Berbagi Suami

Berbagi Suami
Donor darah


__ADS_3

Ana sekarang sudah ada diruang oprasi untuk mengeluarkan pelurunya. Tiba-tiba dokter keluar dari dalam ruangan, "maaf disini siapa keluarga pasien "


"Saya dok " Inara segera maju dan yang lain juga sama. Karena mereka juga bingung harus mengubungu siapa, keluarga Ana sudah tak ada.


"Pasien kekurangan darah dan kami juga disini stok darah golongan O sudah habis, apa disini ada yang golongannya sama "


Semuanya saling lirik lalu "saya O dok, ambil darah saya " ucap Inara.


"Baiklah, sus segera ambil darahnya "


"Baik dok, ayo bu ikut saja "


Saat Inara akan berjalan, Bian menahanya "Kamu yakin mau lakuin ini "


"Aku yakin Bian, kamu tenang aja aku gak akan apa-apa ya "


Inara segera melepaskan pegangannya namun Bian sama sekali tak melepaskannya lalu ikut mengandeng tangan Inara.


"Maaf tuan, tuan tunggu diluar saja "


"Saya mau ikut, janji saya tak akan melakukan apa-apa saya akan diam "


"Baiklah masuklah "


Segera mereka berdua masuk, Inara segera berbaring dan sustes segera melakukan pengecakannya dahulu, dibantu oleh dokter yang lain dan Inara akhirnya lolos dan boleh mendonorkan darahnya pada Ana


Selama pengambilan darah Inara hanya diam saja, Bian dengan sabar memegang tangan Inara. "gak sakit kan sayang"

__ADS_1


"Engga Bian, kamu yang tenang ya "


Akhirnya selesai juga, segera suster membawa darah itu sebelum pergi dia berpesan pada Inara "ibu harus banyak banyak makan buah buahan ya beserta sayuran "


"Baik sus"


Karena disana memang sudah disiapkan buah buahan, Bian segera mengabilnya lalu mengupasnya dan menyuapinya kepada Inara.


"Sini biar sama aku aja Bian "


"Gak usah kamu tinggal mangap aja cepet jangan susah "


"Kamu ini nyebelin tau "


" Udah sayang ayo makan dulu ya "


"Eh Maaf kelepasan, soalnga kening kamu tuh "


"Emang kenapa kening aku "


"Kening kamu tuh melambai lambai pengen di cium "


"Yehh emang kening aku apaan melampai lampai daun "


Inara segera memukul tangan Bian lalu segera berbaring membelakangi Bian.


Sungguh jantungnya berdetak tak karuan, dengan apa yang dilakukan Bian.

__ADS_1


"Sayang jangan marah dong "


**


Sedangkan Shinta sekarang ada dirumahnya, masih dengan wajahnya yang merah karena sambel apalagi dengan caci maki teman-temannya pada dirinya soal dirinya yang pelakor.


"Kenapa semua ini menjadi bumerang untuk aku, aku pengen uang bukan cinta. Jadi kenapa coba mereka bilang aku pelakor, yang jelas jelas aku gak mau rebut suami orang aku hanya ingin uangnya dan menbantu bos ku saja "


"Pokoknya aku harus meminta pertangung jawaban atas semua ini pada pak Bian dan meminta bayaran yang lebih karena aku sudah dipermalukan seperti ini "


**


"Apa salah saya pak " tanya ibunya Adam yang sedang diborgol.


"Anda sudah melakukan tindakan pembunuhan "


"Pembunuhan sama siapa, saya gak ada niat buat bunuh siapa siapa, lalu siapa yang saya bunuh "


"Ibu hampir saja melenyapkan saudah Inara "


"Hah dia itu pembual, saya gak pernah ya ada niat sedikit pun buat bunuh perempuan itu "


"Sudah nanti jelaskan saja dikantor, ibu jangan bergerak "


"Yah tolong ibu dong bukannya diem aja "


Namun ayahnya Adam hanya diam saja, dirinya saja binggung harus melakukan apa. Lebih baik diam dari pada salah.

__ADS_1


Dirinya juga sudah sangat muak kepada sang istri yang sangat jahat pada Inara, pada menantunya yang baik, dirinya hanya ikut ikutan saja. Dirinya juga kasian dengan Inara namun sang istri selalu menyuruhnya untuk tak peduli dengan Inara.


__ADS_2