
Inara yang sudah beres membersihkan badannya segera membuka kotak pakaian yang diberikan Bian tadi. Inara segera mengangkatnya alangkah kagetnya saat melihat pakaiannya ini. Seperti baju india bukan seperti memang iya.
Tak salah emang ini ada berliannya juga, apa Bian salah kirim atau ini punya orang lain gitu. Inara segera menelfon Bian namun tak diangkat sama sekali. Dengan ragu Nara memakainya saja dan memoles wajahnya serta mengerai rambutnya begitu saja.
Inara lalu memegang pakaian itu, sangat bagus sekali dan pas sekali dibadannya "kenapa Bian tau bentuk tubuh ku ya " binggung Nara.
**
Sedangkan Abian sedang menyisir rambutnya sudah lengkap dengan pakaian yang sama persis dengan Inara, biar couplean kan, gak ada orang tau ini kalau Nara istri orang.
Abian segera keluar dari kamarnya, lalu berpapasan dengan mamihnya " bade kamana anak mamih teh udah ganteng gini (mau kemana anak mamih udah ganteng aja )"
"Kan mau kepernikahan temen Abi mih, mamih tau ga Bian pergi sama siapa "
"Emang kamu sama siapa, sama Jon kan "
"Mamih jahat banget, aku normal mih, aku pergi sama Nara, gimana hebatkan aku udah deket aja sama Nara "
"Beneran, kamu sama Nara, nanti pulang bawa Nara kesini ya suruh ginep mamih kangen, padahal udah mamih kasih no telfon mamih tapi ga ada hubungin "
"Ya bener mih, kapan sih Abi bohong sama mamih yang cantik ini, ga bisa mih, Nara itu statusnya masih istri orang. Abia ga akan bisa bawa Nara dengan leluasa "
"Iya juga sih, tapi kapan-kapan kamu harus bawa Nara kesini ya, jangan sampai kamu apapain nanti Naranya disana, jaga dia awas aja ya kamu "
"Iya iya mih nanti dibawa, ya ga akan mih, Abi sampai kapan pun ga akan sakitin Inara, Abi akan selalu jaga Nara sampai titik darah penghabisan. Doain aja semoga Nara bener-bener emang jodoh Abi ya mih biar Abi ga patah hati. Abi akan memperjuangkan Inara "
__ADS_1
"Iya mamih percaya kok sama anak mamih ini, mamih akan selalu doain kamu. gih sekarang jemput Naranya kasiankan nunggu lama "
"Iya mih, Abi pergi ya, Assalamualaikum mih " sambil menyalimi tangan mamihnya.
"Walaikumsalam nak "
Abian dengan mood yang snagat baik segera masuk kedalam mobilnya. Sambil sesekali bersiul, hari ini akan dia habiskan waktu hanya bersama Inara. pdkt lah seperti anak-anak abg.
Inara yang masih didalam kamar lalu membuka sedikit pintunya. Kosong tak ada siapa-siapa sepi sekali. "Apa mas Adam belum pulang"
Inara dengan berani segera keluar dari kamar, ia akan menunggu diluar saja. "waw mau kemana nih udah cantik aja " tanya Iva yag tiba-tiba saja muncul dari dapur.
"Oh hay, aku kan udah bilang aku mau pergi malam ini dan kamu harus mencari alasan untuk menahan mas Adam mencariku sampai kedalam kamar "
"Hemm seperti itu, dapat dari mana kamu pakaian semewah ini, apa sekarang kamu bekerja sebagai pelacur atau menjadi simpanan kakek-kakek "
"Kalau bicara dijaga Va, aku bukan kamu yang menghalkan segala cara hanya demi uang"
"Aku masih punya rasa malu dan harga diri, gak kaya kamu suami orang aja kamu pacarin. Emang kamu gamikir gimana kalau kamu ada diposisi aku Va kamu pernah mikir ga "
"Ya itu mungkin udah nasib kamu buat di duain sama aku, ga pernah tuh ngapain fikirin hal yang gamungkin terjadi sama aku. Aku ini gamungkin diselingkuhin sama suami aku. Aku bukan wanita bodoh kaya kamu yang bertahan sama laki-laki kaya Adam "
"Hemm pantesan, kamu harusnya diberi gelar perempuan tak punya hati, tak punya harga diri dan mata duitan. Banyak banget ya gelar kamu. Aku bertahan dengan mas Adam karena ada suatu alasan yang harus aku ungkap bahwa anak yang kamu kandung bukan anak mas Adam "
"Kita udah janji ya, ga akan bongkar masalah kita ini, kamu ingkar hah sama aku "
"Ya itu gimana prilaku kamu sama aku, kalau kamu nurut sama aku rahasia itu akan terjaga dengan baik. Jadi kamu harus nurut ya "
__ADS_1
"Emm harus ya, aku juga bisa kok bongkar kemas Adam kalau kamu kerja "
"Silahkan aku akan kasih fidio tadi, gimana masih mau ngeyel sama aku "
"Ahh sialan kamu Nara " teriak Iva.
Nara yang mendengar ponselnya berdering segera melihatnya, ternyata itu pesan dari Bian "dadah aku pergi dulu, selamat menikmati malam yang sepi, awas ya disini suka ada penampakan kalau sendirian kaya gini. Jaga kandungan kamu jangan sampai lari kalau tiba-tiba ada penapakan kuntilanak didepan kamu babay " Inara segera melangkah sambil menahan senyumnya.
"Inara awas kau aku tak takut " teriak Iva, namun kenapa menjadi merinding juga ya saat Nara menutup pintunya. Segera Iva berjalan dengan cepat untuk segera masuk kedalam kamarnya lalu akan menelfon suaminya agar cepat pulang.
Nara segera masuk kedalam mobil dan tersenyum pada Bian yang sedang melongo melihatnya "Bian, kamu gapapa " tanya Nara.
"Ehh maaf cantik engga kok, kamu cantik banget gimana suka ga sama pakaiannya "
"Em suka tapi kamu gasalah kasih kan takutnya ini buat pacar kamu "
"Engga Nara, ini emang buat kamu aku ga punya pacar kenapa gitu "
"Aku cuman gamau nanti ada yang sakit hati, ada perempuan yang sakit hati sama aku. Aku sama-sama perempuan ga mungkin nyakitin perasaan perempuan lain "
"Engga Nara, aku gak punya pacar, jadi bisa tenang deket sama aku "
"Iya deket antara bos dan bawahannya, aku udah punya suami Bian , jadi aku ga bisa leluasa berteman begitu aja sama laki-laki aku harus ngejaga hati mas Adam "
"Tapikan Adam udah nyakitin kamu, kenapa kamu masih aja mau jaga hati dia. Dia aja gak jaga hati kamu. Dia dengan seenaknya selingkuh lalu menikah dengan perempuan itu "
"Iya aku tau, mas Adam udah sakitin aku, tapi aku ga mau sakitin hati orang lain. Biar aku aja yang ngerasainnya. Aku masih istri sah mas Adam dan aku ga akan mungkin gegabah untuk berteman dengan laki-laki lain dan membuat mas Adam salah faham "
__ADS_1
Abian tak menjawabnya kembali, dia segera mengendari mobilnya untuk segera sampai ke acara. Entah kenapa dirinya sangat marah mendengar Inara menjaga hati Adam sedangkan dia tak memikirkan tentang sakit hatinya. Apa sekuat itu Inara, apa setabah itu menerima kelakuan suaminya yang seharusnya tak pantas untuk di pertahankan.
Laki-laki seperti Adam harus ditinggalkan jangan dipertahankan nantinya malah makin melunjak.