
Happy reading
Setelah berbincang bincang dengan Andrian, ketiganya memutuskan untuk membayar makanan mereka dan pulang.
"Beli batagor di depan sana ya Mas," pinta Aisyah menujuk tempat batagor yang dulu menjadi langganannya. Untungnya saat ini mereka melewati tempat itu.
"Iya sayang, nanti kita beli. Kamu mau beli apa gitu Ra?" tanya Abi pada Zahra yang hanya menggeleng seraya bermain ponsel.
Zahra merasa sejak tadi ia tak dianggap maka dari itu ia memfokuskan dirinya pada ponselnya. Bukan apa apa, Zahra sendiri juga sadar jika dia adalah orang ketiga dalam hubungan keduanya.
"Oh ya Mas, Ai. Hari ini aku nginap di rumah teman ya. Dia minta aku buat nemenin dia, soalnya orangtuanya sedang pergi ke luar kota."
Zahra meminta izin pada Abi dan Aisyah. Karena walau bagaimanapun Abi tetaplah suaminya.
"Sampai kapan?"
"Mungkin besok aku sudah kembali ke rumah utama. Tapi sore, Mas gak usah jemput aku."
"Kamu hati hati disana, kabari Mas dan Aisyah kalau kamu butuh apa apa. Jangan malu buat telepon Mas ya," ucap Abi pada Zahra.
Zahra yang mendapat perhatian dari suaminya itu tersenyum dan mengangguk. Jujur ia senang dengan perhatian Abi. Kenapa ia bisa senang karena Zahra sudah memiliki rasa terhadap Abi. Ia berharap Abi juga memiliki sedikit perasaan untuknya.
"Mas antar ya," ucap Abi dan dianggukkan oleh Zahra.
Aisyah tersenyum, dengan perhatian Abi pada Zahra semoga saja menumbuhkan rasa sayang dan cinta di hati Abi untuk istri kedua Abi itu.
"Mbak Zahra, nanti kalau ada apa apa jangan sungkan buat minta tolong sama Aisyah. In syaa Allah, Aisyah bakal bantu mbak."
"Iya Ai. Kamu tenang aja, Mbak cuma mau nemenin teman Mbak aja kok. Soalnya dia sering diganggu mantan suaminya sampai sekarang," balas Zahra pada Aisyah.
Setelah berberapa saat akhirnya mereka sampai di tempat penjual batagor. Abi keluar untuk membelikan batagor untuk istrinya. Sedangkan Zahra dan Aisyah di mobil berdua.
"Mbak yang sabar buat dapat cinta dari Mas Abi ya. Aisyah bakal bantu Mbak kok."
"Kamu terlalu baik Ais, aku ini adalah orang ketiga di dalam hubungan kalian. Wajar aja Mas Abi sulit menerima aku," jawab Zahra dengan senyum tipis. Ia tak tahu harus bagiamana.
"Mbak ngomong apa sih? Mbak pantas di cintai Mas Abi karena Mbak adalah istrinya. Kenapa Mbak selalu aja gini? Apa Mbak gak ikhlas dengan pernikahan ini?" tanya Aisyah dengan lembut. Tangannya memegang tangan Zahra Yang diletakkan di paha itu.
"Mbak ikhlas kok, Ai. Bahkan mbak sangat berterima kasih sama kamu. Mbak ini cuma wanita rendah tapi kalian mengangkat derajat mbak."
"Sama sama Mbak. Aisyah hanya ingin yang terbaik buat semuanya."
__ADS_1
Keduanya tersenyum dan mengangguk, kedua wanita itu memiliki kelemahan dan kelebihan masing masing pada bidangnya.
Tak lama Abi datang dengan membawa berberapa bungkus makanan untuk istri istrinya.
"Mas tadi beli martabak dulu makanan lama. Zahra pasti suka kan sama martabak?"
"Iya mas."
"Ini untuk kamu, sama teman kamu nanti. Dan yang ini buat kamu sayang."
Abi adil memberikan makanan pada kedua istrinya. Bedanya Abi juga membelikan batagor.
"Makasih Mas," ucap Aisyah dan Zahra.
"Sama sama. Sekarang kita ke rumah teman Zahra," ucap Abi menjalankan mobilnya kembali menuju tempat dimana teman Zahra tinggal.
Tak sampai setengah jam mereka sudah sampai di depan rumah yang cukup luas bagi Aisyah sedangkan bagi Abi ya tak sebesar rumah mereka.
"Makasih sudah mau mengantarkan Zahra ke sini, Mas."
"Sama sama Zahra, kamu sudah menjadi istri aku jadi kamu juga sudah menjadi kewajiban aku."
Zahra tersenyum, ia meraih tangan suaminya kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Iya mbak."
Zahra keluar membawa bungkus martabak dari Abi tadi. Meninggalkan Aisyah dan Abi di mobil itu.
Abi tak langsung pulang tapi menunggu sampai Zahra masuk ke dalam rumah itu. Sebagai seorang suami ia harus memastikan jika istrinya masuk dengan selamat.
Setalah itu ia memerintahkan bodyguardnya untuk menjaga Zahra di rumah ini. Ia merasa ada hal yang tidak beres dengan semua ini.
"Pulang atau ke hotel?" tanya Abi pada Aisyah.
"Pulang aja Mas," jawab Aisyah mulai memakan batagor yang dibeli suaminya tadi.
Abi mengangguk dan menjalankan mobil itu menuju rumah mereka. Abi menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang, seraya Aisyah yang menyuapi Abi dengan martabak itu.
Sampainya mereka di rumah, Abi dan Aisyah langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu.
"Mas aku ambil air dulu ya."
__ADS_1
"Iya sayang."
Abi menuju kamar sedangkan Aisyah masih ingin ke dapur untuk mengambil minum dan menyimpan makanan tadi di kulkas.
Setelah itu Aisyah langsung kembali ke kamar dan melihat suaminya sedang melepaskan jaket beserta kaos yang dipakainya.
"Mas."
"Hmm, aku gerah mandi bareng yuk."
"Udah malam loh mas."
"Gerah sayang."
"Mas minum ini aja dulu, gak baik malam malam gini mandi."
"Kan biasanya malam malam kita juga mandi."
"Itu beda lagi.
Dengan pasrah Abi langsung mengambil minuman yang dibawa istrinya.
Glug
Glug
Glug
Gerah yang tadi dirasakannya perlahan mendingin kemudian ia mengajak istrinya untuk duduk.
"Apa sudah ada tanda tanda sayang?" tanya Abi.
"Belum Mas," jawab Aisyah yang berusaha kuat.
"Padahal saat kita berhubungan selalu dimasa kamu subur dan aku juga bagus."
"Aku gak tahu."
"Sudah jangan dipikirkan, mungkin Allah mengingkan kita untuk lebih banyak berdoa dan berharap jangan lupakan juga berusaha untuk mendapatkan rezeki dari-Nya."
Aisyah mengangguk kemudian memeluk tubuh suaminya. Abi tahu istrinya sedih karena belum juga mendapatkan anugerah sebuah bayi dalam perutnya.
__ADS_1
"Jadi malam ini kita juga harus berusaha lagi hmm," ujar Abi dan dianggukkan oleh Aisyah.
Bersambung