
Pemakaman sudah selesai mereka teman-teman Cio berkumpul kembali di rumah Cio dan Ana sekarang bersama dengan Nana ada di sebuah ruangan, karena Ana ingin menanyakan sesuatu pada Nana.
"Ada apa Nona membawa saya kemari, apakah ada hal rahasia yang harus kita bucarakan dan hanya kita berdua saja yang boleh tau "
"Ada hubungan apa kau bersama Cio, aku sudah bilang kan jangan sampai kau tergoda, laki-laki itu bukan laki kaki baik Nana, dia itu laki-laki buaya aku tidak mau sampai kau tergoda oleh dia, aku merekomendasikan mu untuk bekerja di sana, hanya untuk bekerja bukan untuk pacaran dengan Cio, apa lagi sampai kau mencintainya lebih baik kau enyahkan semua itu, jangan membuat aku kecewa padamu "
"Non aku tidak sama sekali berpacaran dengan pak Cio. Entah kenapa dia meminta ku untuk aku berpura-pura menjadi pacarnya, karena waktu itu mau bertemu dengan Roger dan juga puja , katanya dia dituduh berselingkuh dengan Puja maksudnya bukan dituduh laki-lakinya Roger seperti menuduh kalau Cio dan Puja mempunyai hubungan, makanya dia menyuruhku untuk menjadi pacar bohong-bohongannya begitu Nona .Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan Pak Cio "
Nana tak membicarkan semua yang dia tau, karena dirinya tak mau sampai dipecat oleh Cio, lumayan kan gajihnya sudah besar dirinya kan baru beberapa bulan kerja disana namun gajihnya sudah besar lumayan sekali kan.
"Baiklah tapi ingat jangan sampai kau tergoda dan malah mau nanti menjadi pacarnya beneran, aku tidak mau kau hancur olehnya, dia bukan laki-laki baik dia tidak akan pernah cukup dengan satu wanita, jadi kau ingat kata-kataku jangan pernah tergoda oleh Cio, kau cari saja laki-laki lain selain dia, banyak kan ada Jack , dan ada yang lainnya juga tak usah bersama Cio "
"Kenapa jadi Jack nona, aku tidak mau, aku tidak mungkin bersamanya dia itu laki-laki dingin yang tidak punya perasaan sama sekali, yang bisa aku kedinginan bila mempunyai hubungan bersama Jack, seumur hidup aku tak akan bahagia dengan Jack nona lebih baik aku mencari laki laki lain saja dari pada harus bersama Jack "
"Kata siapa kamu belum mengenalnya, jadi kamu tidak tahu sebenarnya tentang Jack dan kepribadian Jack sebenarnya, jika kalian sudah dekat pasti kau akan nyaman dengannya, sudah kita bergabung lagi di sana jangan buat mereka curiga dengan kita yang tak ada di antara mereka, ayo cepat cepat"
"Baiklah nona, ayo mari kita kesana, jangan membicarakan Jack nanti telinganya merasa panas karena dari tadi kita membicarakannya. "
Mereka segera bergabung lagi dan menemani Cio yang masih merasa sedih atas kehilangan sang ayah. Anna yang tahu ini hanyalah drama dia tidak terlalu memikirkan itu, hanya minum makan ngobrol dengan yang lain dan tak sama sekali memberi semangat pada Cio.
Karena dirinya tahu ini hanyalah sebuah kebohongan yang dibuat oleh Cio, dasar Cio anak durhaka, menuyuruh dirinya untuk membunuh ayahnya sendiri, padahal dia juga buaya sama seperti ayahnya tak ada bedannya lalu kenapa dia membenci ayahnya, mereka kan sama sama buaya, harusnya berteman dengan baik.
Inara sang adik lamgsung menghampiri Ana dan meminum minuman yang ada dimeja itu.
"Ana kenapa kau tidak bergabung dengan yang lain bukannya Cio teman dekatmu. Lalu kenapa kau tak memberi sedikitpun semangat untuknya dia kan sedang bersedih, ayolah bergabung kesana jangan diam saja disini"
"Alah besok juga akan baik-baik aj, udahlah udah banyak juga kan yang kasih semangat sama dia. Jadi ya udah ngapain aku kasih semangat juga sama dia, sama-sama aja kan kata-katanya kayak gitu Lebih baik makan udah kamu duduk makan aja di sini perasana dari tadi berdiri mulu apa gak pegel"
"Ak kok jadi malah curiga ya Ana "
"Curiga kenapa emangnya kamu curiga sama siapa, tiba tiba kamu curiga emangnya ada sesuatu yang kamu lihat disini "
"Aku curiga sama kamu Ana, apakah aku boleh curiga padamu "
"Curiga sama aku karena apa, karena aku diam disini memisahkan diri kau menjadi curiga karena itu apakah kau yakin karena itu saja, apakah ada yang berbicara sesuatu padamu sampai aku mencurigai kakak mu sendiri"
"Aku merasa kamu dan Cio melakukan sesuatu, bukannya aku mau menuduh mu, aku hanya merasa saja, kau inu malah menjelaskan panjang lebar seperti itu"
"Aku tidak melakukan apa apa Ara, aku mana mungkin tega, aku tak melakukannya, kau bisa tanya pada orang rumah aku ada dimana "
__ADS_1
"Tapi kenapa ayah Cio tiba-tiba saja bunuh diri. Memangnya ada masalah apa sampai harus melakukan itu, kurasa dia tak mempunyai masalah yang serius, apa lagi hidupnya sangat bahagia dengan dikelilingi perempuan dan juga uang yang banyak, serta anak yang tampan seperti Cio, apa pemicunya coba"
"Aku pun tidak tahu apa alasan ayah Cio gantung diri, kau tahu sendiri kan aku tadi siang ada di rumah. Mana mungkin aku terlibat dalam semua ini kalau memang Ayah cio dibunuh oleh ku, aku sudah dekat dengan ayah Cio mana mungkin aku melakukan itu, aku sungguh tega menuduhku, menuduh aku adalah membunuhnya, apakah kau sudah tak percaya lagu denganku "
"Aku dari awal tak berbicara seperti itu Ana, aku tidak menuduhmu kenapa kau berkata seperti itu, seperti sedang ketakutan saja"
"Tidak aku hanya ingin tahu saja. Apakah kau menuduhku kalau aku yang membunuhnya. Kalau iya untuk apa aku membunuh ayah Cio. Apa hubungannya denganku, aku tidak pernah mempunyai masalah dengannya, jadi tak ada motif untuk ku membunuh ayah Cio yang malang sungguh aku tak akan tega melakukan itu semua Inara "
"Baiklah aku hanya bertanya saja, karena entah kenapa aku ingin mengatakan itu Ana "
Tiba-tiba saja datang Livia, dengan heboh dia langsung menghampiri Cio "Cio kenapa kau tidak mengabariku kalau ayahmu meninggal. Apakah kau tega tak memberitahu ku, aku ini kan teman mu, kenapa kau negitu heboh Cio, aku malah tau dari orang lain bukan darimu langsung "
Cio langsung mengalihkan pandangannya dari mata Livia dengan sebal, kenapa ada orang ini, membawa onar dan juga masalah, siapa coba yang memberitahunya.
"Maafkan aku Livia aku tidak mungkin kan harus menelepon satu orang satu orang untuk mengabari tentang kematian Ayahku, aku terlalu sedih dan tak bisa mengabarimu. Yang penting kan sekarang sudah tahu kan, jadi tak usah ada yang dipermasalahkan lagi Livi"
"Iya aku sudah tahu yang sabar ya. Aku sungguh turut berduka cita meskipun hubungan kita tidak baik, tapi aku tak mungkin acuh saat kau sedang kehilangan seperti ini, aku pernah ada di posisimu dan kau yang selalu ada untukku mana mungkin aku tega gak datang kerumah mu"
Puja yang mendengarnya makin kesal saja, kenapa sih banyak banget cewek yang deket sama Cio, udah Nana ,Inara, Ana terus ini datang lagi yang namanya Liivia
Apakah akan datang lagi selain 4 perempuan ini lagi, rasanya dirinya tak akan pernah tahan kalau hidup bersama Cio, terlalu banyak teman perempuanmya.
Livia langsung melihat ke arah belakang itu Inara berarti ini Ana, pusing menghadapi anak kembar ini, sama sama menyebalkan dua duanya.
"Tentu saja aku punya simpati memangnya dirimu aku ini manusia, jadi tak usah bertanya yang macam macam dan jangan menyulut emosiku, inu bukan waktunya Iriana"
"Takut dibentak sama Livia "sambil mengejek "kukira kau bukan manusia, karena kau selalu membuat ulah, oh ya apakah babumu ikut, mantan suami adiku "
"Kenapa kau sangat ingin tahu sekali aku mau datang dengan siapapun itu bukan urusanmu Ana, kau tidak punya urusan denganku jadi diamlah jangan ikut campur aku ke sini ingin melihat keadaan Cio bukan untuk bertengkar denganmu"
"Baiklah Baiklah aku tidak akan banyak bertanya lagi. Aku hanya ingin tahu kau datang bersama dia atau tidak ,ada yang ingin aku bicarakan pada pasanganmu sekarang, pasangan baru yang sangat serasi bahkan aku sangat mendukung kalian berdua"
Ana langsung pergi setelah mengatakan itu. Entahlah dirinya rasanya ingin sekali mengganggu orang lain, apalagi Ada Livia yang emosinya meledak-ledak ,dia ingin sekali membuat emosi Livia keluar dan memuncak begitu saja, Inara langsung menarik kakaknya.
"Kau ini Ana kenapa menganggunya sudah biarkan saja dia, jangan sampai kau berurusan dengannya, nanti kalau dia marah bagaimana, sudah biarkan dia mungkin ingin memberikan bela sungkawa pada temannya, sudah biarkan saja lah, "
"Aku hanya penasaran apakah dia membawa Adam kemari ,karena sepertinya akan ada sesuatu yang dirinya lakukan kau cepatlah pulang bersama Abian, jangan terlalu lama di sini , setelah itu aku pun akan pergi dari rumah ini sudah tak aman lagi kalau ada Livia, dan juga ada Adam di sini. Cepat kau kembali pada Abian "
Inara hanya mengganggu dan langsung menghampiri pacarnya yang sedang didekati Livia, dasar Livia ini baru aja sebentar dia disini tapi sudah membuat ulah, mendekati pacarnya, menyebalkan sekali deh. Inara langsung mengadeng tangan Abian.
__ADS_1
"Kalian berdua ini lengket banget y, ke mana-mana berdua terus enggak pernah bisa terpisahkan, salut deh sama kisah cinta kalian dan kamu juga Bi setia banget ya sama Inara"
"Iya dong kita gak akan pernah terpisahkan meskipun nanti ada badai yang besar ini badainya ada di depan kita nih, kau adalah salah satu badai dalam hubungan kita berdua, Abian bukanlah laki laki seperti pacarmu sekarang Adam "
Inara langsung menarik Abian keluar rumah dan masuk ke dalam mobil "kita belum pamitan loh sama Cio, masa langsung pulang gitu aja sih"
"Udahlah kita pulang aja dari pada nanti kitaberantem sama Livia mending kita pulang aja deh kesel aku kalau ada dia. kita jangan sampai buat ulah dirumah orang lain Bi "
"Ya udah deh kita pulang ya, kita pulang sayang "
Dan tanpa mereka sadari ada yang mengikuti mereka dari belakang, namun saat di pertengahan Jalan Abian yang sedang fokus menyetir dari kaca depannya dia melihat ada ?sebuah mobil yang dari tadi terus saja mengikutinya.
"Siapa itu, kenapa dari tadi selalu mengikuti kita, apakah dia orang jahat sayang, aku merasa was was sekali "
Inara langsung mengalihkan pandangannya" ku kira itu hanya orang yang satu jalur dengankita Bi, aku tidak tahu siapa itu. Ya sudah percepat saja jalannya takut-takut dia malah membuat masalah dengan kita, atau mungkin itu suruhan Livia untuk mencelakai kita "
"Iya benar juga sayang, aku kebut deh "
Abian segera mempercepat laju mobilnya dan mobil di belakang juga sama melaju cepat juga, Abian yang tidak mau kalah terus saja mempercepat mobilnya, bahkan Inara sudah berpegangan dengan erat takut terjadi apa apa dengan mereka.
Namun tiba-tiba mobil itu menabrakan mobilnya ke belakang mobil Inara dan juga Abian "ah hati-hati Bi dia mulai beraksi ya ampun apalagi di pinggir-pinggirnya jurang, terus fokus "
Abian mengangguk dan fokus saja menyetir tanpa memperdulikan orang yang akan membayakan mereka berdua, biarkan saja dia merusak mobilnya sendiri.
Kembali orang itu menabrakkannya lagi ke belakang mobil Abian, sampai tiba-tiba saja mobil Abian masuk ke dalam hutan dan menabrak pohon, karena Abian kehilangan kendali dan membuat mereka akhirnya begini.
Namun orang itu sama sekali tak mengecek lagi keadaan Abian dan juga Inara, yang terpenting dirinya bisa membuat mereka celaka.
"Sudah ada kepulan asap, pasti mobilnya sudah terbakar. Baguslah lebih baik mereka mati saja, aku pasti akan pesta"
Orang itu segera melajukan mobilnya untuk pulang sudah berhasil membuat mobil itu masuk ke dalam hutan, dan mungkin saja sebentar lagi akan meledak dan akan ada berita tentang kematian dua orang Abian Yogaswara Pengusaha terkenal dan juga Inaraa adik dari Iriana Pengusaha terkenal pula.
"Aku harus segera menghilangkan bukti menghilangkan mobil ini, karena Kakak Inara Ana tidak akan mungkin membiarkan orang yang telah membunuh adiknya yang membuat dia celaka hidup dengan tenang, dia akan mencari orang itu sampai ketemu"
"Jadi aku lebih baik membuang mobil baruku ini dari pada nyawaku terancam oleh Ana, lebih baik begitu saja dari pada nyawaku melayang begitu saja, itu akan lebih baik dari pada aku mati di tangan Ana dan babak belur olehnya dan aku juga harus segera menjemput seseorang bisa-bisa nanti dia marahi, karena aku tak datang dan tiba-tiba saja pergi "
"Nanti aku akan menceritakannya padannya semuanya, tapi apakah aku harus mebuang mobilnya sekarang karena depannya sudah hancur kalau dibawa kesana nanti akan menimbukan curiga lagi, ya sudahlah buah saja sekarang."
Orang itu mengambil barang barangnya dan mendorong mobilnya kejurang "selesai juga tak ada bukti sedikit pun aku bebas."
__ADS_1