, kalau aja ibu masih ada pasti ibu akan bantu Livia sampai dapet, ayah pokoknya gak sayang denga Livia "

__ADS_1


"Ayah capez terserah kamu Liv, terserah " ayah Livia pergi meninggalkan Livia.


Livia yang kesal menjedot jedotkan kepalanya dan mengacak ngacak rambutnya "akhhh kenapa kenapa seperti ini "


__ADS_2