Berbagi Suami

Berbagi Suami
Bermain main bersama Ana


__ADS_3

Pagi pagi sudah tiba, Inara pun sudah bangun dan sudah dibersihkan oleh sang kakak, dan pintu tiba tiba terbuka menampakan Abian, Inara tersenyum senang melihat sang pujaan hati datang kemari namun ada yang berbeda dengan Abian.


Makin mendekat makin terlihat saja perbedaan itu, sedangkan Ana langsung pergi meninggalkan mereka, dengan anak buah Ana yang menjaga diluar.


Inara segera memegang pipi kekasihnya " Ada apa dengan kelopak matamu kau habis menangis ya ,bengkak sekali ada apa apakah ada sesuatu yang terjadi yang aku tidak ketahui dan hanya kalian saja yang mengetahuinya"


Abian mengelengkan kepalanya " tidak ada sayang mana mungkin kami semua menyembunyikan sesuatu besar darimu, kami tidak menyembunyikan apa-apa bagaimana keadaanmu. Apakah kau baik-baik saja sekarang Sayang, aku sangat khawatir padamu sampai-sampai aku tak tidur dan lihat kelopak mataku menjadi bengkak seperti ini karena aku tidak tidur memikirkanmu, kenapa aku bisa pulang karena Ana membatasi kita . Aku di sini hanya 15 menit tak boleh kurang ataupun lebih"


"Kau berkata jujur kan, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, karena aku tahu kalau kau tidak tidur kelopak matamu tidak akan sebengkak itu, itu bukan disebabkan karena kau tidak tidur aku tahu Bi aku bisa membedakan mana kelopak mata yang habis menangis dan mana yang tidak tidur. Kenapa Ana membatasi kita .Apakah dia marah karena kejadian ini"


"Iya dia marah karena aku tidak becus menjagamu. Seharusnya aku bisa menolongmu dan menyelamatkanmu dari Livia tapi aku malah tidak ada dan pergi begitu saja mencari cari yang seharusnya tidak aku cari"


"Kenapa kau menjadi menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah musibah mungkin ini memang sudah takdirnya aku ditusuk oleh Livia, tapi aku tidak apa-apa kan aku selamat dan tidak ada korban jiwa di sini"


Abian mengangguk dan dalam hati dia sungguh sangat menyesal Ada sayang ada yang meninggal anak kita, dia menjadi korban kekejaman Livia dia meninggalkan kita. Sebelum dia melihat dunia ini dan mengenal kita lebih dalam lagi


"Bi kau tahu aku bermimpi melihat seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengan mu, bahkan kalau kalian disandingkan itu tak ada bedanya apa lagi dengan foto masa kecilmu pokoknya sama sekali fotokopian dirimu sekali, dia laki-laki dan menunjukku sebagai ibunya .Apakah nanti aku dan kau akan mendapatkan anak setampan itu Bi "


Deg tiba tiba saja Abian melongo dan melihat kearah Inara "kau bertemu dengan anak kecil, dan wajahnya sama dengan ku "


"Iya Bi aku bertemu dengan anak itu, apakah kau dulu pernah menghamili seorang wanita dan mempunyai anak"


"Mana mungkin aku melakukan itu Sayang. Aku mana mungkin menghamili perempuan lain tidak aku tidak melakukan itu dan aku tidak punya anak dari siapapun. Kalau iya pasti aku akan mengenalkannya padamu. Aku tidak akan menyembunyikan anak itu Sayang .Mana mungkin aku mempunyai anak"


"Baiklah aku hanya bertanya saja Bi, tapi rasanya aku ingin bertemu lagi dengan anak itu di taman bunga yang sangat banyak dan burung-burung yang berkicauan sangat manis sekali pertemuan kami berdua dan aku kaget saat dia menunjukku sebagai Ibunya, sampai-sampai aku melongo Bi, rasanya mimpi itu seperti nyata dan aku ingin bertemu dengan anak itu dalam dunia nyata tidak hanya dalam mimpi saja"


Abian mengusap kening sang kekasih melihat jam tangannya dan sudah 15 menit dan juga anak buah Ana sudah memanggilnya.


"Waktuku sudah habis sekarang aku harus pergi dari sini, kita bisa melakukan panggilan video call jika kau ingin selalu melihat wajahku. Aku akan melakukan itu karena aku pun ingin selalu melihat wajahmu. Sampai jumpa besok aku akan kembali lagi ke sini sayang tunggu aku ya, kau cepat sembuh agar aku cepat-cepat datang ke rumahmu dan melamar mu"


Abian mengecup kening Inara lalu pergi setelah melambaikan tangannya pada sang kekasih.


Saat keluar dari rungan sang kekasih, Ana menghentikan langkah Abian " Apakah Inara bertanya tentang anak kecil yang ada di mimpinya"


"Yah dia menanyakan itu dan dia ingin bertemu lagi dengan anak itu di dunia nyata. Bagaimana Ana dia ingin bertemu di dunia nyata sedangkan anak kami sudah tidak ada"


Abian langsung pergi meninggalkan Ana, Ana pun langsung menjauh dari kamar sang adik dan mengabil ponselnya untuk menghubungi Sandi, dan langsung diangkat oleh Sandi.


"Bagaiman Sandi apakah kau sudah menemukan di mana keberadaan Livia perempuan gila itu"


"Belum Nona tapi saya sedang menelusuri semua hutan yang ada di sini, yang bisa saja dia bersembunyi di dalam hutan ini kami semua sedang mencari di daerah sini, di daerah perkemahan yang tuan kecil Sean datangi karena tadi sebelum pulang Tuan kecil Sean berbicara kalau dia melihat perempuan yang hampir mirip dengan Livia, namun dia berkulit agak gelap, namu. tuan kecil Sean yakin kalau itu adalah Livia, saya akan menelusirinya nona "


"Baiklah kau telusuri semua hutan itu lebih baik tanpa melibatkan polisi itu akan lebih baik. Agar aku bisa menghabisinya sendiri kau cari dia sampai ketemu jangan sampai kau melepaskannya dan jangan kau berikan pada polisi, bawa saja langsung ke rumah dan kurung di tempat yang berhadapan dengan kamarku. Mintalah kuncinya pada Jack dan dia akan memberikannya padamu "

__ADS_1


"Baik Nona Laksanakan sekarang, kami sedang menuju sebuah gedung tua yang tak terpakai. Siapa tahu dia ada di sana"


"Baiklah Lakukan yang terbaik aku mengandalkanmu sebagai penjaga Inara"


"Baik nona laksanakan "


Sambungan pun terputus Ana segers berjalan kembali keruangan sang adik, namun dia melihat ada seseorang yang sepertinya dia kenal.


"Sepertinya aku bisa bermain-main dulu dengan mereka dan menanyakan keberadaan Livia di mana pasti mereka akan mengetahui di mana Livia sekarang, "


Ana segera masuk kedalam kamar itu dan tersenyum senang kearah mereka berdua. " halo kita bertemu lagi ternyata kau ada di sini. Kenapa lagi denganmu kenapa kau tak mati saja kau terus saja dirawat dan kalah terus-menerus bagaimana apakah kau senang bertemu denganku, apa kesan mu bertemu denganku, senang pastinya ya kan melihat sosok yang mirip dengan mantan istrimu"


Ana mengeluarkan pisau kecil lalu mengunci pintu itu dan menutup jendela itu dengan sebuah kertas yang ada di sana. Lalu berbalik lagi ke hadapan mereka berdua "kita akan membuat sebuah permainan jika tidak jujur aku akan menggores salah satu kulit kalian. Bagaimana apakah menyenangkan pasti menyenangkan Kita main sekarang oke dan kalian harus hati-hati dengan ku "


Mereka berdua ketakutan tak bisa berbicara apa-apa meskipun wujudnya mirip dengan Inara, tapi sangat beda sekali ini sangat menakutkan Adam saja tidak bisa berbicara apa-apa apa lagi dengan Ibu Adam dia hanya bisa melongo melihat kelakuan Kakak Inara yang seperti orang gila.


Tiba-tiba masuk dan berbicara seperti itu, akan melakukan permainan emangnya mereka ini anak kecil sampai-sampai harus melakukan permainan, tapi ini permainannya memakai pisau.


Bagaimana kalau menusuk perut mereka Oh my God itu sangat menakutkan sekali, tapi tentunya ini di rumah sakit bisa diobati langsung kan dan berbicara pada dokter yang ada di sini kalau Ana telah melukai mereka berdua.


"Mari kita mulai permainannya. Aku sangat ingin sekali melakukan permainan ini dari lama, tapi baru terwujud kalian berdua baru berkumpul ayo duduk dengan rapi, jangan membantahku ya jangan banyak bicara pula"


Dan bodohnya mereka berdua mengiyakan saja mereka duduk karena takut dengan Ana yang membawa pisau, takut-takut tiba-tiba saja Ana mendiskon nyawa mereka berdua.


Ana langsung mengacungkan pisaunya dan akan menusuk mata ibunya Adam"jangan jangan lakukan itu Ana aku akan menjawabnya " ucap Adam


"Baiklah apa jawaban nya dimana Livia berkata jujur atau mata ibumu akan hilang satu aku tak main main "


"Kami sama sekali tidak tahu di mana keberadaan Livia, kami tidak ikut campur tentang urusan apa yang dilakukan oleh Livia karena aku sedang dirawat juga kan mana mungkin aku bisa membantunya dan ibuku juga sama dia tidak mungkin bisa membantunya, kami di sini dan kami tidak tahu kalau Livia melakukan kejahatan itu, kami tahu saat melihat berita saja kalau Livia menjadi buronan fan sekarang sedang dicari-cari oleh Polisi"


Ana menatap satu persatu mata mereka berdua lalu tersenyum senang mungkin sekarang kalian jujur tapi untuk pertanyaan kedua " Kalian pasti sudah merencanakan sesuatu kan sebelumnya, sebelum Livia menusuk Inara pasti dari salah satu kalian ada yang memberikan ide padanya, jujur siapa yang telah memberikan ide itu dan sampai-sampai Livia nekat menusuk adikku tidak akan mungkin dia langsung menusuk adikku tanpa ada kompor yang menyala"


Sekarang Ana memegang tangan Adam dan akan mengiris urat nadinya"kami sama sekali tidak ada urusannya Ana kami sama sekali tidak mengomporinya untuk menusuk Inara atau melakukan sesuatu pada Inara, kami tidak tahu apa-apa Livia juga jarang datang kemari karena dia marah aku telah menghabiskan uangnya"


lalu Ana melirik ke arah ibunya Adam yang sangat ketakutan dan bergetar "Ada apa dengan mu kenapa kau bergetar. Apakah kau melakukan sesuatu sampai-sampai dirimu ketakutan seperti itu, jujur padaku kau yang mengompori Livia kan untuk menusuk adikku dan membuat rencana-rencana gila ini"


Ibu Adam langsung menggelengkan kepalanya "Saya tidak melakukan apa-apa . Sungguh saya tidak memberikan ide apa-apa pada Livia saya tidak tahu tentang ini mungkin saja itu inisiatifnya sendiri. Kita tidak akan pernah tahu kan orang akan melakukan apa demi cinta, dia sangat mencintai Abian mungkin saja karena itu dia melakukan itu, melakukan penusukan itu saya benar-benar tidak tahu tentang penusukan itu dan saya tidak memberikan ide apa-apa ataupun mengomporinya sama sekali"


Kembali Ana menatap Adam dan mengiris tangan Adam dengan perlahan, Adam tidak berteriak dia hanya meringis sambil menatap Ana "kau jujur padaku atau aku akan memotongnya nadi anakmu sekarang juga .Sebentar lagi pisau ini akan membuat anakmu mati"


"Jangan Ana jangan jangan seperti itu tolong tolong jangan seperti itu lepaskan Anakku jangan kau bunuh dia jangan Ana "sambil menyiku pisau itu yang sedang Ana pegang namun sama sekali tak membuat pisau itu jatuh, malah masih terpegang oleh Ana, dan malah menggores tangannya.


"Pisau ini tidak akan pernah lepas dari ku jadi kau jangan berharap aku akan melepaskan kalian , lebih baik jujur dari pada nyawa kalian yang akan melayang. Siapa dalang dari semua kejadian ini, aku ingin mendengar dari mulut kalian sendiri tidak dengan aku yang mencari tahu sendiri "

__ADS_1


Namun mereka hanya diam saja, ibunya Adam tak mau berbicara apa apa pada Ana yang ada nyawannya akan melayangkan.


Namun tiba tiba ada yang mengetuk pintu dengan cepat Ana menegok lalu mengacungkan pisau itu kearah ibunya Adam, bakan Ana tak segan segan menekannya ujung pisaunnya itu ketangan ibunya Adam.


"Jangan berkata pada siapa siapa, jika sampai ada yang tau aku melukai kalian aku akan mendatangi kalian lagi dan membunuh kalian juga dan ya satu lagi Livia sebentar lagi akan ketemu, kaliam siap siapa saja Livia akan berkata yang sejujurnya padaku dari pada nyawannya melayang "


Tok tok kembali pintu di ketuk Ana segera membuka pintu itu dan keluar dari dalam ruangan itu "hai dok "


"Nona Ana ada disini "


"Ya aku ada disini, dia teman dari adik ku, jadi sekalian aku menengok mereka, karena adik ku juga sedang dirawat disini kan, "


"Oh jadi nona Inara dan tuan Adam adalah teman "


"Iya mereka teman dekat dulu, sangat dekat sampai sampai Adam menghianati adik ku "


"Oh mereka berpacaran "


"Tidak mereka berteman dan Adam menghianatinya, aku permisi dok "


"Baik nona silahkan "


Ana segera berjalan meninggalkan ruanga. itu dengan senyum misteriusnya, namun sebenarnya dia belum puas dan masih ingin melakukan permainan itu, namun keburu ada dokter yang datang sudahlah masih ada waktu waktu yang lain dan hari hari yang lain yang masih panjang.


Dokter yang melihat kelakuan dua orang ini mengernyitkan dahinya "ada apa dengan kalian kenapa begitu tegang, apa ada yang terjadi dengan kalian berdua "


"Tidak dok saya hanya kaget dengan kedatangan teman lama yang tiba tiba saja datang, saya kaget itu saja "


"Eh itu tangan kalian kenapa, kenapa berdarah kita saya obati ya "


"Tidak usah dok nanti ibu saja yang akan melakukanya , sudah kami berdua tak apa apa dok, kami baik baik saja kami akan melakukannya sendiri "


"Tidak apa apa biar saya obati "


"Tidak usah tidak saya baik baik saja tidak usah dok kami baik baik saja "


Mereka mengumpatkan tangan mereka, dan sang dokter hanay mengelengkan kepalanya saja lalu segera memeriksa keadaan Adam.


"Kapan saya pulang "


"Beberapa hari lagi ya Tuan Adam anda bisa pulang, "


"Apakah aku tidak bisa pulang sekarang saja"

__ADS_1


"Tidak bisa Tuan Adam harus beberapa hari , saya harus melihat anda terlihat pulih dulu baru saya akan bisa tenang, kau tenang saja ya, saya permisi dulu "


__ADS_2