
#Davira Part 2
Author : Ersu Ruang Sunyi
Ribuan kali menolak, dan ribuan kali menghindar dari sosok lelaki berhidung mancung dan berbulu mata lentik itu, kini walau berusaha untuk menolaknya sudah tidak sanggup lagi untuk menolak di depan mata yang selalu memberiku keteduhan, tak mungkin mengecewakan bidadari kecilku yang ingin memiliki seorang Ayah.
Kutatap mata yang menatapku, tak lebih dari 3 detik kuturunkan kembali pandanganku. Terasa ada yang gaduh di detak jantung.
Setelah di prank dengan hilangnya Ayunindya, ternyata semua orang telah merencanakan semua ini dengan matang, bagaimana tidak? sungguh matang sehingga aku benar-benar tak menyadari jika semua ini sudah di rencanakan oleh Risa, Rio, dan Alex.
Tak butuh banyak waktu untuk membuat semua sosial media gaduh, dengan tagar #LamaranTerSoSweet. Ya Alex memang konten creator & selebgram yang selalu aktif, dan begitu banyak penggemarnya. Tak sedikit pula yang membuat tagar #HariPatahHatiNasional.
Terlihat senyum yang terbingkai dari seluruh keluargaku, bahkan Ibu dan Ayahku meneteskan airmata bahagia, karena anaknya kini membuka hati. Nindya pun begitu bahagia dengan langsung memanggil Alex, Ayah.
Rani & Rian pun ikut serta berbagai atas kebahagiaan ku, terlebih Putri mereka kini memiliki kebahagiaan yang berlipat-lipat ganda.
Tak perlu di gambarkan lagi kebahagiaan Alex seperti apa, karena sulit di gambarkan oleh kata-kata, setelah berjuang mengutarakan isi hati sebanyak 7089 kali dan yang ke sekiannya baru di terima. Jodoh ternyata tidak akan ke mana, seberapa seringpun menolak, seberapa tidak mau pun menikah dengannya, jika sudah jodoh pasti tetap akan bersatu.
***
Hari pernikahan pun tiba setelah menentukan tanggal yang baik, jangan pernah bertanya bagaimana berdebarnya jantung ini, ketika ijab kabul di laksanakan.
Untuk pertama kalinya kutatap mata yang telah meminangku, tanpa jarak, tanpa sekat. Wajah teduhnya mengingatkan ketika sewaktu kecil ia menenangkan ku di saat ketakutan karena padam listrik. Ia berbisik lembut dengan berkata "Jangan takut aku akan selalu menjagamu, hingga kelak dewasa."
Itu adalah ucapannya ketika usiaku masih teramat kecil, 8 tahun usia yang masih sangat polos.
Namun Alex menepati janjinya yang selalu menjagaku dari setiap kesulitan, dari setiap masalah yang ada setelah ia kembali dari Turki, bahkan ia pun lelaki yang paling setia dengan perasaannya. Baginya cinta sejati itu ada, yang ia ciptakan dalam keteguhan hatinya.
Ia mampu meruntuhkan kerasnya hati ini, karena ia percaya berapa seringpun di tolak, suatu saat akan di terima. Sekian ribu kali di tolak maka akan ada satu momen di terima di mana momen itu momen yang akan paling sepecial dalam hidupnya.
***
Dalam sebuah pernikahan yang sulit itu bukan ijab kabul nya, tetapi menjalaninya setelah ijab Kabul, membangun kepercayaan, kesetiaan, kejujuran, banyak pasangan suami istri yang gagal membina rumah tangga yang harmonis, di sebabkan oleh hal sepele, bisa karena ketidak percayaan kepada pasangan masing-masing, ketidak jujuran dalam sebuah masalah, ataupun tidak ada kesetiaan sehingga mencari bumbu-bumbu baru di luar rumah, yang bisa menyebabkan sebuah ke utuhan rumah tangga hancur.
Kubangun komitmen yang baik dengan Alex, komitmen yang tidak akan kami langgar.
Dan akan menciptakan keluarga yang bahagia, walaupun mungkin akan ada batu krikil yang menghalangi langkah kami.
Satu hal tentang keturunan. Ada komitmen dari hal itu. Agar tidak mempermasalahkan hal itu. Jika ALLAH berkehendak mungkin suatu saat akan memilikinya dan jika tidak kami sudah punya Ayunindya, dan tidak menutup kemungkinan bukan jika kami pun akan memiliki anak yang banyak? Salah satunya dengan mengasuh anak-anak yang terlantar misalnya, atau setiap anak yatim yang kami temui kami jadikan anak kami, memikirkan hal itu banyak hal indah yang terlintas di benak.
***
__ADS_1
Hari pertama menjadi istrinya Alex, ada hal baru yang harus aku lakukan, menjadi seorang istri yang baik, dan hal pertama pagi ini adalah membuatkan nya kopi hitam kental, ya Alex sangat suka kopi hitam yang kental.
Aku tinggal di rumah barunya Alex yang telah ia persiapkan jauh-jauh hari, ia memiliki rumah impian nya yang ia bangun dan ia desain sendiri untuk rumah masa depannya. Sesuatu hal yang unik karena ia yakin jika rumah itu akan ia tempati bersamaku. Dengan halaman yang cukup luas, itu akan membuat Nindya betah berlama-lama main di halaman rumah.
"Sayang, boleh ya, mulai dari sekarang aku memanggilmu sayang?" tanya Alex sambil menatapku lekat, lalu meraih tanganku dan di genggamnya.
Kenapa tiba-tiba saja debaran ini begitu kencang di saat ia menggenggam tangan dan menatapku begitu dalam? Bagaimana mungkin aku bisa membalas tatapannya lebih dari 3 detik, itu akan membuat detak jantungku tidak karuan.
"Em ... i iya," jawabku simple, sambil menurunkan pandangan setelah membalas pandangannya.
"Nanti malam Nindya tidurnya di kamar kita aja ...," ucapnya dengan sangat hati-hati. "Semalam kamu menemani Nindya tidur, pas kulihat kamu pun tertidur dengan sangat pulas, jadi gak berani membangunkan," lanjutnya lagi, sedikit salah tingkah.
Malam pertama menikah, aku memang tidur bersama Nindya, karena ia belum berani tidur di kamar barunya sendiri. Apa semalaman Alex menungguku? Em ... mungkin saja iya.
"Em ... iya Nindya semalam minta di dongengin, sampai ketiduran akunya," jawabku.
"Ayah, Bunda nanti siang jalan-jalan ya, Ayah sudah janji mau ajak Nindya jalan-jalan," rayu Ayunindya sambil menghampiri dan duduk di pangkuan Alex.
Mereka berdua saling bertukar cerita begitu akrab, bidadari kecilku tak terlihat ada kecanggungan dengan Ayah barunya itu, Alex pun terlihat seperti tak ada kecanggungan menempatkan dirinya sebagai seorang ayah.
Kulihat keasyikan mereka yang ngvlog bareng, siapa yang tidak gemas coba melihat ayah dan anak sekompak itu? Aku hanya tersenyum melihat keasyikan mereka.
Selsai memasak dan mempersiapkan sarapan. Ayunindya dengan manjanya meminta di suapin oleh Alex. Padahal ia biasanya selalu makan sendiri, ketika mau kusuapin selalu enggak mau, tetapi kali ini ia dengan manjanya minta di suapin.
"Boleh, tapi Nindya harus sayang Ayah dulu, sini kecup kening Ayah dulu."
Tanpa aba-aba Nindya mengecup kening Alex, dan Alex pun membalas nya dengan mengecup kening Nindya.
"Bilang sama Bunda, Ayah juga mau di sayang sama Bunda," ucap Alex sambil melempar senyum ke arahku.
***
Bau dapur tercium dari tangan dan bajuku, harus segera mandi karena pagi ini cuaca begitu cerah plus gerah, kuraih handuk.
Treeek ... Handle pintu berputar lalu terbuka, lalu ia menutupnya dan berjalan ke arahku. Kuatur detak jantung yang semakin tidak beraturan. "Tenang Davira, dia adalah suamimu," bisik hatiku berusaha untuk menetralisir perasaan yang berdebar ini.
"Mau mandi?" tanya Alex, sambil melirik ke handuk yang di tanganku.
Aku mengangguk tak berkata.
"Aku boleh menatap wajah kamu tanpa cadar?"
__ADS_1
"Em ...,"
"Boleh ya? Kita kan sudah menikah."
Aku menggelengkan kepala.
"Kenapa?" kita sudah menikah dan bukan sebuah dosa jika aku menatap wajahmu," ucap Alex sambil perlahan mendekat dan membuka cadar yang kukenakan. Ia meraih daguku dan mengarahkan pandangannya ke mataku. Ia menatap begitu lekat.
"Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu," ucapnya begitu lembut sambil mengecup keningku begitu lama hingga ia benar-benar melepaskan pelukannya.
Kini aku pun benar-benar jatuh cinta padanya, debaran ini melebihi debaran kepada Mas Ilham dulu, Alex kini benar-benar telah memenuhi seluruh relung qalbu.
***
Ayunindya meminta KPC, ngantri yang cukup panjang, karena sudah tidak aneh jika akhir pekan seperti ini pasti selalu rame oleh pengunjung. Aku menyuruh Nindya dan Alex menunggu dan duduk, biar aku yang mengantri.
Setelah selesai Menganti cukup lama, tanpa sengaja bersenggolan dengan orang.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja," seruku.
"Punya mata lihat-lihat donk!" Pekiknya.
"Sakila!"
Aku masih mengenalinya dengan jarak yang dekat.
"Ka ... Kamu!" Sakila terlihat terkejut.
"Ini anak kamu?" tanyaku sambil mengelus pipi tembem anak yang di gendong Sakila. Sakila mengepiskan tanganku.
"Jangan pegang-pegang!" serunya.
"Sakila, ayo." Seseorang memanggil Sakila, ia adalah suaminya mas Ilham.
Mas Ilham memaku memandangku, mungkin ia kenal denganku makanya ia memaku, kulirik anak yang di gendong Sakila, ada yang sakit tapi tidak berdarah di hati ini ketika kulihat senyum manis bocah kecil itu. Bukan sakit karena melihat senyumnya, melainkan sakit karena Sakila pernah membuang calon bayinya dulu, tak lebih mengejutkan kala kulihat kedua tangan anak Sakila tak ada; cacat! Anaknya yang sekarang pun cacat.
"Bunda ayo," panggil Ayunindya sambil menarik tanganku dari hadapan Sakila dan Mas Ilham.
Bersambung
Ruang Sunyi, 22-02-20
__ADS_1
#Fiksi #ErsuRuangSunyi