
Happy reading
Acara mereka bertiga pun berjalan lancar walau tadi ada sedikit insiden. Anna yang tiba tiba mual melihat makanan yang ada di depannya. Tapi kini sudah berjalan lancar dengan obrolan receh ketiganya.
Mereka selalu saja ada bahan candaan jika sedang bersama seperti ini.
Tapi setelah pulang dari kafe tadi, Aisyah tiba tiba teringat dengan ucapan Anna yang menyuruhnya untuk mengecek dirinya hamil atau tidak dengan testpack.
Anne juga memberikan satu buah testpack yang paling akurat diantara testpack yang lain. Kalau di ingat ingat lagi Aisyah memang sempat mual tapi itu ia pikir hanya mual biasa.
Sampainya di rumah besar milik suaminya. Kemudian ia langsung masuk ke dalam kamarnya, lagipula ia tak melihat Zahra di rumah itu. Jadi ia tak bisa curhat, dan satu lagi ia selalu menyimpan sebagian masalahnya sendiri.
****
Pagi harinya Aisyah langsung bangun dari tidurnya. Dengan keadaan masih setengah telanjang ia menaikkan kembali bajunya yang di turunkan oleh Abi.
Ia mengelus sebentar pipi suaminya yang sangat tampan itu. Kemudian ia turun dari kasur dan mengambil alat test kehamilan yang ada di laci kamarnya.
Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi, dan mengecek apa benar ia hamil. Jika iya itu adalah hal yang paling membahagiakan baginya dan Abi tapi jika tidak entahlah ia harus berapa kali ia merasakan kesedihan yang amat mendalam ini.
Setelah mencelupkan alat itu ke dalam air kencingnya dan menunggu hasilnya seraya menyandarkan kepalanya di tembok.
Tanpa terasa air matanya mulai turun dengan sendirinya. Ia hanya membayangkan hal terbaik dan hal terburuk yang akan ia dapat sebentar lagi.
Tak terasa sudah 15 menit lebih ia menunggu, dengan jantung yang berdetak dengan kencang Aisyah mulai membuka tangannya dan melihat hasil dari testpack miliknya.
__ADS_1
Deg
Air mata yang sudah mengalir itu kembali mengalir dengan derasnya. Tapi ia tak menyangka jika hasilnya akan seperti ini.
Dengan senyum mengembang, Aisyah langsung menghapus air matanya yang mengalir.
Kemudian ia mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi. Ia juga mencuci testpack dengan garis dua itu lalu menyimpannya di sebuah kotak. Ia berencana untuk memberikan Abi kejutan, bahwa sebentar lagi mereka akan memiliki anak sama seperti Zahra.
"Mas bangun dulu ya, kita sholat subuh dulu," ucap Aisyah membangunkan Abi tanpa menyentuh kulit Abi yang sedang telanjang dada.
"Mas Abi bangun," ujar Aisyah lagi yang membuat Abi yang sedang memeluk guling empuk itu langsung membuka matanya dengan pelan. Hal pertama yang Abi melihat adalah istrinya yang sudah memakai mukena.
"Kok udah pake mukena aja sih sayang?" tanya Abi dengan suara seraknya.
Abi langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu.
Setalah selesai berwudhu, Abi langsung berjalan menuju walk in closed dan mengambil baju koko serta sarung yang sudah disediakan Aisyah.
Sampainya di kamarnya lagi, Abi melihat Aisyah yang sudah selesai menggelar sajadah untuknya. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari Zahra selama ini, walau Zahra terlihat sangat baik tapi istri keduanya itu sangat jarang jika sholat subuh.
Mereka berdua melakukan sholat subuh berjamaah di dalam kamar itu.
Setalah selesai sholat subuh berjamaah, Aisyah menatap suaminya dengan senyum. Ia ingin memberikan kabar bahagia itu pada Abi juga.
"Mas," panggil Aisyah pada Abi yang sedang melipat sajadahnya.
__ADS_1
"Apa sayang?" tanya Abi menjatuhkan kepalanya di paha sang istri.
"Aisyah punya hadian buat Mas Abi," ucap Aisyah mengambil sebuah kotak yang berada di atas nakas dan memberikan pada Abi.
"Ini apa sayang. Kan ulang tahu Mas masih lama, apalagi ulang tahun kamu?" tanyanya dengan bingung. Tak biasa biasanya ia mendapat hadiah dari Aisyah seperti ini.
"Buka aja, tapi jangan terkejut ya," ucap Aisyah dengan senyum manisnya kemudian melabuhkan kecupan cintanya di kening suaminya.
"Kamu bikin mas penasaran aja sih sayang," ucap Abi membuka kotak itu dan betapa terkejut Abi saat melihat testpack berwarna merah yang menampilkan dua hadir merah juga di dalamnya.
"Sayang kamu hamil?" tanya Abi yang langsung bangun dari tidurannya dan menatap istrinya dengan raut terkejut sekaligus bahagia.
Bagaimana tidak bahagia jika yang dinantikan mereka selama ini akan hadir dalam hidup mereka.
"Heem, aku positif hamil Mas. Dan yah ini anak kamu," jawab Aisyah yang membuat Abi tersenyum kemudian memeluk tubuh Aisyah yang memang sedikit berisi itu.
"Nanti kita ke rumah sakit ya sayang. Aku mau lihat sudah beberapa besar anak kita," ucap Abi dengan antusias mengelus perut ratanya.
"Mas Abi harus kerja, sedangkan aku bakal ngajar. Mending kita ngeceknya nanti setelah aku pulang sekolah. Mas Abi bisa jemput Aisyah kan?" tanya Aisyah dengan wajah penuh harap.
Abi yang mendengar itu langsung tersenyum dan mengangguk. Ia tak bisa berbicara banyak bicara saking bahagianya. Bahkan ia tak henti hentinya mengelus perut Aisyah yang masih rata.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengintip dibalik pintu kayu itu. Dengan tatapan tak terbaca oleh Author di langsung pergi saja.
Bersambung
__ADS_1