
"Ini gara gara kamu Shin, kalau aja aku gak ikut ikutan sama kamu mungkin gak akan kaya gini kejadiannya, aku gak akan kehilangan pekerjaan aku, aku tuh udah susah susah bangun pekerjaan ini dari 0 asal kamu tau ya "
"Loh loh kok nyalahin aku sih, kenapa juga kamu ikut ikutan Sara, kamu juga sirikan sama Inara dan ingin memberi pelajaran pada Inara juga jadi harus terima konsekuensinya, kenapa kamu ga terima aku juga sama kok ngebangun ini dari 0 jadi kamu jangan ngeluh jangan kaya kamu aja yang dirugiin "
"Iya aku tau, tapi aku gak tau kalau pada akhirnya bakal kaya gini, aku nyesel tau gak nyesel Shin udah ikutin kamu, udah percaya sama kamu, bener ya kata temen temen kalau deket kamu itu malah jadi sial dan kaya gini "
"Yaudah terima aja, aku aja terima kok tinggal cari lagi aja kerja ngampangkan kita punya pengalaman, kamu mungkin pembawa sialnya selama ini aku selalu lakuin apa apa sendiri gak pernah tuh kaya gini gak pernah tuh gagal"
"Enak banget kamu bicara gitu, umur kita segini akan sulit buat cari kerja. Kamu tau itu kan, selain pengalaman pasti dari umur juga akan di pertanyakan kamu pinteran dikit dong, katanya senior"
"Ya tau, tapikan siapa tau ada yang mau terima kita kerja, ayolah kamu jangan putus asa dulu, kenapa sih kamu gampang putus asa, bangkit dong bangkit "
"Tau ah aku marah sama kamu Shin marah besar pokoknya "
Inara yang dari tadi diam menatap mereka berdua segera keluar dari persembunyiannya. Ya dirinya kembali lagi kekantor karena mana mungkin langsung pulang ini bukan kantornya ini kantor orang lain gak boleh seenaknya kan, jadi deh kembali lagi untuk menuntaskan tugas tugas yang tersimpan dengan tapih di mejanya.
"Bagaimana apakah kalian sudah kapok main main dengan saya atau mau lagi main main dengan saya, atau mau yang lebih estrim lagi gitu main main dengan sayanya"
"Nah ini biang keroknya dateng juga, masih punya nyali lo dateng lagi kekantor " teriak Shinta sambil menunjuk Inara.
"Turunkan jarimu, saya tidak suka ada yang menunjuk nunjuk saya seperti itu, kalau tidak saya patahkan jarimu itu sungguh tak sopan kamu"
"Coba aja kalau berani " tantang Shinta.
Inara tersenyum miring menarik jari itu lalu menggigitnya dengab sangat keras "ahhh apa yang kau lakukan kau gila lepaskan sakit sakit, Sara tolong aku kenapa kau diam saja" sambil menarik rambut Inara dan setelah puas mengigitnya Inara mematahkan tangan itu, bukan lagi jari yang dipatahkan namun tangannya langsung..
"Akhh sakit sekali tolong aku Sara " teriak Shinta.
Namun Sara yang ketakutan segera pergi meninggalkam Shinta sendirian, masa bodo dengan Shinta, yang penting dirinya selamat dari amukan Inara yang sudah berubah ini
"Bagaimana saya sudah membuktikannya kan, darahmu tak enak sama sekali aku sangat menyesal telah menelannya, ingin muntah rasanya"
"Awww apa kah kau gila Nara, apa sekarang kau berubah jadi vampire "
"Menurutmu, pergilah dari hadapanku sebelum kumakan daging alotmu itu, "
Tiba tiba deg, Shinta ingat kata kata itu, dengan tergesa gesa pergi meninggalkan Inara sendirian.
"Nara apa yang sedang kau lakukan disini, apa terjadi sesuatu lagi denganmu" tanya Abian yang kebetulan lewat pintu belakang kantor tadi mamihnya ingin dibelikan sesuatu.
"Nara " panggil lagi Bian.
"Ah ya pak ada apa ya, ada gang perlu saya bantu, atau ada perlu apa pak pada saya"
"Tidak saya hanya bertanya sedang apa kamu disini, kenapa berdiri sendirian seperti ini, apa ada yang menganggumu "
"Tidak saya hanya saja tadi kebetulan lewat sini dan sedikit. Berbincang dengan Shinta dan juga temannta yang satu lagi emm Sara "
"Bukannya tadi kalian bertengkat apa kalian sudah baikan kembali"
"Iya tadi Shinta mintaa maaf pada saya pak, dan ya saya tak mau menyimpan dendam jadi saya maafkan Shinta dengan lapang dada tak ada dendam sedikit pun di hati saya"
"Lalu Sara apa dia meminta maaf juga padamu"
"Dia juga sama meminta maaf pada saya pak, apa ada yang perlu bapak tanyakan lagi pada saya, biar saya jawab satu satu sekarang disini juga"
"Tidak tidak, itu sudah cukup. Baiklah diruangan saya ada mamih saya, ayo kamu kesana temui dia sepertinya dia sudah rindu dengan kamu "
"Marii "
"Tunggu Nara "
Abi kembali menghentikan Inara dan mendekat mendekat lalu memengang sudut bibir Inara yang ada bekas darahnya namun ini masih baru.
"Kamu terluka Nara, apa mereka melukaimu"
__ADS_1
"Tidak, mari ayo keruangan anda jangan hiraukan saya , saya baik baik saja tanpa harus anda ikur campur dan membantu saya"
Inara sekarang mendahului Abi, meninggalkan Abi yang masih kebingungan dengan sikap Inara yang hari ini. Sungguh buka Inara yang biasannya ini
Inara segera masuk dan duduk disamping mamihnya Bian "mamih apa kabar "
"Ya ampun mamih kaget, tapi seneng kamu temuin mamih juga baik sayang baik mamih tuh salalu baik kalau liat kamu "
"Alhamdulillah kalau baik mih. Nara seneng dengernya, maaf ya Nara belum bisa temuin mamih lagi "
"Iya mamih gak masalah, mamih tau kamu pasti lagi sibuk kerja. Kamu kenapa tadi kenapa kamu beranteam, ada masalah apaa Nara tak seperti biasannya"
"Aku bukan berantem mih tapi kasih mereka pelajaran, masa si mih dikantor sebesar ini masih ada pembulian, aku sebagai orang yang ditindas mana mungkin diem ajakan, ini tuh udah moderen dan gak mungkin akan gitu gitu aja mih, makannya aku lawan aja, dan aku juga gak mau kalau kejadian ini sampai terjadi sama yang lain mih, makannya aku lawan biar menjadi contoh untuk yang lain kalau ditindas ya lawan jangan diam aja gitu mih "
"Bagus bagus, menantu mamih berani banget mamih suka, pokoknya debes deh kamu bisa lawan mereka semua, mamih bangga sama kamu, dan seharusnya dikantor ini ada peraturan baru yaitu dilarang melakukan penindasan pada sesama karyawan kalau tidak gajih di potong "
"Nah ide yang bagus mih, itu sangat bagus "
Mereka berdua langsung berpelukan tanpa ada pertanyaan lagi yang terlontar dari mamih nya Bian, Bian yang melihatnya geleng geleng kepala, kan tadi misinya mau melihat itu Inara atau Iriana ini malah berpelukan seperti ini.
**
"Ayolah nona dimakan dulu, kasihan perutnya belum di isi dari tadi, masa iya kosong nanti kalau cacing cacingnya demi bagaimana, saya susah dong buat usirnya dari dalam rumah"
"Aku lagi gak enak makan Jack, beneran hambar baget tau rasanya, aku tuh lagi gak semangat makan tau gak Jack"
"Tapi ini engga loh nona udah enak kok, saya udah cobain enak 100% enak dan halal, ayo nona satu suap saja tak banyak"
"Iya tapikan aku sakit. Jadi rasannya itu hambar dan ditengorokan tuh seret banget Jack, aku gak mau ah "
"Jack udah sama saya saja "
"Baik nona Ana "
Jack segera pergi dan berpamitan pada nona nonanya "Ayo makan dulu Ara agar kau cepat sembuh. Apa kau mau aku lagi yang masuk kerja dan membuat orang orang disana mati konyol olehku apakah itu mau mu"
"Tapi sudah terlanjur kali , aku sekarang sudah pulang dan pekerjaan mu sudah selesai, aku sudah membuat 2 orang sekaligus di pecat, apa aku hebat tentu hebat kan ,Ana gitu loh"
"Hah siapa yang kau buat dikeluarkan dari pekerjaannya Ana, apakah tak ada yang curiga padamu Ana"
-
"Besok juga kau akan tau siapa orang itu jadi sekarang makan agar kau tau siapa orang yang sudah aku buat keluar dari kantor itu, pasti kau akan senang"
"Hemm baiklah ayo suapi aku, rasannya akan lebih enak jika kau yang menyuapiku"
"Baiklah Ara, kau mulai manja padaku ya, ayo sekarang buka mulutmu lebar lebar "
Ana dengan senang hati segera menyuapinya dan sesekali tersenyum melihat adiknya yang lahap makan di suapi olehnya.
***
"Mamih mah kok diluar rencana sih, katanya mau ditanya itu Ana atau Inara tapi engga, malah kemana aja "
"Lupa mamih teh ah, terbawa suasana jadi gak sempet buat tanya Abi, udahlah ya "
"Pelupa mamih mah ah, gak seru pokoknya mah, padahal kalau dia sampai ngaku aku akan memarahinya "
"Yaudah biarin atuh, itu mau Inara mau Ana sama aja Bi, asal jangan s Livia Livia itu mamih mah gak mau gak suka sama dia teh ah"
Baru juga di omongin orangnya sekarang sudah ada dihadapan mereka, tiba tiba menangis dan langsung memeluk Abi.
"Heyy nanaonan ieu, tatangkepan harepen mamih lepaskeun anak mamih Livia (hey apa apaan ini, berpelukan didepan mamih lepaskan anak mamih Livia )"
Namun sama sekali tak di hiraukan Livia terus saja memeluk Abian, dengan sekuat tenaga Abian melepaskannya. Sungguh ni anak nekat sekali
__ADS_1
"Apa apaan sih kamu ini, main peluk peluk aja kenapa kamu bisa masuk keruangan aku lagi sih"
"Kenapa sih, kenapa aku gak boleh Abi, aku ini lagi sedih, kamu tau tadi Inara ngancem ngancem aku Abi, dia dia marah marah sama aku katanya aku gak boleh deketin kamu, kamu milik Inara dan aku harus pergi, kamu harus pecat dia ya aku gak mau liat orang itu lagi titik pokoknya"
"Gak gak mungkin Inara menantu mamih kaya gitu, dia tu baik gak mungkin ngancem ngancem orang, kamu mungkin ngada ngada aja ya biar di bela sama Abi anak saya"
"Bisa diem gak tante saya lagi bicara sama Abi, kenapa sih tante ikut campur terus, saya berkata jujur, Inara itu memang tak sebaik apa yang tante liat, makannya tante buka mata tante lebar lebar dan liat yang sesungguhnya Inara itu perempuan seperti apa "
Bian yang marah mamihnya dimarahi segera melepaskan pelukan itu, sampai Livia tersungkur dan membuat tangis itu makin histeris.
"Kau sudah kasar pada mamihku, keluar kau dari ruanganku sekarang juga keluar kau sampai kapan pun ta akan bisa mendapatkan hatiku" teriak Abi.
"Bi Bi jangan kasar, dia perempuan kamu jangan kasar nak sama perempuan mamih gak suka "
Mamihnya Abi segera menghampiri Livia dan akan membantunya berdiri, tapi malah didorong begitu saja dengan sigap Bian menangkap mamihnya.
"Lihat mih lihat orang yang mamih bela sekarang malah mau sakitin mamih "
"Abi tante maaf Livia ga sengaja, Livia gak sengaja maafin Livia "
"Udah ya kamu sekarang keluar dari kantor saya sekarang juga, cepat keluar atau perlu saya memanggil satpan hah "
"Kamu sejahat itu Bi "
"Kenapa tidak "
Livia bukannya pergi malah menangis lagi, lagi dan lagi, Cio yang baru datang segera membantu Livia bangkit.
"Kamu ngapain disini udah cepet pulang yah, ayah kamu udah tunggu diluar cepet"
"Ayah kesini" dengan cepat Livia mengusap air matanya dan pergi meninggalkam mereka bertiga. Cio menutup pintu ruangan itu lalu menyalimi dahulu mamihnya Bian.
"Cio jelasin sama gue, sebenarnya Livia itu kenapa sih, kenapa dia begitu "
"Gimana ya Bi, gue harus cerita dari mana dulu nih, sebenernya gue gak boleh bilang ini, tapi gue juga kasian sana lo Bi "
Yaa Cio memang ingin mengatakan pada Abi tentang kondisi Livia mungkin itu lebih baik, dirinya akan bersaing dengan sehat saja dengan Bian untuk mendapatkan Inara seutuhnya.
"Yaudah jelasin aja dari awal Cio "
"Gini Bi, lo masih inget perempuan berkacamata dan juga yang suka dikepang yang pendiem terus sering di bully juga"
"Gak gue gak inget Cio, yang mana sih gak tau ah gaj inget sama sekali gue "
"Lo mah ah, itu lo perempuan yang suka diem diem kasih surat cinta buat lo dan kita malah bacain didepan kelas inget gak "
"Sebentar gue inget inget dulu udah lama soalnya " Bian mengigat ngigatnya sambil memegang kepalanya.
"Giman inget gak "
"Gak Cio gue gak inget "
"Parah lu, dia itu cinta banget sama lo mungkin juga terobsesi sama lo, dia itu mulai setres awal gara gara ditinggal lo ke inggris, mungkin ya dia kehilangan cinta sejaditanya dan yang kedua mamahnya pergi ninggalin dia untuk selamannya, dia tuh nangis aja terus sampai sampai dia jadi suka ketawa ketawa sendiri terus juga suka bicara sendiri pokoknya takut banget deh,"
"Nah dari situ ayahnya yang pengen anaknya sembuh, dia memasukannya kerumah sakit jiwa Bi, dan sekarang ini taun sekarang dia baru keluar dari rumah sakit jiwa jadi dimaklumi aja ya kalau sikapnya emang kaya gitu, "
"Jadi selama ini yang ngejar ngejar gue tu orang yang baru keluar dari rumah sakit jiwa, gila ya lo Cio gak bilang sama sekali sama gue jahat bener deh, lo gak kasian emang sama gue "
"Bukannya gitu Bi, gue awalnya pengen kasih tau sama Lo tapi dia nangis histeris buat gue gak bilang sama siapa siapa termasuk Lo, jadi sorry banget bukannya gue gak mau atau gimana Bi "
"Terus sekarang gimana nasib gue Cio, masa iya dia terus aja ngejar gue, gue gak mau ya, lo harus bantu gue jauh daru perempuan itu "
"Gimana carannya coba Bi, susah ah ngeladenin orang yang sakit mah, gue juga tau cerita ini dari ayahnya, waktu itu gue gak sengaja temuin dia lagi binggung jalan pulang, dan akhirnya dia cerita kalau dia perempuan yang dulu kejar kejar lo "
"Tau ah gue jadi takut ah Cio, gue jadi males kan tinggal disini pemgen pulang aja deh rasannya ke inggris"
__ADS_1
Abi yang binggung menyenderkan kepalanya dan memikirkan bagaimana carannya agar bisa jauh dari perempuan gila itu,jangan sampai dirinya terjebak oleh dia