Berbagi Suami

Berbagi Suami
Davira 3


__ADS_3

#Davira part 3


Author : Ersu Ruang Sunyi


Musim berganti, hati pun telah berubah, tak sedikitpun ada debar yang dulu pernah ada, cinta yang begitu dalam pun bisa sirna seiring waktu, ya! Cinta! Seberapa besarpun rasa itu pasti sirna seiring waktu.


Batu besar yang kokoh akan terukir oleh tetesan air. Hati yang utuh akan terluka karena sebuah kata.


Cinta dan nafsu itu bagai dua sisi mata uang koin, jangan karena syariat langkah menjadi sesat.


Jangan membuang berlian demi sebuah krikil. Jangan menyia-nyiakan yang baik demi yang cantik. Cantik itu relatif bukan? Karena kecantikan yang sesungguhnya adalah dari dasar hati.


____


Mas Ilham menatap begitu lekat, ia ternganga melihat Ayunindya. Apa yang ia pikirkan saat ini? Terkejut? atau ...? Ah entahlah.


"Sayang, kok lama banget," panggil Alex sambil menghampiriku.


Aku melirik ke arah Sakila dan Mas Ilham, keduanya masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


Tiba-tiba anaknya Sakila menangis kejer, Sakila mengeluarkan botol susu dari tasnya. Namun anak itu terus menangis.


"Eh, Dede sayang cuuup ... cuuup," tiba-tiba Ayunindya menghampiri Sakila, dan anak itupun berhenti menangis seketika.


Alex, yang baru ngeh dengan Sakila dan Ilham langsung menyapanya. Ilham dengan raut wajah yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata, memutarkan kedua bola matanya ketika Alex mengajaknya salaman.


"Eh, Mas Ilham, Mbak Sakila ..," sapa Alex sambil menghampiri. "Wah ini anaknya ya?" lanjut tanya Alex.


"Ayah kenal dengan Om sama Tante ini?" sela Nindya bertanya kepada Alex.


"Oh iya sayang, Ayah kenal ini Om Ilham sama Tante Sakila," jawab Alex sambil mengelus kepala Nindya.


"Maksud kamu, ini, anak ..?" Ilham nampak shock, entah karena apa ia terlihat shock.


Aku yang sedari tadi terdiam menghampiri Sakila dan Mas Ilham.


"Apa kabar Mas Ilham, Sakila?" sapaku menanyakan kabar keduanya, karena sebelumnya, Sakila tadi belum sempat mengobrol.


Anak Sakila nampak menggemaskan, walaupun memiliki kekurangan, jika saja waktu itu janinnya tidak ia gugurkan, mungkin beda berapa bulan sama Nindya.


"Da ... Davira! ini benar kamu? jadi anak ini ..?"


"Mas ayo pulang!" seru Sakila, memotong perkataan Mas Ilham.


Alex bengong melihat reaksi Ilham dan Sakila.


Biarlah Mas Ilham dan Sakila mungkin belum begitu siap untuk mengobrol panjang lebar.


***


Ada yang mengganjal di pikiran Mas Ilham setelah bertemu denganku dan Alex. Di hati kecilnya bertanya-tanya siapa anak yang bersama Davira? Apakah sewaktu Davira di cerai olehnya mengandung anaknya? Pertanyaan demi pertanyaan bertumpuk di pikiran Mas Ilham. Karena anak itu seusia perceraiannya denganku.


Sakila merasa malu mana kala ia bertemu Davira dan Alex, dengan keadaan anaknya yang cacat.


Mas Ilham menghempaskan tubuhnya di atas sopa, sedangkan Sakila merasa aneh dengan kelakuan suaminya semenjak bertemu denganku.


"Mas! Kamu itu kenapa, anak kamu nangis begini bukannya di gendong!" seru Sakila yang kesal.


Ilham menatap anaknya yang menangis, di pikirannya wajah Nindya menari-nari di kelopak matanya.


"Apa dia anakku? Apa sewaktu aku mencerai Davira ia sedang hamil?" gumamnya.


Ia merasa hampir gila memikirkan hal itu.


Sakila makin hari makin kesal kepada suaminya, apa lagi perusahaan Mas Ilham mulai banyak masalah dan terancam bangkrut.


Apa lagi dengan hobi Sakila yang suka pamer kepada teman-teman arisannya sudah lama ia tak bisa pamer barang-barang mewahnya lagi, bahkan mobil yang dulu biasa kupakai pun telah di jualnya untuk pengobatan anaknya.


***


Alex selalu menatapku lekat, entah apa yang membuatnya tak bosan-bosan selalu menatapku? Seperti malam ini di tengah menina bobokan Nindya ia menatap wajahku yang terhalang oleh Nindya.


"Ayah, Nindya bobonya mau di tengah, dan Ayah gak boleh pindah," pinta Nindya, sambil memeluk tubuh Alex.


"Ok, Ayah tidak akan pindah, tetap di sini di samping Nindya," jawab Alex meyakinkan.


Tangan Nindya memeluk tubuh Alex, erat. Aku menatap dan tersenyum padanya, sesekali Alex melirik, aku pun tertidur dengan pulas, dan jari jemari saling bertaut, tak terasa adzan subuh berkumandang, aku beranjak dari tempat tidur dan kulihat Nindya masih dalam posisinya memeluk Alex. Kutarik selimut untuk menyelimuti Nindya dan Alex. Namun sebelum aku melangkah, tangan Alex menarik ku, sehingga menghentikan langkahku.


Matanya mengisyaratkan sesuatu, ya ia meminta agar pelukan Nindya di lepaskan, aku pun mengambil guling, agar pelukan Nindya berganti.


Alex tersenyum mana kala Nindya mengigau, ketika tangannya perlahan di geser dari tubuh Alex.


Aku pun melangkah menuju kamar mandi, namun Alex lagi-lagi menghentikan langkahku dengan menghalangi di depan pintu kamar mandi.


"Sayang, biarkan aku memelukmu," bisik Alex.


"Yank, aku mau shalat subuh," ucapku sambil berusaha melepaskan pelukannya.


"Em ... Kita belum malam pertamaan," godanya, bikin pengen gigit bibirnya yang tersenyum kecut itu😂.


"Yank, emang harus? baru nikah dua malam ini," tanyaku sambil mengecup pipinya; untuk pertama kalinya.


Ya, baru pertama kali ini kukecup pipi Alex. Wajahnya condong menatap wajahku, debar begitu racau. Detik jam berhenti seketika, di saat ia mengecup kening dan pipiku. Mungkin bagi sebagian orang itu bukanlah hal yang aneh, namun itu bagiku momen yang begitu sepecial. Seperti pertama kali mendapatkan kecupan dari seorang laki-laki. Padahal selama menikah dengan Mas Ilham itu hal biasa yang di lakukan setiap hari sebelum ia berangkat ngantor, ataupun sepulang ngantor. Namun kali ini, bersama Alex, ada hal baru yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Debaran ini melebihi debaran cinta pertamaku dulu kepada Mas Ilham.


Mungkin inilah yang di sebut cinta sejati yang sesungguhnya.


***


Saat menyiapkan sarapan untuk Alex dan Nindya, ibuku tiba-tiba menelpon.


"Nak, bagaimana sudah di siapkan buat hanimunnya?" tanya ibuku yang membuatku mengerlingkan kedua alis.


"Hanimun apa maksud Umi?" tanyaku.

__ADS_1


Aku bingung karena gak merencanakan hanimunan.


"Emang Alex belum bilang kalau tiket ke buah batu Malang nya sudah dapat?"


"Tidak."


"Mungkin dia mau buat kejutan buat kamu," jelas Ibu.


Aku yang tidak tahu menahu tentang rencana hanimunan pun langsung bertanya kepada Alex yang tengah duduk membaca koran.


"Yank, apa maksud ibu dengan tiket pesawat untuk ke buah batu Malang?" tanyaku.


"Och itu, iya nanti jam 3 sore kita berangkat," jawabnya.


"Ayah, jangan lupa bawa oleh-oleh ya," sela Nindya.


Aku semakin heran kenapa Nindya berkata begitu, apa Nindya sudah tahu dari sebelumnya?.


"Ok, bidadari Ayah, nanti Ayah belikan apa yang di pesan oleh Nindya.


Persiapan ke Malang pun selsai, dengan membawa dua koper, sebenarnya berat banget harus meninggalkan Nindya, namun ia sekolah, jadi tidak bisa ikut, dan Nindya di titip di orang tuaku.


***


Villa yang cukup besar, dengan pemandangan yang langsung ke alam yang begitu hijau, sungguh indah lukisan alam sang pencipta, ini adalah villa ibunya Alex yang di berikan kepada Alex, malam pertama di villa begitu rindu kepada Nindya, padahal baru beberapa jam di tinggal. Kurapihkan isi koper ke lemari yang ada di kamar.


Alex mengajakku berkeliling kota Batu yang indah di saat malam hari, cuaca yang begitu dingin menjadi suguhan istimewa ketika berburu kuliner.


Setelah selesai berburu kuliner pulang ke villa dan mencuci muka dan berganti pakaian untuk tidur karena jam sudah menunjukan 23:25.


Alex yang telah terlebih dulu mencuci muka dan gosok gigi ia nampak duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan gerak langkahku.


Ada yang jatuh di bibir malam


Sebuah rasa yang pernah tenggelam


Kini hadir seutas mimpi yang hilang


Bukan hanya menjelma sebuah bayang


Namun bak pujangga pemilik cinta


Penggores syair berdawai aksara.


Ia merajut benang-benang kesetiaan


Menyimpul cinta yang kian bertahta.


"Sayang, terimakasih telah menerimaku menjadi suamimu," bisik merdu Alex.


Aku mengangguk tanpa bicara apa-apa, kurasakan debar dadanya pun tak kalah gaduh dari detak jantungku yang mulai kuatur , dengan sesekali menghela napas agar tak begitu berdebar.


Matahari menyelinap ke sela-sela jendela, kubuka perlahan mata dengan menyapu pipi dengan tangan kiriku, ia masih mendekapku begitu erat.


"Biarin saja, masih ngantuk ..," bisik Alex yang kembali menarik selimut yang telah kusingkirkan. "I love u so much," lanjutnya lagi sambil membalikkan badanku yang membelakanginya.


Kedua bola matanya kini sudah benar-benar mencuri kepingan hatiku, bagaimana tidak, aku sungguh jatuh kedalam tatapannya yang menciptakan debaran yang begitu indah.


"Em ..," jawabku yang terjeda karena sebuah kecupan yang menempel di bibir. "Ih udah, sampai gak shalat subuh karena kesiangan," ucapku lagi.


"Dan aku pun sampai lupa, jika memiliki bidadari secantik kamu," goda Alex.


Aku mengigit tangannya yang tak melepaskan genggamannya sampai ia melepaskan dengan ekspresi kesakitan. Padahal gigitanku cuma pelan.


***


"Apa maksud kamu kesini?" hardik Rio.


Mas Ilham tak melepaskan tangan Nindya yang ketakutan, ia menarik tangan Nindya untuk masuk ke mobilnya.


"Lepasin Om!" teriak Nindya.


"Woi! lepasin ponakan gua!" pekik Rio, yang menjemput Ayunindya di sekolah.


Ilham menghajar Rio hingga jatuh tersungkur dan membawa pergi Ayunindya.


Rio pulang dengan wajah yang babak belur Karena di pukul oleh Ilham.


"Kak Rio mana Nindya nya ..?" tanya Risa. "Terus kenapa kamu bisa seperti ini?" lanjutnya lagi.


"Nindya di bawa oleh Mas Ilham."


"Apa? di bawa sama Ilham?" tanya ibu.


"Apa maksud kamu di bawa sama Ilham?" hardik Risa kepada Rio.


Kegaduhan terjadi, di saat aku sama Alex menghabiskan waktu berdua tanpa ponsel. Ya, karena ibuku menyarankan selama aku di buah batu Malang, melarang mengaktifkan handphone, karena katanya biar kebersamaan ku dengan Alex tak terganggu.


***


"Aku mau pulang, aku mau sama bunda dan Ayah," isak tangis Nindya.


"Bidadari cantik, kenapa mau ke bunda, sudah di sini aja, mulai sekarang panggil Om juga Ayah, karena Om ini lah ayah kamu!" seru Mas Ilham.


"Bukan, Ayahku ayah Alex, bukan Om ini," pekik Nindya.


"Bukan! Alex bukan ayah kamu, akulah Ayah kamu!" seru Mas Ilham.


Ilham bersikukuh menganggap jika Nindya adalah putrinya dari Davira, apa lagi wajah Nindya yang mirip dengan Davira membuatnya yakin jika Davira hamil ketika di cerai olehnya.


***


Keluarga Davira menuju kediaman Ilham, yang di disambut oleh Sakila. Sakila bingung dengan apa yang di katakan oleh keluarga Davira yang bilang jika suaminya sudah membawa kabur Nindya, karena mas Ilham belum pulang dari siang juga. Rio sampai menggeledah setiap ruangan namun nyatanya memang benar di situ tida ada Nindya ataupun Ilham.

__ADS_1


Rio mengancam Sakila, jika tak mengembalikan Risa maka akan lapor polisi.


***


Siang berganti malam, matanya mencari setitik cahaya dari gulita yang mencekam. Isak tangisnya begitu perih, gigil menelusup ke tubuh bocah kecil itu. Sesekali ia memanggil bundanya. Ia pun berharap jika itu hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.


"Bunda ... tolongin Nindya, Nindya takut, di sini dingin Bunda," pinta Nindya di balik airmatanya yang terus mengalir.


Ilham sengaja menempatkan Nindya di apartemen yang di sewanya. Entah setan apa yang merasuki Mas Ilham.


***


"Yank malam ini aku kok rindu banget ya sama Nindya," tuturku.


"Ya telpon aja yank," ucap Alex


Namun tubuhku rasanya lemas banget mau mengambil handphone yang di taruh di dalam lemari, tapi ingatanku dari siang selalu kepikiran Nindya, beberapa kali kudengar ia memanggilku.


Alex segera mengambil handphone dari dalam lemari, karena ia tahu jika aku sedikit lelah, karena seharian habis keliling kota Malang. Kunyalakan androidku, namun nyatanya sinyal tidak ada sama sekali karena hujan deras, jaringan seluler terganggu.


"Tidak ada sinyal yank," ucapku sambil menaruh handphone di atas meja samping tempat tidur.


"Mungkin karena hujan yank, ya udah besok aja nlpnnya, siapa tahu besok pagi sinyalnya bagus," sambung Alex.


***


"Gak bisa di hubungi dari siang juga umi," papar Risa.


"Bagaimana jika Davira tahu, jika Nindya di culik sama Ilham," ucap Ayahku.


"Ris, kamu chat ada kak Davira di mana aktif ia akan tahu," suruh Rio


Risa pun mengirim pesan Wa, menjelaskan jika Ayunindya di culik oleh Mas Ilham.


***


Pagi ini Alex bangun terlebih dulu, dengan koper yang sudah berjejer di pintu.


Dengan penuh tanya, kuhampiri Alek dan bertanya padanya.


"Yank, kok bajunya sudah di masukin ke koper semua?" tanyaku.


"Iya sayang aku ada kerjaan yang penting dan harus segera pulang ke Jakarta," jawabnya.


"Tapi tiketnya?"


"Ini baru dapet, baru ada sinyal," jawabnya lagi.


"Tapi yank kita kan belum beli oleh-oleh."


"Lain kali aja sekarang tidak sempat."


Sepanjang di pesawat, aku merasa ada sesuatu yang terjadi, karena Alex begitu serius, namun aku pun tak berani bertanya ada apa.


Sesampai di rumah Alex memanggil Rio dan Umi ke ruang belakang, dan aku yang sedari tiba tidak mendapatkan sambutan dari Nindya, cuma berpikir jika Nindya di sekolah.


"Risa, siapa tadi yang antar Nindya sekolah?" tanyaku.


"Nindya kan ..,"


"Aku kak," jawab Rio memotong jawaban Risa.


"Sayang aku sama Rio ada urusan kamu di rumah aja, jaga kesehatan dan jangan telat makan" ucap Alex sambil mengecup keningku.


Kenapa pamit dan langkahnya seperti yang akan meninggalkan untuk selamanya. Aku menepis hal itu.


Pagi beranjak siang, aku hendak menjemput Nindya dari sekolah namun Risa menghalangiku.


"Inikan sudah waktunya jam pulang sekolah," ucapku.


"Kenapa juga aku di suruh berbohong," gumam Risa.


"Berbohong apa?" tanyaku.


"A ... anu kak, Nindya ..."


Penjelasan Risa membuatku jatuh seketika, tak ingat apa-apa lagi.


"Sayang kamu harus bangun, aku janji akan menemukan Ilham Dan Nindya," ucap Alex lirih, dan berkali-kali menciumi tanganku yang di genggamnya.


Alex dan Rio mencari keberadaan Ilham, namun hasilnya nihil. Dan sudah lapor ke kantor polisi.


Tak lama kemudian handphoneku berdering. Lalu di angkat oleh Alex.


"Hallo, ini siapa?"


"Ceraikan Davira!"


"Eh ... Maksudnya apa?"


Segera kuambil ponselku dari genggamannya Alex.


"Hallo siapa ini? tanyaku.


"Jika ingin bidadari kecil yang cantik ini selamat kamu harus cerai dengan Alex, dan kembali menikah denganku!"


Handphone di genggamanku jatuh ke lantai hingga baterainya pun jatuh berserak


Bersambung


Ruang sunyi, di tengah banjir 23-02-20


#Fiksi #Ersu #RuangSunyi

__ADS_1


__ADS_2