
Bian yang mengejar Inara berhenti di ruanga oprasi, karena Inara sedang ada disana dan membantu suster mendorong tempat tidur Ana yang akan dipindahkan keruanganya.
Yang lain sudah pulang, mamihnya dan papihnya serta Rani, disini tinggal ada dirinya Inara dan juga Jon saja.
Bian segera mengikutinya sambil sesekali memangil nama Nara namun tak di gubris sama sekali.
Saat didepan pintu Bian segera mencekal tangan Nara "tolong dengerin dulu penjelasan aku Nara, tolong kamu jangan salah faham, aku bisa jelasin semuanya Nara, aku gak bermaksud apa apa kok "
"Tolong aku lagi gak mau bicara sama kamu, jadi tolong lepasin ,aku mau jaga Ana dulu dna cerna semua kata kata kamu"
Bian yang tak mau Nara semakin marah segera melepaskan cekalannya dan pergi meninggalkan Nara yang langsung masuk kedalam ruangan Ana.
"Jadi kenapa dok, Ana belum bangun juga " tanya Nara.
"Ana koma bu, jadi berdoa saja ya semoga cepat sadar, kami juga akan melakukan yang terbaik untuk saudari Ana, saya permisi dulu "
"Makasih dok "
Inara duduk sambil mengengam tangan Ana "Kenapa Ana, kamu mengorbankan nyawa kamu sendiri buat aku, kenapa, kenapa kamu lakuin itu"
"Padahal aku baru kenal sama kamu, dan kamu juga bukan siapa siapa aku tapi kamu merelakan tubuhmu yang terkena timah panas itu,. Maafkan aku Ana, seharusnya aku yang tertembak bukan kamu, seharunya aku yang terbaring disini bukan kamu"
__ADS_1
"Kamu sudah baik membantu aku lepas dari laki laki itu, namun masalah baru malah muncul Ana, aku kecewa Ana sama Bian, terus aku harus gimana "
Saat Inara melihat kearah mata Ana, Ana mengeluarkan air matanya, Inara segera mengusapnya ada apa dengan Ana kenapa menangis.
"Apakah kau mendengar semua kata kata ku Ana, sampai kau menangis seperti ini, apa kau menyesal telah mengorbankan nyawamu untuk ku, sungguh aku minta maaf Ana "
**
"Ya saya jujur sama memang memukul Inara sampai tak sadarkan diri tapi saya tak sengaja tidak ada niat apa apa pak, kenapa bapak bentak bentak saya, saya sudah tua jadi lebih baik lepaskan saya saja pak, saya gak bersalah, ini hanya kesalah fahaman saja, kenapa harus dipenjara juga pak, kasihani saya pak, saya seharusnya sekarang sedang istirahat bukannya disini" bela ibunya Adam.
"Ibu jangan mengelak terus, kalau ibu terus begitu akan lama ibu diperosesnya, ya makannya kalau ibu pengen dirumah jangan bikin ulah, baik baik bu, meskipun ibu sudah tua tetap saja hukum berlaku untuk siapa saja yang sudah melakukan kejahatan, makanya ibu sama anak orang jangan jahat, dia juga manusia dan punya hati, ini semua terjadi karena ibu"
Karena sudah sangat takut akhirnya ibunya Adam mengakui semuanya "Ya saya mengaku kalau saya sudah merencanakan untuk melenyapkan Inara menantu saya, karena dia tak memberikan saya cucu, jadi untuk apa dia hidup kalau tak ada gunanya hanya menjadi beban hidup anak saya ".
Ibu Adam dengan pasrah mengikutinya dan langsung dimasukan kedalam penjara, Iva hanya mengikutinya dari belakang.
"Wah, akhirnya aku melihat seorang penjahat dipenjara, tadi anaknya yang dipenjara sekarang ibunya, seneng banget aku liatnya, penjahat kaya kamu tuh emang udah pantes masuk penjara kaya gini. Aku puas dengan semuanya, Inara hebat juga bisa langsung mengalahkan dua kecoa sekaligus, anak dan ibu sama sama penjahat, apakah ibu sebenarnya adalah keluarga penjahat ya "
"Diam kau, kau juga seorang penjahat dan penipu, kau habiskan harta anaku seharusnya kau yang masuk penjara wanita sialan, bukannya malah aku, lihat saja akan aku balas semua ini, gara gara kau aku masuk penjara, kau memang menantu tak berguna. Aku sungguh menyesal pernah membelamu dan menyayangimu, ternyata kau hanya seorang penipu saja "
"Wajar aku menghabiskan harta suamiku sendiri emang salah, ya tentu tidak lah, sebelum kau membalaskan semua dendamu mungkin saja kau sudah mati disini, dari pada menyimpan dendam pada orang lain mending kau mertaubat dan meminta ampun, agar semua dosamu di ampuni dan perbanyaklah sholat, selamat kau habiskan masa tua mu di penjara aku pergi untuk menikmati semua harta anakmu yang sudah aku geruk habis"
__ADS_1
Iva dengan tidak bersalahnya segera pergi meninggalkan nenek sihir itu. Tanpa menoleh kembali kebelakang.
**
Bian tak sepenuhnya meninggalkan rumah sakit, dirinya duduk ditaman menenangkan fikirannya yang kacau. Tak akan mungkin dirinya meninggalkan Inara sendirian di rumah sakit ini, takut terjadi sesuatu nantinya.
"Aku tak bermaksud apa apa Nara, aku hanya ingin membantu mu saja, kenapa kamu malah marah denganku, aku hanya ingin kau sadar dan melepaskan laki laki itu tanpa tersiksa kembali oleh dia" guman Bian.
Jon yang melihat bosnya duduk sendirian segera menghampirinya duduk disampingnya "ada apa denganmu, kenapa kau melamun bukannya kau tadi bersama Inara, lalu dia dimana sekarang, tega sekali kau meninggalkannya sendirian didalam "
"Inara sudah mengatahui kalau Shinta adalah suruhanku dan sekarang dia marah Jon, marah dan tak ingin berbicara denganku, mungkin akan selamanya tak mau berbicara dengan ku"
"Tenang aku yakin dia hanya emosi nanti juga akan baik baik saja, kamu jangan sedih dong, Inara gak mungkin marah lama lama sama kamu, aku yakin Inara sebentar lagi maafin kamu kok, jangan terlalu difikirn semuanya akan baik baik saja "
"Hemm mungkin saja, aku baikan ingin menolong hidupnya, ataukah aku salah"
"Ya kau baik, kau baik telah membantu Inara lepas dari laki-laki yang sangat tak berguna itu, berjuanglah sedikit lagi kau akan mendapatkannya. Dia mungkin kecewa padamu yang tak jujur, kau tau perempuan sangat tak suka dengan kebohongan tapi ya sama laki laki juga sama tak suka kebohongan"
"Ya kalau jujur sama aja bohong Jon, aku kan ingin dia menganggap Adam adalah sosok lelaki yang tak pantas untuk di pertahankan apalagi untuk dicintai olehnya. Aku disini menunggunya menungu Inara mencintaiku Jon, hanya aku tak ada yang lain"
"Ya aku tau itu Bian, tapi kau harus lebih sabar lagi, jika menghadapi seorang perempuan, mereka kadang sadar kalau ada yang lebih mencintainya dan peduli padanya"
__ADS_1
Bian segera mengusap wajahnya dan mendongakan kepalanya menatap langit yang banyak dengan bintang. Semoga saja Nara tak marah lama lama padanya. Kalau terjadi dirinya tak aka kuat sama sekali