Berbagi Suami

Berbagi Suami
Usul yang cukup baik


__ADS_3

Inara dan Abian sudah ada dimakan sang anak, kembali Inara menangis, dia dia sama sekali tak bisa menahan tangisnya, apa lagi saat melihat ini, melihat anaknya yang sudah dikebumikan.


Abian hanya bisa menenangkan Inara dan menyembunyikan kesedihannya, agar kekasihnya ini tak ikut khawatir padannya.


"Sudah sayang jangan menangis, jangan menangis ya aku tau ini sulit tapi kamu harus menerima semua ini "


Inara tak menjawab dia mengusap batu nisan sang anak " kamu di sana jangan nakal ya nak, maafkan ibumu yang tak bisa mempertahankan kamu untuk bisa hidup di dunia ini, maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu, dulu Ibu sangat ingin mempunyai seorang anak yang bisa menemani Ibu setiap harinya, namun saat Tuhan memberinya ibu sama sekali tidak bisa menjagamu dengan benar "


Bian mengusap punggung Inara "jangan seperti itu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah takdir kau tak boleh menyalahkan dirimu sendiri ya "


Inara langsung memeluk Abian dengan erat dirinya tak bisa menahan tangisnya dan rasa bersalahnya atas semua ini, dirinya masih tak bisa menerima semuanya, sama sekali tak bisa menerimanya.


"Kita pulang ya, kamu harus istirahat sayang "


Inara mengangguk saja dan langsung membantu sang kekasih untuk bangkit dan pergi dari sini dari pemakaman.


**


Ana sekarang ada bersama Livia, dia hanya menatap Livia yag makan, dia makan dengan sangat lahap sekali, bahkan tak memperdulikan Ana yang ada dihadapannya.


Tangannya sudah dilepaskan dan tak diborgol kembali, sudah dilepaskan sepenuhnya "bagaimana apakah enak, sepertinya kau sangat kelaparan "


"Ya tentu aku kelaparan bagaimana aku tak kelaparan sedangkan aku saja tak memberikan ku makan, apakah kau gila hah "


"Aku tidak gila kau yang gila makanya jangan membuat masalah denganku yaitulah akibatnya, jika kau ingin nyaman diam di sini maka jangan membantah ikuti apa kemauanku dan jangan banyak bicara dan berteriak-teriak kau ini seperti di hutan saja, ini di rumah bukan di hutan tempat kau waktu itu bersembunyi. Jadi kau tidak bebas untuk berteriak-teriak itu sangat mengganggu"

__ADS_1


Livia mendelik dan fokus saja memakan makanannya tak mau melihat kearah Ana yang cerewet dan banyak bicara sekali, "sekarang kau sudah terbiasa ya makan dengan tangan kiri, kau sudah nyaman kan begitu, kalau aku memotong dua duanya kira kira kau makan seperti apa ya "


"Diamlah Ana jangan membuatku tak mood untuk makan, aku sedang lapar Ana , kau jangan mengangguku seperti itu aku tak suka Ana "


"Waw kau berani marah padaku, apakah kau ingin aku melakukan sesuatu padamu lagi, apa itu yang kau mau iya "


Livia langsung berhenti makan dan menatap Ana lalu memundurkan duduknya dan mengelengkan kepalanya "tidak jangan, jangan seperti itu aku tidak mau, aku tak marah aku hanya menjawab saja, aku sama sekali tak marah "


"Habiskan makanan mu, sekarang aku sedang baik hati, aku tak akan menganggumu makan, maka segera habiskan semuanya sebelum aku berubah fikiran dan mengambil makanan mu itu untuk ku buang"


Livia hanya mengangguk saja dan langsung menghabiskan makanannya dengan sangat lahap dan tak memperdulikan Ana yang terus saja menatapnya, yang terpenting adalah perutnya yang kenyang dan tak kelaparan seperti kemarin, karena itu sangat menyiksa sekali, sungguh dirinya tak bisa menahan rasa laparnya lagi.


**


"Aku yakin kau pasti sangat lelah mengantarku ke sana kemari. Lebih baik kau pulang saja Bi nanti mami malah mencarimu, aku sudah baik-baik saja aku tak akan melakukan apa-apa kok kau pulang ya, aku tahu kau butuh istirahat "


"Aku baik baik saja sayang, ayo aku antarkan kau kedalam kamar dulu ya, baru setelah itu aku akan pulang ayo sayang"


Abian mengandeng Inara dan berjalan kearah kamarnya yang ada paling ujung itu, saat melewati kamar Ana tiba tiba saja Inara berhenti.


"Kenapa sayang, kenapa kau berhenti ada apa, "


"Aku mendengar ada yang berbicara dari dalam ruangan ini, apakah kau tak mendengarnya apa didalam ada orang "


"Tidak ada disana tidak ada siapa siapa sayang, ayo lebih baik kamu istirahat mungkin ini adalah efek dari kamu yang kelelahan makannya kamu harus cepat cepat istirahat ya "

__ADS_1


"Tapi aku benera Bi, aku bener bener denger suara orang lagi ngobrol, aku gak bohong sama sekali aku denger kok, masa sih kamu gak denger suaranya "


"Gak ada syaang, ayo kita kekamar ya "


Abian dengan cepat segera menarik tangan Inara dan berjalan kearah kamar Inara.


Setelah itu Abian mengambil jasnya "aku pulang ya kalau ada apa apa, kau harus berbicara padaku, jangan menangis lagi ya, kamu harus iklas ya sayang, aku tau ini berat tapi ini ujian buat kita, pokoknya kamu gak boleh nangis nangis lagi, inget kamu lagi di masa penyembuhan "


Inara menganggukan kepalanya "kamu hati hati ya Bi, maaf bukannya aku ngusir kamu tapi aku tau kamu cape dan kamu juga pasti banyak kerjaan "


"Iya gak apa apa syaang aku ngerti kok " Abian mencium kening Inara dan langsung pergi dari kamar sang kekasih.


Saat melewati kamar Ana tak sengaja berpapasan dengan Ana "An kau ternyata yang ada didalam sana "


"Kenapa "


"Inara mendengar ada suara orang di dalam sana yang sedang mengobrol, ternyata kau lebih baik kau pindahkan saja dia jangan ada di sini yang ada Inara akan selalu curiga dan ingin tahu siapa yang ada di dalam sana, dari pada dia nanti mengetahuinya lebih baik pindahkan saja, Inara itu terlalu baik dia pasti kalau sedikit terayu dia pasti akan melepaskannya lebih baik dikurung di tempat lain saja"


"Mau dipindahkan ke mana kalau misalnya dipindahkan aku tidak akan bisa mengawasinya dengan leluasa, apa lagi sekarang hartanya dipegang oleh Adam, bisa saja Adam melepaskan Livia kan dengan berbagai cara, anak buahku pun tak akan bisa menjaganya 24 jam karena mereka punya tanggung jawab masing-masing dan pekerjaan masing-masing. Kalau sekarang aku mencari lagi yang baru aku tidak percaya takutnya itu adalah anak buah Adam yang disuruh olehnya untuk memata-matai ku dan keluargaku"


"Baiklah kalau begitu ruangannya kau ganti jadi kedap suara agar Inara tidak mendengar suara-suara lagi lebih baik seperti itu, nanti aku akan membawanya ke mana dulu dan kau renovasi saja ruangan itu jadi Inara pun tidak akan penasaran"


"Baiklah akan aku lakukan apa usul mu itu, itu lebih baik"


" Baguslah Aku pulang"

__ADS_1


__ADS_2