Berbagi Suami

Berbagi Suami
Selamat Ya Mas


__ADS_3

Happy reading


Setelah mengantar Nevin ke depan pintu, Aisyah kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar suaminya bersama Zahra.


Sampainya di depan pintu kamar itu, ia mengurungkan niatnya karena melihat Abi yang sedang memeluk tubuh Zahra dengan sebuah tespek yang ada di tangan Abi.


"Aku gak perlu masuk kan?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri. Ia bingung bagaimana cara dirinya menghadapi Zahra dan Abi sekarang.


Tapi tampaknya Zahra menyadari adanya Aisyah di depan pintu itu. Hingga membuat Zahra menyuruh Aisyah masuk ke dalam kamar dan membagi kebahagiaan mereka pada Aisyah.


"Aisyah," ucap Zahra memeluk Aisyah. Ia bahagia dengan apa yang ia dapat hingga tak mampu berucap dengan jelas.


"Mbak hamil ya?" tanya Aisyah.


"Iya Ai, mbak hamil. Penantian kita akhirnya tersampaikan," ucap Zahra dengan senyum.


"Selamat ya Mbak. Gak lama lagi Mbak akan menjadi seorang Ibu, semoga nular ke aku ya. Aku juga sangat ingin hamil, tapi mungkin belum rejeki," ujar Aisyah dan dianggukkan oleh Zahra.


Abi yang melihat Aisyah sedih itu langsung mengelus rambut Aisyah. Ia bisa merasakan kesedihan dalam kalimat Aisyah.


"Kita pasti juga akan mendapatkan anak kok sayang, kamu jangan sedih seperti ini ya. Aku gak suka kamu sedih," ucap Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.


Walaupun begitu Aisyah tetap saja sedih, bukan tentang kehamilan saja tapi juga tenang perhatian suaminya yang tentu saja akan berkurang padanya.


"Kapan Mbak mau periksain kehamilan Mbak ke dokter?" tanya Aisyah dengan senyum tipis.


"Mungkin pagi ini, Ai. Sama Mas Abi juga, kamu mau ikut?" tanya Zahra pada Aisyah.

__ADS_1


"Enggak Mbak. Ai banyak tugas hari ini, harus mengoreksi hasil ujian anak anak. Gak mungkin aku tunda tunda lagi. Soalnya besok harus rekap nilai," jawab Aisyah.


"Oalah ya sudah tapi jangan sampai kecapekan ya. Mbak gak mau kamu sampai sakit gara gara kecapekan," ucap Zahra dan dianggukkan oleh Aisyah.


"Ai keluar dulu ya Mbak, nanti mau sarapan nih. Oh ya Ai udah masak buat kalian, ada di atas meja ya," ucap Aisyah pada keduanya yang langsung dianggukkan oleh Abi dan Zahra.


Aisyah keluar dari kamar itu meninggalkan Abi dan Zahra yang bersiap untuk ke rumah sakit itu.


"Memang Mas gak kerja kok mau antar Zahra ke rumah sakit?" tanya Zahra pada Abi yang membantunya ke kamar mandi.


"Mas berangkat siang, dan paginya masih bisa antar kamu ke rumah sakit," jawab Abi dengan senyum.


Jujur saja, benar apa kata Aisyah. Ia mulai mencintai Zahra sebagai istrinya, walaupun cinta itu tak sebesar cintanya pada Aisyah tentunya.


Zahra masuk ke kamar mandi sedangkan, Abi memutuskan untuk mandi di kamarnya sendiri dengan Aisyah.


Abi berjalan menuju kamarnya, tadi Aisyah bilang ingin sarapan tapi kenapa istrinya itu kini malah melamun di dekat jendela seperti ini?


"Maaf Mas."


"Kenapa sayangnya Mas ini kok bengong?" tanya Abi pada Aisyah.


"Gak apa-apa kok Mas."


Abi yang merasa ada yang ditutupi oleh Aisyah itu mengajak Aisyah untuk duduk di kasur mereka yang sudah 3 hari tak mereka gunakan itu. Ralat hanya Aisyah yang tidur disana.


"Kenapa kamu kok sedih hmm? Mas gak pernah lihat kamu bengong kayak tadi. Ada apa hmm?" tanya Abi mengelus rambut Aisyah.

__ADS_1


Aisyah menatap suaminya dengan tatapan sendu, suaminya memang selalu ada untuknya tapi jika Zahra hamil perhatian Abi pasti akan condong ke Zahra daripada dirinya.


"Selamat ya Mas."


"Hmm?"


"Selamat karena keinginan Mas Abi untuk mendapatkan anak akan segera terwujud. Mas Abi akan merasakan menjadi seorang ayah dari anaknya Mbak Zahra. Aku jadi ikut seneng kalau Mbak Zahra hamil," ucap Aisyah pada Abi.


Tatapan Aisyah tak bisa membohongi Abi yang mengenal Aisyah selama ini. Aisyah sedih, dan ia tak mau sampai air mata Aisyah jatuh lagi.


Abi mulai merengkuh tubuh istrinya kemudian mengelus lembut punggung Aisyah.


"Kamu iri sama Zahra hmm?"


"Heem, aku seneng lihat Mbak Zahra sama Mas Abi bahagia dengan adanya anak dalam hubungan kalian. Tapi aku merasa sekarang pasti perhatian Mas Abi juga akan terbagi," ucap Aisyah yang belum sepenuhnya mengeluarkan apa yang ada dalam otaknya.


"Sayang, walau Mas akan punya anak dari Zahra. Itu kan juga anak kamu, kita ini keluarga dan pasangan aku. Kamu cintaku sayang, yah aku akui jika sekarang ini aku mulai menyukai Zahra sebagai istriku. Tapi tak menutup kenyataan jika cintaku lebih besar ke kamu," ucap Abi dengan senyum manisnya.


Ia berusaha untuk tidak membuat istri cantiknya ini cemburu dengan kebersamaannya dengan Zahra. Karena bagaimanapun Abi harus adil pada kedua istrinya.


"Aku tahu kok Mas, tapi aku hanya merasa perhatian kamu condong ke Mbak Zahra akhir akhir ini. Bukannya aku mengengakang kamu untuk perhatian sama Mbak Zahra tapi tolong pikirkan apa yang pernah kamu katakan padaku," ucap Aisyah berlalu menuju ruang kerjanya. Yang berhubung dengan ruangan kerja suaminya.


Abi menatap Aisyah dengan bersalah, ia tak sadar jika apa yang ia lakukan pada Zahra itu akan membuat Aisyah tersakiti.


"Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik."


Setelah mengucapakan hal itu, Abi langsung berjalan menuju kamar mandi. Ia tak bisa melihat wajah Aisyah yang sedih seperti itu terus menerus.

__ADS_1


Abi janji akan membuat istrinya pertamanya itu senyum lagi dengannya. Abi janji itu.


Bersambung


__ADS_2